Menyambung posting pak Noor

- Sehubungan dengan "dengar-dengar" bahwa Cikotok malah mau dikembangkan
untuk wisata, nampaknya untuk tambang bawah tanah tidak perlu terlalu
dipermasalahkan "penutupan tambangnya" (hanya sekedar dikonversi menjadi
tempat wisata saja?), sementara untuk tambang-tambang open pit (semacam di
Kelian?, Bangka, atau INCO) perlu diatur lebih sistimatis dan terencana?
Apakah memang begitu? Bagaimana kawan-kawan mining geo's dan environ geos?

- 70 lapangan minyak itu, berapa persen offshore-onshorenya pak Noor?

- Khusus untuk di migas, menurut saya, bukan hanya lapangan abandoned yang
harus diperhatikan, sumur-sumur eksplorasi abandoned-pun mempunyai aspek
"hazard" yang tinggi apabila tidak diatur secara teknis dan administratif
pengurusan paska abandonement-nya. Perumahan real-estate Bukit Hijau di
Balikpapan, dibangun diatas abandonement sumur Bongkaran-1 dan Bongkaran-7,
dimana besi penutup sumur2nya mencuat di pinggir jalan yang rawan terhadap
lindasan dan dongkelan bulldozer;  sementara di Bukit Damai Indah bekas
sumur Bongkaran-5 ada dijalan setapak yang rawan terhadap pencongkelan orang
iseng. Di pedalaman Mahakam, sumur Mamahak yang diabandoned pernah makan
korban anak muda yang iseng main korek disekitarnya karena tidak menyadari
bahayanya, tidak ada tanda papan peringatan apapun disitu karena lokasinya
"in the middle of nowhere". Bagaimana seharusnya pengaturan sumur-sumur
eksplorasi yang diabandoned tersebut ya??? Ada yang punya referensi?

- Pertanyaan ke-8 untuk rekan-rekan mining geologist: kalau
tambang-tambangnya Freeport di Papua itu kapan closurenya?? Apakah tidak
akan pernah di closure karena biarpun gunung bijih sudah habis, tapi masih
ada gunung bijih timur, masih ada kucing liar, dan mungkin masih ada yang
baru lainnya di tahun-tahun mendatang; sehingga harus menunggu semua pospect
exhausted, baru ditutup???

Salam

ADB


----- Original Message -----
From: "SYARIFUDDIN Noor" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Friday, January 24, 2003 4:38 PM
Subject: Re: [iagi-net-l] MINE CLOSURE = Re: [iagi-net-l] IAGI Luncheon Talk


> - kayaknya yang secara sistematis memang belum pernah denger
> Ndang....contoh kasus ya di Bangka-Belitung (PN Timah) itu......atau
> karena keburu di'sergap' penambang skala koperasi jadi langsung diserah
> terimakan saja he...he...he...he..
> Untuk Cikotok setahu saya malah mau dikembangkan untuk wisata.....
>
> - Di database saya ada sekitar 70 lapangan minyak yang sudah diabandoned,
> tapi saya belum pernah dengar bagaimana closure
> processnya....jangan-jangan ya model diserhterimakan ke 'penambang skala
> koperasi ' lagi (Wonocolo dan sekitarnya...?)
>
> - untuk platform abandonment itu sudah ada peraturannya, bahkan setahu
> saya ITS terlibat bagaimana riset cara 'toppling' atau merubuhkan platform
> yang effisien dan safe.
>
>
>
>
>
>
> "Andang Bachtiar" <[EMAIL PROTECTED]>
> 01/24/03 03:18 PM
> Please respond to iagi-net
>
>
>         To:     <[EMAIL PROTECTED]>
>         cc:
>         Subject:        [iagi-net-l] MINE CLOSURE = Re: [iagi-net-l] IAGI
Luncheon Talk
>
>
> Menyambut Luncheon Talk tentang Mine Closure KEM oleh Pak Seno Adji minggu
> depan, berikut ini saya lemparkan beberapa pertanyaan untuk didiskusikan,
> terutama dari rekan-rekan netters yang berkecimpung dan berminat di
> masalah
> Tambang maupun Environment.
>
> Mudah-mudahan bisa menjadikan LT-nya pak Seno Adji lebih semarak, karena
> sudah dipanasi lebih dulu disini.
>
> Point-pointnya sebagai berikut:
>
> 1. Apakah KEM ini mine-closure yang pertama untuk gold-mine di Indonesia?
>
> 2. Bagaimana dengan Cikotok, misalnya,.... atau Lusang yang di Bengkulu
> itu?
> Apakah mereka juga "ditutup" dengan program yang terencana dan sistimatis
> dg
> baik spt KEM ini? Kalau tidak, kenapa? Apakah hanya karena :"belum ada gov
> regulation"-nya?
>
> 3. Bagaimana dengan program penutupan (reklamasi) tambang-tambang batubara
> yang gede-gede? Apakah sudah pernah dilaksanakan di Indonesia? Sampai
> sejauh
> mana dokumentasinya bisa diakses?
>
> 4. Apakah memang benar tidak ada "Government Regulation" tentang penutupan
> tambang ini? Kalaupun tidak ada di Dept ESDM, apakah mungkin peraturan itu
> adanya di KLH?
>
> 5. Sampai berapa lama setelah ditutup, suatu kumpeni masih dianggap
> bertanggung jawab thdp ekses jangka panjang dari tambang tersebut??? 10
> tahun?? 20 tahun?? Atau pemerintahlah yang dianggap b ertanggung-jawab
> setelah tambang secara resmi ditutup oleh si kumpeni???
>
> 6. Apakah ada yang pernah tahu tentang praktek "MINE-CLOSURE" di lapangan
> minyak?? Kalau belum ada di Indonesia, bagaimana di dunia internasional??
>
> 7. Abandoned platform di offshore oilfield ataupun offshore drilling.....
> bagaimana pengaturannya? Apakah sudah terlaksana dengan baik di Indonesia?
>
> salam
>
> adb
> ----- Original Message -----
> From: "Allo, Paulus T" <[EMAIL PROTECTED]>
> To: <[EMAIL PROTECTED]>
> Sent: Tuesday, January 21, 2003 1:41 PM
> Subject: [iagi-net-l] IAGI Luncheon Talk
>
>
> IKATAN AHLI GEOLOGI INDONESIA (IAGI)
> DIVISI PROFESSIONAL LUNCHEON TALK
>
> DATE:
> Wednesday, 29 January 2003
> TIME :
> 12.00 - 14.00 WIB
> VENUE:
> "SULAIMAN ROOM"
> MAHARAJA HOTEL
>
> SUBJECT :
> "Bitter Things To Do After Sweet Moment: A case study of the Kelian
> Equatorial Mining"
>
> SPEAKER :
> SENO AJI
> (Superintendent Geology and Geotechnical, PT. Kelian Equatorial Mining)
>
> ABSTRACT
> Mine closure is actually an activity commonly done by a mining company
> whose
> reserves have been exhausted.  A reserve is said to be exhausted if it can
> no longer be mine economically or if a new reserve cannot be found.
> Interestingly, no government regulation regulates this matter.
>
> If we look into it more deeply, mine closure is very complex both
> technically and socially.  Kelian is one of Rio Tinto's model mine closure
> projects in Indonesia and is committed to closing its mine in accordance
> with the existing environmental standards and joint agreements with the
> government.
>
> In order to help the government get ideas for the development of a
> regulation, Kelian has formed a group comprising the government, NGOs,
> customary institutions, educational institutions and Rio Tinto it self.
>
> Technically, the majority of mineral existing in a gold mine is FeS2,
> which
> produces acid rock drainage if oxidized and dissolved in water.  It is
> acid
> rock drainage and the characteristics of rocks that will be handled so
> that
> it is not decomposed and becomes neutral when entering the river.
>
> For this purpose, Kelian covers waste material by means of wet covering
> and
> dry covering techniques.  In addition, wetlands are also constructed on
> the
> riverbank area as additional control, which is managed naturally and
> passively.
>
> BIOGRAPHY
> Seno Aji was was graduated from Geology UPN Yogyakarta, and postgraduate
> student Curtin University- Environmental geology
> Right now, he is a Superintendent Geology and Geotechnical for: PT. Kelian
> Equatorial Mining (Rio Tinto).
>
> His work experience and interest includes: Apprentice employee at
> Pertamina
> Kamojang (geothermal). Exploration geologist, mine geologist, senior
> geologist, supt. Geology and geotechnical will move to mine closure supt.
> at
> PT. KEM.
>
>
> Registration Fee for Luncheon Talk :
> q IAGI Member          Rp.    85.000,-
> q Non IAGI Member   Rp.  100.000,-
>
> ------------------------------------------------------
> Reservations and cancellations will be accepted until 12:00 PM Noon on
> Tuesday, January 28, 2002
> Please call Ijul/Benz/Sutar at Phone / Fax : (62-21) 8370.2848, 8370.2577
> or e-mail at:[EMAIL PROTECTED]
> No Reservations and cancellations will be accepted after this time.
>
>
>
>
> IAGI SECRETARIAT
> Geologi & Sumberdaya Mineral Building, 4th Floors
> Jl. Prof. Soepomo, No.10
> JAKARTA-12870, INDONESIA
> Phone/Facs : (62-21) 8370-2848 / 2577
> email : [EMAIL PROTECTED]
>
> ---------------------------------------------------------------------
> To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
> Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
> IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
> IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
>
> Komisi Sedimentologi (FOSI) : F. Hasan
> Sidi([EMAIL PROTECTED])-http://fosi.iagi.or.id
> Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi([EMAIL PROTECTED])
> Komisi Karst : Hanang Samodra([EMAIL PROTECTED])
> Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo([EMAIL PROTECTED])
> Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin([EMAIL PROTECTED] atau
> [EMAIL PROTECTED]),
> Arif Zardi Dahlius([EMAIL PROTECTED])
> Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono([EMAIL PROTECTED])
> ---------------------------------------------------------------------
>
>
>
>
>
> ---------------------------------------------------------------------
> To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
> Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
> IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
> IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
>
> Komisi Sedimentologi (FOSI) : F. Hasan
> Sidi([EMAIL PROTECTED])-http://fosi.iagi.or.id
> Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi([EMAIL PROTECTED])
> Komisi Karst : Hanang Samodra([EMAIL PROTECTED])
> Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo([EMAIL PROTECTED])
> Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin([EMAIL PROTECTED] atau
> [EMAIL PROTECTED]), Arif Zardi Dahlius([EMAIL PROTECTED])
> Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono([EMAIL PROTECTED])
> ---------------------------------------------------------------------
>
>
>
>



---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi

Komisi Sedimentologi (FOSI) : F. Hasan Sidi([EMAIL PROTECTED])-http://fosi.iagi.or.id
Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi([EMAIL PROTECTED])
Komisi Karst : Hanang Samodra([EMAIL PROTECTED])
Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo([EMAIL PROTECTED])
Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin([EMAIL PROTECTED] atau [EMAIL PROTECTED]), Arif Zardi 
Dahlius([EMAIL PROTECTED])
Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono([EMAIL PROTECTED])
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke