Pak Dhe, issuenya orang-orang profesional Indonesia ini pergi ke luar
negara, agaknya susah kalau disamakan
dengan issuenya di Malaysia.
Di negara kita, issuenya masih sangat mendasar dalam keperluan hidup
manusia, yaitu keperluan akan makan dan sandang dulu.
Issue-issue diluar itu jadinya nggak terlalu terperhatikan. Eksodus
profesional perminyakan ke luar negara, akan kalah
dalam prioritas, dengan issue bagaimana mendapatkan uang-uang Indonesia
yang tercecer di luar negara (misalnya nih...).
Yang mana bila boleh didapat kembali, dampaknya akan langsung terasa
terhadap ekonomi negara dan penguasa.............
Lagipula yang eksodus ke luar negara ini khan profesional dari PSC
khan....., coba kalau yang eksodus ini dari BP Migas atau
Pertamina, saya rasa baru akan terasa sedikit hangat.........., tapi itupun
akan kalah dgn issuenya penjualan tanker ataupun rumor
bahwa Pertamina sudah bangkrut, shg rupiah turun dan akhirnya harus
disuntik sama BI. Kita belum terfokus ke arah eksodusnya
profesional Indonesia, jadi ya adem-ayem saja......aman dan tenteram,
karena sebenarnya membantu pemerintah dalam pengadaan
tenaga kerja. Orang Indonesia dapat kerja, itu berarti bagus !!! Nggak akan
ada demo minta kerja.........,satu masalah sudah terselesaikan.

Kalau masalah kekurangan tenaga kerja lokal di Petronas, saya yakin
management Petronas nggak terlalu khawatir. Masih banyak jalan
untuk mengatasi hal ini, karena the "bussiness must go on". Nggak ada orang
lokal, hire orang bule dan orang Indonesia. Dan sekarang
mereka mulai hire banyak fresh graduate, karena setiap kali saya ke
Petronas banyak muka baru yang muda-muda. Dalam salah satu
perjanjian kerja dengan Petronas, adalah mendidik yang junior untuk siap
bekerja, dan jumlah mereka cukup banyak. Lima - sepuluh tahun
lagi mereka sudah senior...., beres dah........, yang pergipun mungkin juga
udah pada balik, jadinya aman khan...........
Orang-orang expatriate yang ada, tentu saja nggak diperpanjang lagi
kontraknya.
Yang berat adalah, kalau yang dididik sekarang ini kabur juga dan yang
senior nggak balik ??? Akhirnya ya mungkin 'hire' balik lagi
orang expatriate, yang penting Petronas masih jalan dan
untung...............

Lagipula saya ada 'feeling', yang 'complaint' masalah eksodus orang
Malaysia ke luar negeri itu adalah orang yang masih tinggal di dalam
Petronas sendiri, yang nggak mau kerja keluar negara untuk mendapatkan uang
dan pengalaman lebih. Nulis di koran dengan harapan management Petronas
akan lihat, sehingga akan naik gaji, tanpa perlu ke luar
negara..............lha yang ini enak betul...............nggak perlu ke
luar negeri, tapi gaji naik.....

Salam,
TGP



                                                                                
                                                       
                      Rovicky Dwi                                               
                                                       
                      Putrohari                To:       [EMAIL PROTECTED], 
migas indonesia <[EMAIL PROTECTED]>,  
                      <[EMAIL PROTECTED]         [email protected]            
                                                        
                      m>                       cc:                              
                                                       
                                               Subject:  [iagi-net-l] Kemana 
mereka ?                                                  
                      05/11/2005 01:50                                          
                                                       
                      PM                                                        
                                                       
                      Please respond to                                         
                                                       
                      iagi-net                                                  
                                                       
                                                                                
                                                       
                                                                                
                                                       




On 5/11/05, Sri Tomo <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Sebabnya mengapa banyak kumpeni migas di negri Ngastino ini kok
produksinya
> malah semangkin manurung adalah probably karena para ahli G&G-nya malahan
> banyak yang mencangkul di ladang negara lain...... :-(

Thats what I believe too, Pak Dhe.

Kalau anda baca JPT (kalo ga salah edisi jan/feb th 2005), disitu
dituliskan bahwa kelangkaan minyak di dunia kali ini bukan akibat
embargo, bukan menurunnya produksi akibat lapangan yg rusak oleh
perang tetapi memang minyak dipasaran sudah ludes diembat oleh
pemakai, atau demand meningkat. Sedangkan lapangannya sendiri sudah
mengalami penurunan akibat usianya. Apakah berarti minyaknya habis ?
ternyata tidak, Kalau dilihat dari resources yg ada (cadangan
ditemukan) sebenernya masih cukup lumayan, namun untuk meningkatkan
produksi diperlukan orang-orang yg mampu untuk bekerja yaitu para GGE
(Geologist-Geophysicist-Engineer).

Lah kok ndilalahnya sudah banyak GGE yang kemaren berbalik haluan
untuk tidak berprofesi di industri migas ketika harga anjlok hingga
dibawah 20US$/bbl tiga tahun lalu. Sehingga banyak GGE fresh yang
tidak tertampung pada tahun itu. JUga banyak perusahaan yg me lay-off
orang2nya, dengan Mutual Agreement Termination atau pensiun dini.
Sedangkan saat ini yg dibutuhkan adalah mereka2 yg berpengalaman
antara 5-15 tahun kerja.

Beberapa bulan lalu Petronas sangat konsen dngan hengkangnya hingga 15
Geoscientisnya keluar dari Malaysia dalam waktu satu tahun. Kebanyakan
dari mereka "lari" ke Middle East. (dibawah sana salah satu komentar
warga Malaysia yg dipost di koran lokal StarDaily, juga ada di
webnya). Disitu ditulis yg menggantikan org britain dan us, padahal
sebenernya org Indonesia.

Berita hengkangnya profesional ini sudah menjadi berita cukup hangat
di Malesa. Berkurangnya tenaga kerja profesional ini sempet menjadi
issue menasional di Malesa.

Bagaimana dengan Indonesia ?
Walopun saya saat ini menjadi salah satu anggota GGE-Indonesian yg
"desersi", tetapi aku konsen banget dengan fenomena ini. Apalagi
dengan cita-cita MESDM beberapa bulan lalu yg menginginkan kembalinya
ke produksi minyak Indonesia diatas sejuta barel sehari.
Nah siapa yg akan mengerjakannya ?.
Dalam waktu kurang dari sebulan kemaren saja sudah lebih dari 10 GGE
Indonesia masuk ke Malesa.

Tentusaja saya tidak menyatakan bahwa yg pergi keluar dari Indonesia
ini saja yg bisa mewujutkan impian pak MESDM beebrpa bulan lalu itu.
Namun saya hanya ragu2 saja apa iya Indonesia kita tidak konsen dengan
hengkangnya GGE ini ?
Malesa saja sudah kebakaran jenggot dan menjadi issue santer di
Petronas ketika kehilangan 15 GGE-nya selama setahun (2004/2005).
Sedang Indonesia yg kehilangan 10 orang dalam sebulan apa masih bisa
santai mengejar impian sejuta barel sehari ?

Perlu kerja keras.

RDP
============================================================






---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED]
To subscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED]
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
Komisi Sedimentologi (FOSI) : Deddy Sebayang([EMAIL 
PROTECTED])-http://fosi.iagi.or.id
Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi([EMAIL PROTECTED])
Komisi Karst : Hanang Samodra([EMAIL PROTECTED])
Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo([EMAIL PROTECTED])
Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin([EMAIL PROTECTED] atau [EMAIL PROTECTED]), 
Arif Zardi Dahlius([EMAIL PROTECTED])
Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono([EMAIL PROTECTED])
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke