Bagusnya memang seperti ide Pak Bambang itu, tapi ini kelihatannya lebih ke 
business to business antara operator besar dan operator kecil, Pemerintah 
maunya melihat temuan2 itu tidak dibiarkan saja alias berproduksi. Jadi, 
mungkin tak perlu di-carved out undeveloped fields itu dari WKP si operator 
besar. Tetapi kalau terlalu lama dibiarkan tidur saja memang harus ada aturan2 
yang kondusif atau bahkan "mengancam" agar operator itu mau mengerjakan 
undeveloped fields. Kan, ironis rasanya, produksi minyak turun terus sementara 
banyak temuan eksplorasi dibiarkan tidur tak dikembang2kan. Pemerintah sudah 
mengamati masalah undeveloped fields ini terutama yang cadangannya marginal, 
maka dikeluarkannyalah aturan2 dan insentif yang kondusif tentang marginal 
fields.
 
salam,
awang

Rovicky Dwi Putrohari <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Nah, Ini bedanya sistem "crafting" PSC Indonesia dengan Negeri Jiran
yg saya pernah crita kemaren.
Undeveloped fields are belong to the host country. Sampai batas waktu
exploration period habis maka Operator hanya "mengkakangi"
(mengoperasikan) lapangan-lapangan yg berproduksi saja. (mengurangi
"lahan tidur").
Bahkan kumpeni saya (maksudku tempat saya kerja :), memiliki kontrak
PSC yang punya benefit khusus (special split) untuk lapangan seukuran
<30MMBO Recoverable. Kalau ternyata nantinya reservesnya lebih dari
thresh hold itu maka splitnya normal lagi.

Jadi PT Angin Ribut-nya mas Bambang bisa beroperasi dengan kalem lagi
menjadi PT Angin Semilir. Walo produksi puluhan barel saja sudah
kipas-kipas. Lah wong operator besar maunya pakai AC, ngga mau kipas
angin sih ...

Ini tantangan besar buat Migas utk merubah PSC term and schedule.

RDP
"PSC is not just about split"

On 6/28/05, Bambang Murti wrote:
> Pak Awang,
> Lha disini pokok pangkal permasalahannya. Duit US$ 1 buat kita (Insya
> Allah), ndak akan membuat kita "tergoda", tapi (maaf), buat tukang
> becak, mungkin bakalan dibelain mati-matian, ini in the bloody word-nya
> ya.
> Mungkin ndak ya dalam satu system PSC, katakanlah si operator ybs enggan
> untuk melakukan proper petroleum extraction, bisa karena portfolio yang
> kurang menarik atau juga karena ybs bermental "asli pedagang", terus ada
> PT Angin Ribut yang menawarkan ke operator ybs, "OK dah, gue kelola ente
> punya lapangan, ente ndak perlu keluar fulus, ane bayarin itu semua,
> ente bayar ke ane satu tahun belakangan".
> Kira-kira model bisnis seperti ini bisa ndak ya ? Jadi si PT Angin Ribut
> ndak perlu dapat equity, strict business to business, dia hanya
> "nalangi" (apa ya ini bahsa indonesianya yang baik dan benar?)
> expenditure si KPS buat sementara waktu. Kalau ada tambahan production,
> ya kedua belah pihak win-win, kalau ndak ada tambahan produksi, celaka
> tuh agen asuransi-nya he he he.
> Ini misalnya, bias membantu KPS-KPS yang sedang "senin-kemis" dalam
> mengurus-i cashflownya ataupun juga kesulitan dalam memenangkan "global
> rangking".
> 
> BSM
> 
> 

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

Kirim email ke