Memang sangat susah menerima teori evolusi, apalagi kalau sudah dihubungkan ke manusia. Kita akan lebih gampang menerima teori "penciptaan terpisah", semua spesies yang ada sekarang diciptakan terpisah satu demi satu, tidak ada nenek moyang bersama. Sejak pertama diciptakan bentuknya sudah sama persis dengan sekarang. Bahkan variasi sekecil apapun di spesies sekecil apa pun itu adalah hasil penciptaan terpisah, bukan evolusi. Kalau Darwin menemukan 15 variasi paruh kutilang di Galapagos, ya itu ga mesti evolusi atau adaptasi, memang sudah dari sononya begitu. 15 nya diciptakan terpisah sudah dengan paruh yang macam-macam. Jadi, tak heranlah kenapa teori evolusi menimbulkan "debate of centuries"... Tak langsung dapat diterima akal saat itu juga, mungkin ini alasan utamanya, dan masa mau kita disatu phylogeni-kan (pohon kehidupan) dengan protozoa.... Benarkah teori evolusi, ada apa dengan teori evolusi ? Kalau buat saya, karena saya gak bisa konsisten sebagai evolusionis, juga saya gak bisa konsisten sebagai kreasionis, juga saya gak bisa mengabaikan begitu saja ajaran iman tentang penciptaan, dan saya juga seorang geologist yang sangat sudah biasa berhadapan dengan sejarah kehidupan jutaan tahun dan uniformitarianisma (walau saya percaya bahwa katastropisma pun terjadi), maka saya berkesimpulan bahwa di dunia ini evolusi terjadi, penciptaan terpisah terjadi, uniformitarianisma terjadi, katastrofisma terjadi. Kapan ini, kapan itu ? Tentu akan sangat berbeda-beda buat setiap orang. Saya percaya rekonstruksi fosil hominid jadi saya percaya ada evolusi hominid dari Australopithecines ke Cro-Magnon. Saya percaya ada evolusi burung kutilang di Galapagos. "Rasanya" saya tak percaya evolusi makro terjadi (protozoa to homo sapiens), jadi saya gak bisa menerima sepenuhnya phylogeni di evolutionary biology. Dll.. dll. Nah ini sangat personal sifatnya, Boleh percaya boleh tidak. Bukti penciptaan ada, bukti evolusi pun tak sedikit.. Yang jelas, kita sebagai geologist tentu telah terbiasa, bahwa suatu teori yang dibangun oleh rekonstruksi tidak akan mudah memahaminya, membuat teori itu pun suatu kesulitan tersendiri. Di kalangan para ahli nya pun banyak perdebatan. Contoh : berapa banyak rekontruksi tektonik Indonesia dibuat, mana yang Anda paling percaya ? Dua geologist memetakan satu daerah lengkap dengan uraian sejarah geologinya, berapa banyak versi yang akan dihasilkan ? Darwin dan Charles Lyell adalah dua sahabat karib, buku "principle of geology" Charles Lyell dia bawa dalam pengembaraannya dengan kapal Beagle ke pulau2 di Pasifik selatan. Konsep uniformitarianism Lyell atau James Hutton banyak melatarbelakangi teori evolusi-nya. Ternyata, kita walau geologist, toh tak mudah juga menerima teori evolusi. Kenapa ? Karena evolusi Darwin berhubungan dengan makhluk hidup termasuk kita. Kita sering bermain evolusi, evolusi tektonik, evolusi sedimentasi, evolusi bentang alam, dll. Kita gampang menerimanya. Kenapa ?...karena tak berhubungan dengan manusia. Salam, Awang H. Satyana (bukan evolutionist tapi juga bukan creationist, yang jelas geologist :-) ) SYARIFUDDIN Noor <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Saya juga masih sangat susah untuk 'dong' soal evolusi ini.......evolusi dalam satu species sangat mungkin karena diperlukan pada proses adaptasi....contoh paling gampang ya perbedaan fisik antara orang yang hidupnya di dataran tinggi dan orang yang hidup di daerah pantai.....
Tapi kalau evolusi dari species ke species yang lain kok saya masih kurang 'greng' ya.....apalagi untuk urusan manusia yang seringkali hanya berdasar sepotong kecil fosil.....saya kadang-kadang salut luar biasa dengan 'daya imaginasi' para arkeolog yang 'berhasil' merekonstruksi manusia purba hanya berdasar sepotong fosil rahang bawah atau sepotong tengkorak bagian atas dst...dst....bahkan mereka bisa mendeskripsikan volume otak, sudah berjalan tegak atau belum, sudah makan daging atau tetek bengeknya..... Seperti di Sangiran misalnya, apakah pernah diketemukan fosil lengkap manusia 'jawa purba' yang terkenal itu.....? Bandingkan dengan orang buta yang mencoba mendeskripsikan seekor gajah : - kepegang buntut, dia bilang gajah kecil panjang seperti ular - kepegang telinga, dia bilang gajah itu lebar dan tipis-tipis saja - kepegang belalai dia bilang gajah itu seperti ular besar - dst...dst..... salam, TAUFIK Oka 23/08/2003 04:25 PM Please respond to iagi-net To: cc: [EMAIL PROTECTED] Subject: Re: [iagi-net-l] Batugamping dan Homo P Erectus sangat susah buat saya dari dulu untuk menngerti bahwa manusia berevolusi secara jasad, pertanyaan sederhana saja memang susah dijawab..manusia modern sekarang akan berubah bentuk seperti apa??..mustinya buat kaum evolusionist hal mudah toh untuk merekayasanya..karena toh selama ini mereka yg paling brilian menyambung serpihan potongan parcel fosil apapun menjadi bentuk manusia. susah menerima teori missing link karena kalau toh ada loncatan evolusi dari purba ke manusia modern..pasti banyakkan fossil penunjuk manusia transisi tersebut dimuka bumi ini...atau dimana pernah dijumpa fossil makhluk transisi tersebut ?makhluk yg hidup diair, menjadi makhlu udara(bersayap) kemudian makhluk darat(berkaki)?..tak jelas dimana fossilnya. Kalau toh manusia secara fisik telah berubah jutaan tahun lamanya menjadi bentuk sekarang ini..bagaimana pula harus menjelaskan otak sebagai organ yg sangat komplex hanya membutuhkan waktu yg sangat singkat (200.00 thn saja) dari makhluk yg berukuran otak besar menjadi berotak kecil seperti sekarang ini?. Kata para ahli, gen juga..berevolusi, tentunya jadi pertanyaan lagi, hal yg mudah dilakukan akselerasi evolusi, dengan merekayasa genetik sehingga dari hasi utak-atik genetik gampang sekali merubah spesies sekarang menjadi yg lain, atau menciptakan spesies baru....atau malah akan meruntuhkan teori evolusi itu sendiri, karena mungkin saja terekayasa makhluk berderajat rendah secara biologis, sekali lagi evolusikan selalu menuju pencapaian yg sempurna secara perlahan. Apa gen bisa diubah dan berubah pak?, kalau bisa asyiik juga karena secara aplikasi manusia sangat bisa merubah jati diri, akan tak bergunalah penggunaan DNA bagi penyelidikan di kepolisian , karena dengan mengkonsumsi vitamin, atau suplemen makanan atau mencentifuge diri, atau mengheaterkan diri, atau mengoverpressurekan diri, memedan magnitkan diri kemungkinan gen kita bisa berubah. Sangat menarik membaca hasil penelitian UNESCO 2 tahun yg lalu, termasuk diantaranya Bp. DR.Sangkot ahli biomolokuler dari UI, team UNESCO telah berhasil memetakan genom (gen dari pihak ibu yg tak berubah) dari seluruh etnik manusia di muka bumi ini, semuanya sama dan mengarah ke ibu Afrika, termasuk kesimpulannya adalah, manusia pertama berasal dari Afrika 200.000an thn yg lalu dan gelombang migrasi manusia pertamake Asia tengah, yg berikutnya ke barat jadi etnik europe sekarang dan ke timur jadi mongolid, anomalinya orang papua, aborigin tak ada hubungannya dengan genom tsb. Bagaimana hubungannya dengan sejarah manusia di agama?, pernahkah memiliki informasi bahwa Hawa adalah Ibu yg berkulit hitam dan Adam adalah Ayah yg berkulit putih. Juga termasuk diantaranya pertanyaan kenapa selama ini selalu jadi patokan bahwa manusia muncul 4000BC, dari mana angka itu. Taurat saja dengan 3 versi yg berbeda (Israel, yunani... 1 lagi lupa) mendiskripsikan secara berbeda yg satu 12.000 tahun ada 10.000 tahun, hanya rekaan saja, injil tak tahu saya, Al quran tak pernah mengatakannya. OK TAUFIK, DKS/OPG/WSG PHONE: 3327 EMAIL: [EMAIL PROTECTED] off.room: OFF 116 [EMAIL PROTECTED] --------------------------------- Do you Yahoo!? Yahoo! SiteBuilder - Free, easy-to-use web site design software

