Saya setuju juga dengan Aris,
Kadang Kang RDP ini agak berlebihan memandang exodusnya tenaga GGE nasional
ke LN.
Masih banyak kok Kang yang available, malah 'bule'nya sekarang nggak hanya
kulit putih atau merah, belakangan bermunculan 'bule' kulit kuning, yang
semua bergelar Phd dan minimal master degree. Yang katanya sudah
berpengalaman 25 tahun dengan umur hidupnya 41 tahun. Dengan kwalifikasi
seperti ini, kita memang membutuhkan orang seperti mereka, dibanding
rata-rata kita yang tamat S1 umur 23 tahun, saya aja tamat umur 25 tahun,
ngambil S2 ajach sambil kerja, ya masih kalah ....
Jadi santai sajalah ...
[EMAIL PROTECTED]
onas.com.my To: <[email protected]>
cc:
11/05/2005 02:08 Subject: Re: [iagi-net-l]
Kemana mereka ?
PM
Please respond to
iagi-net
santai saja pak vicky, di indonesia pun nggak ada masalah sebab bisa dengan
mudah mencari expat-expat asing yang tentunya jauh lebih unggul dari gge
asli indonesia. indonesia memang perlu expat asing yang sangat hebat
kualitasnya seperti junghuhn, raffles, wallace, bemmelen. orang
indonesia-nya ya cukup jadi kuli buat mbantuin orang2 bule itu lah. kalau
perlu kita beli lahan khusus di jakarta untuk monumen peringatan bule2
tersebut (satu monumen untuk satu bule), jadi kita bisa mengingat jasa-jasa
yg sudah meninggal atau pun belum (untuk persiapan aja). misalnya buat: roy
m huffington, george allen, dll. kalau buat pak rovicky nggak usah dulu,
boleh ya pak?
salam -
Rovicky Dwi
Putrohari To:
[EMAIL PROTECTED], migas indonesia
<[EMAIL PROTECTED]
<[EMAIL PROTECTED]>, [email protected]
om> cc:
Subject: [iagi-net-l] Kemana
mereka ?
11/05/2005 01:50
PM
Please respond
to iagi-net
On 5/11/05, Sri Tomo <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Sebabnya mengapa banyak kumpeni migas di negri Ngastino ini kok
produksinya
> malah semangkin manurung adalah probably karena para ahli G&G-nya malahan
> banyak yang mencangkul di ladang negara lain...... :-(
Thats what I believe too, Pak Dhe.
Kalau anda baca JPT (kalo ga salah edisi jan/feb th 2005), disitu
dituliskan bahwa kelangkaan minyak di dunia kali ini bukan akibat
embargo, bukan menurunnya produksi akibat lapangan yg rusak oleh
perang tetapi memang minyak dipasaran sudah ludes diembat oleh
pemakai, atau demand meningkat. Sedangkan lapangannya sendiri sudah
mengalami penurunan akibat usianya. Apakah berarti minyaknya habis ?
ternyata tidak, Kalau dilihat dari resources yg ada (cadangan
ditemukan) sebenernya masih cukup lumayan, namun untuk meningkatkan
produksi diperlukan orang-orang yg mampu untuk bekerja yaitu para GGE
(Geologist-Geophysicist-Engineer).
Lah kok ndilalahnya sudah banyak GGE yang kemaren berbalik haluan
untuk tidak berprofesi di industri migas ketika harga anjlok hingga
dibawah 20US$/bbl tiga tahun lalu. Sehingga banyak GGE fresh yang
tidak tertampung pada tahun itu. JUga banyak perusahaan yg me lay-off
orang2nya, dengan Mutual Agreement Termination atau pensiun dini.
Sedangkan saat ini yg dibutuhkan adalah mereka2 yg berpengalaman
antara 5-15 tahun kerja.
Beberapa bulan lalu Petronas sangat konsen dngan hengkangnya hingga 15
Geoscientisnya keluar dari Malaysia dalam waktu satu tahun. Kebanyakan
dari mereka "lari" ke Middle East. (dibawah sana salah satu komentar
warga Malaysia yg dipost di koran lokal StarDaily, juga ada di
webnya). Disitu ditulis yg menggantikan org britain dan us, padahal
sebenernya org Indonesia.
Berita hengkangnya profesional ini sudah menjadi berita cukup hangat
di Malesa. Berkurangnya tenaga kerja profesional ini sempet menjadi
issue menasional di Malesa.
Bagaimana dengan Indonesia ?
Walopun saya saat ini menjadi salah satu anggota GGE-Indonesian yg
"desersi", tetapi aku konsen banget dengan fenomena ini. Apalagi
dengan cita-cita MESDM beberapa bulan lalu yg menginginkan kembalinya
ke produksi minyak Indonesia diatas sejuta barel sehari.
Nah siapa yg akan mengerjakannya ?.
Dalam waktu kurang dari sebulan kemaren saja sudah lebih dari 10 GGE
Indonesia masuk ke Malesa.
Tentusaja saya tidak menyatakan bahwa yg pergi keluar dari Indonesia
ini saja yg bisa mewujutkan impian pak MESDM beebrpa bulan lalu itu.
Namun saya hanya ragu2 saja apa iya Indonesia kita tidak konsen dengan
hengkangnya GGE ini ?
Malesa saja sudah kebakaran jenggot dan menjadi issue santer di
Petronas ketika kehilangan 15 GGE-nya selama setahun (2004/2005).
Sedang Indonesia yg kehilangan 10 orang dalam sebulan apa masih bisa
santai mengejar impian sejuta barel sehari ?
Perlu kerja keras.
RDP
---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED]
To subscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED]
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
Komisi Sedimentologi (FOSI) : Deddy
Sebayang([EMAIL PROTECTED])-http://fosi.iagi.or.id
Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi([EMAIL PROTECTED])
Komisi Karst : Hanang Samodra([EMAIL PROTECTED])
Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo([EMAIL PROTECTED])
Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin([EMAIL PROTECTED] atau [EMAIL PROTECTED]),
Arif Zardi Dahlius([EMAIL PROTECTED])
Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono([EMAIL PROTECTED])
---------------------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED]
To subscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED]
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
Komisi Sedimentologi (FOSI) : Deddy Sebayang([EMAIL
PROTECTED])-http://fosi.iagi.or.id
Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi([EMAIL PROTECTED])
Komisi Karst : Hanang Samodra([EMAIL PROTECTED])
Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo([EMAIL PROTECTED])
Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin([EMAIL PROTECTED] atau [EMAIL PROTECTED]),
Arif Zardi Dahlius([EMAIL PROTECTED])
Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono([EMAIL PROTECTED])
---------------------------------------------------------------------