Baru saja keluar berbagai penetapan dari berbagai assuransi kesehatan di negeri Belanda. Ada yang turun E 3,- per bulan, ada yang naik. Jatuhnya antara E 20,00 hingga E 125,- per bulan.
Pada tanggal Sel, 12 Nov 2019 pukul 02.39 ChanCT [email protected] [GELORA45] <[email protected]> menulis: > > > Tentu sangat menarik diskusi dengan tema BPJS kesehatan ini, ... mencoba > menemukan bagaimana cara terbaik mengatasi defisit BPJS kesehatan yang > sampai triliuan Rp itu. Dan disini bung Lusi menemukan berbagai tulisan > yang mengatas namani RR. Pertanyaan saya, apakah kita bisa jamin > tulisan-tulisan itu betul keluar dari pemikiran RR sendiri, atau ada orang > mengajukan pemikirannya sendiri dengan menggunakan nama RR saja??? > Sebagaimana saya perhatikan telah terjadi beberapa TOKOH elite di"PINJAM" > namanya untuk menyuarakan pemikirannya sendiri, ...dan tokoh bersangkutan > tampil menyanggah itu tulisan/pernyataannya sendiri!!! > > Saya perhatikan bagaimana cara RRT mengatasi masalah dana-pengtobatan > warganya yg 1,4 Milyar itu, yg semula sepenuhnya ditanggung pemerintah dan > sejak awal tahun 1980 dilepas kepasar.Terjadi kerusakan akhlak berat di > banyak RS, karena mengejar KEUNTUNGAN untuk menghidupi RS-nya, ... Terjadi > seorang sopir truk kontainer dari HK yg dirampok barangnya dalam keadaan > luka berat, dengan susah-payah berhasil mencapai RS-Rakyat di Shen Zhen, DI > TOLAK RS tsb. untuk diobati hanya karena dirinya dirampok habis yaa TIDAK > ADA UANG TUNAI untuk lebih dahulu bayar tanggungan biaya pengobatan! > Masyarakat MARAH, bagaimana RS-Rakyat lebih mengutamakan uang dan tidak > lebih dahulu mengobati rakyatnya! > > Begitulah pemerintah menganjurkan setiap instansi, perusahaan mencoba > menemukan cara menanggulangi biaya pengobatan warga dimasing-masing tempat, > termasuk asuransi kesehatan yg bisa digunakan. Jadi, dikota-kota besar > nampak tidak ada kesatuan cara mengatasi biaya pengobatan warga. Ada yang > menggunakan cara pasien bayar 20% - 30%, perusahaan dimana dia bekerja yang > bayar 70%-80%, umumnya BUMN yg bisa berbuat begitu. Banyak yg menggunakan > mewajibkan buruh/pegawai beli asuransi kesehatan dengan kondisi > masing-masing, juga tidak sedikit warga kenyataan akhirnya yang tidak masuk > dan bali asuransi yg diperlukan! Sekalipun saya belum menemukan pemerintah > telah mengambil kesimpulan cara mana yg diambil, tapi nampaknya lebih > banyak mendorong warga masyarakat kota untuk bergabung dan membeli asuransi > kesehatan sesuai kebutuhan dan kemampuan. > > Sedang didesa-desa, setelah berhasil membentuk koperasi-desa, kembali > mengambil bentuk koperasi-desa menanggung sepenuhnya biaya pengobatan dari > melahirkan bayi sampai biaya panti-jompo. Dan bentuk ini yg terjadi nyaris > diseluruh desa di Tiongkok, termasuk desa-desa terbelakang/miskin yg baru > diselesaikan tahun-tahun terakhir ini. > > > On 11/11/2019 11:37 PM, 'nesare' [email protected] [GELORA45] wrote: > > > > Hehehe maen logika, menarik kesimpulan dari suatu artikel lalu dipakai utk > nyinyir. Weleh2 gimana katanya orang pinter satu ini?! > > > > Dalam artikel ini RR ngomong 2 hal: hutang dan merger antara BPJS > kesehatan dan BPJS ketenakerjaan.. > > > > Ente tidak komentari ttg hutangnya. Okay kita lewatin saja. Sebetulnya > pengelolaan hutang ini jauh lebih penting drpd merger BPJS kesehatan dan > BPJS ketenakerjaan krn disinilah point terpenting dari 2 solusi yg > ditawarkan oleh RR dalam menyelamatkan krisis BPJS. > > > > Mari kita lihat jalan pikirannya RR ini: dgn mengurangi suku bunga hutang > pinjaman itu, RR berasumsi ada efisiensi dalam bentuk hutang. Ini akan > menurunkan deficit. Suku bunga pinjaman turun artinya bunga yg dibayar > berkurang, tetapi ini bukan dapet duit. Ini efisiensi yg berdampak positif > dalam anggaran artinya deficit tidak akan naik alias lebih kecil krn beban > bunga pinjaman lebih rendah. Sekali lagi ini bukan dapet duit kas yg bisa > dipakai utk bayar hutang/deficit dalam BPJS. Jelas solusi ini SALAH!!! > > > > Solusi kedua: merger antara BPJS kesehatan dan BPJS ketenakerjaan. RR > berasumsi kalau merger akan untung. Ini jelas2 SALAH! Ini opini dan > spekulasi. Koq bisa2nya RR meyakinkan merger BPJS kesehatan dan BPJS > ketenakerjaan akan untung? Andaikatapun untung, seberapa untungnya? Apakah > keuntungan ini bisa buat bayar deficit BPJS? YA BELUM TENTU!!!! RR harus > belajar bisnis lebih banyak. Dia ekonom bukan major in business. Merger ini > masalah bisnis. Merger and acquisition, divestiture dll itu teori bisnis. > Gak ada satupun orang2 belajar teori2 M&A berani mengatakan kalau merger > pasti untung. GAK ADA!!! > > > > Ayo sana bahas sampai mati gimana 2 solusi yg ditawarkan oleh RR bisa > menolong BPJS!!!!! > > > > Saya sudah ngomong kalau RR kalau sudah ngomong diluar ekonomi ditambah > keinginan utk menyerang orang dan ini diluar akademis serta diluar > kemampuannya dalam bidang ekonomi, DIA BANYAK SALAHNYA!!! > > > > Sayang omongan seperti ini keluar dari mulut seorang RR!!!! > > > > Nesare > > > > > > *From:* [email protected] <[email protected]> > <[email protected]> > *Sent:* Sunday, November 10, 2019 10:13 PM > *To:* GELORA45 <[email protected]> <[email protected]> > *Subject:* Re: [GELORA45] Studi-banding beban iuran BPJS > > > > > > Kelihatannya RR belum tega membongkar kebobrokan elonomi Jokowi, makanya > dalam kasus keuangan BPJS ini RR baru bolak-balik mengusulkan penggabungan > BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan. RR belum menyentuh ke mana > dilarikannya dana BPJS Ketenagakerjaan yang surplus besar dari keringat > Buruh itu. Padahal, harusnya dana besar itu bisa dialirkan ke sesama BPJS > (kesehatan) untuk menghadang defisit. Kalau gotongroyong sesama BPJS ini > dilakukan saya kira teman-teman Buruh lebih ikhlas ketimbang pembelanjaan > yang sekarang. > > > > Menghajar Sri Mulyani lalu terkena Jokowi, itu mah resiko dan konsekuensi > presiden penandatangan ketidakbijakan. > > > > --- lusi_d@... wrote: > > > > Yang saya maksud studi-banding yalah antara konsep no.1 yang > dianj‏urkan Jokowi dan no.2 kontra konsep yang digagas RR msl > yang kongkrit dan mendesak yaitu mengatasi kekurangan pembeayaan BPJS. > Nasion Indonesia masih mampu berfikir sendiri dan nggak perlu ahli-ahli > dari RRT spt yang digemari dan dianjurkan oleh si Luhut itu. Hehehe. > > > Am Sat, 9 Nov 2019 13:24:01 +0100 > schrieb Sunny ambon : > > > > > *Studi bandingnya dengan negara mana saja? Ini beberapa contoh. > > > Kalau di Cuba semua penghui mendapat pelayanan perwatan kesehatan > > gratis. Sama halnya di Korea Utara. Polandia juga gratis . Kalau di > > Swedia, mengunjungi dokter bayar kurang lebih dua dolar US, kalau > > masuk rumah sakit sakit hanya bayar tempat tidur, juga harganya > > kurang lebih 2 dolar, obat , selama di rumah sakit, operasi semuanya > > gratis. Yang mahal di Swdeia ialah kesehatan gigi, harus bayar > > sendiri, terkecuali untuk anak-anak berumur di bawah 18 tahun. Di > > Swedia, ibu hamil diberikan cuti 9 bulan dengba pembayaran penuh gaji > > yang biasa diperoleh dari tempat kerja. Panggil ambulans tidak > > ditanya punya uang berapa untuk dibayar harga sopir dan bensin etc. > > jadi gratis.* > > * Mengapa negara-negera ini bisa melakukan pelayan murah atau gratis > > kepada penduduknya dibandingkan negara bukan kafir seperti NKRI yang > > juga ber Pancasila?* > > > > >
