Sejak 

Am Thu, 10 Sep 2020 20:09:23 +0800
schrieb "ChanCT [email protected] [GELORA45]"
<[email protected]>:

> Iyaaa, bung Djie, ... nampaknya yang dinamakan tax-holiday diberikan 
> pemerintah RI pada modal asing lebih royal, bisa 5-10 tahun! Tentu 
> dengan perhitungan mereka sendiri,pemerintah telah menghitung
> potential loss atau potensi kerugian dari kebijakan ini, namun
> dinilai tak seberapa dibandingkan dengan benefit yang didapatkan.
> 
> “Kami sudah menghitung kami mendapatkan benefit seperti pertumbuhan 
> industri hulu, penyerapan tenaga kerja, hingga ekspor yang meningkat, 
> dan ini jauh lebih dari cost yang kami keluarkan,” ucapnya, di Batam, 
> Kamis, 12 April 2018. Perhitungan tersebut masuk ke dalam tahapan 
> /regulatory impact analysis/.(TEMPO, Kamis, 12 April 2018 18:28 WIB)
> 
> Tapi, yang saya tahu di RRT setelah Deng jalankan kebijakan Reformasi 
> dan Keterbukaan, tahun 1980, tax-holiday diberikan sekitar 3-5 tahun 
> saja! Tentu boleh-boleh saja tax-holiday yang diberikan lebih longgar 
> dengan perhitungan masing-masing untuk menarik modal asing mau masuk 
> investasi, … Diatas segalanya, yang lebih PENTING dan harus
> diutamakan tentu pemerintah bisa mengirim kader/pejabat, teknisi nya
> untuk BELAJAR menguasai menjalankan pabrik, industri yang dijalankan
> itu. Agar secepat mungkin bisa mengerjakannya sendiri! Jadi BUKAN
> hanya bekerja menjadi kuli dan tetap saja tidak bisa BERDIKARI, …
> Begitulah RRT akhirnya bisa maju BERDIKARI, bukan hanya menjiplak
> tapi mengembangkan produksi orang lain itu dengan lebih baik.
> 
> 
> 
> 
> kh djie 於 2020/9/10 下午 02:59 寫道:
> > Bung Chan,
> > Memang dengan diberikannya tax holiday pada investor besar,
> > selama beberapa tahun kehilangan Pajak Penghasilan Badan
> > yang dikenakan pada perusahaan atas keuntungan bersihnya.
> > Tetapi investor juga membandingkan antara lain negara mana
> > yang memberi tax holiday lebih baik untuk menetapkan mau
> > investasi di mana.
> > Tetapi negara tetap dapat penghasilan dari Pajak Penghasilan
> > Badan yang dikenakan pada para karyawan (dari presiden
> > direktur sampai bawahan di atas penghasilan tertentu (5
> > juta/bulan ?). Perusahaan tetap harus bayar PPN (Pajak Penambahan
> > nilai). Kalau ditinjau dari segi tugas negara memakmurkan rakyat,
> > adanya investasi besar yang membuka lapangan kerja sebagian tugas
> > agak sedikit terpenuhi, dan jumlah kaum miskin yang harus diberi
> > tunjangan oleh pemerintah (pengeluaran negara) berkurang?
> > Selain itu dari produk hasil investasi, akan terlahir industri2
> > baru lainnya,
> > yang akan memberi lebih banyak lapangan kerja dan dari industri2
> > baru ini dapat diperoleh pendapatan pajak, dan juga dari karyawan
> > yang berpenghasilan di atas batas tertentu?
> > Setelah masa tax holiday lewat, penghasilan pajak negara akan 
> > meningkat tinggi.
> > Ya, di era lain, 10 -20 tahun lagi.......Jadi antara 2030 - 2040 
> > Indonesia akan
> > makmur?
> > https://www.online-pajak.com/tentang-pajakpay/perbedaan-tax-holiday-dan-tax-allowance
> >  
> >
> > https://www.pajak.go.id/artikel/memaksimalkan-manfaat-insentif-pajak-untuk-pembangunan-bangsa
> > https://bisnis.tempo.co/read/1078924/fasilitas-pajak-tax-holiday-tak-mengancam-pendapatan-negara/full&view=ok
> > https://www.cermati.com/artikel/pengertian-pajak-pertambahan-nilai-dan-dasar-hukumnya
> >
> > Op do 10 sep. 2020 om 06:16 schreef ChanCT [email protected] 
> > <mailto:[email protected]> [GELORA45] <[email protected] 
> > <mailto:[email protected]>>:
> >
> >     Ada satu KESALAHAN melihat persoalan disini, atau dengan kata
> > lain hendak gunakan isu mineral ini untuk menyudutkan Jokowi saja!
> >
> >     Bukankah KETENTUAN mineral mentah tidak boleh diekspor, harus
> >     diolah setengah jadi dahulu itu didbuat masa Presiden SBY,
> > sesaat sebelum Jokowi naik jadi Presiden RI!  Jadi, Jokowi itu hanya
> >     melaksanakan atau menindak lanjutkan ketentuan lama masa SBY
> > itu! Jadi, ... siapa yang dibohongi siapa, ...? Yang benar harusnya
> >     bagaimana??? Kentuti saja ketentuan yang dibuat masa SBY atau
> >     bagaimana?
> >
> >     Kalau saja benar, keuntungan penambangan nikel RI hanya dapatkan
> >     10%, sedang yang 90% digondol RRT, dan membuat Faisal Basri
> > tidak rela, ... merasa sangat dirugikan! Kenapa tidak melihat dan
> > coba bandingkan, keuntungan yang didapatkan RI sudah jauh lebih
> > besar ketimbang Freeport, yang sudah lebih 70 tahun itu RI hanya
> > bisa dapatkan kurang dari 1% saja! Disamping itu, sebaiknya juga
> >     melihat perbedaan perkembangan kehidupan rakyat sekitar tambang,
> >     bagaimana penduduk sekitar Freeport itu dengan katakanlah
> > tambang Morowali dimana penduduk sekitar yang kabarnya bukan hanya
> > bisa ikut menikmati listrik dan air-bersih, kesejahteraan berangsur
> >     meningkat cukup baik, bahkan ikut menikmati pengobatan gratis
> > dari klinik.
> >
> >     Setiap kemajuan ada prosesnya, seringkali memang tidak ideal
> >     sebagaimana kita mimpikan, ... kenyataan yang kita lihat
> >     perkembangan teknologi begitu cepat itu, TIDAK MUNGKIN
> > terpikirkan bahkan bisa terbayangkan dimasa 10 tahunan yl. Tentu
> > kita bisa bilang sekarang ini, mestinya kita juga menuntut begini
> > atau begitu yang lebih baik untuk Indonesia, tapi bagaimana mungkin
> >     ketika itu terjadi??? Kalau memang kenyataan BELUM mungkin, di
> >     Indonesia yang belum ada syarat2nya! Janganlah bermimpi, RI bisa
> >     dapat untung lebih BESAR kalau nikel itu dengan bangun pabrik
> >     baterai lithium itu, ... Siapa ketika itu bisa terpikir kesitu?
> >     Bukankah untuk kesitu dibutuhkan syarat-syarat objektif yang
> >     dibutuhkan. Pertama harus ada modal yang lebih besar dan kedua
> >     harus ada teknologi yang diperlukan! Kalau Indonesia sendiri
> > belum ada, bukankah lagi-lagi juga harus mengundang modal asing, ...
> >     kira-kira siapa yang mau tanam modal begitu besar dan keluarkan
> >     teknologinya? Tanpa insentif yang menawan apa ada asing yang
> > mau, ...??? Segala keuntungan bukan jatuh dari langit, ... harus ada
> >     pengorbanan juga!
> >
> >     Tapi, bagaimanapun juga pemikiran Indonesia harus bisa BERDIKARI
> >     adalawh BENAR, dan harus menjadi TEKAD bangsa untuk mewujudkan
> >     secepat mungkin, ... Itulah Trisakti bung Karno! Bukan dengan
> >     menyalah-nyalahkan RRT yang sudah dan sedang membantu Indonesia,
> >     mau dan berani tanamkan modal begitu besar di Indonesia bangun
> >     smelter! Tapi, tapi gunakanlah kesempatan yang ada itu BELAJAR
> >     mengerjakan segalanya SENDIRI,...!!! Gunakan sebaik-baiknya
> >     modal-asing yang masuk untuk BELAJAR mengerjakan sendiri dalam
> >     waktu secepat mungkin! Begitulah pengalaman rakyat Tiongkok,
> > yang berani memasukkan modal asing darimanapun juga, tidak perlu
> >     ribut-ribut menyalah-nyalahkan keuntungan diraih lebih banyak
> > oleh asing, sebaliknya RRT hanya dijadikan pabrik dunia yang hanya
> >     menguntungkan asing! Kesehatan Rakyat Tiongkok sebaliknya rusak
> >     akibat polusi pencemaran lingkungan hidup, ....! Itulah
> >     PENGORBANAN yang sulit dihindari, ...Tapi, bukankah kenyataan
> >     dalam 40 tahun terakhir ini, justru RRT tumbuh menjadi kekuatan
> >     ekonomi dan teknologi yang sanggup menantang AS! RRT menjadi
> >     ancaman terberat AS, ...
> >
> >     Ingat pengorbanan bangsa Indonesia sudah sangat besar selama
> >     ratusan terakhir ini, tapi BELUM juga BERHASIL tegak berdiri
> >     diatas kaki sendiri dengan baik! Mengapa? Antara lain, karena
> >     hanya menyalahkan orang lain, tidak pandai melihat dimana
> >     kesalahan diri sendiri, tidak pandai merebut setiap kesempatan
> >     untuk BELAJAR apa yang dikerjakan orang lain agar bisa
> > mengerjakan sendiri dengan lebih baik, ...!
> >
> >
> >
> >
> >     -------- 轉寄郵件 --------
> >     主旨:     [GELORA45] JOKOWI DIBOHONGI MENTAH-MENTAH!!!
> >     日期:     Thu, 10 Sep 2020 00:44:29 +0200
> >
> >             
> >
> >             
> >
> >
> >
> >     _*https://www.youtube.com/watch?v=tAO00hYiMUQ
> >     *_
> >     _
> >     _
> >     _
> >     _
> >
> >
> >       Faisal Basri Duga Jokowi Dibohongi soal Hilirisasi Mineral
> >
> >     CNN Indonesia | Rabu, 09/09/2020 12:02 WIB
> >     Bagikan :
> >     Menurut Faisal Basri, alih-alih hilirisasi, justru praktik
> >     pemburuan rente besar-besaran terjadi sejak kebijakan larangan
> >     ekspor bijih nikel.
> >     Ekonom Senior Faisal Basri menilai Presiden Jokowi dibohongi
> > soal hilirisasi mineral di dalam negeri. Alih-alih hilirisasi,
> > justru praktik pemburuan rente besar-besaran terjadi sejak kebijakan
> >     larangan ekspor bijih nikel. Ilustrasi. (CNN Indonesia).
> >     Jakarta, CNN Indonesia --
> >
> >     Ekonom Senior*Faisal Basri
> >     <https://www.cnnindonesia.com/tag/faisal-basri>* menyebut
> > Presiden Joko Widodo (*Jokowi
> > <https://www.cnnindonesia.com/tag/jokowi>*) dibohongi mentah-mentah
> > soal*hilirisasi
> > <https://www.cnnindonesia.com/tag/hilirisasi>* mineral di Indonesia.
> >
> >     Mengutip pidato kenegaraan presiden dalam sidang tahunan MPR 14
> >     Agustus lalu, Jokowi menyebut pengolahan nikel, stainless steel
> >     slab, dan lembaran baja, akan membuat posisi Indonesia menjadi
> >     sangat strategis dalam pengembangan baterai lithium, mobil
> > listrik dunia dan produsen teknologi di masa depan.
> >
> >     Memang, menurut Faisal, sebagian pidato tersebut benar adanya.
> >     Indonesia telah berhasil mengolah bijih nikel menjadi ferro
> > nikel, stainless steel slab, dan lembaran baja.
> >
> >
> >               Lihat juga:
> >
> >     Faisal Basri Tuding Hilirisasi Nikel Untungkan Investor China
> >     
> > <https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20200903133119-85-542381/faisal-basri-tuding-hilirisasi-nikel-untungkan-investor-china>
> >
> >     Namun, beberapa produk itu sudah cukup lama telah dihasilkan di
> >     dalam negeri, antara lain oleh PT Antam (Persero) di Pomalaa, PT
> >     Valle di Sorowako, dan PT Indoferro di Cilegon.
> >
> >     "Sampai sekarang tidak ada fasilitas produksi untuk mengolah
> > bijih nikel menjadi hidroksida nikel (kadar nikel (Ni) 35 persen
> > sampai 60 persen) dan nikel murni berkadar 99,9 persen yang menjadi
> > bahan utama menghasilkan baterai," jelasnya dikutip dari situs
> >     pribadinya/Faisalbasri.com/Rabu (9/9).
> >
> >     Di samping itu, yang dilakukan pemerintah juga masih jauh dari
> >     proses hilirisasi. Sebab, sampai sekarang tidak ada fasilitas
> >     produksi untuk mengolah bijih nikel menjadi hidroksida atau
> > kadar nikel (Ni) 35 persen sampai 60 persen) dan nikel murni
> > berkadar 99,9 persen yang menjadi bahan utama menghasilkan baterai.
> >
> >     "Perusahaan-perusahaan smelter yang menjamur belakangan ini baru
> >     mencapai sekitar 25 persen menuju produk akhir, jadi tidak bisa
> >     dikatakan telah menjalankan industrialisasi atau menjadi ujung
> >     tombak industrialisasi. Kalau menggunakan istilah hilirisasi,
> >     perjalanan menuju hilir masih amat panjang," terang dia.
> >
> >
> >               Lihat juga:
> >
> >     Faisal Basri Sebut Sektor Tambang Paling Banyak Tilep Pajak
> >     
> > <https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20200903132020-532-542362/faisal-basri-sebut-sektor-tambang-paling-banyak-tilep-pajak>
> >
> >     Alih-alih hilirisasi, yang terjadi menurut Faisal justru praktik
> >     pemburuan rente besar-besaran. Hal ini salah satunya terlihat
> > dari percepatan kebijakan larangan ekspor bijih nikel pada 2019 dari
> >     yang seharusnya 2022.
> >
> >     Sejak nikel dilarang ekspor, harga nikel di dalam negeri jatuh
> >     dibandingkan harga internasional. Akibatnya, investor smelter
> > asal China berbondong-bondong ke RI.
> >
> >     Selain mendapatkan harga nikel yang murah, mereka
> >     menikmati fasilitas luar biasa dari pemerintah, mulai dari tax
> >     holiday, penghapusan pajak ekspor dan bayar pajak pertambahan
> >     nilai, termasuk membawa pekerja kasar sekalipun tanpa pungutan
> > 100 dolar AS per bulan bagi pekerja asing.
> >
> >     "Mereka bebas mengimpor apa saja yang dibutuhkan. Tak pula harus
> >     membayar royalti tambang. Mereka bebas menentukan surveyor dan
> >     trader yang bertindak sebagai oligopsoni menghadapi pemasok
> > bijih nikel. Semua fasilitas itu tidak dinikmati di negara asalnya,"
> >     ucap Faisal.
> >
> >
> >               Lihat juga:
> >
> >     DJP Gandeng 5 BUMN Tambang Demi Integrasi Data Pajak
> >     
> > <https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20200904124404-532-542770/djp-gandeng-5-bumn-tambang-demi-integrasi-data-pajak>
> >
> >     Faisal berpandangan model yang 'aneh' seperti ini sangat kecil
> >     kemungkinannya bisa memperbaiki defisit transaksi berjalan
> >     sebagaimana diharapkan Jokowi.
> >
> >     Sebab nilai tambah yang dinikmati Indonesia nikmati tak sampai
> > 10 persen dari keseluruhan nilai tambah yang tercipta. Itu pun
> >     kebanyakan dinikmati oleh para pemburu rente di dalam negeri.
> >
> >     "Belum ada sama sekali pijakan untuk mengembangkan bijih nikel
> >     menjadi bahan utama untuk baterai lithium.  Belum ada rute
> > menuju ke sana. Indonesia sejauh ini hanya dimanfaatkan sebagai
> > penopang industrialisasi di China dengan ongkos sangat murah
> > dibandingkan kalau kegiatan serupa dilakukan di China," tegas
> > Faisal.
> >
> >
> >
> >     *(hrf/bir)*
> >     
> >  

Kirim email ke