Karangsambung, Wajah Pulau Jawa Masa Purba (Kompas Minggu, 26 Januari 2003; rubrik IPTEK)
Seperti apakah batuan di dasar daratan tempat kita berpijak? Mungkin hal itu tidak pernah akan diketahui bila tidak terjadi proses alam yang dinamis, yang telah mengangkat rahasia di dasar laut dan pulau ke permukaan bumi. Karena perputaran bumi, daratan di permukaan bumi mengalami evolusi sejak jutaan tahun lalu. Permukaan bumi dari yang semula berupa satu daratan di kutub selatan kemudian bergeser ke arah khatulistiwa. Menurut teori Wegner, daratan itu kemudian pecah berkeping-keping, berpencar dan berbenturan, hingga membentuk formasi benua dan kepulauan seperti yang terlihat saat ini. Sementara itu, lempeng bumi yang menjadi alas lapisan permukaan juga saling berbenturan.Hal itulah yang memungkinkan tercuatnya batuan dasar laut ke permukaan bumi. Fenomena itu dapat kita lihat di Karangsambung, yang berjarak 19 km di sebelah utara Kebumen, Jawa Tengah. Kawasan yang luasnya sekitar 30 x 10 km 2 ini merupakan bagian pegunungan Serayu Selatan yang telah mengalami erosi paling dalam, sehingga tersingkap batuan pra-tersier. Kepurbaan daerah ini ditunjukkan oleh batuan tertua di Pulau Jawa dan merupakan alas pulau itu. Umurnya diperkirakan sekitar 121 juta tahun. Sedangkan kerangka geologi daerah ini dicirikan oleh tatanan struktur dan litologi atau batuan yang kompleks dan beraneka ragam dengan fenomena alamnya yang bervariasi yang merupakan hasil proses geomorfologi. Dilihat dari keragaman jenis batuannya, jelas Chusni Ansori peneliti di UPT Balai Informasi dan Konservasi Kebumian LIPI, Karangsambung tergolong yang terbanyak dibandingkan dengan yang ada di daerah lain. Jumlah variasi batuan yang ditemukan mencapai 65, sedangkan di tempat lain sekitar 40. Kawasan konservasi kebumian ini, pekan lalu (20/1), ditinjau Kepala LIPI, Prof Dr Umar A Jenie, dan rombongan pimpinan lembaga riset itu dalam serangkaian kunjungan kerja ke Wanawisata Baturraden Banyumas. Geowisata Karangsambung merupakan laboratorium alam dan monumen geologi yang sangat menarik, baik bagi obyek penelitian maupun geowisata. Setiap tahun paling tidak ada sekitar 150 mahasiswa yang mengadakan penelitian di daerah itu. Mereka antara lain berasal dari Institut Teknologi Bandung, Universitas Trisakti Jakarta, dan Universitas Jenderal Sudirman. Baik kegiatan penelitian maupun kegiatan wisata ilmiah di Karangsambung dikelola oleh Unit Pelaksana Teknis Balai Informasi dan Konservasi Kebumian LIPI. Unit ini memiliki fasilitas pendukung, antara lain berupa tempat penginapan, perpustakaan, dan bengkel kerja kerajinan batu mulia. Kegiatan wisata ilmiah itu meliputi ceramah ilmiah populer, diskusi, kunjungan lapangan ke berbagai lokasi penting, melihat koleksi batuan serta proses pembuatan batu mulia. Selain itu, wisatawan juga bisa mengikuti kegiatan perburuan atau pencarian batuan di Kali Luk Ulo. Di kawasan Balai Informasi dan Konservasi Kebumian LIPI dapat dilihat proses pembuatan kerajinan batu mulia mulai dari memilih bahan, memotong, dan membentuk batu mulia. Selain batu mulia, kita juga bisa melihat berbagai koleksi batuan yang ada di Karangsambung, model tektonik, dan peraga yang menggambarkan proses dinamika bumi di museum. Sementara itu, wisatawan yang mengadakan kunjungan ke lokasi itu akan memperoleh penjelasan tentang berbagai macam batuan tua dan proses pembentukannya, termasuk penjelasan tentang morfologi amphiteater dan proses pembalikan topografi yang memberikan gambaran tentang proses dinamika bumi. Bukti adanya proses dinamika bumi berupa singkapan batuan dan morfologi terlihat di 15 titik lokasi di kawasan ter-sebut. Diperlukan waktu dua hari kunjungan untuk mengikuti wisata ilmiah itu. Untuk menuju Balai Informasi dan Konservasi Kebumian LIPI ditempuh dengan melewati jalan beraspal datar, namun berkelak-kelok mengikuti Kali Luk Ulo yang berada di sebelah baratnya. Sedangkan untuk mencapai 15 lokasi tersebut dapat ditempuh dengan jalan kaki untuk lokasi yang dekat, sedangkan yang jauh menggunakan kendaraan. Kelima belas lokasi tersebut memberi pemandangan yang beragam dengan keunikan masing-masing, yang membuatnya berharga tidak hanya secara ilmiah tapi juga di dalam konsep wisata alam. Bahan dan bentuk-bentuk batuan dengan dugaan umur atau zamannya yang bermacam-macam menyediakan lahan penelitian ilmiah yang penting. Sementara pemandangan maupun atmosfer yang tampak mampu menggugah keingintahuan para pelancong. Sebutlah hal itu misalnya bentuk batuan raksasa yang menakjubkan seperti layar raksasa dalam pertunjukan wayang kulit. Sebut pula batuan yang mengkilat dan bergaris-garis tipis. Di tempat lain lagi ada batuan marmer berbagai warna dan sejumlah pemandangan mempesona lainnya. Beberapa lokasi batuan itu, karena memiliki nilai historis dan ilmiah yang tinggi, menurut Chusni, seharusnya diamankan dari upaya penambangan oleh masyarakat. Namun, saat ini hanya beberapa lokasi saja yang telah diamankan LIPI dengan cara membeli sebagian areal tersebut dari masyarakat setempat untuk tujuan konservasi. Daerah yang telah dimiliki LIPI antara lain Wagirsambeng, Pucangan, dan Kali Muncar Seboro. Ia mengkhawatirkan rusaknya lokasi yang belum diamankan itu karena melihat aktivitas masyarakat setempat yang semakin gencar menambang di lokasi tersebut untuk berbagai keperluan, seperti mengambil bahan asbes, marmer untuk bahan bangunan, dan batu hias. Karena itu, menurut dia, upaya konservasi tersebut perlu didukung oleh aturan di daerah. Saat ini memang belum ada dasar hukum untuk perlindungan kawasan yang mempunyai nilai-nilai ilmiah yang sangat berharga ini. (yun) --------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED] Visit IAGI Website: http://iagi.or.id IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi Komisi Sedimentologi (FOSI) : F. Hasan Sidi([EMAIL PROTECTED])-http://fosi.iagi.or.id Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi([EMAIL PROTECTED]) Komisi Karst : Hanang Samodra([EMAIL PROTECTED]) Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo([EMAIL PROTECTED]) Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin([EMAIL PROTECTED] atau [EMAIL PROTECTED]), Arif Zardi Dahlius([EMAIL PROTECTED]) Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono([EMAIL PROTECTED]) ---------------------------------------------------------------------

