Menarik sekali dengan uraian Pak Awang, dan dilanjutkan dgn teman-teman yang 
lain, yah.....sulit memang  menggambarkan hubungan komplek antara Belanda dan 
Indonesia, yang kelihatannya dihambat oleh historical and psychological 
barrier. Hubungan bercampur antara  benci dan rindu,  antara keinginan untuk 
berteman baik tetapi harga diri sebagai bangsa yang pernah dijajah sering 
meredam keinginan tersebut. 
Apalagi hubungan kita dgn Belanda tambah buruk dgn arogansi PM JP Pronk, yang 
membuat Pak Harto marah dan membubarkan IGGI. 

Mungkin Belanda yang pada dasarnya bangsa pegadang (trader), jadi menjajah 
nusantara hanya untuk keuntungan pendek dan sesaat, pokok bagaimana mengambil 
keuntungan sebesar-besarnya dari kekayaan alam kita yang melimpah. Jadi tidak 
memperdulikan nasib bangsa yang dijajahnya. Tapi rupanya sifat jelek pedagang 
atau makelar ini diikuti oleh pejabat dan politisi kita, yang hanya berpikir 
untuk kepentingan sesaat dan aji mumpung, tidak pernah berpikir jangka panjang 
untuk kemajuan bangsa.

Berbeda dengan Inggris merupakan negara industri (revolusi industri hadir di 
Inggris dgn ditemukannya mesin uap abad 17?), menjajah Negara-negara Asia-
Afrika, dengan tujuan jangka panjang, untuk memasarkan  produk-produk 
industrinya. Negara-negara jajahannya mereka tingkatkan pendidikannya, walaupun 
tetap namanya penjajah tetap penjajah. Tapi buktinya, kita lihat sendiri negara-
negara jajahan Inggris sangat maju dibandingkan negara jajahan Belanda. Kalau 
dulu kita boleh memilih, jangan hanya kita tukar Bengkulu dgn Singapura, tapi 
kita  milih dijajah Inggris dan Malaysia dijajah Belanda ha..ha..ha���.nah 
kalau begitu tki kita gak perlu cari ringgit disana.

Saya sendiri yang saat ini tinggal sebagai visiting fellow di Utrecht cukup 
memahami masalah ini, tinggal di Jurusan Geologi dimana van Bemmelen menulis 
buku Geologi Indonesia yang terkenal tersebut. Teman-teman geoscientist di 
Utrecht mengakui bahwa mereka termasuk paling maju dalam ilmu geologi dan 
geofisika di Europa saat ini, karena dipicu pada awalnya pada saat generasi 
terdahulu mereka melakukan riset dan belajar geologi Indonesia sebagai tugas 
pemerintah Belanda  untuk mengeksplorasi kekayaan alam Indonesia, maka jangan 
heran timbulah nama-nama besar Koolhoven, Molenggraf, van Bemmelen, Vening 
Meinezs, de Roever dll, dan akhirnya berdirilah institusi pendidikan geologi di 
Indonesia yang pertama di Bandung dan cikal bakal P3G di Bandung. Senior-senior 
kita yang sudah sepuh  paling tahu masalah ini, mungkin bisa berbagi cerita Pak 
Koesoema ?

Salam
Ade Kadarusman
utrecht



Quoting Taufik Manan <[EMAIL PROTECTED]>:

> Saya sependapat dengan Pak Awang, Ferry dan Rovicky,
> bahwa Junghuhn berjasa bagi Indonesia (artikel tentang
> Junghunh pernah dibahas dalam edisi Spesial Gatra
> tahun lalu, kalau tidak salah tentang kemajuan Iptek
> di Indonesia). 
> 
> Namun selain Beliau, ada beberapa "ekspat" yang
> berkunjung ke Indonesia (Hindia Timur) abad ke-19 yang
> berjasa "membangun" potensi Indonesia dalam semua
> bidang (dari kekayaan alam sampai sumber daya
> manusia). Sebut saja selain Junghuhn, ada William
> Stanfort Raffles (dikenal dengan Raffles), Daendels
> (yang terkenal dengan Jalan Trans Java : Anyer sampai
> Banyuwangi), Wallace (sahabat Charles Darwin penggagas
> teori evalusi yang meneliti flora dan fauna di
> indonesia bag Tengah dan Timur), sampai Dowes Decker,
> dll. Mereka mampu memberikan "sumbangsihnya" terhadap
> harumnya nama Indonesia, terutama hasil karya dan
> penelitiannya yang membuktikan potensi alam Indonesia
> yang kaya raya ke dunia internasional. Bahkan sampai
> sekarang, beberapa hasil karya mereka tetap berdiri
> kokoh.
> 
> Khusus tentang Raffles (ekspat dari negerinya David
> Beckham dan Pangeran Charles) pembuatan Benteng di
> Bengkulu (Fort Midllesborough), pembangunan Bogor
> Botanical Garden dengan istananya serta yang lainnya
> sangat mengangkat nama Indonesia di bidang Biologi.
> Saya pernah mengunjungi keduanya dan sangat kagum atas
> hasil karyanya. Namun yang sangat saya kagumi adalah
> keputusannya untuk menukar daerah Bengkulu (yang lebih
> besar luasnya, milik Inggeris saat itu) dengan Pulau
> Singapore (milik Belanda saat itu), yang baru bisa
> kita rasakan manfaatnya saat ini sebagai pusat bisnis
> dan industri di Asia Tenggara dengan pendapatan per
> kapita penduduk yang tertinggi di area kita ini.
> Tentunya jarang orang yang mempunyai pandangan jauh ke
> depan pada jamannya.
> 
> Bangsa Indonesia, masih bisa bangkit bila mau
> intropseksi dan belajar dari pengalaman yang sudah ada
> atau dari pengalaman orang lain. Belum terlambat dan
> bisa kita mulai saat ini, minimal dari diri kita
> sendiri.
> 
> Wassalam.
> 
> TAM
> 
> --- Rovicky Dwi Putrohari <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> 
> > Menarik uraian Ferry, 
> > Kenapa orang melupakannya ?
> > 
> > Ya mungkin saja karena Junghuhn termasuk "wong
> > londo", dimana dalam
> > benak hampir kita semua di adalah bagian dari
> > penjajahan, yg dibenci
> > oleh kebanyakan rakyat Indonesia.
> > Sulitnya buat kita yg konsen dengan ilmu atau sains
> > yg tidak mengenal
> > kata baik-buruk, tidak mengenal bangsa, tidak
> > mengenal negara. Sains
> > hanya bicara apa adanya seadanya dan tidak
> > mengada-ada. Tentunya
> > menjadikan heran karena seseorang saintist yg datang
> > karena minat
> > ilmiahnya menjadi rancu karena status kedatangannya
> > sebagai "tentara".
> > 
> > Kita bisa kagum sekaligus "gemes" karena kita berada
> > diatas dua kaki
> > ilmiah yg ingin tahu banyak tentang alam lingkungan
> > sekitarnya, dan
> > satu lagi kaki yg berada diatas kebangsaan yg bangga
> > dengan jiwa
> > patriotiknya dalam mengusir penjajah.
> > Ilmiah memang tidak mengenal bangsa, tidak mengenal
> > agama, seolah
> > tidak mengenal tata nilai manusia, tetapi ilmiah yg
> > ndompleng
> > penjajahan menjadikan sesuatu yg cerah menjadi
> > kabur.
> > 
> > Apakah saya, anda, ataupun dia mau melakukan kerjaan
> > atas dasar minat
> > ilmiah dengan mengabaikan sifat manusiawinya atau
> > tidak ... its up to
> > you.
> > apapun yg anda putuskan yg fenomenal tetep saja
> > fenomenal.
> > 
> > Salam,
> > RDP
> > "knowledge, filling an empty mind with the open one"
> > 
> > On 5/10/05, [EMAIL PROTECTED]
> > <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> > > 
> > > Nama besar Junghuhn juga dikenal di kalangan
> > avonturir dan pendaki gunung,
> > > sebagai orang pertama yang mendaki &
> > mengidentifikasi keberadaan 30 gunung
> > > di Jawa yang ber-elevasi di atas 2000 mdpl di
> > Pulau Jawa. Sekilas kata2
> > > Junghuhn yang menjadi sumber inspirasi banyak
> > pendaki gunung:
> > > 
> > > " Masih jelas dalam ingatanku kesan pemandangan
> > hutan-hutan Pulau Jawa yang
> > > tak putusnya diselubungi kehijau-hijauan alami
> > yang memesona. Juga pada
> > > beribu-ribu bunga di dalamnya yang senantiasa
> > menyebarkan wewangian dan
> > > aroma asli nan penuh nikmat, Jelas juga dalam
> > ingatanku berisiknya
> > > daun-daun yang diembus angin laut yang lembut,
> > meniup sela-sela pepohonan
> > > pisang sampai ke pucuk-pucuk pepohonan kelapa.
> > Jauh di dalam hutan
> > > terdengar tak henti-hentinya suara gemuruh
> > jatuhnya air terjun dari lereng
> > > gunung yang terjal ke sungai yang berbatu-batu.
> > > Mengalami semua ini, aku sungguh-sungguh merasa
> > seolah-olah kami sudah lama
> > > berkenalan, dan aku tak dapat berbuat lain selain
> > menundukkan kepala dan
> > > berdoa, berterima kasih kepada Sang Pencipta.
> > > Kini timbul dalam hati sanubariku perasaan rindu
> > dan hasrat kuat untuk
> > > kembali ke tempat itu, dan memuja: Hai
> > gunung-gunung dan hutan-hutan, salam
> > > cinta dan terima kasih, sampai jumpa lagi !" (FW
> > Junghuhn)
> > > 
> > > Sayangnya, dibandingkan nama besar dan jasanya,
> > tak demikian penghargaan
> > > masyarakat kepadanya. Terakhir kali saya bersepeda
> > ke Taman Junghuhn di
> > > Jayagiri, Lembang tahun lalu kondisinya sudah
> > sangat memprihatinkan dan
> > > tidak terawat. Tugu dan nisannya sudah berlumut
> > dan kotor. Menurut sang
> > > kuncen, dana perawatan Taman dan makam beliau
> > sudah lama terhenti bersamaan
> > > dengan ditutupnya Goethe Institute, Bandung.
> > Sedihnya lagi, banyak orang
> > > yang mengunjungi makamnya, tetapi bukan untuk
> > mengenang jasa2nya, tetapi
> > > karena menganggapnya keramat dan untuk mencari
> > pesugihan...hiks...hiks.
> > > 
> > > salam
> > > 
> > > Ferry
> > 
> >
> ---------------------------------------------------------------------
> > To unsubscribe, send email to:
> > [EMAIL PROTECTED]
> > To subscribe, send email to:
> > [EMAIL PROTECTED]
> > Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
> > IAGI-net Archive 1:
> > http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
> > IAGI-net Archive 2:
> > http://groups.yahoo.com/group/iagi
> > Komisi Sedimentologi (FOSI) : Deddy
> >
> Sebayang([EMAIL PROTECTED])-http://fosi.iagi.or.id
> > Komisi SDM/Pendidikan : Edy
> > Sunardi([EMAIL PROTECTED])
> > Komisi Karst : Hanang Samodra([EMAIL PROTECTED])
> > Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo([EMAIL PROTECTED])
> > Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin([EMAIL PROTECTED]
> > atau [EMAIL PROTECTED]), Arif Zardi
> > Dahlius([EMAIL PROTECTED])
> > Komisi Database Geologi : Aria A.
> > Mulhadiono([EMAIL PROTECTED])
> >
> ---------------------------------------------------------------------
> > 
> > 
> 
> 
> 
>               
> Yahoo! Mail
> Stay connected, organized, and protected. Take the tour:
> http://tour.mail.yahoo.com/mailtour.html
> 
> 
> ---------------------------------------------------------------------
> To unsubscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED]
> To subscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED]
> Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
> IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
> IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
> Komisi Sedimentologi (FOSI) : Deddy
> Sebayang([EMAIL PROTECTED])-http://fosi.iagi.or.id
> Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi([EMAIL PROTECTED])
> Komisi Karst : Hanang Samodra([EMAIL PROTECTED])
> Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo([EMAIL PROTECTED])
> Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin([EMAIL PROTECTED] atau [EMAIL PROTECTED]),
> Arif Zardi Dahlius([EMAIL PROTECTED])
> Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono([EMAIL PROTECTED])
> ---------------------------------------------------------------------
> 
> 




---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED]
To subscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED]
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
Komisi Sedimentologi (FOSI) : Deddy Sebayang([EMAIL 
PROTECTED])-http://fosi.iagi.or.id
Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi([EMAIL PROTECTED])
Komisi Karst : Hanang Samodra([EMAIL PROTECTED])
Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo([EMAIL PROTECTED])
Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin([EMAIL PROTECTED] atau [EMAIL PROTECTED]), 
Arif Zardi Dahlius([EMAIL PROTECTED])
Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono([EMAIL PROTECTED])
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke