Salam mas Dodo Yup lebih baik dan lebih terbuka
Rasa dan Akal adalah mempunyai fungsi yang berbeda namun keduanya adalah suatu system yang tidak bisa terpisahkan dan tidak bisa berdiri sendiri. Disaat saya melihat Warna Hijau kontak dalam hitungan sepersekian detik ucapan langsung berucap "Warna Hijau", dalam sepersekian detik pula adalah fungsi dari mata-rasa-akal-mulut aakhir sebagai ection, 4 fungsi ini tidak bisa terpisahkan namun karena jawaban reflek sebagai "fitrah manusia" terkesan fungsi yang bekerja hanya mata-akal-ucapan sementara "rasa" tidak bekerja ? kalau ada teori seperti ini disinilah awal terjadi pergeseran pandangan. Contoh kasus yang terjadi kehidupan kita seseorang yg dikarunia pintar sebagai fitrah, dalam mengemban tugas hidup lebih banyak menyita pikiran secara pribadi, dan pemikirannya akan sulit dibantah karena didukung basic ilmu dan argumentasi yang kuat, nah dari sini jelas dia adalah seorang yang kaya rasa karena memiliki inspirasi2 kuat. Karena Jobnya menjadikan ia kaya materi, sementara ia mempunya sifat pelit, kikir, kurang sosial dst ... disingkapi dgn pandangan lain lebih arif menyingkapinya sebagai pelaku spritual. Sebagaimana sudah disebutkan sebelumnya rasa tidak akan hidup jika tidak ada mata, telinga, hidung, mulut dan kulit dan wujud ini dpt berdiri sendiri, dan jika mata, telinga tidak dikarunia maka "rasa" tersebut masih berfungsi karena ada kulit mewakil mata, telinga yg mempunyai fungsi yg berbeda secara wujud. Apakah orang tersebut terhambat pengenalannya terhadap tuhan ?? kalau dipandang dari orang yg punya mata dan telinga jawabnnya yup sangat terhambat !? bukankah awal pembelajaran meditasi harus memejamkan mata, bahkan menutup telinga ?? makna tujuan ...., apa justru orang buta, tuli, bisu lebih duluan mengenal Tuhannya ketimbang yg sempurna panca indranya. Saya juga berterima kasih atas postingan mas Dodo yg memberi masukan dan inspirasi baru, kalaupun saya ada membuat kesalahan dalam tulisan karena menyalahi aturan dsbnya.. minta dimaafkan, karena tidak luput dari ketidak sempurnaan saya, melaui forum ini saya hanya memberanikan dari berfikir dgn warna sendiri dan mencoba melepas pemahaman2 yg mungkin banyak kontra ketimbang pro, sebagai study banding atas pencahariana dari media meditasi secara otodidak dan terbuka atas pandang satu untuk semua, pandang semua untuk satu sebagai satu kesatuan utuh. Salam Harmonis On Mar 5, 5:09 pm, "dohan satria" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Salam > > Masalah Evolusi itu proses yag jaman sekarang sangat disayangkan orang lebih > suka *Instan *dalam menjalani sesuatu , kenyataan ngga mudah loh buat mereka > yang tidak menganut *sistem proses* , , karena dalam proses tersebut masih > ditemukan jatuh bangun bahkan mungkin harus ancur dulu,dan > kenyataan*menghargai sebuah proses jalani seperti air mengalir yang > tetap diarahkan > alirannya sudah sangat dibuktikan Ampuh sekali * > > Sebnarnya bukan menilai tapi tepatnya mengamati untuk melihat keluar karena > bagaimanapun itu sebuah contoh laku yang bisa diambil hikmahnya , sebuah > contoh nyata dalam laku hidup yaitu sebuah *Kenyataan Hidup* karena dalam > kehidupan dunia ini kalo bermodalkan Akal yang pada kenyatannya semua hasil > Tehnolgi Dunia tetap pada awalnya bersumber dari sana ..dulu orang bayangkan > terbang sekarang bisa naik pesawat ,,dulu orang jalan kaki sekarang sudah > bisa naik motor ,dulu orang susah berkomunikasi sekarang sudah bukan sebuah > kesulitan utk itu dsb dsb.. ,kalo contoh cuman *katanya* itu yang kadang > membingungkan ., paling tidak dari melihat keluar sebagai sebuah contoh dan > kedalam untuk renungi , bisa diibaratkan sebuah Cermin,,bagaimana kita > akan melihat *pantulan bayangan diri kita * diri kita kalo *cermin itu kusam > *,..Salah satunya Meditasi yang terARah ke Sang Sumber untuk mendapatkan > Petunjuk petunjukNya > Saya setuju dengan menghindari sebuah *caci maki* ,silahkan dikoreksi kalo > ada tulisan saya yang berunsur bgtu saya akan minta maaf. > > Saya akan sedikit coba menambhakan bagaimana sebuah akal yang di suling tadi > dengan menggambarkan cara kerja antara *akal* dan *rasa* dari hasil sebuah > serapan : > > Pertama bagaimana merasakan adaynya Sang SUmber Dalam kita merasakan > kebesaran Tuhan, Kita punya segala fasilitas yang sekian lama bekerja tanpa > henti dikatakan ada Panca Indra dan ada istilah indar ke 6 dan > susunan strukrur manusia yang bisa diibaratkan sebuah *WADAH* . Awalnya dari > Mata optik kita sebagai muqaddimah (pendahuluan) untuk penglihatan > selanjutnya. Adanya Segala CitpaaNya kita ambil contoh Kehebatan Alam > wujudnya dengan pandangan mata kepala. Setelah pandangan mata melihat sebuah > wujud, kalau *RASA* kita hidup maka akan respon untuk berfikir. Bila akal > berfikir, ertinya akal melihat, itulah Akal yang hidup, Akal yang jaga. > Kalau hanya mata melihat, hasilnya sedikit bahkan kadang tertipu, misalnya > lihat gunung dari jauh cantik, hijau, padahal setelah dekat tidak seperti > itu.Bagaimana dengan mereka yang tidak ada kesempatan untk melihat mendengar > secara nyata ( Nuwun sewu ) keindahan Alam ???Pernahkah kita ikut > memikirkan bagaimana mereka me Rasakan Ke Agungan Ciptaannya ??Darimanakah > dia merasakan Adanya Tuhan,,,,Tetep Di *Rasa kan?* Terus bagaimana AKAL > mereka bisa Hidup....??apa bearti dengan mata buta terhambat proses > pengenalan Tuhannya?Alangkah bersukurnya kalo di pikir bagi mereka yang > masih di Karuniai fasilitas Komplit kenapa nggak untuk coba mulai mengenal > Tuhan??sebagai catatan *Rasa* tidak disamakan dengan* PERASAAN dalam hal ini > .* > > Kembali ke bahasan Apa yang dilihat oleh mata kepala, kalau Akal kuat > memikirkannya, maka akan mendapat ilmu. Kalau melihat benda yang berwarna > hijau, akal melihat atau buat kajian. Tetapi yang lebih halus lagi, akal > dapat melihat benda bukan hanya yang *lahir dengan apa??*, > > Di sinilah perlunya *RASA* . Kalau* Akal* tidak didasarkan dengan > *RASA*maka akan semakin membutakan > *RASA*. Ketika mata melihat, kemudian Akal berfikir, mesti berasaskan > *RASA*, akibatnya akan makin banyak berfikir, manusia makin terasa > Kehebatan > Tuhan. Bila kita sudah sering melakukan itu maka secara *otomatis* bila > mata melihat sesuatu, hasilnya akan dapat melihat kebesaran Tuhan. Setelah > itu tak perlu berfikir lagi dalam melihat kebesaran Tuhan, langsung > te*Rasa*ke dalam jiwa > > Memang begitulah pertanyaan pertanyaan terkadang terngiang dalam benak yang > pada kenyaataanya alangkah baiknya bila kita selalu merasa *Miskin > Petunjuk/Kawruh* di hadapan *Tuhan **( Karena kita akan selalu termotivasi > utk mencari dan mencari tanpa henti )* daripada kita merasa *KAYA* di hdapan > Tuhan ( kita akan berhenti dalam sebuah *KOTAK PIKIRAN DAN AKAL* ) > > Bagaimanapun saya sangat berteimaksih dan berkesan dengan tulisan sampeyan > yang tetap tidak saya punkiri tetap jadikan sebuah *kawruh dan > pengertian*buat saya > > Diharapkan dengan adanya pembahasan begini akan sedikit memberikan inspirasi > buat para Pencari dan saya mau menyampaiakn betapa indahnya sebuah > pembicaraan jika meletakkan sebuah perbedaan,,dan bicara dengan *RASA > *,,,,,,bukan > semata *mata pikiran* dan *apalagi perasaan *karena disini tidak mencari > siapa yang dan salah,,dan saya tidak mengatakan pendapat saya ini paling > benar ,,,saya yakin masih banyak rekan rekan yang lebih mumpuni dalam hal > ini , > > Silahkan lanjut... > > DODO --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ Quote: ** In this age of Aquarius, science will become religious, and religion will become scientific. Disagreements between science and religion will come to an end, and people will begin to comprehend that both spirit and matter are derived from the same source, and are only modifications of the One Universal Energy ** -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
