Ada beberapa hal yang menarik untuk didiskusikan dari "kenangan" trend VR
Kalimantannya Pak Slamet Riyadi BHP. Mudah-mudahan topik ini bisa jadi ajang
kolaborasi pemikiran antara kawan-kawan di industri migas dan industri
batubara.

1. Khusus mengenai "jalur/trend" panjang yang pak Slamet Riyadi amati
tersebut, apakah merupakan trend di antiklin ataukah sinklin? Asumsi saya
anda nampaknya secara spesifik membahas trend maturity coal di jalur sinklin
(anda menyebutkan contoh: Runtu Syncline/E, Tenggarong Syncline/W; selain
juga pada umumnya coal mining lebih sering dilakukan secara ekonomis di
syncline karena dip-nya yang tidak terlalu tinggi). Kalau benar trend
maturity di sinklin-sinklin sangatta, runtu, tenggarong, separi, sampai ke
murung relatif lebih besar dari trend maturity diluar sinklin tersebut
(baca: di antiklin?) maka hal tersebut menjadi sangat menarik. Kemungkinan
besar secara tektonik hal tersebut disebabkan oleh proses "syn-sedimentary
anticlinal growth" yang khas terjadi di sistim pengendapan delta besar
seperti Paleo-Mahakam Delta. Meskipun Sangata dan Separi pada waktu Miosen
tidak termasuk kedalam sistim Paleo-Mahakam, tapi apabila benar bahwa fakta
coal maturitynya seperti itu, berarti mekanisme "syn-sedimentary anticlinal
growth" tersebut juga terjadi di Paleo-Sangata Delta (Sangata) dan
Paleo-Marangkayu Delta (Separi). Implikasi dari adanya mekanisme tektonik
tersebut cukup signifikan, yaitu tersedianya struktur pemerangkapan pada
waktu pembentukan dan migrasi awal minyak di cekungan (early oil migration).
Lapangan-lapangan migas di jalur Semberah - Mumus - Binangat - Sambutan -
Pelarang - Sungai Nangka kemungkinan besar mengalami proses early oil
migration melalui mekanisme syn-sedimentary anticlinal growth tersebut.

2. Melemahnya trend maturity dari coal di Mandai, Melawi, Ketungau  (yang
juga disinggung oleh Pak Slamet Riyadi di paragraph terakhir dari
postingnya) kemungkinan besar justru disebabkan oleh intensitas tektonik
yang tinggi di cekungan-cekungan tersebut yang dalam hal ini menghasilkan
pengangkatan pada akhir Paleogen. Pada kala Neogen, daerah-daerah tersebut
relatif sudah tidak mengalami penguburan dan penurunan yang signifikan lagi.
Oleh karenanya mereka disebut juga sebagai cekungan-cekungan Paleogene
Kalimantan. Oleh karena sejarah tektonik-nya yang seperti itu, maka dapat
dikatakan bahwa penguburan paket sedimen pembawa coal di daerah-daerah
tersebut hanya berlangsung paling lama 25-30 juta tahun (dari Eosen sampai
Oligosen). Sementara itu didaerah Kutai Hulu dan Hilir penguburan
berlangsung bahkan sampai sekarang yang notabene 2x lipat masa penguburan di
Cekungan Paleogene tersebut. Tentu saja hal itu mempengaruhi kematangan dari
coal-nya, dimana VR-nya akan relatif lebih rendah dari coal se-umur di
Cekungan Kutai.

3. Tentang pengamatan Pak Slamet Riyadi bahwa sedimen Miocene punya nilai VR
umumnya dibawah 0.5% tentunya hal itu berdasarkan data permukaan; sementara
seperti sudah disinggung pada posting-posting tentang Kutai di topik-topik
yang lain kita juga tahu bahwa di bawah permukaan.... sedimen Miocene-pun
bisa mempunyai nilai VR bahkan sampai lebih dari 1%. Sisi menarik dari
pengamatan Pak Slamet Riyadi adalah bahwa dengan nilai VR yang pada umumnya
>0.5% tersebut dapat dinyatakan suatu hipotesa bahwa pada umumnya
antiklin-antiklin dengan core sedimen Miocene di Cekungan Kutai mengalami
pengangkatan maksimum +/- 8000 feet (2500 meter). Hal tsb didasarkan pada
kalibrasi RovsDepth dari sumur-sumur di daerah Delta Mahakam yang dianggap
relatif terus menerus mengalami penguburan sampai saat sekarang
(Handil-Tambora-Nilam-Badak trend, Bekapai-Tunu-Attaka trend, dan
trend-trend di offshore lainnya).

4. Pengamatan Pak Slamet Riyadi tentang terpusatnya kemunculan coal Miocene
dengan VR >0.5% di sekitar daerah Samarinda-Tenggarong berhubungan erat
dengan pengamatan (saya) bahwa daerah kulminasi tertinggi dari antiklin di
trend-trend Separi-LoaHaur, Semberah-Sungai Nangka, Lampake-Mutiara,
Badak-Handil, dan Attaka-Bekapai ternyata ada di daerah disepanjang aliran
S. Mahakam present-day. Antiklin di selatan S. Mahakam menunjam ke Selatan,
di utara S. Mahakam menunjam ke Utara. Dengan demikian dapat disimpulkan
bahwa daerah tengah ini mengalami pengangkatan yang relatif lebih besar dari
daerah di utara dan selatan-nya. Implikasinya dalam petroleum system,
kemungkinan besar di daerah kulminasi tertinggi tersebut terperangkap
hidrokarbon yang lebih gaseous di bandingkan dengan "plunging anticlines" di
utara dan selatan-nya. Hal ini sesuai dengan prinsip fraksinasi migrasi
hidrokarbon dalam sistim perangkap antiklinorium (berjenjang) maka fraksi
ringan (gas) akan cenderung mengisi di antiklin paling tinggi, sedangkan
fraksi berat (heavy oil) akan tertinggal di perangkap-perangkap yang lebih
rendah (gambarnya King Hubert tentang prinsip ini cukup terkenal). Coba anda
perhatikan: Lapangan Sambutan dan Pelarang menghasilkan gas, sementara
Semberah, Mumus, Binangat dan Sungai Nangka lebih banyak minyaknya. Lapangan
Tanjung Una dan Muara mengandung fraksi gas lebih banyak daripada Kutai
Lama, Sanga-Sanga, Pamaguan dan Mutiara. Lapangan Nilam-Tambora juga lebih
banyak gasnya daripada Lapangan Badak dan Handil. Lapangan Tunu menghasilkan
gas, sementara Attaka dan Bekapai lebih banyak minyaknya.

5. Sedikit berbeda dengan pengamatan pak Slamet Riyadi, data Heat Flow saya
menunjukkan bahwa geothermal gradient tinggi didapatkan di daerah Separi -
Batugian - Busang (di utara Tenggarong), Pelarang - Anggana - Binangat
(sekitar Samarinda), dan di Sakakanan - Tengin - Loahaur (daerah Sepaku).
Geothermal gradient paling rendah didapatkan di daerah Nilam - Tambora. Ke
arah offshore nampaknya geothermal gradient meninggi (mohon dikoreksi oleh
rekan-rekan di Total - Unocal).  Dengan demikian kemungkinan penyebab nilai
Ro tinggi pada coal di permukaan di sekitar Samarinda-Tenggarong lebih
banyak disebabkan oleh faktor penguburan yang lebih dalam (dan pengangkatan
yang lebih tinggi seperti argumen di point 4 diatas).

Note: Peta Heat Flow yang saya rujuk ada di:
Pertamina BPPKA., 1997, Petroleum Geology of Indonesian Basins : Principles,
Methods and Application, volume XI, Kutai Basin, 134 p.

6. Tentang pernyataan bahwa di Longikis dan Longkali coal-bearing
formation-nya sama dengan yang di daerah Samarinda-Tenggarong (yaitu Formasi
Pulau Balang dan Balikpapan) perlu sedikit saya komentari. Memang betul
bahwa secara kronostratigrafi, Formasi Pulau Balang dan Formasi Balikpapan
di selatan Teluk Balikpapan (bahkan juga di Balikpapan dan sekitarnya)
ekivalen dengan Formasi serupa di Samarinda-Tenggarong. Tetapi harus selalu
di-ingat bahwa delta yang menghasilkan sedimen-sedimen tersebut sangat
berbeda jenisnya, geometrinya, dan provenance-nya (Lihat: Bachtiar, A.,2002,
Kutai Basin Potpourri: Fact, Opinion, and Controversies, Proceeding of
Seminar Purnabhakti Professor Dr. R.P. Koesoemadinata, ITB Bandung, January
29, 2002, Vol-2, pp17-25). Yang di Samarinda-Tenggarong Fm. Pulau Balang dan
Balikpapan-nya dihasilkan dari pengendapan Delta Mahakam Purba dengan jenis
fluvial-dominated, geometri lobate-birdfoot, dan provenance-nya dari daerah
Tinggian Kutai atau Tinggian Kuching (lebih jauh lagi). Sementara yang di
Balikpapan dan selatan Teluk, Fm. Pulau Balang dan Fm. Balikpapan-nya
dibentuk oleh Delta Wain Purba dan Delta S.Longkali Purba yang jenisnya
kemungkinan lebih wave-tidal dominated dengan geometri cuspate dan
provenance dari Tinggian Meratus. Dengan demikian sangat wajar jika tipe
batubara yang ada didalam paket sedimennya juga berbeda dengan yang di
Samarinda-Tenggarong. Sebenarnya penamaan Fm. Pulau Balang dan Balikpapan
yang dipakai juga untuk daerah Samarinda-Tenggarong sudah salah kaprah,
karena ciri litologinya sangat berbeda antara di selatan dan di utara
(karena deltanya yang berbeda-beda spt diungkapkan diatas). Land & Jones
(1987) sudah cukup tepat dengan memberikan penamaan baru untuk endapan delta
Miosen Bawah - Miosen Tengah di Samarinda Tenggarong dengan nama Formasi
Loaduri (ekivalen Pulau Balang) dan Formasi Loakulu (ekivalen Balikpapan).
Sayangnya lembaga resmi pemetaan geologi Pemerintah Indonesia
(P3G/GRDC/Puslitbang Geologi) mengadopsi nama Formasi Pulau Balang &
Balikpapan tersebut begitu saja untuk memetakan ekivalen unit Miosen Bawah -
Tengah di Samarinda Tengarong (bahkan sampai ke Bontang sana). Jadilah,.....
salah kaprah itu mengimbas ke aplikasi, sehingga rekan-rekan geologist di
industri batubara maupun migas "kebingungan" dalam meng-ekstrak informasi
peta tersebut kedalam strategi eksplorasinya.
Note: saat ini Komisi Stratigrafi IAGI sedang bekerja keras memulai
rangkaian proses panjang standarisasi dan pengawasan/rekomendasi Sandi
Stratigrafi Indonesia. Jumat ini 22 Agustus, kita akan berpartisipasi dalam
"brainstorming" pra-peluncuran Lexicon Geologi Indonesia oleh P3G di
Bandung. Selanjutnya dalam tahun ini akan diadakan workshop stratigrafi Jawa
(Barat) oleh IAGI dan Pengda Jabar dalam rangka membenahi nama-nama Formasi
tersebut. Silakan berpartisipasi. (PESAN SPONSOR).

Semoga diskusi diatas bermanfaat bagi kita semua

ADB

----- Original Message -----
From: "Riyadi, Slamet S" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Friday, August 15, 2003 4:12 PM
Subject: RE: [iagi-net-l] Balikpapan euy


>
> Sekedar 'mengenang' trend vitrinite reflectance di Kalimantan.
>
> Kalau kita mulai menyusuri sebuah 'jalur/trend' dari lower kutai basin
daerah sangata (pinang) terus ke arah selatan di daerah bontang (runtu
syncline/E dan tenggarong syncline/W) terus ke selatan lagi yaitu separi
santan; kemudian belok ke arah barat lagi yaitu kedang pahu/muara
pahu/sungai pahu terus lagi ke arah barat-utara sampai upper kutai basin di
daerah murung raya. Proses "overmature" (istilah pak Awang) bisa diindikasi
mulai dari kenampakan coal-bearing formations yang berumur miocen sampai
eocen seperti berturut-turut mulai dari formasi balikpapan-kampung baru,
pulaubalang, pamaluan, dst. sampai ke batu ayau, (kalau lintas basin kearah
selatan di barito basin ada coal-bearing formation seperti warukin dan
tanjung formation). Nilai vitrinite reflectance (romax%) juga relatif lebih
besar dibanding diluar 'jalur/trend' tersebut diatas--ini berlaku untuk
formasi di miocene ataupun di eocene, nilai terbesar tentu lebih significant
di sediment eocene yaitu paling ke arah !
> barat dan ekstrim bisa lebih dari 6%(romax) terus melemah lagi ke bagian
barat mandai,melawi dan ketungau basin. Walaupun kita tahu bahwa di sedimen
miocene nilai vr umumnya dibawah 0.5%, namun itu tidak di zona samarinda
anticline (average >0.5%), ini terbukti banyak coal mining bertebaran di
daerah samarinda - tenggarong.
>
> Geothermal gradient-pun mempunyai nilai yang lebih tinggi di sekitar
samarinda-tenggarong (lamaru, pamaguan,busang; range (2.66-3.78), di luar
itu nilainya relatif lebih rendah baik ke sebelah barat seperti ke arah
sepaku dan mendung, atau juga ke offshore? (wah saya nggak punya data di
offshore).
>
> Di zona samarinda anticlinorium, walau coal-bearing miocene yang
'stereotype' low rank quality (dibaca lignite <5500 cal/gr) tetapi kita
dapatkan sub-bituminous coal (>5500 cal/gr), seperti perusahaan indominco,
mhu, kitadin, bukit baiduri dan tanito harum. Tapi kalau kita lihat ke
sebelah selatan lagi dari zona tersebut dekat long ikis, long kali;
batubaranya mulai low rank lagi. Padahal coal-bearing formation-nya
sama-sama seperti pulau balang dan balikpapan formation?. Jadi di zona/jalur
E-W tersebut, peran intensitas tektonik mulai dari bagian lower kutai (E)
hingga upper kutai basin (W) sangat mungkin berperan besar sekali, dan
ekstrimnya ti bagian tengah pulau kalimantan seperti di bagian utara-barat
puruk cahu (teweh volcanic) banyak ditemukan intrusi-intrusi (lagi-lagi sbg
indikasi?). Mekanisme "overmature" atau "backing-effect" adalah sebagai
salah satu manifestasi dalam meng-upgrade coal rank maturation.
>
> Kalau kita melintas terus ke arah barat lagi seperti ke mandai, melawi dan
ketungau basin, akan  kita temukan vr% yang tidak begitu besar dibanding vr
di central kalimantan, kenyataan ini tidak bisa kita artikan dengan
pengertian intensitas tektonik yang melemah (piyabung dan muller vocanic).
Walaupun zona ini intensitas tektonik-nya tinggi, tapi coal-bearing rock
disini tidak memperlihatkan vr yang tinggi, ini masih phenomena yang menarik
untuk diteliti lebih dalam lagi, apakah faktor: supply maceral , historical
burial, structure, facies sediment/environment sediment, atau faktor
lainnya?
>
> Salam,
> SLAMET  RIYADI
> "silahkan mengaplikasikan dengan coal rank, intrusi/overmature, heatflow,
source rock maturation?, etc."
>
>
> -----Original Message-----
> From: Awang Satyana [mailto:[EMAIL PROTECTED]
> Sent: Thursday, August 14, 2003 11:36 AM
