Rekan2 Milis,
Saya ingin ikut nimbrung soal Borobudur. Tetapi bukan masalah yang sedang
hangat dibicarakan, melainkan mengabarkan/menginformasikan bahwa sekarang
ini ada Mahasiswa S3 Dept. Teknik Geologi ITB yang mengkaji hubungan aspek
Geologi Lingkungan, produk Gn. Merapi dalam kaitannya dengan bencana alam
yang ditimbulkan pada  bangunan2  (Candi2) di lereng Selatan Merapi, masa
kerajaan pada abad 8 - 16. Hasil sementara-nya, sangat menarik, karena
geologi dapat/mampu berbicara dan menjelaskan masalah "kesejarahan" -
arkeologi non-prehistoric : kerusakan candi2 sebagai akibat kegiatan Merapi,
dipandang dari arah dan kekuatan aliran lahar,seruakan (surge) piroklastik
dan kekuatan fisik bangunan candi2 pada perioda kegiatan letusan Merapi yang
berbeda-beda waktunya. Beberapa "cuplikan" hasilnya telah diseminarkan di
Hongkong, PIT IAGI dan dipublikasikan di Buletin Geologi ITB dan Jurnal
Teknologi Mineral - FIKTM ITB.
Kita lihat saja hasil akhirnya, mudah2-an tahun ini (dapat) akan selesai dan
promosi. Mahasiswa S3 tersebut dibimbing oleh Prof. Sampurno, Prof. Yahdi
Zaim dan Dr. Deny Juanda.

Wassalam,

Yahdi Zaim


----- Original Message ----- 
From: "Awang Satyana" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[email protected]>; <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Monday, August 01, 2005 3:34 PM
Subject: Re: [iagi-net-l] Borobudur : Posisi Geologi dan Geomantik


Beruntung, walau kolonial Sir Thomas Stamford Raffles juga seorang ilmuwan
yang mencintai Jawa. Waktu dia ada di Semarang tahun 1814, ada laporan yang
sampai kepadanya tentang penemuan sebuah bangunan kuno di Desa Bumisegoro,
Magelang. Langsung saja Raffles memerintahkan penggalian bangunan kuno itu.
Dia mengutus Cornelius, ahli candi Belanda untuk mengekskavasi temuan itu.
Lalu Cornelius bersama 200 orang desa itu membongkar hutan, semak belukar,
menggali tanah, dan...muncullah Borobudur setelah terkubur hampir 1000
tahun. Tahun 1814, Borobudur masih belepotan tanah dan tak semua tanah
dikupas sebab khawatir candi akan runtuh. "Lorong-lorongnya masih penuh
tanah", begitu tulis Raffles di bukunya yang tersohor : The History of Java
(Raffles, 1817).

Candi-candi di Jawa Timur tentu berbeda dengan candi-candi di Jawa Tengah.
Candi di Jawa Timur tak pernah menggunakan batu masif andesit basaltik
seperti di Jawa Tengah, tetapi banyak menggunakan tanah liat yang dibakar
mirip batamerah.

Borobudur dibangun selama 50-70 tahun, terkubur selama hampir 1000 tahun.
Berkali-kali puluhan tahun berikutnya diperbaiki, baik di zaman Belanda,
Inggris, Jepang, dan zaman kemerdekaan. Kita sekarang dengan mudah bisa
menyaksikannya. Semoga kemudahan ini tak menjadikan kita memandangnya dengan
sebelah mata...

salam,
awang

Harry Kusna <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Pak Awang ysh.,

Terimakasih atas tanggapan Bapak.

Betul yg Pak Awang kemukakan itu, saya juga sangat mengaguminya. Saya sudah
berkali-kali ke sana, kalau jalan ke Jawa. Di daerah Trowulan pun ada
peninggalan Majapahit, yg mengalami jaman keemasannya di masa pemerintahan
Prabu Hayam Wuruk (1350 - 1389) tetapi candi2nya nggak ada yg sebesar
Borobudur setahu saya.

Saya juga baca sewaktu Angkor Vat ditemukan di Vietnam, katanya waktu itu
ditemukannya spt kota mati, nggak ada penduduknya, cuma ada sisa2 bangunan,
sudah seperti hutan kembali, di tutupi semak dan tanaman. Dan Borobudur pun
sewaktu ditemukan, keadaannya demikian. Mudah2an kita bisa memeliharanya
sebagai bangunan warisan budaya nenek moyang kita.

Wassalam,
HK

Awang Satyana wrote:
Pak Harry,

Kalau kita lihat denah Borobudur, kita akan kagum dengan simetri yang begitu
sempurna ke semua sisi. Ibaratnya, Borobudur punya simetri lipat tak hingga
karena begitu simetrinya. Bagaimana ini bisa terjadi kepada bangunan 12 abad
yang lalu tentu misteri sebab catatan-catatan aslinya tak ditemukan, hanya
prasasti berangka tahun 842 M itu. Dalam Babad Tanah Jawi pun tidak ada
diceritakan sebab babad mulai banyak ditulis pada zaman Majapahit sekitar
500 tahun sesudah Dinasti Syailendra.

Bagaimana menaikkan batu-batu masif andesit basaltik ke puncak bukit pun
kita hanya bisa mengira-ngira. Mungkin, menggunakan titian2 kayu/pohon
kelapa ditarik tali-tali rami, siapa tahu. Dunia pun sampai sekarang tak
bisa mengerti bagaimana batu-batu besar Stonehange di wilayah
Inggris/Skotlandia sana ditaruh di atas batu-batu yang lebih kecil.
Teknologi apa yang bisa menghasilkan tradisi megalith macam Borobudur,
Stonehange, Piramida kita tak tahu banyak. Mungkin ada saja buku2 yang
mengulas hal2 seperti ini, tetapi dokumen historis-nya sendiri biasanya tak
ada.

Lantai Borobudur pun penuh relief sebenarnya, bukan pelataran lantai tanpa
relief seperti sekarang. Di situ ada relief2 Kamadathu, yaitu relief2 yang
menggambarkan manusia yang mengikuti hasrat baik dan buruknya. Sebelum candi
dipugar, ada indikasi bahwa Borobudur retak2 fondasinya. Membayangkan bahwa
candi ini suatu hari kelak akan runtuh bila fondasinya tak diperbaiki. Maka,
terpaksa areal Kamadathu diperkuat dengan menambahkan batu2 masif penyangga
dan akhirnya ditutup beton. Harus memilih memang : menyelamatkan seluruh
candi dengan menutup Kamadathu, atau mempertahankan Kamadathu tetapi candi
runtuh ? Saat dipugar, ini pun menjadi perdebatan di antara para ahli
sejarah dan ahli teknik sipil. Kita tahu, alternatif no. 1 yang dipilih. Dr.
Sukmono, sejarahwan besar dan ketua restorasi, menulis hal itu di bukunya.

Adalah Gunadharma yang suka disebut-sebut sang arsitek candi ini. Benar
tidaknya tak bisa dibuktikan. Yang jelas, kalau kita ada di atas puncak
Borobudur dan melepaskan pandangan ke selatan, maka tampaklah perbukitan
Menoreh yang kata orang relief2nya menggambarkan wajah Gunadharma !

salam,
awang

Harry Kusna wrote:
Pak Awang ysh.,
3 candi di atas adalah candi Budha yg dibangun di masa pemerintahan wangsa
Syailendra.
Candi Hindu yg kira2 seumur kalau nggak salah adalah candi Prambanan, yg
juga mempunyai ruang di dalamnya. Dari hitungan mekanika tekniknya
(kesetimbagan), bangunan yg ada ruangnya dng tumpukan batu saja membentuk
pelataran tentu berbeda. Juga dari mekanika tanah, pondasi, atau kalau skrg
ada lagi geologi teknik-nya (daya dukung, kekerasan, stabilitas lereng,
dsb). Belum lagi sewaktu bikin site plannya, ilmu ukur tanahnya, stake out
di lapangan, kan dulu belum ada theodolite, waterpas. Pertanyaan saya,
apakah ada buku ttg ilmu2 tsb pd masa itu? Ilmunya dari mana? Bgmn mereka
menaikan batu yg besar2 dari elevasi nol bangunan tsb ke puncak, apakah
sudah ada kran cantilever/derek? Mohon penjelasannya kalau mungkin.
Terimakasih.

Wassalam
HK


Awang Satyana wrote:
Candi Borobudur, Jawa Tengah, mesti mempunyai kesan yang sangat kuat dalam
diri Daoed Joesoef, mantan menteri P & K 1978-1983. Daoed muda tahun 1953
pernah mengunjungi candi ini dan menemukan bagunan kuno yang seram, tak
terurus, kotor, penuh sampah, dan tempat berpacaran saja. Sejak saat itu,
bayangan ngeri tentang Borobudur yang semrawut menghantui pikirannya. Waktu
kuliah di Prancis awal 1970-an, Daoed menemukan bahwa Unesco, badan PBB yang
bermarkas besar di Paris, punya dana bagi rehabilitasi bangunan2 kuno yang
punya nilai sejarah yang tinggi. Maka mulailah perjuangan Daoed
menegosiasikan pentingnya rehabilitasi Borobudur. Dan, akhirnya Borobudur
berhasil mendapatkan dana tersebut, memenangkan persaingan dengan kota air
Venesia dan Mohenjodaro di Pakistan. Maka, dipugarlah Candi Borobudur 10
tahun lamanya, 1973-1983 (dana Pemerintah 2/3-nya, 1/3-nya sumbangan
Unesco). Dan sebagai seorang menteri, Pak Daoed Joesoef rutin mengunjungi
restorasi tersebut dan sebagai seoran
g
pelukis, dia mengabadikan peristiwa itu.

Tahun 2004, setelah lama pensiun dari kegiatan di badan2 Pemerintah RI, Pak
Daoed menerbitkan sebuah buku tentang sebuah candi yang menyita perhatiannya
setengah umur hidupnya itu, "Borobudur" (Gramedia, 2004) - sebuah catatan
tentang perenungan, perjuangan pemugaran, dan nilai seni, budaya, keilmuan
sebuah candi Budha terbesar di dunia. Juga, catatan hitam tentang pengeboman
candi ini oleh orang-orang tak berbudaya dan biadab dua tahun sesudah candi
selesai dipugar (Januari, 1985). Sebagai bangsa di mana candi itu berada,
tentu sebaiknya kita tahu sisik-melik candi ini, masa orang asing lebih tahu
dari kita ?

Nah, tulisan ini hanya akan mengemukakan posisi geologis candi ini. Semua
bangunan yang "dimuliakan" tentu tidak asal letak posisi dibangunnya. Kita
sekarang mengenalnya dengan nama Feng Shui atau Hong Shui. Bangsa kita pun
abad ke-9, tahun 825, sudah punya ilmu semacam itu - geomantik, untuk
menempatkan Borobudur. Posisi geomantik Borobudur tak akan dapat dipahami
kalau tidak menghubungkannya dengan dua candi di sebelah timurnya : Pawon
dan Mendut. Borobudur-Pawon-Mendut membentuk satu garis lurus. Mendut, yang
paling timur, dibangun di tepi timur Kali Elo. Pawon di tengah, di bangun 1
km ke barat di tepi barat Kali Progo. Dua kali ini membentuk huruf V, kedua
candi dibangun sekitar 1 km di utara pertemuan kali, sehingga kedua kali
bertemu di antara kedua candi di sebelah selatannya.

Mendut punya ruangan di dalamnya di mana ada patung Budha yang mungkin
paling besar di Indonesia. Pawon punya ruangan juga tapi kosong melompong.
Secara simbolik, Mendut adalah lambang perempuan, lebih2 lagi di gapura
candi terdapat relief Hariti, dewi kekayaan yang sedang menyusui bayi. Pawon
adalah lambang laki-laki dengan ruang kosong di dalamnya ditafsirkan sebagai
tak memiliki kandungan. Maka, Kali Elo adalah perempuan, dan Kali Progo
adalah laki-laki. Pertemuan mereka di selatan kedua candi adalah suatu
physical intercourse, begitu makna simbolik mengartikannya. Dan,
Borobudurlah, buah kasih mereka.

Adalah Nieuwenkamp, arsitek dan etnolog Belanda masa lalu, yang mengajukan
tesis bahwa Borobudur dulunya dibangun di tengah-tengah danau, pada sebuah
pulau. Tesisnya hanya didasarkan kepada bentuk arsitektur Borobudur yang
mirip teratai dan bunganya. Sebuah tesis yang mengejutkan, tetapi dibenarkan
oleh penelitian dua geolog Belanda ternama masa lalu : L.M.R Rutten dan R.W.
van Bemmelen. Mereka menyebut bahwa di dataran tinggi Kedu, di mana
Borobudur dibangun, terdapat beberapa danau yang sekarang mengering.
Nieuwenkamp dan para geolog Belanda saat itu, tahun 1937 mengadakan
penelitian besar keberadaan Danau Borobudur ini. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa memang pernah ada danau dengan ketinggian muka air 235
meter dpl, dan Borobudur dibangun di tengah2nya.

Apa makna simbolik tesis danau Borobudur ? Borobudur adalah janin yang
mengambang di tengah air ketuban rahim, hasil seksualitas Pawon dan Mendut.
Borobudur memuat sekaligus dua ajaran : Budhisme dan ajaran kepercayaan Jawa
Kuno tentang keterjelmaan manusia.

Begitulah "dichtung und wahrheit" tentang Borobudur. Percaya atau tidak,
rasanya tak akan terlalu sulit buat kita untuk menelusuri penelitian
geologis Rutten atau van Bemmelen, bila mereka mengarsipnya.

Kalau sempat mengunjungi Borobudur, mulailah menelusuri relief2nya dengan
benar : yaitu mulai dari lantai 1 tangga timur, dan putarilah reliefnya dari
kanan ke kiri, memutar searah jarum jam, selesai satu putaran, naiklah ke
lantai 2 via tangga timur itu dan putari lagi searah jarum jam, begitu
seterusnya sampai 10 tingkat Borobudur selesai, sebab Borobudur adalah :
"Bhumisambharabudhara" (bukit tumpukan kebajikan pada kesepuluh
tingkatan-tingkatan) - prasasti 842 M (de Casparis, 1950 - interscripties
uit de Cailendra tijd).

salam,
awang

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com

---------------------------------
Start your day with Yahoo! - make it your home page
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com


---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
Komisi Sedimentologi (FOSI) : Ratna Asharina 
(Ratna.Asharina[at]santos.com)-http://fosi.iagi.or.id
Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi(sunardi[at]melsa.net.id)
Komisi Karst : Hanang Samodra(hanang[at]grdc.dpe.go.id)
Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo(soeryo[at]bp.com)
Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin(ridwan[at]bppt.go.id atau [EMAIL PROTECTED]), 
Arif Zardi Dahlius(zardi[at]bdg.centrin.net.id)
Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono(anugraha[at]centrin.net.id)
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke