https://www.youtube.com/watch?v=Id8PZk0Jqus

On Mon, Nov 25, 2019 at 12:08 PM Tatiana Lukman <[email protected]>
wrote:

> Jangan lupa masalah rasisme sudah dibahas dalam tulisan ini. Itu jawaban
> saya kepada soal "monyet". Dan jangan lupa juga rasisme dari pihak pimpinan
> separatisme!! Rasisme dari kaum oligarki dan penguasa ORBA dibalas dengan
> rasisme dari "bangsa" Papua??? Itukah solusinya? dan juga dengan memutar
> balik fakta sejarah dan menyembunyikan sikap pro-kolonial Belanda?
> Rasisme dan Separatisme di Papua (Bagian 1)
> 8 Oktober 2019
>
>    -
>    -
>    -
>    - *
>    
> <https://api.whatsapp.com/send?text=Rasisme%20dan%20Separatisme%20di%20Papua%20%28Bagian%201%29%20https%3A%2F%2Fkoransulindo.com%2Frasisme-dan-separatisme-di-papua-bagian%2F>*
>    -
>
>
> <https://koransulindo.com/wp-content/uploads/2017/03/Panitia-Pembebasan-Irian-Barat.jpg>Antusias
> massa rakyat dalam pembebasan Papua Barat dari cengkeraman kolonialisme
> [Foto: Istimewa]
>
> *Koran Sulindo* – Tindakan rasis ormas tertentu dan oknum aparat keamanan
> terhadap mahasiswa Papua yang terjadi tanggal 16 Agustus 2019, di Surabaya,
> telah menyulut kemarahan dan protes luar biasa dari masyarakat suku bangsa
> Papua dan masyarakat suku bangsa lainnya di Indonesia. Rasisme dan
> diskriminasi tak bisa ditoleransi, harus ditolak dan dilawan. Wajib dan
> wajar kita mendukung manifestasi yang diorganisasi berbagai ormas dan
> lembaga untuk memprotes dan menuntut agar diusut tuntas; dan mereka yang
> terlibat dalam penghinaan terhadap kehormatan saudara-saudara suku bangsa
> Papua mendapat hukuman setimpal dengan kesalahannya.
>
> Rasisme dan diskriminasi merupakan bagian tak terpisahkan dari sistem
> ekonomi, politik dan sosial yang ada di Indonesia. Itulah salah satu
> warisan yang ditinggalkan oleh kolonialisme Belanda. Pada zaman itu, orang
> pribumi ditempatkan di jenjang paling bawah: warga kelas kambing. Orang
> Tionghoa, Arab, India dan asing lainnya masuk dalam kategori dua. Yang
> masuk dalam kategori pertama adalah orang Belanda dan kulit putih lainnya..
>
> Kategorisasi penduduk berdasarkan ras itu merupakan kebijakan Belanda
> untuk memecah belah dan mengadu domba demi kepentingan ekonomi dan
> politiknya. Orang Tionghoa digunakan Belanda sebagai perantara dalam
> perdagangan dan agen dalam pemungutan pajak terhadap penduduk. Kedudukan
> ini mendatangkan kemakmuran pada sebagian kecil warga Tionghoa yang
> akhirnya dianggap VOC sebagai saingannya, ketika yang belakangan ini
> mengalami kemerosotan.
>
> Itu merupakan salah satu faktor yang mendorong pembantaian (
> *Chinezenmoord*) terhadap warga etnis Tionghoa pada 1740. Sekitar 10.000
> orang Tionghoa mati dibunuh.
>
> Selanjutnya, untuk bisa mengontrol kegiatan orang Tionghoa, VOC
> mengeluarkan *passenstelsel* yang mengharuskan warga Tionghoa mempunyai
> surat jalan khusus untuk bepergian ke luar distrik di mana mereka tinggal..
> *Wijkenstelsel* dikeluarkan untuk mengharuskan orang Tionghoa tinggal
> bersama dalam satu perkampungan sendiri. Dari situ datangnya istilah
> “pecinan”.
>
> Kesenjangan dan peran sebagai agen penjajah dan kaum feodal yang berkuasa
> dalam memungut pajak telah menimbulkan sentimen anti-Tionghoa di kalangan
> penduduk. Hal ini telah memicu kerusuhan di berbagai kota di Jawa, seperti
> Solo pada 1912, Kudus pada 1918 dan juga pembantaian warga Tionghoa oleh
> Raden Ayu Yudakusuma di Ngawi pada 1925.
>
> Pada zaman Sukarno, tanggal 10 Mei, 1963, terjadi kerusuhan anti-Tionghoa..
> Mula-mula di Bandung, kemudian menjalar ke kota lain. Dalam kerusuhan itu
> terlihat tangan-tangan kotor imperialis AS yang melalui kaki tangan
> anti-komunisnya bertujuan mendestabilisasi pemerintah yang dianggap terlalu
> dekat dengan RRT dan PKI. Bung Karno bertindak tegas dengan menghukum
> mereka yang terlibat.
>
> Jenderal Suharto yang berkuasa sejak 1965, adalah pewaris terbaik tindakan
> kolonial Belanda terhadap kaum komunis yang dibuang dan dikucilkan di kamp
> konsentrasi Boven Digul untuk waktu tak terbatas. Itu terjadi setelah
> pemberontakan nasional pertama melawan penjajah meletus di 1926. Ia juga
> mewarisi kebijakan kejam Belanda terhadap warga Tionghoa. Puncak kejahatan
> melawan kemanusiaan dilakukan Suharto dengan pembantaian kurang lebih 3
> juta (jumlah yang diakui sendiri oleh Jenderal Sarwo Edi) orang komunis,
> buruh, tani, pemuda, wanita, kaum intelektual dan pengikut Bung Karno dari
> berbagai grup etnis dan kepercayaan serta warga etnis Tionghoa.
>
> Jadi, di samping orang-orang komunis dan kiri progresif pengikut politik
> Bung Karno, dari segi etnis, warga Tionghoa menjadi sasaran khusus
> kekejaman Suharto. Selain mereka yang sudah menjadi korban pembantaian,
> pemenjaraan dan penghilangan paksa selama periode 65-66, warga etnis
> Tionghoa di Kalimantan Barat dibantai dalam rangka pembasmian terhadap
> PGRS  (Pasukan Gerilya Rakyat Serawak)/Paraku (Partai Rakyat Kalimantan
> Utara) pada 1967.
>
> Dalam genosida etnis Tionghoa ini, buku *Tanjungpura Berdjuang *(1977),
> menyebut angka 27.000 orang mati dibunuh, 101.700 orang mengungsi di
> Pontianak dan 43.425 di antaranya direlokasi di Kabupaten Pontianak.
>
> Suharto meningkatkan dan memupuk sentimen anti-Tionghoa lebih jauh lagi
> melalui Surat Edaran Presidium Kabinet Ampera Nomor 06 Tahun 1967 yang
> menyeragamkan sebutan Cina (sebutan dengan konotasi menghina dan
> merendahkan) bagi warga Tionghoa. Artinya dengan sengaja mereka dipisahkan
> identitasnya dari orang Indonesia lainnya.
>
> Kemudian, kekejaman biadab terhadap warga Tionghoa terjadi lagi pada bulan
> Mei 1998. Penjarahan, pembunuhan, pembakaran, perampasan dan pemerkosaan
> kembali menjadikan warga Tionghoa sebagai sasaran empuk para penguasa Orba
> yang sedang dihimpit krisis ekonomi 1998 dan gelombang kemarahan massa
> rakyat berbagai sektor yang selama 32 tahun hidup ditindas,
> dimarginalisasi, dibodohkan dan dipasung hak-hak demokratisnya. Di Jakarta
> saja, diakui secara resmi sebanyak 1.188 kehilangan jiwanya.
>
> Saya perlu menampilkan beberapa fakta tentang diskriminiasi dan rasisme
> anti-Tionghoa sejak zaman kolonial Belanda sampai pemerintahan Sukarno dan
> rezim Orba Suharto, untuk mengingatkan kepada saudara-saudara suku bangsa
> Papua dan generasi muda lainnya bahwa diskiriminasi dan rasisme bukan
> masalah baru dan akarnya terletak pada sistem ekonomi, politik dan sosial
> yang berdominasi di Indonesia.
>
> Tanpa sedikitpun ingin mengecilkan perasaan sakit hati dan penderitaan
> saudara-saudara suku bangsa Papua, saya hanya berusaha memperlihatkan dan
> membuktikan bahwa mereka tidak “sendirian” dalam menghadapi perlakuan
> diskriminatif dan rasialis. Diskriminasi dan rasisme yang diderita orang
> Papua tak dapat dibandingkan dengan apa yang diderita warga Tionghoa yang
> sifatnya lebih sistematis, periodik dan berakar dalam. Masih banyak lagi
> suku bangsa dan sektor penduduk yang diperlakukan sangat tidak adil oleh
> tatanan ekonomi, politik dan sosial dan para penguasanya. Misalnya, kaum
> wanita, kaum LGBT, penganut kepercayaan yang bukan Islam, bahkan penganut
> aliran Islam yang tidak diakui oleh mayoritas, korban pembantaian 1965-66
> serta keturunannya, korban pembunuhan seperti kasus buruh Marsinah, kasus
> wartawan Udin, kasus Salim kancil, kasus Tanjung Priok, Trisakti, kasus
> Munir, penculikan aktivis 1998.
>
> Pelanggaran berat HAM di Papua membuat daftar itu semakin panjang. Dengan
> ironis, saya dapat mengatakan saudara-saudara Papua tidak punya “hak
> istimewa” untuk perlakuan diskriminatif dan rasis.
>
> Tak satupun dari kejahatan pelanggaran HAM berat dan genosida 1965-66
> diselesaikan oleh pemerintahan para presiden yang berkuasa setelah Suharto
> lengser. Nama presiden bisa berbeda, tapi struktur sistem ekonomi dan
> politik tak berubah. Jenderal Wiranto dan Kivlan Zein saling menantang
> untuk membongkar dalang peristiwa Mei 1998, namun lembaga hukum bermasa
> bodoh saja dan tak terjadi apa-apa. Impunitas berjalan terus.
>
> Reaksi kita terhadap ketidakadilan, kesewenang-wenangan, kekerasan aparat
> negara, diskriminasi dan rasisme sudah tentu tidak sama. Saudara-saudara
> Papua pengikut separatisme serta pendukungnya, nasional maupun
> internasional, kontan menggunakan kejadian di Surabaya itu untuk menggelar
> berbagai macam demonstrasi menuntut kemerdekaan Papua.
>
> Diskriminasi dan rasisme dari pihak penguasa serta aparat dan lembaga
> pemerintah adalah sesuatu yang memang sudah melekat dan salah satu sifat
> hakikinya. Dengan berbagai cara dan jalan kita harus melawannya.
>
> *Diskriminasi dan Rasisme*
> Dalam percakapan dengan *Jawa Pos*, tanggal 6 Desember 2018, Sebby
> Sambom, juru bicara Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat-Organisasi
> Papua Merdeka (TPNPB-OPM), dengan terang-terangan menyatakan: ”Serangan
> kami berlanjut hingga revolusi total. Saat ini masih revolusi tahapan
> serangan kecil ke titik-titik tertentu. Saat sampai revolusi tetap, semua
> warga non-Papua akan kami usir dari negeri ini.”
>
> Salah satu poin dalam pernyataan Goliath Tabuni yang mengklaim dirinya
> sebagai Jenderal dan Komando Nasional Tentara Pembebasan Nasional Papua
> Ba-rat (TPNPB) berbunyi sebagai berikut: ”TPNPB dan rakyat bangsa Papua
> Barat mendukung penuh ULMWP menjadi anggota penuh di MSG pada KTT MSG
> tanggal 21-22 Desember 2016 di Vanuatu, dengan alasan bahwa bangsa Papua
> bukan Melayu, kami adalah ras Melanesia.” (Gatra, 8/1/2017).
>
> Pada 3 September 2019, *majalahweko.com <http://majalahweko.com>*,
> Wamena, memuat ultimatum Purom Wenda dari TPNPB, agar orang pendatang
> segera pulang kampung atau ke daerah masing-masing dalam waktu satu bulan..
> Ia mengancam “Apabila imbauan saya ini tidak mau mendengar maka kami akan
> tembak mereka, tidak peduli dia pengusaha sipil atau pegawai negeri. Abang
> ojek juga kami akan tembak.” Di samping itu, ia juga minta supaya seluruh
> mahasiswa Papua di seluruh Indonesia segera pulang ke Papua.
>
> Dalam percakapan telepon dengan *suara.com <http://suara.com>* , 2
> September 2019, Benny Wenda, Ketua “United Liberation Movement for West
> Papua” (ULMWP), menyatakan, di satu pihak mengutuk keras diskriminasi
> rasialis termasuk terhadap bangsa Indonesia, namun di lain pihak,
> menegaskan “bahwa secara ras, geografis, kebudayaan, bahasa, kami bangsa
> Papua berbeda dengan bangsa Indonesia.”
>
> Semua perbedaan yang ia kemukaan itu sama sekali tidak dapat dijadikan
> alasan untuk menuntut referendum dan kemerdekaan Papua. Orang Maluku dan
> NTT juga termasuk ras Melanesia. Artinya, orang Indonesia terdiri dari ras
> Melayu dan ras Melanesia.
>
> Apa maksud Benny Wenda dengan mengatakan secara geografis, bangsa Papua
> berbeda dengan bangsa Indonesia? Wilayah Indonesia terdiri dari ribuan
> pulau, termasuk pulau Papua Barat! Pulau Jawa terpisah dari Pulau Sulawesi,
> terpisah dari Kepulauan Maluku, dan semua pulau-pulau lainnya.
>
> Siapa yang tidak tahu adanya keanekaragaman kebudayaan dan bahasa berbagai
> suku bangsa yang hidup di kepulauan Indonesia? Kebudayaan dan bahasa orang
> Jawa jelas berbeda dengan orang Dayak, orang Bugis, orang Batak dan
> sebagainya. Apakah perbedaan itu merupakan alasan untuk memisahkan diri
> dari Indonesia dan membentuk Republik Dayak, Republik Bugis, Republik Batak?
>
> Justru kenyataan adanya keanekaragaman kebudayaan dan bahasa dari seribu
> lebih suku bangsa yang hidup di kepulauan Nusantara itulah, maka timbul
> pembangunan bangsa atau *nation building*, sejak pemberontakan nasional
> pertama melawan penjajahan Belanda pada 1926. Disusul kemudian oleh Sumpah
> Pemuda pada Kongres Pemuda Kedua, 1928, yang mendeklarasikan Satu Nusa,
> Satu Bangsa dan Satu Bahasa. Bangsa Indonesia lahir dalam sebuah proses
> sejarah perjuangan panjang melawan penjajahan Belanda. Kemerdekaan bangsa
> Indonesia dibayar dengan jutaan jiwa melayang, penderitaan dan pengorbanan
> luar biasa rakyat berbagai suku bangsa di Nusantara. Sama sekali bukan
> hadiah atau uluran tangan dan budi baik para penguasa kolonial Belanda. 
> *[Tatiana
> Lukman]*
>
>
> On Monday, November 25, 2019, 11:28:45 AM GMT+1, Sunny ambon
> [email protected] [GELORA45] <[email protected]> wrote:
>
>
>
>
> https://www.youtube.com/watch?v=ysa0oekmK-0
>
> https://www.youtube.com/watch?v=fOV7Vu8RsoA&t=73s
>
> On Mon, Nov 25, 2019 at 10:51 AM Tatiana Lukman [email protected]
> [GELORA45] <[email protected]> wrote:
>
>
>
>
> Meluruskan Sejarah (Bagian 3, Selesai)
> 24 November 2019
>
>    -
>    -
>    -
>    - *
>    
> <https://api.whatsapp.com/send?text=Meluruskan%20Sejarah%20%28Bagian%203%2C%20Selesai%29%20https%3A%2F%2Fkoransulindo.com%2Fmeluruskan-sejarah-bagian-3-selesai%2F>*
>    -
>
> [image: alt]
> <https://koransulindo.com/wp-content/uploads/2019/10/Pertempuran-Sekutu-dan-Jepang-di-Papua.jpg>Pertempuran
> Sekutu dan Jepang di Papua pada Perang Dunia II/Istimewa
>
> *Koran Sulindo* – Menurut Pieter Drooglever (sejarawan Belanda),
> perkembangan nasionalisme Indonesia tidak menyentuh orang-orang Papua sama
> sekali..
>
> Jelas, kondisi objektif di Papua tidak memungkinkan lahirnya gerakan
> kemerdekaan yang menggelora seperti di Jawa. Apalagi mengharapkan Bung
> Karno mengembangkan kegiatannya di Irian Barat. Belanda saja baru mulai
> memperhatikan perkembangan di Papua setelah Indonesia menyatakan
> kemerdekaan dari Sabang hingga Merauke. Tapi apa makna dari
> kejadian-kejadian sebagai berikut?
>
> Pada 14 Agustus 1945, di Kampung Harapan, Jayapura, dikumandangkan lagu
> Indonesia Raya oleh Frans Kaisiepo, Marcus Kaisiepo, Nicolas Youwe dan
> kawan-kawan.
>
> Di Biak, Frans Kaisiepo mengadakan sebuah upacara pengibaran bendera merah
> putih dan mengumandangkan “Indonesia Raya” pada 31 Agusuts 1945. Padahal,
> itu tanggal lahir Ratu Wilhelmina dan diperingati Belanda sebagai “Hari
> Ratu”.
>
> Papua *Bestuurschool* mempertemukan Sugoro, mantan Digulis, dengan antara
> lain, Frans Kaisiepo, Nicolas Jouwe, Marcus Kaisiepo, Marthen Indey,
> Corinus Krey, Lucas Rumkorem, Silas Papare. Sebagai anggota polisi Hindia
> Belanda, Marthen Indey pernah ditugaskan untuk melatih Batalyon Papua yang
> dibentuk Sekutu untuk menghadapi Jepang. Pertemuan-pertemuan mereka
> melahirkan usaha perlawanan untuk mewujudkan kemerdekaan Indonesia di Irian
> Barat. Rencana perlawanan tanggal 25 Desember 1945 yang melibatkan anggota
> Batalyon Papua, polisi serta orang sipil gagal, karena sudah ketahuan oleh
> penguasa Belanda. Sugoro, Marthen Indey, Silas Papare dan Lukas Rumkorem
> ditangkap dan dipenjara di Jayapura.
>
> Rencana perlawanan berikutnya yang ditetapkan pada 17 Juli 1946, dan
> dipimpin Penggoncang Alam, seorang pejuang dari Minangkabau, juga gagal.
>
> Setelah dua kegagalan itu, para pejuang kemerdekaan mendirikan organisasi..
> Yang pertama adalah Komite Indonesia Merdeka (KIM) di Jayapura, bulan
> Oktober 1946. Ini merupakan cabang dari KIM yang didirikan di Melbourne, 29
> September 1945, dengan tujuan membela dan mempertahankan Proklamasi 1945
> dan memulangkan mantan tahanan Digulis ke tanah air tanpa campur tangan
> Belanda. Setelah Dr. Gerungan meninggalkan Papua, KIM dipimpin Marthin
> Indey.
>
> Silas Papare kembali ke kampung halamannya di Serui dan bertemu dengan Dr..
> G.S.S.J Ratulangi yang diasingkan NICA, 5 Juli 1946. Dengan bimbingan
> Ratulangi, di Serui berdiri Partai Kemerdekaan Indonesia Irian (PKII).
> Pengaruh KIM dan PKII meluas di wilayah Papua. Hal ini ditandai dengan
> berdirinya berbagai organisasi kemerdekaan. Di Manokwari, Petrus Wattebossy
> bersama S.D. Kawab, mendirikan Gerakan Merah Putih (GMP). Di Sorong,
> Perintis Kemerdekaan didirikan oleh Sangaji Malan pada 1946. Kegiatan
> menentang pemerintah Belanda dibayar Sangaji Malan dengan penjara di
> Jayapura selama 12 tahun.
>
> Lalu, 17 Agustus 1947, di Sorong juga, didirikan Persatuan Pemuda
> Indonesia (PPI), yang beranggotakan tidak hanya para pemuda Papua, tapi
> juga dari suku bangsa lainnya yang tinggal di Sorong. Kebanyakan dari
> mereka bekerja di Nederlandsch Nieuw Guinea Petroleum Maatschappij.
>
> Di Biak, berdiri cabang KIM yang kemudian berubah nama menjadi Partai
> Indonesia Merdeka (PIM) yang dipimpin oleh Lucas Rumkorem. Akibatnya
> Rumkorem ditangkap dan dipenjara di Jayapura.
>
> Marthen Indey berkunjung ke Ambon, 7 Januari 1947 dan bertemu dengan tokoh
> Maluku pro-Indonesia. Kemudian, 23 Maret 1947, Marthin Indey ditangkap
> pemerintah kolonial Belanda dan dijatuhi hukuman 4,5 tahun.
>
> Pada Maret 1948, terjadi pemberontakan di Biak melawan Belanda. Meskipun
> pemberontakan berlangsung hanya sehari, namun pemerintahan Belanda dibuat
> kewalahan sehingga minta bantuan dari Jayapura. Petro Jandi dihukum mati,
> Stevanus Joseph dihukum seumur hidup dan dipenjara di Cipinang, Jakarta.
> Sedangkan yang lainnya dihukum antara 2 hingga 9 tahun. Tahun 1949, Frans
> Kaisiepo menolak menjadi Ketua Delegasi Nederlands Nieuw Guinea ke
> Konperensi Meja Bundar.
>
> Dapatkah kita meremehkan dan menghapus begitu saja semua aksi dan
> perlawanan para pejuang yang mempertaruhkan kebebasan bahkan jiwanya?
>
> Penundaan penyelesaian Papua yang diterima oleh delegasi RI di Konferensi
> Meja Bundar (KMB) merupakan konsesi besar kepada kolonialisme Belanda.
> Terbuka jalan untuk merealisasi pemisahan Papua dari Indonesia yang sudah
> direncanakan Belanda. Pada 27 Desember 1949, van Eechoud menyatakan Papua
> berada di bawah pemerintahan Ratu Belanda, padahal dia tahu beberapa tokoh
> Papua dan juga negara boneka Belanda tidak menyetujuinya. Tapi Belanda tak
> peduli. Tahun 1956, Belanda mengubah UUD Kerajaan dan memasukkan Irian
> Barat sebagai salah satu bagian negaranya.
>
> Pendukung separatisme tidak pernah menyinggung atau mempersoalkan
> partisipasi atau persetujuan penduduk Papua atas pemisahan yang jelas
> melanggar kedaulatan Indonesia atas Hindia Belanda yang diakui Belanda di
> KMB. Jadi siapa yang menganeksasi Papua? Juga tidak bicara tentang janji
> menyelesaikan soal Papua dalam waktu satu tahun yang terus dilanggar
> Belanda.
>
> Pemisahan ini kemudian “disulap” menjadi “bukti” oleh pendukung
> separatisme, seolah-olah Papua tidak pernah menjadi bagian dari Indonesia..
> Mereka tidak sadar atau dengan sengaja menyembunyikan taktik licik Belanda
> untuk memisahkan Papua dari Indonesia melalui Konferensi Malino, Konferensi
> Denpasar dan KMB.
>
> Setelah Papua dicaplok Belanda (inilah yang sesuai dengan fakta sejarah,
> bukan Indonesia yang “menganeksasi” Papua), mulailah mengalir uang untuk
> infrastruktur dan pendidikan guna melahirkan sebuah elite pro-Belanda dan
> anti-Indonesia. Seperti kata sejarawan politik Australia, Richard Chauvel,
> pada akhir 50-an, kebijakan Van Eechoud ditransformasi menjadi sebuah
> program eksplisit untuk melatih dan memimpin sebuah elite politik.
>
> Drooglever menulis: “Bagi mereka, pendidikan adalah koreri gaya baru, dan
> mereka tahu harus bersyukur kepada orang Belanda. Oleh karena itu, sangat
> banyak dari mereka bersikap positif terhadap para mantan guru Belanda. Pada
> 27 Desember 1954, pada lustrum pertama gubernemen mandiri mereka, 1.500
> pemuda Papua berdemonstrasi di depan rumah gubernur di Hollandia untuk
> menyatakan kesetiaan mereka….”.
>
> *Elite Pro-Belanda*
> Merekalah yang dianggap Belanda sebagai wakil “sah” rakyat Papua, karena
> pro-Belanda. Menurut Richard Chauvel, awal 60-an terbentuk sudah sebuah
> elite kecil dan jumlahnya mencapai kira-kira 10 ribu orang. Dalam 10 tahun,
> Belanda berhasil melahirkan sebuah lapisan masyarakat yang dibutuhkan untuk
> melanggengkan dominasinya di Irian Barat.
>
> Dalam menanggulangi kekurangan personel aparat keamanan dan
> pemerintahannya, Van Eechoud yang berfilsafat anti ‘amberi’
> (Amber=pendatang), mendatangkan orang-orang Indo-Eropa. Dia menolak orang
> Ambon dan Timor, walau satu ras dengan orang Papua.
>
> Jadi Belanda-lah yang mengembangkan kesadaran yang bertentangan dengan
> nation building Indonesia. Belanda juga yang memelihara mentalitas anti
> ‘am-beri’. Tak heranlah kalau di Papua kental sekali dan selalu ditegaskan
> garis pemisah antara Orang Asli Papua (OAP) dan Orang Pendatang. Itulah
> warisan yang ditinggalkan pendidikan Belanda yang digencarkan sejak tahun
> 50-an.
>
> Sementara itu, dalam keadaan diduduki Belanda, mereka yang pro-Indonesia
> tidak berpangku tangan. Dengan segala keterbatasannya, mereka terus
> bergerak.
>
> Sebelum RIS bubar, Petrus Wattebossy, Marthen Indey, S.D. Kawab dan
> Corinus Krey bergabung dalam Partai Irian Dalam Republik Indonesia Serikat.
> Desember 1951, terjadi pemberontakan yang dipimpin T.J.Teppy, seorang
> sersan KNIL, H.A. Wanda dan Kortgas Griapon. Di daerah Kokonao-Mimika, 27
> Oktober 1957, berdiri Persatuan Kebangsaan Indonesia di Irian Barat yang
> mengadakan aksi damai pembacaan Sumpah Pemuda, 28 Oktober. Benyamin
> Felubun, setelah menjalani hukumannya di penjara Digul, 10 Oktober 1958,
> bersama kawan seperjuangannya membentuk “Untuk Pembebasan Irian” yang
> kemudian berubah menjadi Persatuan Semangat Pemuda 1945.
>
> Sebelum Papua dipisah dari Indonesia, Frans Kaisiepo, Marthen Indey, Lucas
> Rumkorem, dan kawan-kawan lainnya tidak dianggap Belanda sebagai wakil
> Papua. Mereka dianggap sebagai perwakilan semu dari Papua. Pikiran seperti
> itu diwarisi oleh akademisi Hendry Apituley, yang tidak menganggap orang
> Maluku yang pro-RI sebagai wakil Maluku.
>
> Belanda bukannya tidak tahu akan prinsip *Uti Possidetis Juris* dan juga
> sadar bahwa posisinya dalam hal Papua sulit dibenarkan oleh hukum
> internasional. Maka keluarlah taktik licik berikutnya:
> *self-determination*. Dalam “Rasisme dan Separatisme di Papua” (Sulindo,
> 13 Oktober 2019) sudah disinggung soal ini. Apakah pendukung
> *self-determination* Papua tidak sadar bahwa dukungannya itu berarti
> membenarkan dan berpihak kepada Belanda yang justru menggunakan hak
> menentukan nasib sendiri sebagai pelampung penyelamat politik Belanda?
>
> Setelah merasa kuat dengan dukungan elite Papua yang sudah dipupuknya,
> langkah berikutnya adalah membentuk New Guinea Council (Dewan Nugini)
> dengan mengeluarkan “Manifesto from the first Papuan People’s Congres,
> 1961”. Inilah implementasi *“self-determination”* a la Van Mook! Hal ini
> sudah disinggung dalam “Sekali Lagi soal Papua” (Sulindo, 4 September 2019).
>
> Menurut Nicolas Jouwe, peristiwa 1 Desember 1961 itulah yang seringkali
> dijadikan dasar klaim pemimpin Papua sekarang bahwa negara Papua pernah
> ada, tetapi dirampas oleh konspirasi Indonesia, AS dan juga Negara Kolonial
> Belanda. Sebuah dasar palsu atau ilusi yang dibangun secara bertahap dari
> Konferensi Malino, Denpasar, KMB, dan pernyataan van Eechoud, 27 Desember
> 1947. Puncaknya adalah perubahan UUD Kerajaan 1956 yang memasukkan Irian
> Barat sebagai bagian Belanda..
>
> Di pihak lain, Australia mendukung usaha Belanda untuk melanggengkan
> dominasinya di Papua melalui ide menyatukan Papua Barat dan Papua Timur
> dalam sebuah Federasi Melanesia. Ide ini diwarisi oleh sementara pemimpin
> separatisme yang selalu menekankan persamaan ras penduduk Papua dengan
> penduduk negara-negara di Pasifik seperti Vanuatu sebagai dasar persatuan..
> Penduduk NTT, walau rasnya Melanesia, tapi karena tidak menuntut berpisah
> dari Indonesia, agaknya sudah “dihapus” rasnya.
>
> Orang yang dengan jujur meneliti fakta sejarah yang berkaitan dengan upaya
> Belanda untuk kembali menjajah dan taktik-taktik liciknya untuk mencaplok
> Irian Barat, pasti akan dengan mudah mengerti bahwa politik konfrontasi
> Bung Karno yang melahirkan Trikora adalah akibat dan jawaban kepada semua
> usaha dan taktik jahat kolonial Belanda itu. Sukarno memang borjuasi, tapi
> lain dengan Hatta dan Syahrir. Bung Karno sampai sekarang sangat dibenci
> Belanda dan kaum separatis. Sebaliknya, Hatta dan Syahrir mereka sanjung...
> Bung Karno betul-betul membela integritas wilayah Indonesia di hadapan
> kolonialisme Belanda yang menganeksasi Irian Barat. Kita tinggal pilih:
> berpihak kepada Sukarno yang borjuis tapi anti-nekolim atau berpihak kepada
> nekolim Belanda yang ingin terus mengangkangi Irian Barat. Itulah hakikat
> masalahnya.
>
> Pendukung separatisme menginterpretasi konfrontasi Bung Karno sebagai
> “tidak demokratis”, “serakah”, bahkan “agresi” untuk “menganeksasi” Irian
> Barat! Mereka lupa bahwa Irian Barat telah dicaplok dan ketika itu di bawah
> kekuasaan penuh Belanda! Bagaimana mengharapkan Bung Karno ‘terjun’ di
> Papua untuk melakukan pekerjaan politik?
>
> Irian Barat, dari segi wilayah, setelah dikembalikan statusnya pada 1963,
> sebagai bagian dari Indonesia sejak kemerdekaan 1945, sebenarnya sudah
> selesai masalahnya. Tak perlu ada Pepera. Apakah penduduk Pulau Sulawesi
> dan pulau-pulau lainnya memerlukan Pepera untuk menjadi bagian dari
> Indonesia? Apalagi Bung Karno menyatakan Indonesia keluar dari PBB, Januari
> 1965. Siapa yang bisa membantah bahwa PBB pada hakikatnya adalah alat kaum
> imperialis? Indonesia kembali ke PBB karena pemerintahnya sudah berubah
> watak, dari anti-nekolim menjadi antek setianya.
>
> Sudah tentu pendukung separatisme bisa bilang, mengapa orang harus tunduk
> kepada prinsip hukum internasional *Uti Possidetis Juris*? Kalau bukan
> prinsip itu yang menjadi patokan, lalu apa penggantinya?
>
> Menurut Drooglever, dalam perang Korea, sumbangan Belanda menyangkut orang
> Papua. Seratus orang Papua menjadi bagian dari detasemen Belanda yang
> dikirim ke Korea. Banggakah penduduk Papua dijadikan *‘cannon fodder’*,
> umpan meriam oleh imperialis Belanda? *[Tatiana Hukum]*
>
> 
>

Kirim email ke