Sorry, antara E 120,- hingga E 125 per bulan.

Pada tanggal Sel, 12 Nov 2019 pukul 07.31 kh djie <[email protected]>
menulis:

> Baru saja keluar berbagai penetapan dari berbagai assuransi kesehatan di
> negeri Belanda.
> Ada yang turun E 3,- per bulan, ada yang naik. Jatuhnya antara E 20,00
> hingga E 125,- per bulan.
>
> Pada tanggal Sel, 12 Nov 2019 pukul 02.39 ChanCT [email protected]
> [GELORA45] <[email protected]> menulis:
>
>>
>>
>> Tentu sangat menarik diskusi dengan tema BPJS kesehatan ini, ... mencoba
>> menemukan bagaimana cara terbaik mengatasi defisit BPJS kesehatan yang
>> sampai triliuan Rp itu. Dan disini bung Lusi menemukan berbagai tulisan
>> yang mengatas namani RR. Pertanyaan saya, apakah kita bisa jamin
>> tulisan-tulisan itu betul keluar dari pemikiran RR sendiri, atau ada orang
>> mengajukan pemikirannya sendiri dengan menggunakan nama RR saja???
>> Sebagaimana saya perhatikan telah terjadi beberapa TOKOH elite di"PINJAM"
>> namanya untuk menyuarakan pemikirannya sendiri, ...dan tokoh bersangkutan
>> tampil menyanggah itu tulisan/pernyataannya sendiri!!!
>>
>> Saya perhatikan bagaimana cara RRT mengatasi masalah dana-pengtobatan
>> warganya yg 1,4 Milyar itu, yg semula sepenuhnya ditanggung pemerintah dan
>> sejak awal tahun 1980 dilepas kepasar.Terjadi kerusakan akhlak berat di
>> banyak RS, karena mengejar KEUNTUNGAN untuk menghidupi RS-nya, ... Terjadi
>> seorang sopir truk kontainer dari HK yg dirampok barangnya dalam keadaan
>> luka berat, dengan susah-payah berhasil mencapai RS-Rakyat di Shen Zhen, DI
>> TOLAK RS tsb. untuk diobati hanya karena dirinya dirampok habis yaa TIDAK
>> ADA UANG TUNAI untuk lebih dahulu bayar tanggungan biaya pengobatan!
>> Masyarakat MARAH, bagaimana RS-Rakyat lebih mengutamakan uang dan tidak
>> lebih dahulu mengobati rakyatnya!
>>
>> Begitulah pemerintah menganjurkan setiap instansi, perusahaan mencoba
>> menemukan cara menanggulangi biaya pengobatan warga dimasing-masing tempat,
>> termasuk asuransi kesehatan yg bisa digunakan. Jadi, dikota-kota besar
>> nampak tidak ada kesatuan cara mengatasi biaya pengobatan warga. Ada yang
>> menggunakan cara pasien bayar 20% - 30%, perusahaan dimana dia bekerja yang
>> bayar 70%-80%, umumnya BUMN yg bisa berbuat begitu. Banyak yg menggunakan
>> mewajibkan buruh/pegawai beli asuransi kesehatan dengan kondisi
>> masing-masing, juga tidak sedikit warga kenyataan akhirnya yang tidak masuk
>> dan bali asuransi yg diperlukan! Sekalipun saya belum menemukan pemerintah
>> telah mengambil kesimpulan cara mana yg diambil, tapi nampaknya lebih
>> banyak mendorong warga masyarakat kota untuk bergabung dan membeli asuransi
>> kesehatan sesuai kebutuhan dan kemampuan.
>>
>> Sedang didesa-desa, setelah berhasil membentuk koperasi-desa, kembali
>> mengambil bentuk koperasi-desa menanggung sepenuhnya biaya pengobatan dari
>> melahirkan bayi sampai biaya panti-jompo. Dan bentuk ini yg terjadi nyaris
>> diseluruh desa di Tiongkok, termasuk desa-desa terbelakang/miskin yg baru
>> diselesaikan tahun-tahun terakhir ini.
>>
>>
>> On 11/11/2019 11:37 PM, 'nesare' [email protected] [GELORA45] wrote:
>>
>>
>>
>> Hehehe maen logika, menarik kesimpulan dari suatu artikel lalu dipakai
>> utk nyinyir. Weleh2 gimana katanya orang pinter satu ini?!
>>
>>
>>
>> Dalam artikel ini RR ngomong 2 hal: hutang dan merger antara BPJS
>> kesehatan dan BPJS ketenakerjaan..
>>
>>
>>
>> Ente tidak komentari ttg hutangnya. Okay kita lewatin saja. Sebetulnya
>> pengelolaan hutang ini jauh lebih penting drpd merger BPJS kesehatan dan
>> BPJS ketenakerjaan krn disinilah point terpenting dari 2 solusi yg
>> ditawarkan oleh RR dalam menyelamatkan krisis BPJS.
>>
>>
>>
>> Mari kita lihat jalan pikirannya RR ini: dgn mengurangi suku bunga hutang
>> pinjaman itu, RR berasumsi ada efisiensi dalam bentuk hutang. Ini akan
>> menurunkan deficit. Suku bunga pinjaman turun artinya bunga yg dibayar
>> berkurang, tetapi ini bukan dapet duit. Ini efisiensi yg berdampak positif
>> dalam anggaran artinya deficit tidak akan naik alias lebih kecil krn beban
>> bunga pinjaman lebih rendah. Sekali lagi ini bukan dapet duit kas yg bisa
>> dipakai utk bayar hutang/deficit dalam BPJS. Jelas solusi ini SALAH!!!
>>
>>
>>
>> Solusi kedua: merger antara BPJS kesehatan dan BPJS ketenakerjaan. RR
>> berasumsi kalau merger akan untung. Ini jelas2 SALAH! Ini opini dan
>> spekulasi. Koq bisa2nya RR meyakinkan merger BPJS kesehatan dan BPJS
>> ketenakerjaan akan untung? Andaikatapun untung, seberapa untungnya? Apakah
>> keuntungan ini bisa buat bayar deficit BPJS? YA BELUM TENTU!!!! RR harus
>> belajar bisnis lebih banyak. Dia ekonom bukan major in business. Merger ini
>> masalah bisnis. Merger and acquisition, divestiture dll itu teori bisnis..
>> Gak ada satupun orang2 belajar teori2 M&A berani mengatakan kalau merger
>> pasti untung. GAK ADA!!!
>>
>>
>>
>> Ayo sana bahas sampai mati gimana 2 solusi yg ditawarkan oleh RR bisa
>> menolong BPJS!!!!!
>>
>>
>>
>> Saya sudah ngomong kalau RR kalau sudah ngomong diluar ekonomi ditambah
>> keinginan utk menyerang orang dan ini diluar akademis serta diluar
>> kemampuannya dalam bidang ekonomi, DIA BANYAK SALAHNYA!!!
>>
>>
>>
>> Sayang omongan seperti ini keluar dari mulut seorang RR!!!!
>>
>>
>>
>> Nesare
>>
>>
>>
>>
>>
>> *From:* [email protected] <[email protected]>
>> <[email protected]>
>> *Sent:* Sunday, November 10, 2019 10:13 PM
>> *To:* GELORA45 <[email protected]> <[email protected]>
>> *Subject:* Re: [GELORA45] Studi-banding beban iuran BPJS
>>
>>
>>
>>
>>
>> Kelihatannya RR belum tega membongkar kebobrokan elonomi Jokowi, makanya
>> dalam kasus keuangan BPJS ini RR baru bolak-balik mengusulkan penggabungan
>> BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan. RR belum menyentuh ke mana
>> dilarikannya dana BPJS Ketenagakerjaan yang surplus besar dari keringat
>> Buruh itu. Padahal, harusnya dana besar itu bisa dialirkan ke sesama BPJS
>> (kesehatan) untuk menghadang defisit. Kalau gotongroyong sesama BPJS ini
>> dilakukan saya kira teman-teman Buruh lebih ikhlas ketimbang pembelanjaan
>> yang sekarang.
>>
>>
>>
>> Menghajar Sri Mulyani lalu terkena Jokowi, itu mah resiko dan konsekuensi
>> presiden penandatangan ketidakbijakan.
>>
>>
>>
>> --- lusi_d@... wrote:
>>
>>
>>
>> Yang saya maksud studi-banding yalah antara konsep no.1 yang
>> dianj‏urkan Jokowi dan no.2 kontra konsep yang digagas RR msl
>> yang kongkrit dan mendesak yaitu mengatasi kekurangan pembeayaan BPJS.
>> Nasion Indonesia masih mampu berfikir sendiri dan nggak perlu ahli-ahli
>> dari RRT spt yang digemari dan dianjurkan oleh si Luhut itu. Hehehe.
>>
>>
>> Am Sat, 9 Nov 2019 13:24:01 +0100
>> schrieb Sunny ambon :
>>
>>
>>
>> > *Studi bandingnya dengan negara mana saja? Ini beberapa contoh.
>>
>> > Kalau di Cuba semua penghui mendapat pelayanan perwatan kesehatan
>> > gratis. Sama halnya di Korea Utara. Polandia juga gratis . Kalau di
>> > Swedia, mengunjungi dokter bayar kurang lebih dua dolar US, kalau
>> > masuk rumah sakit sakit hanya bayar tempat tidur, juga harganya
>> > kurang lebih 2 dolar, obat , selama di rumah sakit, operasi semuanya
>> > gratis. Yang mahal di Swdeia ialah kesehatan gigi, harus bayar
>> > sendiri, terkecuali untuk anak-anak berumur di bawah 18 tahun. Di
>> > Swedia, ibu hamil diberikan cuti 9 bulan dengba pembayaran penuh gaji
>> > yang biasa diperoleh dari tempat kerja. Panggil ambulans tidak
>> > ditanya punya uang berapa untuk dibayar harga sopir dan bensin etc.
>> > jadi gratis.*
>> > * Mengapa negara-negera ini bisa melakukan pelayan murah atau gratis
>> > kepada penduduknya dibandingkan negara bukan kafir seperti NKRI yang
>> > juga ber Pancasila?*
>>
>>
>>
>> 
>>
>

Kirim email ke