Ferry,
Kalau dikumpul2 kelihatannya ada 5 syarat tsunamigenic earthquake : 1.
episentrum gempa di laut, 2. magnitudo gempa besar (lebih banyak > 7.0 SR), 3.
kedalaman hiposentrum dangkal (lebih banyak < 30 km), 4. mekanisme penyesaran
thrust fault, 5. tergesernya blok dasar laut oleh penyesaran.
Gempa Nias kemarin menurut analisis sampai sekarang memenuhi syarat 1-4, tetapi
no. 5 tidak terpenuhi atau sangat minimal terpenuhi. Pendapat Ferry ada
benarnya juga. Kalau hiposentrum masih di wilayah kerak benua (continental
shelf) tentu lebih stabil daripada di upper slope yang keraknya intermediate
atau transitional. Maka gempa sedalam 30 km seperti kemarin kelihatannya "dies
out" ke atas, blind fault, tidak menimbulkan blok runtuh/naik di seabed.
Atau, karena gempa sebenarnya berlokasi di trace utama Sesar Mentawai, disipasi
gaya gempa lebih memilih bergerak ke fracture sesar yang ada, bergerak ke BL
menghantam Simeulue bergerak ke tenggara menghantam Nias. Sudah ada sesar,
tinggal di-re-aktivasi daripada membuat baru ke atas harus melewati kerak benua
di sekitar Kep. Banyak yang stabil, kelihatannya lebih memilih bergerak ke
samping-samping via Sesar Mentawai.
Salam,
awang
[EMAIL PROTECTED] wrote:
Pak Awang,
Mungkinkah satu faktor lagi yang menyebabkan gempa Nias tidak terbentuk
terban yang berujung pada tdk terjadinya tsunami adalah kedalaman laut dan
posisi dasar laut saat ini ?
Kalau kita lihat bahwa epicenter gempa Nias berada di kedalaman laut kurang
dari 200 m dan masih di "shelf area" yang relatif stabil. Sedangkan
epicenter gempa Simelue berada di kedalaman laut 1200 m dan sudah berada
di "Upper slope area" yang relatif rentan kestabilan lerengnya.
salam,
Ferry
---------------------------------
Do you Yahoo!?
Make Yahoo! your home page