he...he...he..he..memang pameo lama masih berlaku :

orang bodo kalah sama orang pinter
tapi
orang pinter kalah sama orang yang bejo (lucky)....bayangin anggota DPR 
yang cuman kerjaan ngomong dan jalan2 aja gajinya bisa di atas 15 juta 
(dan masih plus-plus lho...)

btw, ini di bawah salah satu contoh plusnya....:


salam,

=================================================================================
Bisnis Indonesia
 Halaman Depan 

 Selasa, 17/06/2003

 Anggota MPR berlimusin-ria di Champs Elysee
 "Gilingan abis," ungkap Amy, pemuda berperawakan gemuk berumur 30-an
tahun
 ketika melihat serombongan warga Indonesia keluar masuk Hotel Crillon
yang
 terletak pas di jantung kota Paris, di pertemuan jalan protokol Avenue
 Champs Elysee, Rivoli dan Place de la Concorde, Jumat malam lalu.

 "Itu hotel kan untuk menginap tamu negara Prancis. Mahal sekali lho...
 Siapa orang Indonesia yang nginap di situ. Nggak ada kata krisis
ekonomi
 nih," timpal Valerie, 25, warga Prancis yang sering berkunjung ke
 Indonesia untuk kegiatan kemanusiaan di Kalimantan, Maluku dan Papua.

 "Jangan berprasangka dulu, mungkin mereka pejabat dari Filipina,
Thailand,
 Kamboja, Malaysia atau Laos," sambung Rudi, 45, pekerja gelap asal Jawa
 Tengah yang berprofesi sebagai petugas pembersih rumah dan restoran
yang
 tinggal di Paris lima tahun terakhir.

 Usut punya usut, ternyata rombongan yang terdiri dari 21 orang itu
adalah
 anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) bersama istri, anak dan
para
 staf.

 Di hotel supermewah itu mereka menyewa beberapa jenis kamar, mulai dari
 yang standar hingga suite room. Berapa tarif hotel itu per malam?
Antara
 655 euro hingga 1850 euro atau Rp6,5 juta-Rp18,5 juta per malam.

 Bagi orang Prancis, tarif kamar setinggi itu dianggap wajar karena
memang
 hotel itu lebih untuk tamu negara setingkat presiden atau perdana
menteri.
 Tercatat pejabat Indonesia yang pernah menginap di situ adalah Presiden
 Soekarno dan Presiden Soeharto saat menjadi tamu negara pemerintah
 Prancis.

 Presiden Abdurrahman Wahid, ketika menjadi tamu Presiden Jacques Chirac
 tiga tahun lalu, tidak menginap di situ, tetapi di Hotel
Intercontinental.
 Dan ketika menerima penghargaan doctor honoris causa dari Universite
Paris
 I Pantheon Sorbonne, dia menginap di Hotel Nikko.

 Selidik punya selidik lagi, ternyata menurut rencana para anggota MPR
itu
 berada di Paris selama tiga hari untuk urusan dinas, alias bertemu
anggota
 parlemen Prancis. Tapi apa lacur? Salah jadwal! Tidak satu pun anggota
 parlemen yang dapat menemui rombongan MPR itu karena mereka berkunjung
 saat weekend.

 Rupanya rombongan MPR itu sebelumnya telah berkunjung ke London, Roma
dan
 Madrid dan setelah Prancis, mereka akan melanjutkan perjalanan ke
Belanda.

 "Ini road show yang memakan waktu, tenaga, pikiran dan dana yang tidak
 sedikit karena bertujuan melakukan studi banding. Tapi mana ada pejabat
 Prancis yang mau berdinas pada hari libur. Juarang buanget. Kalau niat
 ya...hari kerja dong," komentar Valerie yang fasih berbahasa Indonesia
 itu.

 Alhasil dikabarkan rombongan itu pun lebih memanfaatkan waktu untuk
 leisure-misalnya nonton kabaret di Lido pada kelas VIP seharga 160
euro,
 makan di restoran mahal kelas Fuquet dan belanja di toko bebas pajak
Paris
 Look. Tidak ketinggalan berfoto ria di Menara Eiffel dan Arc de
Triomph.

 Kritikan pedas dari orang Prancis tidak hanya berhenti sampai di situ.
 Ketika Bisnis berada di Champs Elysee, jalan raya teramai dan terbesar
di
 Paris, pada Minggu siang, perilaku anggota MPR itu bikin heboh turis
 maupun warga Prancis yang berdesakan di trotoar terbesar di dunia itu.

 Rupanya para wakil rakyat itu menyewa dua limusin berwarna putih.
Limusin
 masih dianggap sebagai barang supermewah kendati di Prancis banyak
orang
 kaya. Hanya selebritis dan pebisnis saja yang mampu menyewanya.

 Alhasil banyak orang terhenyak dan pingin tahu orang top atau
selebritis
 mana yang keluar dari restoran Cina itu. Tabrakan kecil dua mobil
sempat
 terjadi di Avenue Champs Elysee gara-gara pengemudi meleng karena ingin
 melihat siapa yang akan keluar atau naik limusin putih itu. Siapa tahu
 Bruce Wills, Nicole Kidman atau Tom Cruise atau Bill Gates. Lumayan kan
 kalau bisa dapat tanda tangan atau potret bersama.

 Ternyata yang keluar adalah 16 orang anggota MPR Repulik Indonesia,
yang
 langsung berebut naik limusin. Sisanya, para staf, naik mobil lainnya.

 Menurut informasi, limusin tersebut disewa seharga 300 euro (Rp3 juta)
 hanya untuk berkendara selama 15 menit dari Champs Elysee ke Gare du
Nord,
 stasiun kereta api yang menuju Belanda. Gile!

 Gill, 25, arsitek Prancis yang sering datang ke Indonesia untuk mencari
 kayu mahoni dan jati dan kebetulan sedang jalan dengan Bisnis pun
takjub.

 "C'est fou [Ini gila]. Katanya negara kamu sedang krisis dan minta
 keringanan utang kepada negara lain dan pemerintah kami. Tapi lihat
saja
 pejabat kamu berlebihan di sini. Kami akan protes kalau negara kami
 memberi keringanan utang pada negara kamu. Hemat dulu dong kalau mau
minta
 keringanan utang. Saya yakin mereka bukan tamu negara sebab pemerintah
 kami sangat sederhana kalau memberikan jamuan,'' paparnya emosi.

 Siapa yang membiayai pengeluaran itu semua. Kantong sendiri? Kaya
sekali
 para anggota majelis ini! Anggaran negara? Boros amat KBRI! Mana ada
duit
 sebesar itu.

 Swasta? Siapa? Apa kepentingannya? Kabarnya, sebuah bank negara papan
atas
 dan terbesar menyumbang pembiayaan itu-entah sebagai uang
entertainment,
 atau terkait tujuan politis tertentu, ataukah dengan tekanan.
 Huwallahhuallambisawab!

 Yang jelas, Ketua MPR Amien Rais, ketika berpidato di hadapan tukang
becak
 di Makasssar pekan lalu, menyerukan agar dalam pemilu nanti jangan
memilih
 partai yang anggotanya suka jalan-jalan ke luar negeri. Bahkan,
Presiden
 Megawati juga berpesan agar kita semua hidup sederhana.

 Rakyat berharap kepergian para pejabat ke luar negeri untuk tujuan yang
 mulia, misalnya melakukan lobi guna memecahkan kesulitan negara. Yang
 terjadi kok malah sebaliknya?

 Oleh: Rofikoh Rokhim
 Wartawan Bisnis Indonesia

 � Copyright 2001 Bisnis Indonesia. All rights reserved. Reproduction in
             whole or in part without permission is prohibited.







Minarwan <[EMAIL PROTECTED]>
20/06/2003 10:55 AM
Please respond to iagi-net

 
        To:     "'[EMAIL PROTECTED]'" <[EMAIL PROTECTED]>
        cc: 
        Subject:        [iagi-net-l] Malaysia Menculik Doktor-Doktor Indonesia


Ternyata tidak cuma geologist yang didatangkan dari Indonesia..:D...Inilah
yang akan terjadi jika ingin mendapatkan yang terbaik tapi cuma mau bayar
murah. Cara 'terbaik' untuk menarik perhatian pemerintah terhadap
kesejahteraan para dosen kita???
min 

Malaysia Menculik Doktor-Doktor Indonesia
19 Jun 2003 21:33:27 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen 

Pendidikan Nasional, Satryo Soemantri Brodjonegoro mengatakan bahwa banyak 

orang pintar Indonesia yang mendapat gelar doktor dari luar negeri, yang 
kemudian memilih tinggal dan bekerja di Malaysia, Singapura atau Brunei. 
"Parahnya, mereka ini yang benar-benar jago-jago. Doktor-doktor lulusan
Yale, 
Cranfield, Stanford, MIT dan lain-lain," ujar Satryo ketika ditemui seusai 

acara Seminar Nasional Hasil Penelitian Perguruan Tinggi di Komplek
Bidakara, 
Jakarta, Kamis (19/6) siang.

Menurut Satryo, mereka yang kabur ini semuanya adalah doktor bidang ilmu 
eksakta seperti teknik, fisika, computer dan sejenisnya. Data yang pada
pihak 
Dikti, saat ini sekitar 20-an doktor Indonesia lulusan luar negeri telah 
"diculik" Malaysia. "Sisanya, sekitar 2-3 orang bekerja di Brunei dan
sekitar 
lima orang bekerja di Singapura," katanya.

Eksodus orang-orang jenius ini, menurut Satryo, disebabkan PTN tempat 
mereka

bekerja sebelumnya tidak mampu memberikan renumerasi yang layak. "Guru 
besar

(profesor) seperti saya hanya menerima Rp 2,5 juta per bulan. Sementara 
gaji

mereka di Malaysia, kalau dikonversi ke rupiah, sekitar Rp 50 juta per
bulan. 
Itu belum termasuk fasilitas perumahan dan pendidikan gratis untuk anak 
mereka," katanya dengan senyum miris.

Selain alasan renumerasi, banyak dari mereka yang merasa membutuhkan 
situasi

tempat kerja yang benar-benar membawa tantangan. Mereka, kata Satryo, 
ingin 
sekali agar ilmu yang mereka dapatkan benar-benar dapat didayagunakan 
secara

optimal.

"Dan harus diakui, Malaysia dan Negara-negara lain mampu menghadirkan hal 
tersebut," ujar Satryo. Salah satunya contohnya, adalah Malaysia saat ini 
telah mengembangkan Pusat Biotech Valley di Petaling Jaya, Kuala Lumpur, 
semacam Silicon Valley di Amerika Serikat.

Pihaknya, menurut Satryo, sebenarnya sudah mencoba habis-habisan untuk 
membujuk mereka tetap tinggal. Tetapi karena kebanyakan dari mereka sudah 
menyelesaikan ikatan dinas mengajar selama sembilan tahun, maka ia tidak
punya 
kekuasaan untk menahan.

"Bahkan saat ini saya sudah menerima 20-an permohonan ijin dari
doktor-doktor 
lain untuk bekerja di Malaysia. Bahkan perusahaan disana, sudah bersedia 
mengganti biaya kompensasi beassiwa pendidikan dan ikatan dinas yang sudah 

dibayar pemerintah," katanya lagi-lagi dengan nada miris.

Padahal biaya yang telah dikeluarkan pihak penyedia dana di luar negeri 
(tempat belajar sebelumnya) dan pemerintah tidaklah sedikit. "Untuk satu
tahun 
pendidikan doktor di luar negeri, mereka bisa menghabiskan biaya sekitar 
US
$ 
30 ribu," ujar Satryo.

Satryo menilai, hal ini harus mendapat perhatian yang serius karena kalau
ini 
dibiarkan, Indonesia akan kehilangan banyak SDM berkualitas yang notebene 
tidak mudah untuk menghasilkannya. "Sementara Malaysia yang akan 
ongkang-ongkang kaki menikmati kerja keras kita," ujarnya.

Pihak Dikti sebenarnya hendak mengusulkan agar pemerintah melakukan 
langkah 
khusus dengan meluncurkan crash program untuk memperbaiki renumerasi 
mereka.

"Banyak dari mereka yang bicara sama saya, asalkan digaji Rp 7 juta 
sebulan,

mereka mau bekerja di sini," kata Satryo. Ia mengusulkan dana yang 
diterima 
Dirjen Dikti yang hanya Rp 4 milliar pertahun, menjadi Rp 14 milliar
pertahun.





***  Private and Confidential   ***
The information in this email is confidential and is intended only for the 
person(s) named. 
Any other distribution, copying or disclosure is prohibited. If you are 
not the intended recipient, 
please notify the sender immediately or telephone Premier Oil on +44 (0) 
20 7730 1111



Kirim email ke