Kalau di bidang pertambangan yang umum dipakai dalam perhitungan
cadangan ataupun  harga di LME (London Metal Exchange) adalah 1 ounce =
31.10 gram.

Laung

-----Original Message-----
From: Awang Satyana [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
Sent: Thursday, May 12, 2005 3:30 PM
To: [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED];
[email protected]
Subject: [iagi-net-l] Re: [Geo_unpad] 1 ons bukan 100 gram

Harusnya, teman si penulis yang di-PHK itu menunjukkan buku2 di
Indonesia sebab sampai sekarang pun masih diajarkan bahwa di Indonesia 1
ons = 100 gram, 1 pound = 500 gram, sehingga 1 kg = 10 ons dan 1 kg = 2
pound. Kalau dicari di referensi asing memang tidak seperti yang berlaku
di Indonesia. Nah, mengapa kok di Indonesia seperti begitu ? Akan sangat
menarik untuk menelusurinya, bisa jadi ini warisan zaman dahulu alias
sejak zaman Belanda.
 
Bukan Depdikbud/Depdiknas yang bersalah, tetapi lembaga yang mengawasi
sistem ukuran (metrologi) yang mestinya memberitahukan ke masyarakat
luas dan lembaga2 terkait bahwa selama ini kita menggunakan konversi
yang "salah" dibandingkan dengan yang berlaku secara internasional.
Kalau sudah ada pemberitahuan resmi begitu, maka saya yakin akan ada
perubahan di buku2 dan kehidupan sehari2 di Indonesia. Di warung2 memang
tidak peduli 250 gram itu 2 1/2 ons atau berapa, yang penting itu 250
gram, dan kita biasanya kalau mau membeli sesuatu hanya bilang "1/4 kg"
dan digunakan anak timbangan 250 gram (2 1/2 ons kata kita), tapi memang
tidak jarang yang kalau membeli "1 ons" maka dipakai anak timbangan 100
gram. Belum semua anak timbangan ons dimusnahkan.
 
Sebenarnya, 1 ons itu tidak selalu 28.35 gram seperti ditulis di bawah.
Itu bergantung kepada sistem ukuran apa dulu yang dipakai. Istilah ons
muncul buat sistem ukuran yang mencantumkan pound. Ada tiga : sistem
avoirdupois, sistem troy weight, dan sistem apothecaries weight. Di
sistem avoirdupois memang 1 ons = 1/16 pound = 28.35 gram, tetapi di
sistem troy weight dan sistem apoteker, 1 ons = 1/12 pound = 31.10 gram.
Nah, asal kata "ounce" sendiri itu dari bahasa Latin yang artinya
seperduabelas.
 
Nah, Indonesia kan menganut sistem metrik, memang bukan saatnya lagi
menggunakan pound atau ounce, pakai kg dan gram saja. Tapi, kalau
seseorang mau mencoba resep kue dari buku berbahasa Inggris dan di situ
tercantum misalnya menggunakan 2 ounce bahan anu, maka akan ditimbang 2
x 28,35 gram = 56,70 gram dan sama sekali bukan 200 gram. Tapi kalau
sedang mencoba resep tulisan orang Indonesia dan diterbitkan di
Indonesia maka akan sebaliknya : menimbang 200 gram dan bukan 56.70
gram. Kecuali kalau sudah ada pengumuman resmi oleh pemerintah Indonesia
bahwa konversi 1 ons = 28,35 gram.
 
Hanya, sebuah salah kaprah akan sulit memperbaikinya. Tetapi, kesalahan
memang harus diperbaiki walaupun itu sudah berjalan puluhan-ratusan
tahun.
 
salam,
awang

Lambok Parulian <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From:      "arie fiantisca" <[EMAIL PROTECTED]>

*1 ONS BUKAN 100 GRAM.* 

PENDIDIKAN YANG MENJADI BOOMERANG.

Seorang teman saya yang bekerja pada sebuah perusahaan asing, di PHK
akhir tahun lalu. Penyebabnya adalah kesalahan menerapkan dosis
pengolahan limbah, yang telah berlangsung bertahun-tahun. Kesalahan ini
terkuak ketika seorang pakar limbah dari suatu negara Eropa mengawasi
secara langsung proses pengolahan limbah yang selama itu dianggap selalu
gagal. Pasalnya adalah, takaran timbang yang dipakai dalam buku
petunjuknya menggunakan satuan pound 
dan ounce. Kesalahan fatal muncul karena yang bersangkutan mengartikan 1
pound = 0,5 kg. dan 1 ounce (ons) = 100 gram, sesuai pelajaran yang ia
terima dari sekolah. Sebelum PHK dijatuhkan, teman saya diberi tenggang
waktu 7 hari untuk membela diri dgn. cara menunjukkan acuan ilmiah yang
menyatakan 1 ounce (ons) = 100 g. Usaha maksimum yang dilakukan hanya
bisa menunjukkan Kamus Besar Bahasa Indonesia yang mengartikan ons(bukan
ditulis ounce) adalah satuan berat senilai 1/10 kilogram. Acuan lain
termasuk tabel-tabel konversi yang berlaku sah atau dikenal secara
internasional tidak bisa ditemukan.

SALAH KAPRAH YANG TURUN-TEMURUN.

Prihatin dan penasaran atas kasus diatas, saya mencoba menanyakan hal
ini kepada lembaga yang paling berwenang atas sistem takar-timbang dan
ukur di Indonesia, yaitu Direktorat Metrologi . Ternyata, pihak Dir.
Metrologi pun telah lama melarang pemakaian satuan ons untuk ekivalen
100 gram. Mereka justru mengharuskan pemakaian satuan yang termasuk
dalam Sistem Internasional (metrik) yang diberlakukan resmi di
Indonesia. Untuk ukuran berat, satuannya adalah gram dan kelipatannya.
Satuan *Ons bukanlah bagian dari sistem metrik* ini dan untuk
menghilangkan kebiasaan memakai satuan ons ini, Direktorat Metrologi
sejak lama telah memusnahkan semua anak timbangan (bandul atau timbal)
yang bertulisan "ons" dan "pound".

Lepas dari adanya kebiasaan kita mengatakan 1 onfiltered= 100 gram dan 1
pound = 500 gram, ternyata *tidak pernah ada acuan sistem takar-timbang
legal* atau pengakuan internasional atas satuan ons yang nilainya setara
dengan 100 gram. Dan dalam sistem timbangan legal yang diakui dunia
internasional, *tidak pernah dikenal adanya satuan ONS khusus
**Indonesia**.* Jadi, hal ini adalah suatu kesalahan yang diwariskan
turun-temurun. Sampai kapan mau dipertahankan ?

BAGAIMANA KESALAHAN DIAJARKAN SECARA RESMI ?

Saya sendiri pernah menerima pengajaran salah ini ketika masih di bangku
sekolah dasar. Namun, ketika saya memasuki dunia kerja nyata, kebiasaan
salah yang nyata-nyata diajarkan itu harus dibuang jauh karena akan
menyesatkan.

Beberapa sekolah telah saya datangi untuk melihat sejauh mana penyadaran
akan penggunaan sistem takar-timbang yang benar dan sah dikemas dalam
materi pelajaran secara benar, dan bagaimana para murid (anak-anak kita)
menerapkan dalam hidup sehari-hari. Sungguh memprihatinkan. Semua
sekolah mengajarkan 
bahwa 1 onfiltered= 100 gram dan 1 pound = 500 gram, dan anak-anak kita
pun 
menggunakannya dalam kegiatan sehari-hari. "Racun" ini sudah tertanam 
didalam otak anak kita sejak usia dini.

Dari para guru, saya mendapatkan penjelasan bahwa semua buku pegangan
yang diwajibkan atau disarankan oleh Departemen Pendidikan Indonesia
mengajarkan seperti itu. Karena itu, tidaklah mungkin bagi para guru
untuk melakukan koreksi selama Dep. Pendidikan belum merubah atau
memberi-kan petunjuk resmi. 

TANGGUNG JAWAB SIAPA ?

Maka, bila terjadi kasus-kasus serupa diatas, Departemen Pendidikan kita
jangan lepas tangan. Tunjukkanlah kepada masyarakat kita terutama kepada
para guru yang mengajarkan kesalahan ini, salah satu alasannya agar
tidak menjadi beban psikologis bagi mereka ; 

*"acuan sistem timbang legal yang mana yang pernah diakui / diberlakukan
secara internasional , yang menyatakan bahwa : *

*1 ons adalah 100 gram, 1 pound adalah 500 gram."?*

Kalau Dep. Pendidikan tidak bisa menunjukkan acuannya, mengapa hal ini 
diajarkan secara resmi di sekolah sampai sekarang ? 

Pernahkan Dep. Pendidikan menelusuri, dinegara mana saja selain 
Indonesia berlaku konversi 1 onfiltered= 100 gram dan 1 pound = 500 gram
?

Patut dipertanyakan pula, bagaimana tanggung jawab para penerbit buku 
pegangan sekolah yang melestarikan kesalahan ini ?

Kalau Dep. Pendidikan mau mempertahankan satuan *ons yang keliru* ini, 
sementara pemerintah sendiri melalui Direktorat Metrologi melarang
pemakaian satuan "ons" dalam transaksi legal, maka konsekwensinya ialah
harus dibuat sistem baru timbangan Indonesia (versi Depdiknas). Sistem
baru inipun harus diakui lebih dulu oleh dunia internasional sebelum
diajarkan kepada anak-anak. Perlukah adanya sistem timbangan Indonesia
yang konversinya adalah 1 ons *(Depdiknas)* = 100 gram dan 1 pound
*(Depdiknas)* = 500 gram. 
? Bagaimana "Ons dan Pound *(Depdiknas)*" ini dimasukkan dalam sistem
metrik yang sudah baku diseluruh dunia ? Siapa yang mau pakai ?.

HENTIKAN SEGERA KESALAHAN INI.

Contoh kasus diatas hanyalah satu diantara sekian banyak problema yang 
merupakan akibat atau korban kesalahan pendidikan. Saya yakin masih
banyak kasus-kasus senada yang terjadi, tetapi tidak kita dengar. Salah
satu contoh kecil ialah, banyak sekali ibu-ibu yang mempraktekkan resep
kue dari buku luar negeri tidak berhasil tanpa diketahui dimana
kesalahannya. 

Karena ini kesalahan pendidikan, masalah ini sebenarnya merupakan
masalah nasional pendidikan kita yang mau tidak mau harus segera
dihentikan. 

Departemen Pendidikan tidak perlu malu dan basa-basi diplomatis mengenai
hal ini. Mari kita pikirkan dampaknya bagi masa depan anak-anak
Indonesia. Berikan teladan kepada bangsa ini untuk tidak malu
memperbaiki kesalahan. 

Sekalipun hanya untuk pelajaran di sekolah, dalam hal
Takar-Timbang-Ukur, Dep. Pendidikan tidak memiliki supremasi sedikitpun
terhadap Direktorat Metrologi sebagai lembaga yang paling berwenang di
Indonesia. Mari kita ikuti satu acuan saja, yaitu Direktorat Metrologi. 

Era Globalisasi tidak mungkin kita hindari, dan karena itu anak-anak
kita harus dipersiapkan dengan benar. Benar dalam arti landasannya,
prosesnya, materinya maupun arah pendidikannya. Mengejar ketertinggalan
dalam hal kualitas SDM negara tetangga saja sudah merupakan upaya yang
sangat berat. Janganlah malah diperberat dengan *pelajaran sampah* yang
justru bakal 
menyesatkan. Didiklah anak-anak kita untuk mengenal dan mengikuti aturan
dan standar yang berlaku SAH dan DIAKUI secara internasional, bukan
hanya yang rekayasa lokal saja. Jangan ada lagi korban akibat pendidikan
yang salah. Kita lihat yang nyata saja, berapa banyak TKI diluar negeri
yang berarti harus mengikuti acuan yang berlaku secara internasional. 

Anak-anak kita memiliki HAK untuk mendapatkan pendidikan yang benar
sebagai upaya mempersiapkan diri menyongsong masa depannya yang akan
penuh dengan tantangan berat.

ACUAN MANA YANG BENAR ?

Banyak sekali literatur, khususnya yang dipakai dalam dunia tehnik, dan 
juga ensiklopedi ternama seperti Britannica, Oxford, dll. *(maaf, ini
bukan promosi)* menyajikan tabel-tabel konversi yang tidak perlu
diragukan lagi.

Selain pada buku literatur, tabel-tabel konversi semacam itu dapat
dijumpai dengan mudah di-dalam buku harian / diary/agenda yang biasanya
diberikan oleh toko atau produsen suatu produk sebagai sarana promosi.

*Salah satu* konversi untuk satuan berat yang umum dipakai SAH secara 
internasional adalah sistem avoirdupois / avdp. (baca : averdupoiz). 

1 ounce/ons/onfiltered= 28,35 gram *(bukan 100 g.)*

1 pound = 453 gram *(bukan 500 g.)*

1 pound = 16 ounce *(bukan 5 ons)*


Atau teman-teman coba lakukan konversi berat tersebut pada situs
internet yang ada misalnya di website www.worldwidemetric.com atau yang
lainnya.


Bayangkan saja, bagaimana jadinya kalau seorang apoteker meracik resep 
obat yang seharusnya hanya diberi 28 gram, namun diberi 100 gram. 
Apakah kesalahan semacam ini bisa di kategorikan sebagai malapraktek ? 
Pelajarannya memang begitu, kalau murid tidak mengerti, dihukum !!!
Jadi, kalau malapraktik, logikanya adalah tanggung jawab yang
mengajarkan. (*ini hanya 
gambaran / ilustrasi salah satu akibat yang bisa ditimbulkan, bukan
kejadian sebenarnya, tetapi dalam bidang lain banyak sekali terjadi)*

KALAU BUKAN KITA YANG MENYELAMATKAN - LALU SIAPA ?.

Melalui tulisan ini saya ingin mengajak semua kalangan, baik kalangan 
pemerintah, akademis, profesi, bisnis / pedagang, sekolah dan orang tua
dan juga yang lainnya untuk ikut serta mendukung penghapusan satuan "ons
dan 
pound yang keliru" dari kegiatan kita sehari-hari. Pengajaran sistem
timbang dgn. satuan Ounce dan Pound seharusnya diberikan sebagai
pengetahuan 
disertai kejelasan asal-usul serta *rumus konversi yang benar*. Hal ini 
untuk membuang kebiasaan salah yang telah melekat dalam kebiasaan kita,
yang bisa mencelakakan / menyesatkan anak-anak kita, generasi penerus
bangsa ini.

*# # # # # *

*Tulisan ini akan dikirimkan kepada media masa, baik cetak maupun 
elektronik yang mau menyiarkannya demi kepentingan bangsa. 
Dipersilahkan mengubah formatnya sesuai dengan ketentuan penyiaran
masing-masing.*

*Juga kepada sekolah-sekolah, pabrik-pabrik serta LSM dan masyarakat
umum, untuk diketahui secara luas.*

* Bila anda merasa sependapat dengan saya, setuju untuk menghentikan 
kesalahan ini demi masa depan anak bangsa Indonesia, silahkan
diperbanyak / difoto copy dan disebar-luaskan sendiri.*

* *

*Bila anda ragu-ragu terhadap kebenaran tulisan ini, silahkan
menanyakannya langsung kepada Direktorat Metrologi atau Balai Metrologi
setempat dikota anda berada.

-- 
___________________________________________________________
Sign-up for Ads Free at Mail.com
http://promo.mail.com/adsfreejump.htm



Moderators:
Budhi Setiawan '91 <[EMAIL PROTECTED]>
Edi Suwandi Utoro '92 <[EMAIL PROTECTED]>
Sandiaji '94 <[EMAIL PROTECTED]>
Wanasherpa '97 <[EMAIL PROTECTED]>
Satya '2000 <[EMAIL PROTECTED]>




---------------------------------
Yahoo! Groups Links

   To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/Geo_Unpad/
  
   To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
  
   Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service. 


                
---------------------------------
Discover Yahoo!
 Stay in touch with email, IM, photo sharing & more. Check it out!


---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED]
To subscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED]
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
Komisi Sedimentologi (FOSI) : Deddy Sebayang([EMAIL 
PROTECTED])-http://fosi.iagi.or.id
Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi([EMAIL PROTECTED])
Komisi Karst : Hanang Samodra([EMAIL PROTECTED])
Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo([EMAIL PROTECTED])
Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin([EMAIL PROTECTED] atau [EMAIL PROTECTED]), 
Arif Zardi Dahlius([EMAIL PROTECTED])
Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono([EMAIL PROTECTED])
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke