Ada satu KESALAHAN melihat persoalan disini, atau dengan kata lain hendak gunakan isu mineral ini untuk menyudutkan Jokowi saja!

Bukankah KETENTUAN mineral mentah tidak boleh diekspor, harus diolah setengah jadi dahulu itu didbuat masa Presiden SBY, sesaat sebelum Jokowi naik jadi Presiden RI!  Jadi, Jokowi itu hanya melaksanakan atau menindak lanjutkan ketentuan lama masa SBY itu! Jadi, ... siapa yang dibohongi siapa, ...? Yang benar harusnya bagaimana??? Kentuti saja ketentuan yang dibuat masa SBY atau bagaimana?

Kalau saja benar, keuntungan penambangan nikel RI hanya dapatkan 10%, sedang yang 90% digondol RRT, dan membuat Faisal Basri tidak rela, ... merasa sangat dirugikan! Kenapa tidak melihat dan coba bandingkan, keuntungan yang didapatkan RI sudah jauh lebih besar ketimbang Freeport, yang sudah lebih 70 tahun itu RI hanya bisa dapatkan kurang dari 1% saja! Disamping itu, sebaiknya juga melihat perbedaan perkembangan kehidupan rakyat sekitar tambang, bagaimana penduduk sekitar Freeport itu dengan katakanlah tambang Morowali dimana penduduk sekitar yang kabarnya bukan hanya bisa ikut menikmati listrik dan air-bersih, kesejahteraan berangsur meningkat cukup baik, bahkan ikut menikmati pengobatan gratis dari klinik.

Setiap kemajuan ada prosesnya, seringkali memang tidak ideal sebagaimana kita mimpikan, ... kenyataan yang kita lihat perkembangan teknologi begitu cepat itu, TIDAK MUNGKIN terpikirkan bahkan bisa terbayangkan dimasa 10 tahunan yl. Tentu kita bisa bilang sekarang ini, mestinya kita juga menuntut begini atau begitu yang lebih baik untuk Indonesia, tapi bagaimana mungkin ketika itu terjadi??? Kalau memang kenyataan BELUM mungkin, di Indonesia yang belum ada syarat2nya! Janganlah bermimpi, RI bisa dapat untung lebih BESAR kalau nikel itu dengan bangun pabrik baterai lithium itu, ... Siapa ketika itu bisa terpikir kesitu? Bukankah untuk kesitu dibutuhkan syarat-syarat objektif yang dibutuhkan. Pertama harus ada modal yang lebih besar dan kedua harus ada teknologi yang diperlukan! Kalau Indonesia sendiri belum ada, bukankah lagi-lagi juga harus mengundang modal asing, ... kira-kira siapa yang mau tanam modal begitu besar dan keluarkan teknologinya? Tanpa insentif yang menawan apa ada asing yang mau, ...??? Segala keuntungan bukan jatuh dari langit, .... harus ada pengorbanan juga!

Tapi, bagaimanapun juga pemikiran Indonesia harus bisa BERDIKARI adalawh BENAR, dan harus menjadi TEKAD bangsa untuk mewujudkan secepat mungkin, .... Itulah Trisakti bung Karno! Bukan dengan menyalah-nyalahkan RRT yang sudah dan sedang membantu Indonesia, mau dan berani tanamkan modal begitu besar di Indonesia bangun smelter! Tapi, tapi gunakanlah kesempatan yang ada itu BELAJAR mengerjakan segalanya SENDIRI,...!!! Gunakan sebaik-baiknya modal-asing yang masuk untuk BELAJAR mengerjakan sendiri dalam waktu secepat mungkin! Begitulah pengalaman rakyat Tiongkok, yang berani memasukkan modal asing darimanapun juga, tidak perlu ribut-ribut menyalah-nyalahkan keuntungan diraih lebih banyak oleh asing, sebaliknya RRT hanya dijadikan pabrik dunia yang hanya menguntungkan asing! Kesehatan Rakyat Tiongkok sebaliknya rusak akibat polusi pencemaran lingkungan hidup, ....! Itulah PENGORBANAN yang sulit dihindari, ...Tapi, bukankah kenyataan dalam 40 tahun terakhir ini, justru RRT tumbuh menjadi kekuatan ekonomi dan teknologi yang sanggup menantang AS! RRT menjadi ancaman terberat AS, ...

Ingat pengorbanan bangsa Indonesia sudah sangat besar selama ratusan terakhir ini, tapi BELUM juga BERHASIL tegak berdiri diatas kaki sendiri dengan baik! Mengapa? Antara lain, karena hanya menyalahkan orang lain, tidak pandai melihat dimana kesalahan diri sendiri, tidak pandai merebut setiap kesempatan untuk BELAJAR apa yang dikerjakan orang lain agar bisa mengerjakan sendiri dengan lebih baik, ...!




-------- 轉寄郵件 --------
主旨:     [GELORA45] JOKOWI DIBOHONGI MENTAH-MENTAH!!!
日期:     Thu, 10 Sep 2020 00:44:29 +0200

        

        



_*https://www.youtube.com/watch?v=tAO00hYiMUQ
*_
_**
_
_
_


 Faisal Basri Duga Jokowi Dibohongi soal Hilirisasi Mineral

CNN Indonesia | Rabu, 09/09/2020 12:02 WIB
Bagikan :
Menurut Faisal Basri, alih-alih hilirisasi, justru praktik pemburuan rente besar-besaran terjadi sejak kebijakan larangan ekspor bijih nikel. Ekonom Senior Faisal Basri menilai Presiden Jokowi dibohongi soal hilirisasi mineral di dalam negeri. Alih-alih hilirisasi, justru praktik pemburuan rente besar-besaran terjadi sejak kebijakan larangan ekspor bijih nikel. Ilustrasi. (CNN Indonesia).
Jakarta, CNN Indonesia --

Ekonom Senior*Faisal Basri <https://www.cnnindonesia.com/tag/faisal-basri>* menyebut Presiden Joko Widodo (*Jokowi <https://www.cnnindonesia.com/tag/jokowi>*) dibohongi mentah-mentah soal*hilirisasi <https://www.cnnindonesia.com/tag/hilirisasi>* mineral di Indonesia.

Mengutip pidato kenegaraan presiden dalam sidang tahunan MPR 14 Agustus lalu, Jokowi menyebut pengolahan nikel, stainless steel slab, dan lembaran baja, akan membuat posisi Indonesia menjadi sangat strategis dalam pengembangan baterai lithium, mobil listrik dunia dan produsen teknologi di masa depan.

Memang, menurut Faisal, sebagian pidato tersebut benar adanya. Indonesia telah berhasil mengolah bijih nikel menjadi ferro nikel, stainless steel slab, dan lembaran baja.


         Lihat juga:

Faisal Basri Tuding Hilirisasi Nikel Untungkan Investor China <https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20200903133119-85-542381/faisal-basri-tuding-hilirisasi-nikel-untungkan-investor-china>

Namun, beberapa produk itu sudah cukup lama telah dihasilkan di dalam negeri, antara lain oleh PT Antam (Persero) di Pomalaa, PT Valle di Sorowako, dan PT Indoferro di Cilegon.

"Sampai sekarang tidak ada fasilitas produksi untuk mengolah bijih nikel menjadi hidroksida nikel (kadar nikel (Ni) 35 persen sampai 60 persen) dan nikel murni berkadar 99,9 persen yang menjadi bahan utama menghasilkan baterai," jelasnya dikutip dari situs pribadinya/Faisalbasri.com/Rabu (9/9).

Di samping itu, yang dilakukan pemerintah juga masih jauh dari proses hilirisasi. Sebab, sampai sekarang tidak ada fasilitas produksi untuk mengolah bijih nikel menjadi hidroksida atau kadar nikel (Ni) 35 persen sampai 60 persen) dan nikel murni berkadar 99,9 persen yang menjadi bahan utama menghasilkan baterai.

"Perusahaan-perusahaan smelter yang menjamur belakangan ini baru mencapai sekitar 25 persen menuju produk akhir, jadi tidak bisa dikatakan telah menjalankan industrialisasi atau menjadi ujung tombak industrialisasi. Kalau menggunakan istilah hilirisasi, perjalanan menuju hilir masih amat panjang," terang dia.


         Lihat juga:

Faisal Basri Sebut Sektor Tambang Paling Banyak Tilep Pajak <https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20200903132020-532-542362/faisal-basri-sebut-sektor-tambang-paling-banyak-tilep-pajak>

Alih-alih hilirisasi, yang terjadi menurut Faisal justru praktik pemburuan rente besar-besaran. Hal ini salah satunya terlihat dari percepatan kebijakan larangan ekspor bijih nikel pada 2019 dari yang seharusnya 2022.

Sejak nikel dilarang ekspor, harga nikel di dalam negeri jatuh dibandingkan harga internasional. Akibatnya, investor smelter asal China berbondong-bondong ke RI.

Selain mendapatkan harga nikel yang murah, mereka menikmati fasilitas luar biasa dari pemerintah, mulai dari tax holiday, penghapusan pajak ekspor dan bayar pajak pertambahan nilai, termasuk membawa pekerja kasar sekalipun tanpa pungutan 100 dolar AS per bulan bagi pekerja asing.

"Mereka bebas mengimpor apa saja yang dibutuhkan. Tak pula harus membayar royalti tambang. Mereka bebas menentukan surveyor dan trader yang bertindak sebagai oligopsoni menghadapi pemasok bijih nikel. Semua fasilitas itu tidak dinikmati di negara asalnya," ucap Faisal.


         Lihat juga:

DJP Gandeng 5 BUMN Tambang Demi Integrasi Data Pajak <https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20200904124404-532-542770/djp-gandeng-5-bumn-tambang-demi-integrasi-data-pajak>

Faisal berpandangan model yang 'aneh' seperti ini sangat kecil kemungkinannya bisa memperbaiki defisit transaksi berjalan sebagaimana diharapkan Jokowi.

Sebab nilai tambah yang dinikmati Indonesia nikmati tak sampai 10 persen dari keseluruhan nilai tambah yang tercipta. Itu pun kebanyakan dinikmati oleh para pemburu rente di dalam negeri.

"Belum ada sama sekali pijakan untuk mengembangkan bijih nikel menjadi bahan utama untuk baterai lithium. Belum ada rute menuju ke sana. Indonesia sejauh ini hanya dimanfaatkan sebagai penopang industrialisasi di China dengan ongkos sangat murah dibandingkan kalau kegiatan serupa dilakukan di China," tegas Faisal.



*(hrf/bir)*

Kirim email ke