Taufik, saya koreksi sedikit ya untuk meluruskan nama : Thomas Stamford
Raffles, bukan William Stanfort Raffles; Eduard Douwes Dekker, bukan Dowes
Decker. Raffles pun terkenal dengan bukunya yang banyak dipuji-puji orang "The
History of Java" (1817). Buku ini kemudian banyak diacu penulis-penulis
berikutnya.
salam,
awang
Taufik Manan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Saya sependapat dengan Pak Awang, Ferry dan Rovicky,
bahwa Junghuhn berjasa bagi Indonesia (artikel tentang
Junghunh pernah dibahas dalam edisi Spesial Gatra
tahun lalu, kalau tidak salah tentang kemajuan Iptek
di Indonesia).
Namun selain Beliau, ada beberapa "ekspat" yang
berkunjung ke Indonesia (Hindia Timur) abad ke-19 yang
berjasa "membangun" potensi Indonesia dalam semua
bidang (dari kekayaan alam sampai sumber daya
manusia). Sebut saja selain Junghuhn, ada William
Stanfort Raffles (dikenal dengan Raffles), Daendels
(yang terkenal dengan Jalan Trans Java : Anyer sampai
Banyuwangi), Wallace (sahabat Charles Darwin penggagas
teori evalusi yang meneliti flora dan fauna di
indonesia bag Tengah dan Timur), sampai Dowes Decker,
dll. Mereka mampu memberikan "sumbangsihnya" terhadap
harumnya nama Indonesia, terutama hasil karya dan
penelitiannya yang membuktikan potensi alam Indonesia
yang kaya raya ke dunia internasional. Bahkan sampai
sekarang, beberapa hasil karya mereka tetap berdiri
kokoh.
Khusus tentang Raffles (ekspat dari negerinya David
Beckham dan Pangeran Charles) pembuatan Benteng di
Bengkulu (Fort Midllesborough), pembangunan Bogor
Botanical Garden dengan istananya serta yang lainnya
sangat mengangkat nama Indonesia di bidang Biologi.
Saya pernah mengunjungi keduanya dan sangat kagum atas
hasil karyanya. Namun yang sangat saya kagumi adalah
keputusannya untuk menukar daerah Bengkulu (yang lebih
besar luasnya, milik Inggeris saat itu) dengan Pulau
Singapore (milik Belanda saat itu), yang baru bisa
kita rasakan manfaatnya saat ini sebagai pusat bisnis
dan industri di Asia Tenggara dengan pendapatan per
kapita penduduk yang tertinggi di area kita ini.
Tentunya jarang orang yang mempunyai pandangan jauh ke
depan pada jamannya.
Bangsa Indonesia, masih bisa bangkit bila mau
intropseksi dan belajar dari pengalaman yang sudah ada
atau dari pengalaman orang lain. Belum terlambat dan
bisa kita mulai saat ini, minimal dari diri kita
sendiri.
Wassalam.
TAM
---------------------------------
Do you Yahoo!?
Yahoo! Small Business - Try our new resources site!