*Kalau  10 dan 90% bagi hasil, masalahnya tidak beda dengan Freeport Inc di
Papua.pasa zaman Soeharto. Mereka bagi hasil 9% ke Indonesia sisanya 91%
FT.  Dari 9% itu 3% untuk pemerinta dan 6% untuk walahualam*..

On Fri, Sep 11, 2020 at 2:25 PM ChanCT [email protected] [GELORA45] <
[email protected]> wrote:

>
>
> Bung Lusi, ... bagaimana bisa menanggapi masalah yang diajukan Faisal
> Basri kalau tidak diajukan masalah perjanjian konkrit yang dimaksudkan, ....
> dan dikatakan Jokowi tidak mentrapkan doktrin BERDIKARI??? Yang mana, ...?
>
> Bahwa RI hanya dapatkan 10% keuntungan sedang yang 90% digondol RRT, tidak
> diperhitungkan berapa puluh ribu pekerja dan bahkan penduduk sekitar bisa
> diuntungkan dan naik taraf hidupnya, ... karena kita semua tidak jelas
> bagaimana perjanjian konkrit perusahaan tambang nikel itu, bagaimana
> pembagian keuntungan produksi yang telah berlangsung sekarang ini. Lalu,
> apa yang mau dipersoalkan sesungguhnya???
>
> Lalu, ... bagaimana menurut bung sebaiknya, biar pihak RI, rakyat
> Indonesia pemilik kekayaan buminya itu lah yang seharusnya mendapatkan 90%
> keuntungannya, ... BISA??? Bisanya hanya ngomel saja! Hahahaa, ...
>
>
>
> Lusi D. 於 2020/9/11 下午 04:40 寫道:
>
> Bung Chan kok tidak menanggapi masalah yang diajukan oleh Faisal Basri
> sesuai dengan point persoalannya. Kan dia mengajukan masalah pentrapan
> salah kaprahnya si Jokowi yang ngawur itu dalam mentrapkan doktrin
> berdikari dan sekaligus menunjukkan minimnya kemampuan Jokowi dalam
> mempelajari njelimetnya celah-celah lika-liku dalam membuat
> perjanjian soal-soal hubungan perekonomian kongkrit, sekali lagi
> kongkrit, dengan RRT yang dalam pelaksanaan hubungan politik
> perekonomian luarnegerinya sudah didominasi oleh kerakusan otak-otaknya
> si taipan-taipan itu.
> Yang dikritik Faisal Basri itu adalah kecupetan berfikirnya si Jokowi
> yang tidak mampu menganalisa sampai-sampai yang punya kekayaan tanahair
> ini, yaitu rakyat Indonesia, ternyata hanya mendapat bagian 5 % saja.
> Sedang yang 95 prosen diborong oleh taipan-taipan RRT bersama para
> cukong-cukongnya.
> Kalau bung tidak bisa melihat kelicikan perjanjian ekonomi dengan
> Tiongkok sekarang ini, yah itu bukan lagi masalah penguasaan
> pengetahuan, tapi sudah masalah keperpihakan kita masing-masing. Saya
> sih ya maklum-maklum sajalah. Emangnya bung pernah mengkritik politik
> luarnegeri remo PKT?
>
>
>
>
> Am Fri, 11 Sep 2020 11:01:07 +0800
> schrieb ChanCT <[email protected]> <[email protected]>:
>
>
> BETUUUUL, …!!! Jangan jiplak pengalaman negara lain begitu saja! Bisa
> runyam bahkan ambruk!
>
> Betapapun baik dan indah pengalaman negara lain, dan patut diamati
> dan dipelajari dengan baik-baik! BELAJAR lah dengan baik-baik
> pengalaman negara lain! Bisa melihat keunggulan negara lain untuk
> memperbaiki kekurangan dan kelemahan negara sendiri! Namun, tidak
> berarti menjiplak pengalaman dan keunggulan negara lain begitu saja,
> harus dengan cermat melihat kondisi konkrit negara itu dan
> disesuaikan dengan kondisi sendiri yang berbeda,…!
>
> Jadi, pertama harus lebih dahulu berkemampuan dengan TEPAT melihat
> secara menyeluruh sistem negara yang dijalankan. Bukan dengan
> dipenggal apalagi hanya mempertentangkan DEMOKRASI dan OTORITER yang
> dijalankan.
>
> Dalam kenyataan, selama lebih 70 tahun ini sistem kenegaraan
> Tiongkok, yang dijalankan adalah “Diktatur Proletariat” dibawah
> pimpinan tunggal Partai Komunis Tiongkok! Jadi, RRT memang berbeda
> dengan yang dijalankan dunia barat umumnya. RRT tidak menjalankan
> sitem “TRIAS POLITIKA”, dimana kekuasaan terbagi secara terpisah
> menjadi kekuasaan Legislatif, Yudikatif dan Eksekutif yang tidak
> saling mencampuri.
>
> Sekalipun dinyatakan dibawah pimpinan Partai tunggal, PKT, tapi
> konstitusi juga menandaskan kekuasaan tertinggi berada ditangan
> Kongres Rakyat Nasional! Namun ingat, dan baik kita perhatikan
> bersama, prinsip kerja PKT adalah keputusan kolektif, setidaknya
> dewan harian politbiro, bukan keputusan seorang ketua saja! Sedang
> Kongres Rakyat Nasional yang terdiri dari sekitar 3 ribu peserta
> wakil rakyat seluruh negeri itu adalah kekuasaan KOLEKTIF. Bukan dan
> tidak bisa diartikan kekuasaan perseorangan ketua saja, … walaupun
> kitapun bisa melihat dalam paraktek telah terjadi kesalahan-kesalahan
> politik PKT yang ditimpakan pada ketua Mao seorang saja. Padahal
> tidak begitu! Sekalipun kesalahan politik itu keluar dari mulut Ketua
> Mao, tetap adalah keputusan Partai dan seharusnya menjadi
> tanggungjawab PKT, …! Ini pertama.
>
> Kedua, dalam kenyataan sistem kenegaraan yang berlangsung di
> Tiongkok, juga berlakukan kekuasaan legislatif, yudikatif dan
> eksekutif secara kerjasama dan saling mengawasi. RRT menempatkan
> kekuasaan legislatif, dalam hal ini KRN sebagai kekuasaan tertinggi
> dan Majelis Permusyawaratan Politik yang independen dalam menentukan
> keputusan. Bahkan dalam pengertian tertentu harus dikatakan lebih
> DEMOKRATIS ketimbang demokrasi yang berlangsung di barat! Bagaimana
> tidak, bukan saja perwakilan dipilih langsung secara bertingkat dari
> daerah, Kabupaten, Propinsi sampai pusat, tapi juga, setiap kebijakan
> politik yang akan diputuskan di KRN, lebih dahulu didiskusikan dan
> menampung usulan perbaikan dari warga seluas-luasnya diberbagai
> tingkat didaerah, … Itulah kekuasaan Rakyat, dari rakyat untuk
> kepentingan rakyat sesungguhnya yang dijalankan RRT sekarang ini!
>
> Begitu juga dengan Dewan negara sebagai kekuasaan eksekutif badan
> Yudikatif tetap menjalankan tugas dan wewenangnya secara independen
> dan tidak dijamah oleh siapapun, selama tunduk dan tidak melanggar
> ketentuan UUD dan Konstitusi!
>
> Ketiga, tentunya sulit bahkan tidak akan mungkin RI belajar apalagi
> mau meniru sistem kenegaraan yang dijalankan RRT itu! Bagaimana
> mungkin, kalau sampai sekarang PKI masih saja dijadikan momok yang
> ditakuti dan harus dibasmi, …??? Padahal pengalaman perjuangan
> Tiongkok justru menunjukkan adanya pimpinan tunggal PKT itulah yang
> membuat segala kebijakan politik bisa lancar dan terjamin
> dilaksanakan sebaik-baiknya, dari atas sampai kebawah! Karena setiap
> kebijakan politik yang diambil jelas dan benar-benar sesuai dengan
> KEPENTINGAN RAKYAT banyak! Jadi bukan kebijakan politik hanya untuk
> kepentingan sekelompok orang dengan tak peduli merugikan kepentingan
> rakyat banyak, seperti yang selama ini seringkali terjadi di
> negara-negara barat, termasuk Indonesia!
>
>
>
> 'Lusi D.' [email protected] [GELORA45] 於 2020/9/11 上午 12:30 寫道:
>
> 1.:
>
> *Ada yang Mau Tiru Otoriter China, Rizal Ramli: Negara Bisa Ambruk!
> *
> Kamis, 10/09/2020 04:17 WIB
> https://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=&ved=2ahUKEwjzl-ux-t7rAhWB8eAKHW59B4Q4UBAWMAd6BAgKEAE&url=https%3A%2F%2Fwww.law-justice.co%2Fartikel%2F93112%2Fada-yang-mau-tiru-otoriter-china-rizal-ramli-negara-bisa-ambruk%2F&usg=AOvVaw13kvmNYxmizZHbw5Q2wv0c
>
> Jakarta, law-justice.co - Tokoh Nasional, DR. Rizal Ramli kembali
> melontarkan kritikan tajam dalam mengamati sistem politik di
> Indonesia.
>
> Khususnya saat pemerintah membuat kebijakan yang menghilangkan
> peran-peran legislatif dan yudikatif.
>
> Salah satu kebijakan yang menjadi kontroversial karena menghilangkan
> peran kedua lembaga itu adalah Perppu 1/2020 yang kini sudah resmi
> menjadi UU 2/2020 atau yang kerap disebut UU Corona.
>
> Secara satire, Menko Perekonomian era Presiden Gus Dur itu menilai
> bahwa pemerintah sedang mencoba meniru sistem otoriter di China.
>
> Bedanya, hanya gaya otoriternya saja yang ditiru tanpa memperhatikan
> kebijakan pro pekerja dan pro rakyat miskin.
>
> “Ada yang rindu dan mau niru-niru sistem otoriter ala RRC,” tuturnya
> dalam akun Twitter pribadi, Rabu 9 September 2020.
>
> Dalam kicauan ini, Rizal Ramli turut mengunggah sebuah gambar tiga
> lingkaran bertulis legislative, executive, dan judicial, dengan
> tulisan before atau sebelum di atas ketiga lingkaran tersebut.
>
> Kemudian ketiga lingkaran itu menjadi satu ruang besar tanpa sekat
> dan di atasnya bertulis now atau keadaan sekarang.
>
> Selanjutnya, ruang itu menjadi lingkaran dengan garis tegas bertulis
> “Oligarki” dengan tulisan di atasnya soon, atau sebentar lagi.
>
> Kembali ke kritik. Rizal Ramli mengingatkan bahwa mengadopsi sistem
> China untuk mempercepat pengambilan keputusan yang dilakukan
> pemerintah bisa menimbulkan efek yang berbahaya.
>
> “Negatifnya, kesalahan akan berakumulasi karena tanpa kontrol, dan
> kalau fatal negaranya bisa ambruk,” tekan mantan Menko Kemaritiman
> itu.
>
> Kini, Rizal Ramli mempertanyakan alasan sekat-sekat pada trias
> politika yang dihilangkan oleh pemerintah. Dia mengajak kelompok
> kritis untuk terus menyuarakan kebenaran agar negara tidak ambruk.
>
> “Kenapa trias politika diubah, dibikin kacau? Kebenaran harus
> disuarakan, sebelum negara ambruk beneran,” tutupnya.
>
>
> Am Thu, 10 Sep 2020 20:09:23 +0800
> schrieb "ChanCT [email protected] [GELORA45]"<[email protected]> 
> <[email protected]>:
>
>
> Iyaaa, bung Djie, ... nampaknya yang dinamakan tax-holiday
> diberikan pemerintah RI pada modal asing lebih royal, bisa 5-10
> tahun! Tentu dengan perhitungan mereka sendiri,pemerintah telah
> menghitung potential loss atau potensi kerugian dari kebijakan
> ini, namun dinilai tak seberapa dibandingkan dengan benefit yang
> didapatkan.
>
> “Kami sudah menghitung kami mendapatkan benefit seperti
> pertumbuhan industri hulu, penyerapan tenaga kerja, hingga
> ekspor yang meningkat, dan ini jauh lebih dari cost yang kami
> keluarkan,” ucapnya, di Batam, Kamis, 12 April 2018.
> Perhitungan tersebut masuk ke dalam tahapan /regulatory impact
> analysis/.(TEMPO, Kamis, 12 April 2018 18:28 WIB)
>
> Tapi, yang saya tahu di RRT setelah Deng jalankan kebijakan
> Reformasi dan Keterbukaan, tahun 1980, tax-holiday diberikan
> sekitar 3-5 tahun saja! Tentu boleh-boleh saja tax-holiday yang
> diberikan lebih longgar dengan perhitungan masing-masing untuk
> menarik modal asing mau masuk investasi, … Diatas segalanya,
> yang lebih PENTING dan harus diutamakan tentu pemerintah bisa
> mengirim kader/pejabat, teknisi nya untuk BELAJAR menguasai
> menjalankan pabrik, industri yang dijalankan itu. Agar secepat
> mungkin bisa mengerjakannya sendiri! Jadi BUKAN hanya bekerja
> menjadi kuli dan tetap saja tidak bisa BERDIKARI, … Begitulah
> RRT akhirnya bisa maju BERDIKARI, bukan hanya menjiplak tapi
> mengembangkan produksi orang lain itu dengan lebih baik.
>
>
>
>
> kh djie 於 2020/9/10 下午 02:59 寫道:
>
> Bung Chan,
> Memang dengan diberikannya tax holiday pada investor besar,
> selama beberapa tahun kehilangan Pajak Penghasilan Badan
> yang dikenakan pada perusahaan atas keuntungan bersihnya.
> Tetapi investor juga membandingkan antara lain negara mana
> yang memberi tax holiday lebih baik untuk menetapkan mau
> investasi di mana.
> Tetapi negara tetap dapat penghasilan dari Pajak Penghasilan
> Badan yang dikenakan pada para karyawan (dari presiden
> direktur sampai bawahan di atas penghasilan tertentu (5
> juta/bulan ?). Perusahaan tetap harus bayar PPN (Pajak
> Penambahan nilai). Kalau ditinjau dari segi tugas negara
> memakmurkan rakyat, adanya investasi besar yang membuka
> lapangan kerja sebagian tugas agak sedikit terpenuhi, dan
> jumlah kaum miskin yang harus diberi tunjangan oleh
> pemerintah (pengeluaran negara) berkurang? Selain itu dari
> produk hasil investasi, akan terlahir industri2 baru lainnya,
> yang akan memberi lebih banyak lapangan kerja dan dari
> industri2 baru ini dapat diperoleh pendapatan pajak, dan juga
> dari karyawan yang berpenghasilan di atas batas tertentu?
> Setelah masa tax holiday lewat, penghasilan pajak negara akan
> meningkat tinggi.
> Ya, di era lain, 10 -20 tahun lagi.......Jadi antara 2030 -
> 2040 Indonesia akan
> makmur?
>
>
> https://www.online-pajak.com/tentang-pajakpay/perbedaan-tax-holiday-dan-tax-allowance
>
>    
> https://www.pajak.go.id/artikel/memaksimalkan-manfaat-insentif-pajak-untuk-pembangunan-bangsa
>
>    
> https://bisnis.tempo.co/read/1078924/fasilitas-pajak-tax-holiday-tak-mengancam-pendapatan-negara/full&view=ok
>
>    
> https://www.cermati.com/artikel/pengertian-pajak-pertambahan-nilai-dan-dasar-hukumnya
>
> Op do 10 sep. 2020 om 06:16 schreef [email protected] 
> <mailto:[email protected]> <[email protected]> [GELORA45]
> <[email protected] <mailto:[email protected]> 
> <[email protected]>>:
>
> Ada satu KESALAHAN melihat persoalan disini, atau dengan kata
> lain hendak gunakan isu mineral ini untuk menyudutkan Jokowi
> saja!
>
> Bukankah KETENTUAN mineral mentah tidak boleh diekspor, harus
> diolah setengah jadi dahulu itu didbuat masa Presiden SBY,
> sesaat sebelum Jokowi naik jadi Presiden RI!  Jadi, Jokowi itu
> hanya melaksanakan atau menindak lanjutkan ketentuan lama
> masa SBY itu! Jadi, ... siapa yang dibohongi siapa, ...? Yang
> benar harusnya bagaimana??? Kentuti saja ketentuan yang
> dibuat masa SBY atau bagaimana?
>
> Kalau saja benar, keuntungan penambangan nikel RI hanya
> dapatkan 10%, sedang yang 90% digondol RRT, dan membuat Faisal
> Basri tidak rela, ... merasa sangat dirugikan! Kenapa tidak
> melihat dan coba bandingkan, keuntungan yang didapatkan RI
> sudah jauh lebih besar ketimbang Freeport, yang sudah lebih
> 70 tahun itu RI hanya bisa dapatkan kurang dari 1% saja!
> Disamping itu, sebaiknya juga melihat perbedaan perkembangan
> kehidupan rakyat sekitar tambang, bagaimana penduduk sekitar
> Freeport itu dengan katakanlah tambang Morowali dimana
> penduduk sekitar yang kabarnya bukan hanya bisa ikut
> menikmati listrik dan air-bersih, kesejahteraan berangsur
> meningkat cukup baik, bahkan ikut menikmati pengobatan gratis
> dari klinik.
>
> Setiap kemajuan ada prosesnya, seringkali memang tidak ideal
> sebagaimana kita mimpikan, ... kenyataan yang kita lihat
> perkembangan teknologi begitu cepat itu, TIDAK MUNGKIN
> terpikirkan bahkan bisa terbayangkan dimasa 10 tahunan yl.
> Tentu kita bisa bilang sekarang ini, mestinya kita juga
> menuntut begini atau begitu yang lebih baik untuk Indonesia,
> tapi bagaimana mungkin ketika itu terjadi??? Kalau memang
> kenyataan BELUM mungkin, di Indonesia yang belum ada
> syarat2nya! Janganlah bermimpi, RI bisa dapat untung lebih
> BESAR kalau nikel itu dengan bangun pabrik baterai lithium
> itu, ... Siapa ketika itu bisa terpikir kesitu? Bukankah
> untuk kesitu dibutuhkan syarat-syarat objektif yang
> dibutuhkan. Pertama harus ada modal yang lebih besar dan
> kedua harus ada teknologi yang diperlukan! Kalau Indonesia
> sendiri belum ada, bukankah lagi-lagi juga harus mengundang
> modal asing, ... kira-kira siapa yang mau tanam modal begitu
> besar dan keluarkan teknologinya? Tanpa insentif yang menawan
> apa ada asing yang mau, ...??? Segala keuntungan bukan jatuh
> dari langit, ... harus ada pengorbanan juga!
>
> Tapi, bagaimanapun juga pemikiran Indonesia harus bisa
> BERDIKARI adalawh BENAR, dan harus menjadi TEKAD bangsa untuk
> mewujudkan secepat mungkin, ... Itulah Trisakti bung Karno!
> Bukan dengan menyalah-nyalahkan RRT yang sudah dan sedang
> membantu Indonesia, mau dan berani tanamkan modal begitu
> besar di Indonesia bangun smelter! Tapi, tapi gunakanlah
> kesempatan yang ada itu BELAJAR mengerjakan segalanya
> SENDIRI,...!!! Gunakan sebaik-baiknya modal-asing yang masuk
> untuk BELAJAR mengerjakan sendiri dalam waktu secepat
> mungkin! Begitulah pengalaman rakyat Tiongkok, yang berani
> memasukkan modal asing darimanapun juga, tidak perlu
> ribut-ribut menyalah-nyalahkan keuntungan diraih lebih banyak
> oleh asing, sebaliknya RRT hanya dijadikan pabrik dunia yang
> hanya menguntungkan asing! Kesehatan Rakyat Tiongkok
> sebaliknya rusak akibat polusi pencemaran lingkungan
> hidup, .....! Itulah PENGORBANAN yang sulit
> dihindari, ...Tapi, bukankah kenyataan dalam 40 tahun
> terakhir ini, justru RRT tumbuh menjadi kekuatan ekonomi dan
> teknologi yang sanggup menantang AS! RRT menjadi ancaman
> terberat AS, ...
>
> Ingat pengorbanan bangsa Indonesia sudah sangat besar selama
> ratusan terakhir ini, tapi BELUM juga BERHASIL tegak berdiri
> diatas kaki sendiri dengan baik! Mengapa? Antara lain, karena
> hanya menyalahkan orang lain, tidak pandai melihat dimana
> kesalahan diri sendiri, tidak pandai merebut setiap kesempatan
> untuk BELAJAR apa yang dikerjakan orang lain agar bisa
> mengerjakan sendiri dengan lebih baik, ...!
>
>
>
>
> -------- 轉寄郵件 --------
> 主旨: [GELORA45] JOKOWI DIBOHONGI MENTAH-MENTAH!!!
> 日期: Thu, 10 Sep 2020 00:44:29 +0200
>
>
>
>
>
>
>
> _*https://www.youtube.com/watch?v=tAO00hYiMUQ
> *_
> _
> _
> _
> _
>
>
> Faisal Basri Duga Jokowi Dibohongi soal Hilirisasi Mineral
>
> CNN Indonesia | Rabu, 09/09/2020 12:02 WIB
> Bagikan :
> Menurut Faisal Basri, alih-alih hilirisasi, justru praktik
> pemburuan rente besar-besaran terjadi sejak kebijakan larangan
> ekspor bijih nikel.
> Ekonom Senior Faisal Basri menilai Presiden Jokowi dibohongi
> soal hilirisasi mineral di dalam negeri. Alih-alih hilirisasi,
> justru praktik pemburuan rente besar-besaran terjadi sejak
> kebijakan larangan ekspor bijih nikel. Ilustrasi. (CNN
> Indonesia). Jakarta, CNN Indonesia --
>
> Ekonom Senior*Faisal Basri<https://www.cnnindonesia.com/tag/faisal-basri> 
> <https://www.cnnindonesia.com/tag/faisal-basri>* menyebut
> Presiden Joko Widodo (*Jokowi<https://www.cnnindonesia.com/tag/jokowi> 
> <https://www.cnnindonesia.com/tag/jokowi>*) dibohongi
> mentah-mentah soal*hilirisasi<https://www.cnnindonesia.com/tag/hilirisasi> 
> <https://www.cnnindonesia.com/tag/hilirisasi>* mineral di
> Indonesia.
>
> Mengutip pidato kenegaraan presiden dalam sidang tahunan MPR
> 14 Agustus lalu, Jokowi menyebut pengolahan nikel, stainless
> steel slab, dan lembaran baja, akan membuat posisi Indonesia
> menjadi sangat strategis dalam pengembangan baterai lithium,
> mobil listrik dunia dan produsen teknologi di masa depan.
>
> Memang, menurut Faisal, sebagian pidato tersebut benar adanya.
> Indonesia telah berhasil mengolah bijih nikel menjadi ferro
> nikel, stainless steel slab, dan lembaran baja.
>
>
> Lihat juga:
>
> Faisal Basri Tuding Hilirisasi Nikel Untungkan Investor China
>
>
> <https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20200903133119-85-542381/faisal-basri-tuding-hilirisasi-nikel-untungkan-investor-china>
>  
> <https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20200903133119-85-542381/faisal-basri-tuding-hilirisasi-nikel-untungkan-investor-china>
>
> Namun, beberapa produk itu sudah cukup lama telah dihasilkan
> di dalam negeri, antara lain oleh PT Antam (Persero) di
> Pomalaa, PT Valle di Sorowako, dan PT Indoferro di Cilegon.
>
> "Sampai sekarang tidak ada fasilitas produksi untuk mengolah
> bijih nikel menjadi hidroksida nikel (kadar nikel (Ni) 35
> persen sampai 60 persen) dan nikel murni berkadar 99,9 persen
> yang menjadi bahan utama menghasilkan baterai," jelasnya
> dikutip dari situs pribadinya/Faisalbasri.com/Rabu (9/9).
>
> Di samping itu, yang dilakukan pemerintah juga masih jauh dari
> proses hilirisasi. Sebab, sampai sekarang tidak ada fasilitas
> produksi untuk mengolah bijih nikel menjadi hidroksida atau
> kadar nikel (Ni) 35 persen sampai 60 persen) dan nikel murni
> berkadar 99,9 persen yang menjadi bahan utama menghasilkan
> baterai.
>
> "Perusahaan-perusahaan smelter yang menjamur belakangan ini
> baru mencapai sekitar 25 persen menuju produk akhir, jadi
> tidak bisa dikatakan telah menjalankan industrialisasi atau
> menjadi ujung tombak industrialisasi. Kalau menggunakan
> istilah hilirisasi, perjalanan menuju hilir masih amat
> panjang," terang dia.
>
>
> Lihat juga:
>
> Faisal Basri Sebut Sektor Tambang Paling Banyak Tilep Pajak
>
>
> <https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20200903132020-532-542362/faisal-basri-sebut-sektor-tambang-paling-banyak-tilep-pajak>
>  
> <https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20200903132020-532-542362/faisal-basri-sebut-sektor-tambang-paling-banyak-tilep-pajak>
>
> Alih-alih hilirisasi, yang terjadi menurut Faisal
> justru praktik pemburuan rente besar-besaran. Hal ini salah
> satunya terlihat dari percepatan kebijakan larangan ekspor
> bijih nikel pada 2019 dari yang seharusnya 2022.
>
> Sejak nikel dilarang ekspor, harga nikel di dalam negeri jatuh
> dibandingkan harga internasional. Akibatnya, investor smelter
> asal China berbondong-bondong ke RI.
>
> Selain mendapatkan harga nikel yang murah, mereka
> menikmati fasilitas luar biasa dari pemerintah, mulai dari tax
> holiday, penghapusan pajak ekspor dan bayar pajak pertambahan
> nilai, termasuk membawa pekerja kasar sekalipun tanpa pungutan
> 100 dolar AS per bulan bagi pekerja asing.
>
> "Mereka bebas mengimpor apa saja yang dibutuhkan. Tak pula
> harus membayar royalti tambang. Mereka bebas menentukan
> surveyor dan trader yang bertindak sebagai oligopsoni
> menghadapi pemasok bijih nikel. Semua fasilitas itu tidak
> dinikmati di negara asalnya," ucap Faisal.
>
>
> Lihat juga:
>
> DJP Gandeng 5 BUMN Tambang Demi Integrasi Data Pajak
>
>
> <https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20200904124404-532-542770/djp-gandeng-5-bumn-tambang-demi-integrasi-data-pajak>
>  
> <https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20200904124404-532-542770/djp-gandeng-5-bumn-tambang-demi-integrasi-data-pajak>
>
> Faisal berpandangan model yang 'aneh' seperti ini sangat kecil
> kemungkinannya bisa memperbaiki defisit transaksi berjalan
> sebagaimana diharapkan Jokowi.
>
> Sebab nilai tambah yang dinikmati Indonesia nikmati tak sampai
> 10 persen dari keseluruhan nilai tambah yang tercipta. Itu pun
> kebanyakan dinikmati oleh para pemburu rente di dalam negeri.
>
> "Belum ada sama sekali pijakan untuk mengembangkan bijih nikel
> menjadi bahan utama untuk baterai lithium. Belum ada rute
> menuju ke sana. Indonesia sejauh ini hanya dimanfaatkan
> sebagai penopang industrialisasi di China dengan ongkos
> sangat murah dibandingkan kalau kegiatan serupa dilakukan di
> China," tegas Faisal.
>
>
>
> *(hrf/bir)*
>
>
>
>      
>

Kirim email ke