Wah diskusinya menarik sekali,...

Tambahan sedikit soal source rock laut dalam.  Sedimen yang dibawa oleh
arus sungai selain mengandung kerogen juga membawa nutrients. Pada
posisi nearshore karena memang lebih dekat dengan sumbernya, kerogennya
lebih banyak woody material, type III, gas prone, dan mungkin saja
kondisinya lebih "oxic" dan kandungan Oxygen-nya lebih tinggi.
Sebaliknya pada posisi laut dalam, nutrients yang dibawa oleh sedimen
tadi menjadi "makanan" untuk tumbuh dan berkembangnya algal, sehingga
kerogen yang ditemui adalah type II atau mixed kerogen, yang oil prone.
Jadi kalau kita kembali ke pertanyaan awal dan judul, deep water source
rock lebih banyak menghasilkan oil prone kerogen,.. minyak.  Hal ini
juga didukung oleh statistik discoveries (~90 delta) antara onshore/near
shore vs. laut dalam, dimana dilaut dalam ditemukan lebih banyak minyak
ketimbang gas. Onshore/near shore lebih banyak gas.

Soal overpressured shale, saya pikir tidak selalu disebabkan oleh rapid
burial. Undercompacted shale adalah akibat dari source rock shale yang
berada pada maturation window, i.e generating hydrocarbon. Pada titik
ini, rate of generation > rate of explusion, sehingga terjadi pressure
build up.  Coba deh plot, undercompacted shale tsb. kira2 berada pada Ro
0.7%.  Kalau di Mahakam disekitar kedalaman 11,000 ft.

Saya ada pertanyaan sedikit nih, yang dimaksud deep water, definisi
orang infrastructure atau geologist ? karena definisi deep water
sediments lautnya bisa saja dangkal tapi kalau definisi orang
infrastructure: laut > 200 m. Mungkin Herman, Minarwan, Hasan bisa kasih
pencerahan soal ini.  Kondisi laut dalam saat ini atau sewaktu
diendapkan ? mohon penjelasannya sedikit Kang Iman.  Laut dalam pada
saat ini (high stand) bisa saja sebenarnya diendapkan dangkal pada saat
low stand.  Kenapa jadi masalah,... karena ternyata richness source rock
(HI/TOC) lebih tinggi pada saat high stand, mungkin karena
preservation-nya lebih baik, kondisinya lebih anoxic.

Bambang Istadi
ConocoPhillips Inc.
+1-281-293-3763


-----Original Message-----
From: PUTROHARI Rovicky [mailto:[EMAIL PROTECTED]]
Sent: Wednesday, January 22, 2003 8:12 PM
To: [EMAIL PROTECTED]
Subject: Re: [iagi-net-l] Deep water source rock ... dimana dikau ?


Thanks Mas Hendro, 
Emang tidak harus source rock dari HC yg ada di deepwater sedimen akan 
berasal dari deepwater sedimennya sendiri ....seperti  kebanyakan kalo 
explorasi di delta setting (spt Mahakam dan Baram serta Tarakan?) emang 
diinterpretasikan berasal dari organic shale/coal didalam sequencenya 
sendiri. Bahkan di Central Sumatra dulunya juga diyakini sourcerocknya 
dari coal yg ada di Sihapas Group reservoir (Mid Miocene) di sequence 
tersebut, namun penemuan baru justru HC berasal dari organic shale 
Pematang Brownshale yg merupakan bagian dari synrift sedimen jauuh lebih

tua dari reservoir ini (Eocene?). 

Untuk deepwater sedimen kalo melihat setting "normal"nya , biasanya
bagian 
bawah dari deep water sedimen ini terisi oleh shale yg sering
diperkirakan 
berfungsi juga sebagai seal/cap rock. Apalagi kalao shale ini juga
sering 
sangat tebal dan overpressure (under compacted), sehingga 
asumsi/memperkirakan HC berasal dari source dibawahnya sering dilewati, 
kecuali mungkin adanya facture (fault) yang dapat menjadi conduit dari
HC 
(dr source rock) dibawah yg bukan berupa deep water sedimen. Misalnya 
adanya rifting dibawah deep water sedimen ini. Saya ngga tahu sejauh
mana 
efektifitas fracture/fault ini sebagai conduit (jalannya) minyak/gas yg 
menerobos dari bawah (vertical migration). Juga saya kurang tahu (Herry 
mungkin bisa njelasin) kenapa overpressure ini kok mengurangi potensinya

sebagai source rock. Saya berpikiran malah kalo pressurenya besar 
barangkali malah "expulsion efficiency" -nya lebih besar  --> ? walopun 
dilain pihak temperaturenya yg lebih aktif berpengaruh ...

Saya ndak tahu apakah di bawah delta Mahakam ataupun Baram/Tarakan ini
ada 
juga rift sedimen yg berfungsi sebagai source rock. Kalo di Upper Kutei 
daerahnya LASMO ENI emang pernah diinterpretasikan ada eocene-rift 
(papernya Chambers dkk). Namun saya belum pernah tahu apakah di
deepwater 
Selat Makassar juga ada rift sediment yang berpotensi sebagai "kitchen".

Atau seperti yg disitir Herry maulana adanya lowstand coal yg 'ndlosor' 
masuk ke deep water area ini yang lebih berpotensi.

rdp



---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi

Komisi Sedimentologi (FOSI) : F. Hasan Sidi([EMAIL PROTECTED])-http://fosi.iagi.or.id
Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi([EMAIL PROTECTED])
Komisi Karst : Hanang Samodra([EMAIL PROTECTED])
Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo([EMAIL PROTECTED])
Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin([EMAIL PROTECTED] atau [EMAIL PROTECTED]), Arif Zardi 
Dahlius([EMAIL PROTECTED])
Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono([EMAIL PROTECTED])
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke