Min,

Setelah anda mengenyam pendidikan dalam dan luar negeri, manakah yg
lebih berhasil guna antara kedua ini ?

- Menyekolahkan di Dalam Negeri saja dengan jumlah yg lebihbesar.
Toh pada kenyataannya banyak lulusan Sarjana (S1) Indonesia yg "laku"
dipasaran luar negeri. Juga kebutuhan tenaga kerja level ini jauuh
lebih besar ketimbang kebutuhan Doktor.  Juga doktor-doktor lulusan
Indonesia mungkin (berpotensi) akan lebih banyak yg berkiprah lebih
karena masalah yg diambil dr Indonesia, ketimbang lulusan luar negeri
(mungkin lo:).
Contoh lulusan S3  Indonesia sangat bagus ya misalnya Dr Andang
Bachtiar dan Dr Sigit Sukmono yg asli lulusan S3 dalam negeri.

- Menyekolahkan ke Luar Negeri untuk mendapatkan hasil yg lebih brillian.
Lulusan Luar Negeri biasanya memiliki akses kepada the ultimate
science, biasanya mereka yg lulusan luar negeri mengerti betul
perkembangan riset2 mutakhir yg dilakukan di luar negeri. Memang
banyak juga lulusan LN yg berkiprah sukses di Indonesia. Kalau disebut
semua lulusan LN ya daftarnya sangat panjang. Keuntungan lain tentunya
sangat banyak.

Nah kalau dana KPS menurut Minarwan atau temen-temen lain sebaiknya
difokuskan kemana ?
(tentunya dana KPS ini ada yg utk studi geoscience ada yg non-geoscience)

RDP

On 1/31/06, Minarwan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Xie xie untuk informasinya Mas Syafri....
> Mudah-mudahan metode yang dijalankan Lembaga Konsorsium BPMigas ini
> berhasil mencapai sasaran.
> Menyekolahkan orang muda ke luar negeri memang bukan urusan yang mudah,
> karena mereka orang-orang yang sudah terseleksi, dengan demikian
> memiliki potensi besar untuk berkembang dan biasanya juga pandai mencari
> peluang, termasuk kalau perlu (bagi segelintir orang) "kabur saja".
>
> Salam
> Minarwan
>
> Syafri Syafar wrote:
> > Setahu saya, ide pengembalian beasiswa tersebut terkait dengan makin
> > menipisnya jumlah uang tersedia, karena beasiswa tersebut terkait
> > pengumpulannya dengan jumlah produksi minyak dan gas dari KPS yang ada.
> > Diharapkan dengan adanya pengembalian sejumlah 10% tsb (dari total
> > biaya) bisa lebih memberikan kesempatan kepada generasi berikut untuk tetap
> > bisa berangkat sekolah, dan tentunya ada alasan tambahan lain agar si siswa
> > punya tanggung-jawab lebih dalam menyelesaikan masa studi lebih cepat.
> > Karena ada indikasi bahwa siswa sengaja mengulur-ngulur waktu studinya.

---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
Komisi Sedimentologi (FOSI) : Ratna Asharina 
(Ratna.Asharina[at]santos.com)-http://fosi.iagi.or.id
Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi(sunardi[at]melsa.net.id)
Komisi Karst : Hanang Samodra(hanang[at]grdc.dpe.go.id)
Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo(soeryo[at]bp.com)
Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin(ridwan[at]bppt.go.id atau [EMAIL PROTECTED]), 
Arif Zardi Dahlius(zardi[at]bdg.centrin.net.id)
Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono(anugraha[at]centrin.net.id)
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke