Kelihatannya bukan dibohongi mentah2 tapi dibohongi mateng2    On Saturday, 
September 12, 2020, 09:28:56 AM PDT, kh djie [email protected] [GELORA45] 
<[email protected]> wrote:  
 
 #yiv4833863091 #yiv4833863091 -- #yiv4833863091 
.yiv4833863091ygrp-photo-title{clear:both;font-size:smaller;min-height:15px;overflow:hidden;text-align:center;width:75px;}#yiv4833863091
 
div.yiv4833863091ygrp-photo{background-position:center;background-repeat:no-repeat;background-color:white;border:1px
 solid black;min-height:62px;width:62px;}#yiv4833863091 
div.yiv4833863091photo-title a, #yiv4833863091 div.yiv4833863091photo-title 
a:active, #yiv4833863091 div.yiv4833863091photo-title a:hover, #yiv4833863091 
div.yiv4833863091photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv4833863091 
div.yiv4833863091attach-table div.yiv4833863091attach-row 
{clear:both;}#yiv4833863091 div.yiv4833863091attach-table 
div.yiv4833863091attach-row div {float:left;}#yiv4833863091 p 
{clear:both;padding:15px 0 3px 0;overflow:hidden;}#yiv4833863091 
div.yiv4833863091ygrp-file {width:30px;}#yiv4833863091 
div.yiv4833863091attach-table div.yiv4833863091attach-row div div a 
{text-decoration:none;}#yiv4833863091 div.yiv4833863091attach-table 
div.yiv4833863091attach-row div div span {font-weight:normal;}#yiv4833863091 
div.yiv4833863091ygrp-file-title {font-weight:bold;}#yiv4833863091 
#yiv4833863091 #yiv4833863091 #yiv4833863091 --#yiv4833863091ygrp-mkp 
{border:1px solid #d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px 0;padding:0 
10px;}#yiv4833863091 #yiv4833863091ygrp-mkp hr {border:1px solid 
#d8d8d8;}#yiv4833863091 #yiv4833863091ygrp-mkp #yiv4833863091hd 
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px 
0;}#yiv4833863091 #yiv4833863091ygrp-mkp #yiv4833863091ads 
{margin-bottom:10px;}#yiv4833863091 #yiv4833863091ygrp-mkp .yiv4833863091ad 
{padding:0 0;}#yiv4833863091 #yiv4833863091ygrp-mkp .yiv4833863091ad p 
{margin:0;}#yiv4833863091 #yiv4833863091ygrp-mkp .yiv4833863091ad a 
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv4833863091 

Di Smelter ada joint venture dengan perusahaan Indonesia Bintang Delapan.Di 
pembuatan stainless steel joint venture perusahaan Tiongkok, Jepang, Korea 
dandari Indonesia PT Indonesia Morowali Industrial Park. Saya kira yang 
terakhir pinter dilakukan, jadi pasarannya terjamin di Tiongkok, Korea, Jepang, 
Indonesia?
Op za 12 sep. 2020 om 17:07 schreef Sunny ambon <[email protected]>:

Kalau  10 dan 90% bagi hasil, masalahnya tidak beda dengan Freeport Inc di 
Papua.pasa zaman Soeharto. Mereka bagi hasil 9% ke Indonesia sisanya 91% FT.  
Dari 9% itu 3% untuk pemerinta dan 6% untuk walahualam..
On Fri, Sep 11, 2020 at 2:25 PM ChanCT [email protected] [GELORA45] 
<[email protected]> wrote:

     
 

Bung Lusi, ... bagaimana bisa menanggapi masalah yang diajukan Faisal Basri 
kalau tidak diajukan masalah perjanjian konkrit yang dimaksudkan, ... dan 
dikatakan Jokowi tidak mentrapkan doktrin BERDIKARI??? Yang mana, ...?
 
Bahwa RI hanya dapatkan 10% keuntungan sedang yang 90% digondol RRT, tidak 
diperhitungkan berapa puluh ribu pekerja dan bahkan penduduk sekitar bisa 
diuntungkan dan naik taraf hidupnya, ... karena kita semua tidak jelas 
bagaimana perjanjian konkrit perusahaan tambang nikel itu, bagaimana pembagian 
keuntungan produksi yang telah berlangsung sekarang ini. Lalu, apa yang mau 
dipersoalkan sesungguhnya???
 
Lalu, ... bagaimana menurut bung sebaiknya, biar pihak RI, rakyat Indonesia 
pemilik kekayaan buminya itu lah yang seharusnya mendapatkan 90% keuntungannya, 
... BISA??? Bisanya hanya ngomel saja! Hahahaa, ...
 

 
 

 
 Lusi D. 於 2020/9/11 下午 04:40 寫道:
  
 Bung Chan kok tidak menanggapi masalah yang diajukan oleh Faisal Basri
sesuai dengan point persoalannya. Kan dia mengajukan masalah pentrapan
salah kaprahnya si Jokowi yang ngawur itu dalam mentrapkan doktrin
berdikari dan sekaligus menunjukkan minimnya kemampuan Jokowi dalam
mempelajari njelimetnya celah-celah lika-liku dalam membuat
perjanjian soal-soal hubungan perekonomian kongkrit, sekali lagi
kongkrit, dengan RRT yang dalam pelaksanaan hubungan politik
perekonomian luarnegerinya sudah didominasi oleh kerakusan otak-otaknya
si taipan-taipan itu. 
Yang dikritik Faisal Basri itu adalah kecupetan berfikirnya si Jokowi
yang tidak mampu menganalisa sampai-sampai yang punya kekayaan tanahair
ini, yaitu rakyat Indonesia, ternyata hanya mendapat bagian 5 % saja.
Sedang yang 95 prosen diborong oleh taipan-taipan RRT bersama para
cukong-cukongnya. 
Kalau bung tidak bisa melihat kelicikan perjanjian ekonomi dengan
Tiongkok sekarang ini, yah itu bukan lagi masalah penguasaan
pengetahuan, tapi sudah masalah keperpihakan kita masing-masing. Saya
sih ya maklum-maklum sajalah. Emangnya bung pernah mengkritik politik
luarnegeri remo PKT?




Am Fri, 11 Sep 2020 11:01:07 +0800
schrieb ChanCT <[email protected]>:

 
 BETUUUUL, …!!! Jangan jiplak pengalaman negara lain begitu saja! Bisa 
runyam bahkan ambruk!

Betapapun baik dan indah pengalaman negara lain, dan patut diamati
dan dipelajari dengan baik-baik! BELAJAR lah dengan baik-baik
pengalaman negara lain! Bisa melihat keunggulan negara lain untuk
memperbaiki kekurangan dan kelemahan negara sendiri! Namun, tidak
berarti menjiplak pengalaman dan keunggulan negara lain begitu saja,
harus dengan cermat melihat kondisi konkrit negara itu dan
disesuaikan dengan kondisi sendiri yang berbeda,…!

Jadi, pertama harus lebih dahulu berkemampuan dengan TEPAT melihat 
secara menyeluruh sistem negara yang dijalankan. Bukan dengan
dipenggal apalagi hanya mempertentangkan DEMOKRASI dan OTORITER yang
dijalankan.

Dalam kenyataan, selama lebih 70 tahun ini sistem kenegaraan
Tiongkok, yang dijalankan adalah “Diktatur Proletariat” dibawah
pimpinan tunggal Partai Komunis Tiongkok! Jadi, RRT memang berbeda
dengan yang dijalankan dunia barat umumnya. RRT tidak menjalankan
sitem “TRIAS POLITIKA”, dimana kekuasaan terbagi secara terpisah
menjadi kekuasaan Legislatif, Yudikatif dan Eksekutif yang tidak
saling mencampuri.

Sekalipun dinyatakan dibawah pimpinan Partai tunggal, PKT, tapi 
konstitusi juga menandaskan kekuasaan tertinggi berada ditangan
Kongres Rakyat Nasional! Namun ingat, dan baik kita perhatikan
bersama, prinsip kerja PKT adalah keputusan kolektif, setidaknya
dewan harian politbiro, bukan keputusan seorang ketua saja! Sedang
Kongres Rakyat Nasional yang terdiri dari sekitar 3 ribu peserta
wakil rakyat seluruh negeri itu adalah kekuasaan KOLEKTIF. Bukan dan
tidak bisa diartikan kekuasaan perseorangan ketua saja, … walaupun
kitapun bisa melihat dalam paraktek telah terjadi kesalahan-kesalahan
politik PKT yang ditimpakan pada ketua Mao seorang saja. Padahal
tidak begitu! Sekalipun kesalahan politik itu keluar dari mulut Ketua
Mao, tetap adalah keputusan Partai dan seharusnya menjadi
tanggungjawab PKT, …! Ini pertama.

Kedua, dalam kenyataan sistem kenegaraan yang berlangsung di
Tiongkok, juga berlakukan kekuasaan legislatif, yudikatif dan
eksekutif secara kerjasama dan saling mengawasi. RRT menempatkan
kekuasaan legislatif, dalam hal ini KRN sebagai kekuasaan tertinggi
dan Majelis Permusyawaratan Politik yang independen dalam menentukan
keputusan. Bahkan dalam pengertian tertentu harus dikatakan lebih
DEMOKRATIS ketimbang demokrasi yang berlangsung di barat! Bagaimana
tidak, bukan saja perwakilan dipilih langsung secara bertingkat dari
daerah, Kabupaten, Propinsi sampai pusat, tapi juga, setiap kebijakan
politik yang akan diputuskan di KRN, lebih dahulu didiskusikan dan
menampung usulan perbaikan dari warga seluas-luasnya diberbagai
tingkat didaerah, … Itulah kekuasaan Rakyat, dari rakyat untuk
kepentingan rakyat sesungguhnya yang dijalankan RRT sekarang ini!

Begitu juga dengan Dewan negara sebagai kekuasaan eksekutif badan 
Yudikatif tetap menjalankan tugas dan wewenangnya secara independen
dan tidak dijamah oleh siapapun, selama tunduk dan tidak melanggar
ketentuan UUD dan Konstitusi!

Ketiga, tentunya sulit bahkan tidak akan mungkin RI belajar apalagi
mau meniru sistem kenegaraan yang dijalankan RRT itu! Bagaimana
mungkin, kalau sampai sekarang PKI masih saja dijadikan momok yang
ditakuti dan harus dibasmi, …??? Padahal pengalaman perjuangan
Tiongkok justru menunjukkan adanya pimpinan tunggal PKT itulah yang
membuat segala kebijakan politik bisa lancar dan terjamin
dilaksanakan sebaik-baiknya, dari atas sampai kebawah! Karena setiap
kebijakan politik yang diambil jelas dan benar-benar sesuai dengan
KEPENTINGAN RAKYAT banyak! Jadi bukan kebijakan politik hanya untuk
kepentingan sekelompok orang dengan tak peduli merugikan kepentingan
rakyat banyak, seperti yang selama ini seringkali terjadi di
negara-negara barat, termasuk Indonesia!



'Lusi D.' [email protected] [GELORA45] 於 2020/9/11 上午 12:30 寫道:
 
 1.:

*Ada yang Mau Tiru Otoriter China, Rizal Ramli: Negara Bisa Ambruk!
*
Kamis, 10/09/2020 04:17 WIB

https://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=&ved=2ahUKEwjzl-ux-t7rAhWB8eAKHW59B4Q4UBAWMAd6BAgKEAE&url=https%3A%2F%2Fwww.law-justice.co%2Fartikel%2F93112%2Fada-yang-mau-tiru-otoriter-china-rizal-ramli-negara-bisa-ambruk%2F&usg=AOvVaw13kvmNYxmizZHbw5Q2wv0c

Jakarta, law-justice.co - Tokoh Nasional, DR. Rizal Ramli kembali
melontarkan kritikan tajam dalam mengamati sistem politik di
Indonesia.

Khususnya saat pemerintah membuat kebijakan yang menghilangkan
peran-peran legislatif dan yudikatif.

Salah satu kebijakan yang menjadi kontroversial karena menghilangkan
peran kedua lembaga itu adalah Perppu 1/2020 yang kini sudah resmi
menjadi UU 2/2020 atau yang kerap disebut UU Corona.

Secara satire, Menko Perekonomian era Presiden Gus Dur itu menilai
bahwa pemerintah sedang mencoba meniru sistem otoriter di China.

Bedanya, hanya gaya otoriternya saja yang ditiru tanpa memperhatikan
kebijakan pro pekerja dan pro rakyat miskin.

“Ada yang rindu dan mau niru-niru sistem otoriter ala RRC,” tuturnya
dalam akun Twitter pribadi, Rabu 9 September 2020.

Dalam kicauan ini, Rizal Ramli turut mengunggah sebuah gambar tiga
lingkaran bertulis legislative, executive, dan judicial, dengan
tulisan before atau sebelum di atas ketiga lingkaran tersebut.

Kemudian ketiga lingkaran itu menjadi satu ruang besar tanpa sekat
dan di atasnya bertulis now atau keadaan sekarang.

Selanjutnya, ruang itu menjadi lingkaran dengan garis tegas bertulis
“Oligarki” dengan tulisan di atasnya soon, atau sebentar lagi.

Kembali ke kritik. Rizal Ramli mengingatkan bahwa mengadopsi sistem
China untuk mempercepat pengambilan keputusan yang dilakukan
pemerintah bisa menimbulkan efek yang berbahaya.

“Negatifnya, kesalahan akan berakumulasi karena tanpa kontrol, dan
kalau fatal negaranya bisa ambruk,” tekan mantan Menko Kemaritiman
itu.

Kini, Rizal Ramli mempertanyakan alasan sekat-sekat pada trias
politika yang dihilangkan oleh pemerintah. Dia mengajak kelompok
kritis untuk terus menyuarakan kebenaran agar negara tidak ambruk.

“Kenapa trias politika diubah, dibikin kacau? Kebenaran harus
disuarakan, sebelum negara ambruk beneran,” tutupnya.
 
 
 Am Thu, 10 Sep 2020 20:09:23 +0800
schrieb "ChanCT [email protected] [GELORA45]"
<[email protected]>:
 
 
 Iyaaa, bung Djie, ... nampaknya yang dinamakan tax-holiday
diberikan pemerintah RI pada modal asing lebih royal, bisa 5-10
tahun! Tentu dengan perhitungan mereka sendiri,pemerintah telah
menghitung potential loss atau potensi kerugian dari kebijakan
ini, namun dinilai tak seberapa dibandingkan dengan benefit yang
didapatkan.

“Kami sudah menghitung kami mendapatkan benefit seperti
pertumbuhan industri hulu, penyerapan tenaga kerja, hingga
ekspor yang meningkat, dan ini jauh lebih dari cost yang kami
keluarkan,” ucapnya, di Batam, Kamis, 12 April 2018.
Perhitungan tersebut masuk ke dalam tahapan /regulatory impact
analysis/.(TEMPO, Kamis, 12 April 2018 18:28 WIB)

Tapi, yang saya tahu di RRT setelah Deng jalankan kebijakan
Reformasi dan Keterbukaan, tahun 1980, tax-holiday diberikan
sekitar 3-5 tahun saja! Tentu boleh-boleh saja tax-holiday yang
diberikan lebih longgar dengan perhitungan masing-masing untuk
menarik modal asing mau masuk investasi, … Diatas segalanya,
yang lebih PENTING dan harus diutamakan tentu pemerintah bisa
mengirim kader/pejabat, teknisi nya untuk BELAJAR menguasai
menjalankan pabrik, industri yang dijalankan itu. Agar secepat
mungkin bisa mengerjakannya sendiri! Jadi BUKAN hanya bekerja
menjadi kuli dan tetap saja tidak bisa BERDIKARI, … Begitulah
RRT akhirnya bisa maju BERDIKARI, bukan hanya menjiplak tapi
mengembangkan produksi orang lain itu dengan lebih baik.




kh djie 於 2020/9/10 下午 02:59 寫道:  
 
 Bung Chan,
Memang dengan diberikannya tax holiday pada investor besar,
selama beberapa tahun kehilangan Pajak Penghasilan Badan
yang dikenakan pada perusahaan atas keuntungan bersihnya.
Tetapi investor juga membandingkan antara lain negara mana
yang memberi tax holiday lebih baik untuk menetapkan mau
investasi di mana.
Tetapi negara tetap dapat penghasilan dari Pajak Penghasilan
Badan yang dikenakan pada para karyawan (dari presiden
direktur sampai bawahan di atas penghasilan tertentu (5
juta/bulan ?). Perusahaan tetap harus bayar PPN (Pajak
Penambahan nilai). Kalau ditinjau dari segi tugas negara
memakmurkan rakyat, adanya investasi besar yang membuka
lapangan kerja sebagian tugas agak sedikit terpenuhi, dan
jumlah kaum miskin yang harus diberi tunjangan oleh
pemerintah (pengeluaran negara) berkurang? Selain itu dari
produk hasil investasi, akan terlahir industri2 baru lainnya,
yang akan memberi lebih banyak lapangan kerja dan dari
industri2 baru ini dapat diperoleh pendapatan pajak, dan juga
dari karyawan yang berpenghasilan di atas batas tertentu?
Setelah masa tax holiday lewat, penghasilan pajak negara akan
meningkat tinggi.
Ya, di era lain, 10 -20 tahun lagi.......Jadi antara 2030 -
2040 Indonesia akan
makmur?
  
 
 
 
 
https://www.online-pajak.com/tentang-pajakpay/perbedaan-tax-holiday-dan-tax-allowance
 
 
 
 
 
   
 
 
 
 
https://www..pajak.go.id/artikel/memaksimalkan-manfaat-insentif-pajak-untuk-pembangunan-bangsa
  
 
 
 
   
 
 
 
 
https://bisnis.tempo.co/read/1078924/fasilitas-pajak-tax-holiday-tak-mengancam-pendapatan-negara/full&view=ok
  
 
 
 
   
 
 
 
 
https://www.cermati..com/artikel/pengertian-pajak-pertambahan-nilai-dan-dasar-hukumnya
  
 
 
 
 Op do 10 sep. 2020 om 06:16 schreef ChanCT
[email protected] <mailto:[email protected]> [GELORA45]
<[email protected] <mailto:[email protected]>>:

Ada satu KESALAHAN melihat persoalan disini, atau dengan kata
lain hendak gunakan isu mineral ini untuk menyudutkan Jokowi
saja!

Bukankah KETENTUAN mineral mentah tidak boleh diekspor, harus
diolah setengah jadi dahulu itu didbuat masa Presiden SBY,
sesaat sebelum Jokowi naik jadi Presiden RI!  Jadi, Jokowi itu
hanya melaksanakan atau menindak lanjutkan ketentuan lama
masa SBY itu! Jadi, ... siapa yang dibohongi siapa, ...? Yang
benar harusnya bagaimana??? Kentuti saja ketentuan yang
dibuat masa SBY atau bagaimana?

Kalau saja benar, keuntungan penambangan nikel RI hanya
dapatkan 10%, sedang yang 90% digondol RRT, dan membuat Faisal
Basri tidak rela, ... merasa sangat dirugikan! Kenapa tidak
melihat dan coba bandingkan, keuntungan yang didapatkan RI
sudah jauh lebih besar ketimbang Freeport, yang sudah lebih
70 tahun itu RI hanya bisa dapatkan kurang dari 1% saja!
Disamping itu, sebaiknya juga melihat perbedaan perkembangan
kehidupan rakyat sekitar tambang, bagaimana penduduk sekitar
Freeport itu dengan katakanlah tambang Morowali dimana
penduduk sekitar yang kabarnya bukan hanya bisa ikut
menikmati listrik dan air-bersih, kesejahteraan berangsur
meningkat cukup baik, bahkan ikut menikmati pengobatan gratis
dari klinik.

Setiap kemajuan ada prosesnya, seringkali memang tidak ideal
sebagaimana kita mimpikan, ... kenyataan yang kita lihat
perkembangan teknologi begitu cepat itu, TIDAK MUNGKIN
terpikirkan bahkan bisa terbayangkan dimasa 10 tahunan yl.
Tentu kita bisa bilang sekarang ini, mestinya kita juga
menuntut begini atau begitu yang lebih baik untuk Indonesia,
tapi bagaimana mungkin ketika itu terjadi??? Kalau memang
kenyataan BELUM mungkin, di Indonesia yang belum ada
syarat2nya! Janganlah bermimpi, RI bisa dapat untung lebih
BESAR kalau nikel itu dengan bangun pabrik baterai lithium
itu, ... Siapa ketika itu bisa terpikir kesitu? Bukankah
untuk kesitu dibutuhkan syarat-syarat objektif yang
dibutuhkan. Pertama harus ada modal yang lebih besar dan
kedua harus ada teknologi yang diperlukan! Kalau Indonesia
sendiri belum ada, bukankah lagi-lagi juga harus mengundang
modal asing, ... kira-kira siapa yang mau tanam modal begitu
besar dan keluarkan teknologinya? Tanpa insentif yang menawan
apa ada asing yang mau, ...??? Segala keuntungan bukan jatuh
dari langit, ... harus ada pengorbanan juga!

Tapi, bagaimanapun juga pemikiran Indonesia harus bisa
BERDIKARI adalawh BENAR, dan harus menjadi TEKAD bangsa untuk
mewujudkan secepat mungkin, ... Itulah Trisakti bung Karno!
Bukan dengan menyalah-nyalahkan RRT yang sudah dan sedang
membantu Indonesia, mau dan berani tanamkan modal begitu
besar di Indonesia bangun smelter! Tapi, tapi gunakanlah
kesempatan yang ada itu BELAJAR mengerjakan segalanya
SENDIRI,...!!! Gunakan sebaik-baiknya modal-asing yang masuk
untuk BELAJAR mengerjakan sendiri dalam waktu secepat
mungkin! Begitulah pengalaman rakyat Tiongkok, yang berani
memasukkan modal asing darimanapun juga, tidak perlu
ribut-ribut menyalah-nyalahkan keuntungan diraih lebih banyak
oleh asing, sebaliknya RRT hanya dijadikan pabrik dunia yang
hanya menguntungkan asing! Kesehatan Rakyat Tiongkok
sebaliknya rusak akibat polusi pencemaran lingkungan
hidup, .....! Itulah PENGORBANAN yang sulit
dihindari, ...Tapi, bukankah kenyataan dalam 40 tahun
terakhir ini, justru RRT tumbuh menjadi kekuatan ekonomi dan
teknologi yang sanggup menantang AS! RRT menjadi ancaman
terberat AS, ...

Ingat pengorbanan bangsa Indonesia sudah sangat besar selama
ratusan terakhir ini, tapi BELUM juga BERHASIL tegak berdiri
diatas kaki sendiri dengan baik! Mengapa? Antara lain, karena
hanya menyalahkan orang lain, tidak pandai melihat dimana
kesalahan diri sendiri, tidak pandai merebut setiap kesempatan
untuk BELAJAR apa yang dikerjakan orang lain agar bisa
mengerjakan sendiri dengan lebih baik, ...!




-------- 轉寄郵件 --------
主旨: [GELORA45] JOKOWI DIBOHONGI MENTAH-MENTAH!!!
日期: Thu, 10 Sep 2020 00:44:29 +0200







_*https://www.youtube.com/watch?v=tAO00hYiMUQ
*_
_
_
_
_


Faisal Basri Duga Jokowi Dibohongi soal Hilirisasi Mineral

CNN Indonesia | Rabu, 09/09/2020 12:02 WIB
Bagikan :
Menurut Faisal Basri, alih-alih hilirisasi, justru praktik
pemburuan rente besar-besaran terjadi sejak kebijakan larangan
ekspor bijih nikel.
Ekonom Senior Faisal Basri menilai Presiden Jokowi dibohongi
soal hilirisasi mineral di dalam negeri. Alih-alih hilirisasi,
justru praktik pemburuan rente besar-besaran terjadi sejak
kebijakan larangan ekspor bijih nikel. Ilustrasi. (CNN
Indonesia). Jakarta, CNN Indonesia --

Ekonom Senior*Faisal Basri
<https://www.cnnindonesia.com/tag/faisal-basri>* menyebut
Presiden Joko Widodo (*Jokowi
<https://www.cnnindonesia.com/tag/jokowi>*) dibohongi
mentah-mentah soal*hilirisasi
<https://www.cnnindonesia.com/tag/hilirisasi>* mineral di
Indonesia.

Mengutip pidato kenegaraan presiden dalam sidang tahunan MPR
14 Agustus lalu, Jokowi menyebut pengolahan nikel, stainless
steel slab, dan lembaran baja, akan membuat posisi Indonesia
menjadi sangat strategis dalam pengembangan baterai lithium,
mobil listrik dunia dan produsen teknologi di masa depan.

Memang, menurut Faisal, sebagian pidato tersebut benar adanya.
Indonesia telah berhasil mengolah bijih nikel menjadi ferro
nikel, stainless steel slab, dan lembaran baja.


Lihat juga:

Faisal Basri Tuding Hilirisasi Nikel Untungkan Investor China
  
 
 
 
 
<https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20200903133119-85-542381/faisal-basri-tuding-hilirisasi-nikel-untungkan-investor-china>
  
 
 
 
 Namun, beberapa produk itu sudah cukup lama telah dihasilkan
di dalam negeri, antara lain oleh PT Antam (Persero) di
Pomalaa, PT Valle di Sorowako, dan PT Indoferro di Cilegon.

"Sampai sekarang tidak ada fasilitas produksi untuk mengolah
bijih nikel menjadi hidroksida nikel (kadar nikel (Ni) 35
persen sampai 60 persen) dan nikel murni berkadar 99,9 persen
yang menjadi bahan utama menghasilkan baterai," jelasnya
dikutip dari situs pribadinya/Faisalbasri.com/Rabu (9/9).

Di samping itu, yang dilakukan pemerintah juga masih jauh dari
proses hilirisasi. Sebab, sampai sekarang tidak ada fasilitas
produksi untuk mengolah bijih nikel menjadi hidroksida atau
kadar nikel (Ni) 35 persen sampai 60 persen) dan nikel murni
berkadar 99,9 persen yang menjadi bahan utama menghasilkan
baterai.

"Perusahaan-perusahaan smelter yang menjamur belakangan ini
baru mencapai sekitar 25 persen menuju produk akhir, jadi
tidak bisa dikatakan telah menjalankan industrialisasi atau
menjadi ujung tombak industrialisasi. Kalau menggunakan
istilah hilirisasi, perjalanan menuju hilir masih amat
panjang," terang dia.


Lihat juga:

Faisal Basri Sebut Sektor Tambang Paling Banyak Tilep Pajak
  
 
 
 
 
<https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20200903132020-532-542362/faisal-basri-sebut-sektor-tambang-paling-banyak-tilep-pajak>
  
 
 
 
 Alih-alih hilirisasi, yang terjadi menurut Faisal
justru praktik pemburuan rente besar-besaran. Hal ini salah
satunya terlihat dari percepatan kebijakan larangan ekspor
bijih nikel pada 2019 dari yang seharusnya 2022.

Sejak nikel dilarang ekspor, harga nikel di dalam negeri jatuh
dibandingkan harga internasional. Akibatnya, investor smelter
asal China berbondong-bondong ke RI.

Selain mendapatkan harga nikel yang murah, mereka
menikmati fasilitas luar biasa dari pemerintah, mulai dari tax
holiday, penghapusan pajak ekspor dan bayar pajak pertambahan
nilai, termasuk membawa pekerja kasar sekalipun tanpa pungutan
100 dolar AS per bulan bagi pekerja asing.

"Mereka bebas mengimpor apa saja yang dibutuhkan. Tak pula
harus membayar royalti tambang. Mereka bebas menentukan
surveyor dan trader yang bertindak sebagai oligopsoni
menghadapi pemasok bijih nikel. Semua fasilitas itu tidak
dinikmati di negara asalnya," ucap Faisal.


Lihat juga:

DJP Gandeng 5 BUMN Tambang Demi Integrasi Data Pajak
  
 
 
 
 
<https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20200904124404-532-542770/djp-gandeng-5-bumn-tambang-demi-integrasi-data-pajak>
  
 
 
 
 Faisal berpandangan model yang 'aneh' seperti ini sangat kecil
kemungkinannya bisa memperbaiki defisit transaksi berjalan
sebagaimana diharapkan Jokowi.

Sebab nilai tambah yang dinikmati Indonesia nikmati tak sampai
10 persen dari keseluruhan nilai tambah yang tercipta. Itu pun
kebanyakan dinikmati oleh para pemburu rente di dalam negeri.

"Belum ada sama sekali pijakan untuk mengembangkan bijih nikel
menjadi bahan utama untuk baterai lithium. Belum ada rute
menuju ke sana. Indonesia sejauh ini hanya dimanfaatkan
sebagai penopang industrialisasi di China dengan ongkos
sangat murah dibandingkan kalau kegiatan serupa dilakukan di
China," tegas Faisal.



*(hrf/bir)*

 
 
 
  
 
   
 
 
  
 

   



  

Kirim email ke