Maturnuwun sebelumnya ,,
Rekan lainnya mana nih bisa ikut Share tentang ini...
Saya ingin menambahkan ,,
Kebetulan saya bukan Type menyesali sebuah kawruh yang sudah saya tempuh
,,mau pahit, asem , berdarah pun kalo memang itu sudah terjadi resiko
katakan kecerobohan saya ,saya tidak pernah melihat itu dari sisi negatif
tidak ada kata *menyesal* apalagi *menyalahkan* seseorang ,
saya  ingin bagikan  sebuah gambaran Pengalaman *NYATA* bukan sebuah *
KATANYA* bahwa untuk mencari* PETUNJuk* itu harus benar benar *CERMAT*  yang
bagaimana???artinya Pengolahan *RASA*  yang perlu di Tekankan dalam hal ini,
kalo saya cerita ini sebagai bagian dari kisah dulu sebagai gambaran nyata
,yag harus mengalami jalan tersebut  saya katakan  *kecewa* IYA,karena
ternyata sebuah *Ilmu Kebenaran* sudah benar ilmunya tapi,,,manusia sendiri
yang sudah *NYLENEH* ( *INI YANG BUAT SAYA KECEWA *bukan menyesal ,. dan
saya mulai mengerti saat itu *TERNYATA* Pemahaman secara *AKAL* belum tentu
bisa jadikan* CERMINAN* seseorang )bukan berati saya menyesali atau
meyalahkan tapi saya  kecewa ternyata sebuah *KAWRUH* yang sudah mngikuti
kaidah kaidah yang memang mengandung  kebenaran  ,  ternyata belum bisa bisa
meresap ke seorang *Pemberi Kawruh* untuk dibagi ke sesamanya . Untuk bahasa
dengan Bintang dan sebagainya ada benarnya masalahnya bagaimana melihat
petunjuk itu sebagai Kawruh apakah itu redup dari sananya atau redup karena
pandangan kita ... Disini cobalah kita berikan sebuah argumen argumen yang
MENdasar ,.kita Kupas saya harapkan ada rekan rekan yang bisa menambahkan
sharing ini


Bahwa  untuk bisa mengerti  sebuah *PETUNJUK* dalam arti (sebuah
perjalananpun Nyata pun adalah *PETUNJUK BERHARGA* kalopun sampai Bonyok
jangan disesali atau menyalahkan sudah RESIKO seorang Murid )   * * perlu
disikapi secara positif untuk mulai melangkah mencari Petunjuk petunjuk
berikutnya  , karena bagaimanapun seorang *Pembimbing Yang benar  tetap kita
perlukan dalam hal ini. Kawruh2 Spiritual  adalah *tidak bisa dilepaskan
dari Tuhan sebagai sang sumber *PETUNJUK* , dan tugas kita yang nglakoni ,
yang mana sebuah *Ilmu Spiritual-----> Sang SUmber sebagai  Petunjuk dan
Arah ,,
*
Sang SUmber adalah Tuhan berati mendalami Spiritual dengan tetap mengarah ke
sang SUmber berati Ilmu KeTuhanan ( yang selama ini sudah terexpose oleh
Rujukan AGAMA ..yang merupakan rujukan KOnsep Spiritual yang palin Benar
,,,saya harapakan sedkit tema berhenti di Tuhan tanpa rujukan agama yang
sudah mengkotakkan pikiran selama ini ) ,Sementara dikatakan *Ilmu Ketuhanan
* adalah Ilmu *Rasa *
Kenapa demikian ??kalo* semata mata akal *sebagai Filter dimanakah letak dan
peranan  *RASA dalam hal ini ???Apa bukan RASA dulu yang harus kita OLAH??
Toh mengolah dengan akal kalo RASA *nggak kita anggap atau nggak kita gali
atau nggak kita kenal hasilnya juga SUsah untuk merujuk ke *Petujuk yang
benar* yang pada kenyataannya pengaruh petunjuk secara* Batin atau
Nyata*pun sering kita salah dalam menafsirkan .

*Apa artinya  *bila dikatakan contoh paling pait Seorang yang belajar Kawruh
bahkan di Tingkat Agama jadi* Me RASA tidak berTuhan???*Saya katakan
demikian karena *KAWRUH DAN PETUNJUK *yang jelas jelas sudah benar merujuk
ke *Sang Sumber* hanya hinggap di *PIKIRAN* ---------->*celakanya  Pikiran
Sudah Merajai Manusia selama ini* , bahkan ***KOREKSI*****seorang yang
menjalani*   Ilmu Tauhid mauopun KeTuhanan pun ada kemungkinan tidak me *
RASA* ber Tuhan ( Meski tidak semua ) (  ( Nyatanya Cerminan Sifat sifat
Tuhan yang Maha Segalanya   sudah bergeser )  . Saya katakan demikian
karena,,mereka belajar Ilmu* KEBENARAN* katakan sumbernya sudah jelas , tapi
dalam penyerapannya  semata mata hanya *AKAL * yang dipakai , *RASA* sama
sekali tidak menghayati ilmu tersebut, jadinya apa....*KOSONG akhirnya kata
kata YAKIN menjadi BUMERANG,,,*

Ada Sebuah bahasa  yang sedrhana bsia saya bagikan disini mungkin bsia
dijadikan INSPIRASI  ,,,,

Ada Seorang Belajar mencari Petunjuk dan Kawruh ...
Sedangkan jiwanya tidak menghayati ilmu itu ,
Hanya akal dan pikrian yang bekerja dalam menyerap ..
*Akalnya* percaya adanya *Tuhan,..*
*Jiwanya* *tidak terasa* *berTuhan,..

*Suatu saat ...Dari  segi ilmu, dia *pakar dengan Tuhan,..*
Di segi jiwa,* kosong dari Tuhan,..*
*Karena itulah rasa takutnya dengan Tuhan tidak berlaku atau tidak ada
*Yang jadinya Syariat Tuhan tidak dijadikan pakaian...

Akibatnya Kehidupannya tidak mempedulikan syariat ...
Sekalipun bisa memperkatakan *Ayat dan Kitab **Atas alasan ilmu semata-mata*
,
Padahal ilmu *keTuhanan *hendaklah di* Rasa oleh Jiwa*
I*lmu keTuhanan bukan ilmu Akal tetapi ilmu Rasa*

Orang yang* "percaya" Tuhan*, hidup  seperti Tiidak berTuhan
Orang " *Rasa* " berTuhan adalah  orang yang takut dengan Tuhan "*sekalipun
ilmunya kurang"
Mereka yang Rasa berTuhan akan selalu menghormati syariat Tuhan,
karena Tuhan ada di Dalam Dirinya dan merupakan bagian dalam dirinya,,
*
Karena *Rasa berTuhan itu adalah fitrah* bagi setiap insan, cuman celakanya
manusia hanya memakai AKAL untuk mengenal TUHAN..
Lantaran itulah *Rasa berTuhan* itu harus disuburkan di dalam jiwa manusia
dan *RASA* manusia

Tidak cukup sebatas *akalnya percaya adanya Tuhan
*Alangkah Pentingnya bagi Pengertian pengertian dari yang mendasar hingga
bisa merasuk di *RASA* ,,dan menjadikan Inspirasi untuk sesamanya ...

Bagaimanakah Mengolah RASA ( Tentu ada Proses ) yang mengarah ke Sang
Sumber...???Yang tentunya di belakang Rasa masih ada yang harus Digali
Kawruhnya lagi....untuk bisa mendapatkan PEtunjuk Yang benar benar
Petunjuk...

Salam Harmonis

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Quote: 
** In this age of Aquarius, science will become religious, and religion will 
become scientific. Disagreements between science and religion will come to an 
end, and people will begin to comprehend that both spirit and matter are 
derived from the same source, and are only modifications of the One Universal 
Energy **
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke