Tentu sangat menarik diskusi dengan tema BPJS kesehatan ini, ... mencoba
menemukan bagaimana cara terbaik mengatasi defisit BPJS kesehatan yang
sampai triliuan Rp itu. Dan disini bung Lusi menemukan berbagai tulisan
yang mengatas namani RR. Pertanyaan saya, apakah kita bisa jamin
tulisan-tulisan itu betul keluar dari pemikiran RR sendiri, atau ada
orang mengajukan pemikirannya sendiri dengan menggunakan nama RR saja???
Sebagaimana saya perhatikan telah terjadi beberapa TOKOH elite
di"PINJAM" namanya untuk menyuarakan pemikirannya sendiri, ...dan tokoh
bersangkutan tampil menyanggah itu tulisan/pernyataannya sendiri!!!
Saya perhatikan bagaimana cara RRT mengatasi masalah dana-pengtobatan
warganya yg 1,4 Milyar itu, yg semula sepenuhnya ditanggung pemerintah
dan sejak awal tahun 1980 dilepas kepasar.Terjadi kerusakan akhlak berat
di banyak RS, karena mengejar KEUNTUNGAN untuk menghidupi RS-nya, ...
Terjadi seorang sopir truk kontainer dari HK yg dirampok barangnya dalam
keadaan luka berat, dengan susah-payah berhasil mencapai RS-Rakyat di
Shen Zhen, DI TOLAK RS tsb. untuk diobati hanya karena dirinya dirampok
habis yaa TIDAK ADA UANG TUNAI untuk lebih dahulu bayar tanggungan biaya
pengobatan! Masyarakat MARAH, bagaimana RS-Rakyat lebih mengutamakan
uang dan tidak lebih dahulu mengobati rakyatnya!
Begitulah pemerintah menganjurkan setiap instansi, perusahaan mencoba
menemukan cara menanggulangi biaya pengobatan warga dimasing-masing
tempat, termasuk asuransi kesehatan yg bisa digunakan. Jadi, dikota-kota
besar nampak tidak ada kesatuan cara mengatasi biaya pengobatan warga.
Ada yang menggunakan cara pasien bayar 20% - 30%, perusahaan dimana dia
bekerja yang bayar 70%-80%, umumnya BUMN yg bisa berbuat begitu. Banyak
yg menggunakan mewajibkan buruh/pegawai beli asuransi kesehatan dengan
kondisi masing-masing, juga tidak sedikit warga kenyataan akhirnya yang
tidak masuk dan bali asuransi yg diperlukan! Sekalipun saya belum
menemukan pemerintah telah mengambil kesimpulan cara mana yg diambil,
tapi nampaknya lebih banyak mendorong warga masyarakat kota untuk
bergabung dan membeli asuransi kesehatan sesuai kebutuhan dan kemampuan.
Sedang didesa-desa, setelah berhasil membentuk koperasi-desa, kembali
mengambil bentuk koperasi-desa menanggung sepenuhnya biaya pengobatan
dari melahirkan bayi sampai biaya panti-jompo. Dan bentuk ini yg terjadi
nyaris diseluruh desa di Tiongkok, termasuk desa-desa terbelakang/miskin
yg baru diselesaikan tahun-tahun terakhir ini.
On 11/11/2019 11:37 PM, 'nesare' [email protected] [GELORA45] wrote:
Hehehe maen logika, menarik kesimpulan dari suatu artikel lalu dipakai
utk nyinyir. Weleh2 gimana katanya orang pinter satu ini?!
Dalam artikel ini RR ngomong 2 hal: hutang dan merger antara BPJS
kesehatan dan BPJS ketenakerjaan..
Ente tidak komentari ttg hutangnya. Okay kita lewatin saja. Sebetulnya
pengelolaan hutang ini jauh lebih penting drpd merger BPJS kesehatan
dan BPJS ketenakerjaan krn disinilah point terpenting dari 2 solusi yg
ditawarkan oleh RR dalam menyelamatkan krisis BPJS.
Mari kita lihat jalan pikirannya RR ini: dgn mengurangi suku bunga
hutang pinjaman itu, RR berasumsi ada efisiensi dalam bentuk hutang.
Ini akan menurunkan deficit. Suku bunga pinjaman turun artinya bunga
yg dibayar berkurang, tetapi ini bukan dapet duit. Ini efisiensi yg
berdampak positif dalam anggaran artinya deficit tidak akan naik alias
lebih kecil krn beban bunga pinjaman lebih rendah. Sekali lagi ini
bukan dapet duit kas yg bisa dipakai utk bayar hutang/deficit dalam
BPJS. Jelas solusi ini SALAH!!!
Solusi kedua: merger antara BPJS kesehatan dan BPJS ketenakerjaan. RR
berasumsi kalau merger akan untung. Ini jelas2 SALAH! Ini opini dan
spekulasi. Koq bisa2nya RR meyakinkan merger BPJS kesehatan dan BPJS
ketenakerjaan akan untung? Andaikatapun untung, seberapa untungnya?
Apakah keuntungan ini bisa buat bayar deficit BPJS? YA BELUM TENTU!!!!
RR harus belajar bisnis lebih banyak. Dia ekonom bukan major in
business. Merger ini masalah bisnis. Merger and acquisition,
divestiture dll itu teori bisnis. Gak ada satupun orang2 belajar
teori2 M&A berani mengatakan kalau merger pasti untung. GAK ADA!!!
Ayo sana bahas sampai mati gimana 2 solusi yg ditawarkan oleh RR bisa
menolong BPJS!!!!!
Saya sudah ngomong kalau RR kalau sudah ngomong diluar ekonomi
ditambah keinginan utk menyerang orang dan ini diluar akademis serta
diluar kemampuannya dalam bidang ekonomi, DIA BANYAK SALAHNYA!!!
Sayang omongan seperti ini keluar dari mulut seorang RR!!!!
Nesare
*From:* [email protected] <[email protected]>
*Sent:* Sunday, November 10, 2019 10:13 PM
*To:* GELORA45 <[email protected]>
*Subject:* Re: [GELORA45] Studi-banding beban iuran BPJS
Kelihatannya RR belum tega membongkar kebobrokan elonomi Jokowi,
makanya dalam kasus keuangan BPJS ini RR baru bolak-balik mengusulkan
penggabungan BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan. RR belum
menyentuh ke mana dilarikannya dana BPJS Ketenagakerjaan yang surplus
besar dari keringat Buruh itu. Padahal, harusnya dana besar itu bisa
dialirkan ke sesama BPJS (kesehatan) untuk menghadang defisit. Kalau
gotongroyong sesama BPJS ini dilakukan saya kira teman-teman Buruh
lebih ikhlas ketimbang pembelanjaan yang sekarang.
Menghajar Sri Mulyani lalu terkena Jokowi, itu mah resiko dan
konsekuensi presiden penandatangan ketidakbijakan.
--- lusi_d@... wrote:
Yang saya maksud studi-banding yalah antara konsep no.1 yang
dianjurkan Jokowi dan no.2 kontra konsep yang digagas RR msl
yang kongkrit dan mendesak yaitu mengatasi kekurangan pembeayaan BPJS.
Nasion Indonesia masih mampu berfikir sendiri dan nggak perlu ahli-ahli
dari RRT spt yang digemari dan dianjurkan oleh si Luhut itu. Hehehe.
Am Sat, 9 Nov 2019 13:24:01 +0100
schrieb Sunny ambon:
> *Studi bandingnya dengan negara mana saja? Ini beberapa contoh.
> Kalau di Cuba semua penghui mendapat pelayanan perwatan kesehatan
> gratis. Sama halnya di Korea Utara. Polandia juga gratis . Kalau di
> Swedia, mengunjungi dokter bayar kurang lebih dua dolar US, kalau
> masuk rumah sakit sakit hanya bayar tempat tidur, juga harganya
> kurang lebih 2 dolar, obat , selama di rumah sakit, operasi semuanya
> gratis. Yang mahal di Swdeia ialah kesehatan gigi, harus bayar
> sendiri, terkecuali untuk anak-anak berumur di bawah 18 tahun. Di
> Swedia, ibu hamil diberikan cuti 9 bulan dengba pembayaran penuh gaji
> yang biasa diperoleh dari tempat kerja. Panggil ambulans tidak
> ditanya punya uang berapa untuk dibayar harga sopir dan bensin etc.
> jadi gratis.*
> * Mengapa negara-negera ini bisa melakukan pelayan murah atau gratis
> kepada penduduknya dibandingkan negara bukan kafir seperti NKRI yang
> juga ber Pancasila?*