Tergantung dari waktu kali yah... waktu sebagai evolusi dan pandangan paskah evolusi... dst, meditasi menuju keheningan adalah proses pembelajaran, olah rasa oleh sebagian orang, dan menurut saya adalah bahasa yang menceritakan kisah panorama kehidupan, sayang sebagian orang banyak mengabaikan proses ini, bagamana mengetahuinya, tentunya dengan masih mempertahankan status quo (pandangan lama), padalah begitu banyak masukan melalui rasa (input) pada saat meditasi/tafakur.
Berhentilah untuk selalu menilai keluar, tengo yg didalam dimana diri ini sangat banyak perlu perhatian buktinya ada penderitaan, diluar sana adalah bagai bintang2 dilangit sebagai petunjuk untuk diri dan nikmati pertunjukan itu, hindari cerca atau maki sekalipun dalam hati (secara gaib ada hukumnya), amati prilaku dari pandangan mana saja, ambil positifnya tinggalkan negatifnya dan lakukan ection, apabila dirasa kurang sempurna mulai lagi dari awal dan begitu seterusnya ... gunakan olah panca indra agar sempurna sebagai berkah.penderitaan akan selalu mewarnai hidup didunia baik yg nyaitai ataupun super sibuk, hanya kwalitasnya berbeda. Rasa adalah input harus ada hardware yaitu mata, kulit, telinga, hidung, dan mulut setelah mendapatkan input kemudian diolah/proses/ konvert melalui akal, kemudian ada keputusan pra ection berupa Privew, keputusan berupa ection adalah Print out. nah kemudian ada Reportnya, kesimpulan dari report adalah jika sampah yang masuk sampah juga yang keluar, emas yang masuk emas juga yang keluar. Tentang sang sumber itu adalah urusan hamba dan sang Haliq, bagaimana cara bertuhan. Saya ibaratkan gunung itu dikaki-kakinya buanyakkk sekali penduduknya, terus naik kelereng akan semangkin jarang penghuninya, lereng itu ada banyak sekali tingkatan semakin tinggi dimana tekanan udara semangkin meningkat dapat dihitung dgn jari jumlah penduduk disana semangkin jarang, akhirnya sampailah puncak, paling banyak satu atau ngga ada sama sekali penghuni. Gunung adalah hanya sebuah symbol, kalau gunakan kacamata keakuan orang yg tinggal di puncak orangnya ga beres. Hanya sebuah ungkapan Dalam kehidupan sehari-hari sampai dimanapun akal tetap digunakan, jangan ditepis masalah ini, masalahnya bagaimana membedakan antara akal yg biasa dan akal yang telah melalui penyulingan, tetap saja akal yg digunakan bukan ? Salam Harmonis On Mar 4, 6:52 pm, "dohan satria" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Maturnuwun sebelumnya ,, > Rekan lainnya mana nih bisa ikut Share tentang ini... > Saya ingin menambahkan ,, > Kebetulan saya bukan Type menyesali sebuah kawruh yang sudah saya tempuh > ,,mau pahit, asem , berdarah pun kalo memang itu sudah terjadi resiko > katakan kecerobohan saya ,saya tidak pernah melihat itu dari sisi negatif > tidak ada kata *menyesal* apalagi *menyalahkan* seseorang , > saya ingin bagikan sebuah gambaran Pengalaman *NYATA* bukan sebuah * > KATANYA* bahwa untuk mencari* PETUNJuk* itu harus benar benar *CERMAT* yang > bagaimana???artinya Pengolahan *RASA* yang perlu di Tekankan dalam hal ini, > kalo saya cerita ini sebagai bagian dari kisah dulu sebagai gambaran nyata > ,yag harus mengalami jalan tersebut saya katakan *kecewa* IYA,karena > ternyata sebuah *Ilmu Kebenaran* sudah benar ilmunya tapi,,,manusia sendiri > yang sudah *NYLENEH* ( *INI YANG BUAT SAYA KECEWA *bukan menyesal ,. dan > saya mulai mengerti saat itu *TERNYATA* Pemahaman secara *AKAL* belum tentu > bisa jadikan* CERMINAN* seseorang )bukan berati saya menyesali atau > meyalahkan tapi saya kecewa ternyata sebuah *KAWRUH* yang sudah mngikuti > kaidah kaidah yang memang mengandung kebenaran , ternyata belum bisa bisa > meresap ke seorang *Pemberi Kawruh* untuk dibagi ke sesamanya . Untuk bahasa > dengan Bintang dan sebagainya ada benarnya masalahnya bagaimana melihat > petunjuk itu sebagai Kawruh apakah itu redup dari sananya atau redup karena > pandangan kita ... Disini cobalah kita berikan sebuah argumen argumen yang > MENdasar ,.kita Kupas saya harapkan ada rekan rekan yang bisa menambahkan > sharing ini > > Bahwa untuk bisa mengerti sebuah *PETUNJUK* dalam arti (sebuah > perjalananpun Nyata pun adalah *PETUNJUK BERHARGA* kalopun sampai Bonyok > jangan disesali atau menyalahkan sudah RESIKO seorang Murid ) * * perlu > disikapi secara positif untuk mulai melangkah mencari Petunjuk petunjuk > berikutnya , karena bagaimanapun seorang *Pembimbing Yang benar tetap kita > perlukan dalam hal ini. Kawruh2 Spiritual adalah *tidak bisa dilepaskan > dari Tuhan sebagai sang sumber *PETUNJUK* , dan tugas kita yang nglakoni , > yang mana sebuah *Ilmu Spiritual-----> Sang SUmber sebagai Petunjuk dan > Arah ,, > * > Sang SUmber adalah Tuhan berati mendalami Spiritual dengan tetap mengarah ke > sang SUmber berati Ilmu KeTuhanan ( yang selama ini sudah terexpose oleh > Rujukan AGAMA ..yang merupakan rujukan KOnsep Spiritual yang palin Benar > ,,,saya harapakan sedkit tema berhenti di Tuhan tanpa rujukan agama yang > sudah mengkotakkan pikiran selama ini ) ,Sementara dikatakan *Ilmu Ketuhanan > * adalah Ilmu *Rasa * > Kenapa demikian ??kalo* semata mata akal *sebagai Filter dimanakah letak dan > peranan *RASA dalam hal ini ???Apa bukan RASA dulu yang harus kita OLAH?? > Toh mengolah dengan akal kalo RASA *nggak kita anggap atau nggak kita gali > atau nggak kita kenal hasilnya juga SUsah untuk merujuk ke *Petujuk yang > benar* yang pada kenyataannya pengaruh petunjuk secara* Batin atau > Nyata*pun sering kita salah dalam menafsirkan . > > *Apa artinya *bila dikatakan contoh paling pait Seorang yang belajar Kawruh > bahkan di Tingkat Agama jadi* Me RASA tidak berTuhan???*Saya katakan > demikian karena *KAWRUH DAN PETUNJUK *yang jelas jelas sudah benar merujuk > ke *Sang Sumber* hanya hinggap di *PIKIRAN* ---------->*celakanya Pikiran > Sudah Merajai Manusia selama ini* , bahkan ***KOREKSI*****seorang yang > menjalani* Ilmu Tauhid mauopun KeTuhanan pun ada kemungkinan tidak me * > RASA* ber Tuhan ( Meski tidak semua ) ( ( Nyatanya Cerminan Sifat sifat > Tuhan yang Maha Segalanya sudah bergeser ) . Saya katakan demikian > karena,,mereka belajar Ilmu* KEBENARAN* katakan sumbernya sudah jelas , tapi > dalam penyerapannya semata mata hanya *AKAL * yang dipakai , *RASA* sama > sekali tidak menghayati ilmu tersebut, jadinya apa....*KOSONG akhirnya kata > kata YAKIN menjadi BUMERANG,,,* > > Ada Sebuah bahasa yang sedrhana bsia saya bagikan disini mungkin bsia > dijadikan INSPIRASI ,,,, > > Ada Seorang Belajar mencari Petunjuk dan Kawruh ... > Sedangkan jiwanya tidak menghayati ilmu itu , > Hanya akal dan pikrian yang bekerja dalam menyerap .. > *Akalnya* percaya adanya *Tuhan,..* > *Jiwanya* *tidak terasa* *berTuhan,.. > > *Suatu saat ...Dari segi ilmu, dia *pakar dengan Tuhan,..* > Di segi jiwa,* kosong dari Tuhan,..* > *Karena itulah rasa takutnya dengan Tuhan tidak berlaku atau tidak ada > *Yang jadinya Syariat Tuhan tidak dijadikan pakaian... > > Akibatnya Kehidupannya tidak mempedulikan syariat ... > Sekalipun bisa memperkatakan *Ayat dan Kitab **Atas alasan ilmu semata-mata* > , > Padahal ilmu *keTuhanan *hendaklah di* Rasa oleh Jiwa* > I*lmu keTuhanan bukan ilmu Akal tetapi ilmu Rasa* > > Orang yang* "percaya" Tuhan*, hidup seperti Tiidak berTuhan > Orang " *Rasa* " berTuhan adalah orang yang takut dengan Tuhan "*sekalipun > ilmunya kurang" > Mereka yang Rasa berTuhan akan selalu menghormati syariat Tuhan, > karena Tuhan ada di Dalam Dirinya dan merupakan bagian dalam dirinya,, > * > Karena *Rasa berTuhan itu adalah fitrah* bagi setiap insan, cuman celakanya > manusia hanya memakai AKAL untuk mengenal TUHAN.. > Lantaran itulah *Rasa berTuhan* itu harus disuburkan di dalam jiwa manusia > dan *RASA* manusia > > Tidak cukup sebatas *akalnya percaya adanya Tuhan > *Alangkah Pentingnya bagi Pengertian pengertian dari yang mendasar hingga > bisa merasuk di *RASA* ,,dan menjadikan Inspirasi untuk sesamanya ... > > Bagaimanakah Mengolah RASA ( Tentu ada Proses ) yang mengarah ke Sang > Sumber...???Yang tentunya di belakang Rasa masih ada yang harus Digali > Kawruhnya lagi....untuk bisa mendapatkan PEtunjuk Yang benar benar > Petunjuk... > > Salam Harmonis --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ Quote: ** In this age of Aquarius, science will become religious, and religion will become scientific. Disagreements between science and religion will come to an end, and people will begin to comprehend that both spirit and matter are derived from the same source, and are only modifications of the One Universal Energy ** -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
