Iyaaa, bung Djie, ... nampaknya yang dinamakan tax-holiday diberikan pemerintah RI pada modal asing lebih royal, bisa 5-10 tahun! Tentu dengan perhitungan mereka sendiri,pemerintah telah menghitung potential loss atau potensi kerugian dari kebijakan ini, namun dinilai tak seberapa dibandingkan dengan benefit yang didapatkan.

“Kami sudah menghitung kami mendapatkan benefit seperti pertumbuhan industri hulu, penyerapan tenaga kerja, hingga ekspor yang meningkat, dan ini jauh lebih dari cost yang kami keluarkan,” ucapnya, di Batam, Kamis, 12 April 2018. Perhitungan tersebut masuk ke dalam tahapan /regulatory impact analysis/.(TEMPO, Kamis, 12 April 2018 18:28 WIB)

Tapi, yang saya tahu di RRT setelah Deng jalankan kebijakan Reformasi dan Keterbukaan, tahun 1980, tax-holiday diberikan sekitar 3-5 tahun saja! Tentu boleh-boleh saja tax-holiday yang diberikan lebih longgar dengan perhitungan masing-masing untuk menarik modal asing mau masuk investasi, … Diatas segalanya, yang lebih PENTING dan harus diutamakan tentu pemerintah bisa mengirim kader/pejabat, teknisi nya untuk BELAJAR menguasai menjalankan pabrik, industri yang dijalankan itu. Agar secepat mungkin bisa mengerjakannya sendiri! Jadi BUKAN hanya bekerja menjadi kuli dan tetap saja tidak bisa BERDIKARI, … Begitulah RRT akhirnya bisa maju BERDIKARI, bukan hanya menjiplak tapi mengembangkan produksi orang lain itu dengan lebih baik.




kh djie 於 2020/9/10 下午 02:59 寫道:
Bung Chan,
Memang dengan diberikannya tax holiday pada investor besar,
selama beberapa tahun kehilangan Pajak Penghasilan Badan
yang dikenakan pada perusahaan atas keuntungan bersihnya.
Tetapi investor juga membandingkan antara lain negara mana
yang memberi tax holiday lebih baik untuk menetapkan mau
investasi di mana.
Tetapi negara tetap dapat penghasilan dari Pajak Penghasilan
Badan yang dikenakan pada para karyawan (dari presiden
direktur sampai bawahan di atas penghasilan tertentu (5 juta/bulan ?).
Perusahaan tetap harus bayar PPN (Pajak Penambahan nilai).
Kalau ditinjau dari segi tugas negara memakmurkan rakyat, adanya
investasi besar yang membuka lapangan kerja sebagian tugas
agak sedikit terpenuhi, dan jumlah kaum miskin yang harus diberi
tunjangan oleh pemerintah (pengeluaran negara) berkurang?
Selain itu dari produk hasil investasi, akan terlahir industri2 baru lainnya,
yang akan memberi lebih banyak lapangan kerja dan dari industri2 baru
ini dapat diperoleh pendapatan pajak, dan juga dari karyawan
yang berpenghasilan di atas batas tertentu?
Setelah masa tax holiday lewat, penghasilan pajak negara akan meningkat tinggi. Ya, di era lain, 10 -20 tahun lagi.......Jadi antara 2030 - 2040 Indonesia akan
makmur?
https://www.online-pajak.com/tentang-pajakpay/perbedaan-tax-holiday-dan-tax-allowance
https://www.pajak.go.id/artikel/memaksimalkan-manfaat-insentif-pajak-untuk-pembangunan-bangsa
https://bisnis.tempo.co/read/1078924/fasilitas-pajak-tax-holiday-tak-mengancam-pendapatan-negara/full&view=ok
https://www.cermati.com/artikel/pengertian-pajak-pertambahan-nilai-dan-dasar-hukumnya

Op do 10 sep. 2020 om 06:16 schreef ChanCT [email protected] <mailto:[email protected]> [GELORA45] <[email protected] <mailto:[email protected]>>:

    Ada satu KESALAHAN melihat persoalan disini, atau dengan kata lain
    hendak gunakan isu mineral ini untuk menyudutkan Jokowi saja!

    Bukankah KETENTUAN mineral mentah tidak boleh diekspor, harus
    diolah setengah jadi dahulu itu didbuat masa Presiden SBY, sesaat
    sebelum Jokowi naik jadi Presiden RI!  Jadi, Jokowi itu hanya
    melaksanakan atau menindak lanjutkan ketentuan lama masa SBY itu!
    Jadi, ... siapa yang dibohongi siapa, ...? Yang benar harusnya
    bagaimana??? Kentuti saja ketentuan yang dibuat masa SBY atau
    bagaimana?

    Kalau saja benar, keuntungan penambangan nikel RI hanya dapatkan
    10%, sedang yang 90% digondol RRT, dan membuat Faisal Basri tidak
    rela, ... merasa sangat dirugikan! Kenapa tidak melihat dan coba
    bandingkan, keuntungan yang didapatkan RI sudah jauh lebih besar
    ketimbang Freeport, yang sudah lebih 70 tahun itu RI hanya bisa
    dapatkan kurang dari 1% saja! Disamping itu, sebaiknya juga
    melihat perbedaan perkembangan kehidupan rakyat sekitar tambang,
    bagaimana penduduk sekitar Freeport itu dengan katakanlah tambang
    Morowali dimana penduduk sekitar yang kabarnya bukan hanya bisa
    ikut menikmati listrik dan air-bersih, kesejahteraan berangsur
    meningkat cukup baik, bahkan ikut menikmati pengobatan gratis dari
    klinik.

    Setiap kemajuan ada prosesnya, seringkali memang tidak ideal
    sebagaimana kita mimpikan, ... kenyataan yang kita lihat
    perkembangan teknologi begitu cepat itu, TIDAK MUNGKIN terpikirkan
    bahkan bisa terbayangkan dimasa 10 tahunan yl. Tentu kita bisa
    bilang sekarang ini, mestinya kita juga menuntut begini atau
    begitu yang lebih baik untuk Indonesia, tapi bagaimana mungkin
    ketika itu terjadi??? Kalau memang kenyataan BELUM mungkin, di
    Indonesia yang belum ada syarat2nya! Janganlah bermimpi, RI bisa
    dapat untung lebih BESAR kalau nikel itu dengan bangun pabrik
    baterai lithium itu, ... Siapa ketika itu bisa terpikir kesitu?
    Bukankah untuk kesitu dibutuhkan syarat-syarat objektif yang
    dibutuhkan. Pertama harus ada modal yang lebih besar dan kedua
    harus ada teknologi yang diperlukan! Kalau Indonesia sendiri belum
    ada, bukankah lagi-lagi juga harus mengundang modal asing, ...
    kira-kira siapa yang mau tanam modal begitu besar dan keluarkan
    teknologinya? Tanpa insentif yang menawan apa ada asing yang mau,
    ...??? Segala keuntungan bukan jatuh dari langit, ... harus ada
    pengorbanan juga!

    Tapi, bagaimanapun juga pemikiran Indonesia harus bisa BERDIKARI
    adalawh BENAR, dan harus menjadi TEKAD bangsa untuk mewujudkan
    secepat mungkin, ... Itulah Trisakti bung Karno! Bukan dengan
    menyalah-nyalahkan RRT yang sudah dan sedang membantu Indonesia,
    mau dan berani tanamkan modal begitu besar di Indonesia bangun
    smelter! Tapi, tapi gunakanlah kesempatan yang ada itu BELAJAR
    mengerjakan segalanya SENDIRI,...!!! Gunakan sebaik-baiknya
    modal-asing yang masuk untuk BELAJAR mengerjakan sendiri dalam
    waktu secepat mungkin! Begitulah pengalaman rakyat Tiongkok, yang
    berani memasukkan modal asing darimanapun juga, tidak perlu
    ribut-ribut menyalah-nyalahkan keuntungan diraih lebih banyak oleh
    asing, sebaliknya RRT hanya dijadikan pabrik dunia yang hanya
    menguntungkan asing! Kesehatan Rakyat Tiongkok sebaliknya rusak
    akibat polusi pencemaran lingkungan hidup, ....! Itulah
    PENGORBANAN yang sulit dihindari, ...Tapi, bukankah kenyataan
    dalam 40 tahun terakhir ini, justru RRT tumbuh menjadi kekuatan
    ekonomi dan teknologi yang sanggup menantang AS! RRT menjadi
    ancaman terberat AS, ...

    Ingat pengorbanan bangsa Indonesia sudah sangat besar selama
    ratusan terakhir ini, tapi BELUM juga BERHASIL tegak berdiri
    diatas kaki sendiri dengan baik! Mengapa? Antara lain, karena
    hanya menyalahkan orang lain, tidak pandai melihat dimana
    kesalahan diri sendiri, tidak pandai merebut setiap kesempatan
    untuk BELAJAR apa yang dikerjakan orang lain agar bisa mengerjakan
    sendiri dengan lebih baik, ...!




    -------- 轉寄郵件 --------
    主旨:         [GELORA45] JOKOWI DIBOHONGI MENTAH-MENTAH!!!
    日期:         Thu, 10 Sep 2020 00:44:29 +0200

        

        



    _*https://www.youtube.com/watch?v=tAO00hYiMUQ
    *_
    _
    _
    _
    _


      Faisal Basri Duga Jokowi Dibohongi soal Hilirisasi Mineral

    CNN Indonesia | Rabu, 09/09/2020 12:02 WIB
    Bagikan :
    Menurut Faisal Basri, alih-alih hilirisasi, justru praktik
    pemburuan rente besar-besaran terjadi sejak kebijakan larangan
    ekspor bijih nikel.
    Ekonom Senior Faisal Basri menilai Presiden Jokowi dibohongi soal
    hilirisasi mineral di dalam negeri. Alih-alih hilirisasi, justru
    praktik pemburuan rente besar-besaran terjadi sejak kebijakan
    larangan ekspor bijih nikel. Ilustrasi. (CNN Indonesia).
    Jakarta, CNN Indonesia --

    Ekonom Senior*Faisal Basri
    <https://www.cnnindonesia.com/tag/faisal-basri>* menyebut Presiden
    Joko Widodo (*Jokowi <https://www.cnnindonesia.com/tag/jokowi>*)
    dibohongi mentah-mentah soal*hilirisasi
    <https://www.cnnindonesia.com/tag/hilirisasi>* mineral di Indonesia.

    Mengutip pidato kenegaraan presiden dalam sidang tahunan MPR 14
    Agustus lalu, Jokowi menyebut pengolahan nikel, stainless steel
    slab, dan lembaran baja, akan membuat posisi Indonesia menjadi
    sangat strategis dalam pengembangan baterai lithium, mobil listrik
    dunia dan produsen teknologi di masa depan.

    Memang, menurut Faisal, sebagian pidato tersebut benar adanya.
    Indonesia telah berhasil mengolah bijih nikel menjadi ferro nikel,
    stainless steel slab, dan lembaran baja.


              Lihat juga:

    Faisal Basri Tuding Hilirisasi Nikel Untungkan Investor China
    
<https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20200903133119-85-542381/faisal-basri-tuding-hilirisasi-nikel-untungkan-investor-china>

    Namun, beberapa produk itu sudah cukup lama telah dihasilkan di
    dalam negeri, antara lain oleh PT Antam (Persero) di Pomalaa, PT
    Valle di Sorowako, dan PT Indoferro di Cilegon.

    "Sampai sekarang tidak ada fasilitas produksi untuk mengolah bijih
    nikel menjadi hidroksida nikel (kadar nikel (Ni) 35 persen sampai
    60 persen) dan nikel murni berkadar 99,9 persen yang menjadi bahan
    utama menghasilkan baterai," jelasnya dikutip dari situs
    pribadinya/Faisalbasri.com/Rabu (9/9).

    Di samping itu, yang dilakukan pemerintah juga masih jauh dari
    proses hilirisasi. Sebab, sampai sekarang tidak ada fasilitas
    produksi untuk mengolah bijih nikel menjadi hidroksida atau kadar
    nikel (Ni) 35 persen sampai 60 persen) dan nikel murni berkadar
    99,9 persen yang menjadi bahan utama menghasilkan baterai.

    "Perusahaan-perusahaan smelter yang menjamur belakangan ini baru
    mencapai sekitar 25 persen menuju produk akhir, jadi tidak bisa
    dikatakan telah menjalankan industrialisasi atau menjadi ujung
    tombak industrialisasi. Kalau menggunakan istilah hilirisasi,
    perjalanan menuju hilir masih amat panjang," terang dia.


              Lihat juga:

    Faisal Basri Sebut Sektor Tambang Paling Banyak Tilep Pajak
    
<https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20200903132020-532-542362/faisal-basri-sebut-sektor-tambang-paling-banyak-tilep-pajak>

    Alih-alih hilirisasi, yang terjadi menurut Faisal justru praktik
    pemburuan rente besar-besaran. Hal ini salah satunya terlihat dari
    percepatan kebijakan larangan ekspor bijih nikel pada 2019 dari
    yang seharusnya 2022.

    Sejak nikel dilarang ekspor, harga nikel di dalam negeri jatuh
    dibandingkan harga internasional. Akibatnya, investor smelter asal
    China berbondong-bondong ke RI.

    Selain mendapatkan harga nikel yang murah, mereka
    menikmati fasilitas luar biasa dari pemerintah, mulai dari tax
    holiday, penghapusan pajak ekspor dan bayar pajak pertambahan
    nilai, termasuk membawa pekerja kasar sekalipun tanpa pungutan 100
    dolar AS per bulan bagi pekerja asing.

    "Mereka bebas mengimpor apa saja yang dibutuhkan. Tak pula harus
    membayar royalti tambang. Mereka bebas menentukan surveyor dan
    trader yang bertindak sebagai oligopsoni menghadapi pemasok bijih
    nikel. Semua fasilitas itu tidak dinikmati di negara asalnya,"
    ucap Faisal.


              Lihat juga:

    DJP Gandeng 5 BUMN Tambang Demi Integrasi Data Pajak
    
<https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20200904124404-532-542770/djp-gandeng-5-bumn-tambang-demi-integrasi-data-pajak>

    Faisal berpandangan model yang 'aneh' seperti ini sangat kecil
    kemungkinannya bisa memperbaiki defisit transaksi berjalan
    sebagaimana diharapkan Jokowi.

    Sebab nilai tambah yang dinikmati Indonesia nikmati tak sampai 10
    persen dari keseluruhan nilai tambah yang tercipta. Itu pun
    kebanyakan dinikmati oleh para pemburu rente di dalam negeri.

    "Belum ada sama sekali pijakan untuk mengembangkan bijih nikel
    menjadi bahan utama untuk baterai lithium.  Belum ada rute menuju
    ke sana. Indonesia sejauh ini hanya dimanfaatkan sebagai penopang
    industrialisasi di China dengan ongkos sangat murah dibandingkan
    kalau kegiatan serupa dilakukan di China," tegas Faisal.



    *(hrf/bir)*

Kirim email ke