> To: [EMAIL PROTECTED]
> Subject: Re: [iagi-net-l] Balikpapan euy
>
>
> Wah kok mesti menjauhi overpressure buat ekspulsi hidrokarbon ? Justru
overpressuring yang bikin minyak dan gas keluar dari source lewat
micro-fracturing. Memang kita sedikit sekali mengerti tentang mekanisme yang
pas buat ekspulsi (baca : first migration), tetapi dari studi kasus2 di
seluruh dunia (Mahakam juga banyak kontribusi dalam pemahaman ini) ternyata
overpressuring yang bikin ekspulsi lewat sekuens : pressure build up -
overpressuring (tidak selalu mesti mencapai ini) - ekspulsi HC - pressure
release - pressure build up - dst - dst. Sebagai catatan pula, rich source
akan lebih awal mengalami overpressure dibanding lean source, sehingga rich
source akan expel HC duluan. Di source yang sangat miskin, ekspulsi bisa
sangat terlambat sehingga cracking generated bitumen malah jadi kompetitif
dengan ekspulsi, atau tidak terjadi ekspulsi sama sekali sebab harus ada
ambang batas minimum potensi source yang harus dilewati sebelum expel.
>
> Seingat saya, VICO di tahun 1993-1995an punya program ngebor di lereng2
barat Samarinda Anticlinorium ("west flank" mereka sebut), al. Saka Kanan,
Loa Haur, Punan (silakan Pak Andang koreksi). Semua sumur kena problem
mekanis akibat overpressure di tempat dangkal, objektif Pulubalang (N4?)
tidak tercapai. Nah, apakah ini mengartikan bahwa lapisan yang pernah
terkubur dalam dan overpressured lalu terinversi ke tempat dangkal akan
tetap overpressured sekalipun sebagian burial sediments-nya sudah dipapas
erosi waktu inversi. Semakin ke barat dari Samarinda Anticlinorium, inversi
semakin kuat. Di inner Kutei seperti Semayang-Ritan-Maruwai, di permukaan
saja tingkat kematangan sudah overmature (Ro 3.5 %). Nah, kalau maturity
akan preserved (seperti memanggang kue di open, kan kue ga akan mentah lagi
walau open dimatikan).
>
> Kalau soal preserve porosity, mungkin perlu juga dilihat kapan charging HC
terjadi ke pori itu, kapan terkubur overpressure, sebab sekali HC masuk ke
ruang pori, efek diagenesa dan kompaksi pori tidak akan banyak
mempengaruhinya secara negatif.
>
> Salam,
> Awang H. Satyana
> Eksplorasi BP Migas
>
>
> delete-------
>
>
> >From: "Andang Bachtiar"
> >
> >Ada 2 area besar dg trend berbeda untuk depth vs porosity, yaitu
disebelah
> >Timur struktur Lampake-KutaiLama-Sanga-Sanga-Mutiara-Samboja yang relatif
> >terus menerus mengalami penurunan aktif, dan mulai dari trendstruktur
> >tersebut ke Barat yang relatif sudah mengalami pengangkatan.
> >
> dlete------
>
> EOM
>
> NOTICE - This message and any attached files may contain information that
is confidential and/or subject of legal privilege intended only for use by
the intended recipient. If you are not the intended recipient or the person
responsible for delivering the message to the intended recipient, be advised
that you have received this message in error and that any dissemination,
copying or use of this message or attachment is strictly forbidden, as is
the disclosure of the information therein.  If you have received this
message in error please notify the sender immediately and delete the
message.
>



---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi

Komisi Sedimentologi (FOSI) : F. Hasan Sidi([EMAIL PROTECTED])-http://fosi.iagi.or.id
Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi([EMAIL PROTECTED])
Komisi Karst : Hanang Samodra([EMAIL PROTECTED])
Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo([EMAIL PROTECTED])
Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin([EMAIL PROTECTED] atau [EMAIL PROTECTED]), Arif 
Zardi Dahlius([EMAIL PROTECTED])
Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono([EMAIL PROTECTED])
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke