Pak Awang, kalau anda lihat kembali gambar finger-print berbagai jenis minyak East-Java di paper anda yang anda bandingkan dg typical fluvio-deltaic chromatogram (Robinson, 1987), maka akan anda lihat anomali (bukan dominasi kesamaan) di finger-print minyak dari Kangean (Phillip, 1991). Selain itu, finger print tersebut juga tidak merefleksikan apapun tentang preferensi odd carbon number chains (kecuali kalau mata kita sangat awas menelisik frekuensi garis-garis chromatogram yang diassign berdasarkan rentention time-nya untuk mendapatkan kalibrasi nomor karbon tsb). Point saya: mungkin saja C24-C30 peak yang saya lihat pada minyak Kangean yg anda tampilkan dari Phillips, 1991 tersebut berkaitan dengan dominasi long-chain lengths yg berikutnya juga terkait dengan waxiness, tetapi yang pasti, minyak Kangean tersebut secara kasat mata finger-print-nya menampakkan peak yang sangat berbeda dengan minyak fluvio-deltaik lainnya yang anda tampilkan dalam gambar tsb.

Menurut saya, justru kunci menuju ke discovery konsep-konsep baru di daerah frontier seperti segitiga Jawa Timur - Kalimantan - Sulawesi ataupun di ujung timur Cekungan Jawa Timur tersebut adalah mencoba mencari "anomali" dari "sistematika yang mendominasi". Anomali finger - print minyak Kangean (Phillips, 1991), anomali delta C13 saturate vs delta C13 aromatics, anomali pr/C17 vs ph/c18, dan anomali maturity "basement" yang hanya 1-1,2%Ro di daerah tinggian Sepanjang tentunya dapat dijadikan starting point untuk meneliti konsep2 play lebih luas / dalam di daerah tsb.

Permasalahan oleanane vs hopane yang "typical" Tersier (>0.20) mungkin sudah saatnya untuk agak diketatkan sedikit pemakaiannya di Indonesia bagian Timur, dimana kemungkinan kita juga bisa mendapatkan angka rasio yang mendekati atau lebih kecil dari 0.20 untuk minyak2 yang dihasilkan dari endapan2 Mesozoic - Cretaceous (toch pada saat itu angiosperm juga sudah mulai ada).

Pemodelan yang pernah saya lakukan untuk endapan2 Jurasic - Cretaceous di beberapa mini Mesozoicum basins di ujung timur Cekungan Jawa Timur tersebut menunjukkan bahwa pada umumnya minyak Mesozoicum paling potential untuk mengisi reservoir-reservoir Eocene-Early Oligocene karena sejarah kematangannya yang sudah sangat lanjut. Tetapi khusus di daerah Tinggian Sepanjang ada indikasi bahwa minyak-minyak Mesozoicum tersebut dapat juga mengisi reservoir sampai ke level Kujung.

Salam

Andang Bachtiar
Exploration Think Tank Indonesia

----- Original Message ----- From: "Awang Satyana" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[email protected]>; <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Wednesday, February 22, 2006 12:22 PM
Subject: Re: [iagi-net-l] reservoir clastics di NE Java Basin


Pak Andang,

Justru peak di C24-C30 itu menunjukkan terrestrially sourced oil, menunjukkan dominasi long chain lengths (wax) dan preferensi odd carbon number chains. Dan X plot yang saya lakukan untuk parameter2 lain menunjukkan tak ada dominasi marin di wilayah East Java, termasuk Kangean.

Oil grouping yang saya lakukan memang tidak menggunakan PCA dan itu saya sebut di paper sebagai further studies yang dibutuhkan (hierarchical cluster analysis - dendogram, lihat section interpretation methods). Tetapi, analisis dendrogram pun tetap harus dirasionaliasasi dengan setting geologi.

Kalau ada Mesozoic source di sini, kenapa semua minyak asal Kangean memunculkan olenanane di triterpane m/z 191 dan bikin rasio dengan hopane yang khas Tersier ( > 0.20) ? Tak ada oil di Kangean yang mirip Aliambata seeps di Timor atau Oseil oil yang memang asalnya dari Jurassic marine source. Lagi pula, kalau mikrokontinen Kangean diasumsikan dari utara Gondwana, ia akan mengikuti prosedur rifting yang berjalan di sini, yang bisa diwakili oleh Jurassic Plover yang fluvio-deltaik bukan marin. Prosedur peri-rift graben pasti terestrial dan bukan marin.

Dan, umumnya sumur2 di East Java berakhir di basement yang metamorphic atau metasedimen. Ada pre-Ngimbang di Pagerungan, tetapi betul seperti yang dibilang Pak Bambang, dominan meta-sedimen.

 salam,
 awang

Andang Bachtiar <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
 Pak Awang,

Saya melihat konsistensi "marine" classification dari minyak-minyak di
offshore bagian timur Cekungan Jawa Timur ini pada x-plot pristane/n-C17 vs phytane/n-C18, x-plot delta C13 aromatics vs delta C13 saturates , dan juga dari finger-print C5+ chromatogram yang menunjukkan peak di sekitar C24-C30
yang lebih besar dari peak di sekitar C17-an.

Karena terlalu banyaknya parameter yang bisa diplot, di-cross-plot, dan
diklassifikasikan, dalam dunia petroleum geochemistry kita seringkali
menggunakan Principal Component Analyses atau yang sederhana: STAR DIAGRAM
untuk membuat klassifikasi yang lebih "sound" dan bisa mengcover semua
komponen/parameter determinan. Dalam hal ini memang saya belum melihat itu
dilakukan untuk analisis klasifikasi minyak di Cekungan Jawa Timur ini. Jadi interpretasi bisa bervariasi, tergantung sudut pandang dan tendensi hipotesa
yang hendak kita buktikan.

Khusus untuk statement source-rock dari pre-Ngimbang; saya merujuk pada
definisi "pre-" yang lebih luas, yaitu bisa Eocene Awal, Paleocene, atau
bahkan Mesozoikum (especially Jurassic). Hal ini sangat tergantung dari
pre-assumption kita tentang bagaimana sejarah tektonik daerah timur Cekungan
Jawa Timur tersebut. Konsep tektonik yang saya hipotesakan disini adalah:
Mesozoicum basement di bagian timur Cekungan Jawa Timur memang adalah
semacam micro-continent yang detached dari Gondwana/Australia, tetapi
sepanjang sejarah pergerakannya mereka tidak terkubur terlalu dalam sehingga
sedimen-sedimen Mesozoic-nyapun tidak harus mengalami metamorfosa seperti
halnya basement2 di Indonesia Bagian Barat lainnya. Termasuk diantara
sedimen-sedimen Mesozoic tersebut adalah Jurassic-Cretaceous marine
source-rock yang mungkin setara dengan source-rock serupa di Timor, Vulcan
Sub-basin, maupun di Papua. Kalau anda periksa maturity di "basement" L-46-1
mustinya ada tanda-tanya besar disitu: kenapa maturity-nya tidak setinggi
typical metamorphic / meta-sediment basement? Implikasinya; lebih jauh lagi:
kemungknan akan ada Mesozoic Play juga di Cekungan Jawa Timur bagian timur
ini (Uppst!!). Just wait and see.

Salam

Andang Bachtiar
Exploration Think Tank Indonesia


----- Original Message ----- From: "Awang Satyana"
To: ;
Sent: Wednesday, February 22, 2006 9:10 AM
Subject: Re: [iagi-net-l] reservoir clastics di NE Java Basin


Pak Andang,

Ada sedikit sifat marin sebagai varian-nya, tetapi lebih dominan
terestrial. Tak ada yang konsisten menunjukkan sifat marin pada semua
karakter minyaknya. L46-1 dan L46-2 dengan pr/ph 4.19 dan 7.72 serta
sebaran steran C27-C28-C29 yang didominasi C29 sekitar 50 % dan S content
yang 0.09-0.7 tak meyakinkan untuk menaruhnya di lingkungan marin, apalagi
full marin, ini lebih terestrial.

Dan, pre-Ngimbang tak mungkin marin, sebab pre-Ngimbang adalah
pre-rifting, maka ia akan full nonmarin. Semua sedimen pre-rift adalah
nonmarin, sebab semua basement tempat fifting berikutnya terjadi adalah
uplifted.

Adanya gas Pagerungan di Kangean dengan kondensatnya yang punya pr/ph
13.20 dan S content 0.01 % dengan 13 sat dan aromat -27 dan -25 per mile
sudah sangat meyakinkan bahwa source-nya terrestrial.

salam,
awang

Andang Bachtiar wrote:
Dari paper Satyana & Purwaningsih 2003 ttg pengkelasan tipe minyak di
Jawa
Timur saya menginterpretasikan bahwa masih ada satu jenis source-rock lagi
berkembang di Cekungan Jawa Timur, yaitu yang berumur Pre-Ngimbang dan
mempunyai sifat "marine" (baik dari finger print, pristane phytane, maupun
delta C13 arom - sat nya). Jadi source rock kemungkinan bukan hanya
Ngimbang
terrestrial-MM, Kujung III, dan Tuban marine saja. Di sumur2 L46-1, L46-2,
JS53A dan Sepanjang Island (dalam plot S&P, 2003) minyak ditemukan
terperangkap di Ngimbang dan karakterisasinya lebih merupakan "marine" oil
daripada "terrestrial" oil. Besar kemungkinan asalnya dari pre-Ngimbang
marine deposit atau malahan dari sedimen-sedimen pra-Tersier.

Salam

adb


----- Original Message ----- From: "Awang Harun Satyana"
To:
Sent: Tuesday, February 21, 2006 4:13 PM
Subject: RE: [iagi-net-l] reservoir clastics di NE Java Basin


Pak Rovicky,

Kita pertama harus mengkarakterisasi minyak2 yang sekarang ada di
existing fields, lalu membalikkannya ke kemungkinan tiga sources itu.
Dari Ngimbang ia akan terestrial-marginal marin, olenanane sedikit. Dari
Kujung III shales ia akan terrestrial-marginal marin oleanane bertambah.
Dari Tuban shales ia akan marin dan olenanane melimpah. Minyak asal
Ngimbang dan Kujung III akan sulit dibedakan, tetapi bisa didekati
dengan mengetahui Ro minyak sebab minyak asal Ngimbang akan lebih
earlier generated dibanding Kujung III, maka Ro asal Ngimbang relatif <
Ro asal Kujung; kalau ada data biomarker aromatik MPI (methyl
phenantherene) index bisa dilakukan. Beberapa pemodelan dengan biomarker
ini sudah saya lakukan dan confirmed teori ini.

Berdasarkan data biomarker, volumetrik, dan modeling kematangan : urutan
kontributor terbesar ke terkecil untuk source minyak adalah : 1st
Ngimbang, 2nd Kujung, 3rd Tuban.

Di bawah Madura Island, sebelum pulau ini terangkat dan terdeformasi
hebat oleh inversi RMKS, adalah kitchen yang besar. Source-nya dari
Ngimbang, hanya untuk naik ke atas mengisi ke struktur2 di Pulau Madura
ia akan sulit sebab deformasi hebat telah mematahkan dan menyulitkan
semua konduit. Harus dicari earlier migration yang naik via regional
updip ke utara sesaat sebelum inversion terjadi. Kandidat terbesar
adalah Blok Ketapang.

Biogenic gas tak mungkin datang dari source yang temperaturnya mencapai
80 deg C sebab bakteri tak mungkin hidup di atas 80 deg C, begitu juga
temperatur reservoirnya tak boleh melebihi 80 deg C, kalau lebih, ia
akan cracking ke thermogenic gas. Gas di Kepodang asal Tawun shales,
bisa dimodeling kapan ia generasi biogenic gas dan kapan mengisi
Kepodang. Hanya satu syarat : tak boleh melebihi temperatur 80 deg C.
Maka, tak mungkin biogenic gas dihasilkan dari Ngimbang sebab Ngimbang
sudah overmature untuk biogenic gas. Kalau mixing sih OK saja, seperti
terjadi di Oyong, ada biogenic-thermogenic gas, ada juga oil, atau di
Tanggul Angin Lapindo. Tak perlu TOC cut off tinggi untuk biogenic gas
generation, 1.0 % TOC sudah cukup, tetapi ia perlu rapid deposition dan
restricted basin.

Syn-rift graben, sulit memang datingnya sebab Eocene Ngimbang kebanyakan
non-marine dan data polen-nya belum lengkap. Tetapi evaluasi regional
menunjukkan memang bisa makin muda ke timur. Saya sementara berpendapat
pembentukan graben2 di East Java ini akibat ikutan rifting di Makassar
Strait yang bersamaan waktunya dengan gerak roll-back akibat perlambatan
subduction di wilayah ini pada Eosen, dan sama sekali tak berhubungan
dengan RMKS sebab RMKS post mid-Miocene. Tapi RMKS mengover-print-nya
dengan cara makin menenggelamkan atau mengangkatnya iya. Karena gerak
rifting Makassar dan rollback basement berjalan dari barat ke timur,
maka umur rifting makin muda ke timur.

Salam,
awang

-----Original Message-----
From: Rovicky Dwi Putrohari [mailto:[EMAIL PROTECTED]
Sent: Tuesday, February 21, 2006 3:47 PM
To: [email protected]
Subject: Re: [iagi-net-l] reservoir clastics di NE Java Basin


Nah saya ada pertanyaan buat Pak Awang yg sudah nguprek2 Jawa Timur ini.

Ada 3 kemungkin source di EJB (East Java Basin).
- Eocene Ngimbang (synrift)
- Oligocene Kujung Shale
- Miocene Tuban

Dari ketiganya, mana yg paling dominan menyumbang minyak2 yg sudah
diketemukan selama ini (volumetric) ? Saya tidak menemukan possible
kitchen di P Madura, tetapi data2 sumur menunjukkan banyaknya oil show
serta oil seep. Minor oil di Pulau Madura ini source-rock dan kitchennya
dari mana ?

Tentang Biogenic Kepodang ini juga krusial, apakah biogenic gas di
Kepodang ini source-rocknya juga dari Ngimbang shale (synrif?) atau di
...?

Terus terang, karena keterbatasan saya untuk data biostratigrafi, saya
kesulitan menghubungkan kronologis dari Synrift Ngimbang dari barat ke
timur mulai dari Pati-Muriah-WestFlorence, Tuban Trough - East Florence,
Central Deep, dan meloncat ke Ngimbang di Kangean Block. Apakah syrift2
ini satu generasi atau beda generasi, secara umur sepertinya yg ditimur
lebih muda (cmiiw) ?

Kesulitan ini ditambah dengan adanya RMKS Wrench Fault yang selalu
mempengaruhi orientasi patahan2 tua yg terjadi pada kala Eocene.

Komen anda sangat saya harapkan
Thanx

RDP
On 2/21/06, Awang Satyana wrote:
Abah,

Lapindo dengan sumur dalamnya, Banjar Panji-1 (sumur di Indonesia
yang paling dekat jaraknya dengan jalan tol, Surabaya-Porong, paling
tak sampai 2 km) punya target utama Kujung-I alias Prupuh reef. Ini
merupakan reef paling selatan dari jalur2 pinnacle reefs di Jawa
Timur. Jalur ini di offshore-nya telah terbukti dengan penemuan gas
dan kondensat di BD-1. Semoga Banjar Panji-1 sukses.

Target klastik memang sementara "kalah" dengan target Kujung yang
"booming" sejak akhir 1990-an. Tetapi, target klastik masih menarik
tentu. JOB Pertamina-Madura masih belum menyerah mengejar pembuktian
target klastik ekivalen Tuban Fm (Early-Middle Miocene) di Pulau
Madura. Ada temuan2 kecil yang tak ekonomis. Mereka mesti bergerak
cepat sebab berlomba dengan terminasi blok.

Klastik Ngimbang yang produktif di Pagerungan tak semudah sangkaan
untuk mengejar pelamparannya ke timur lapangan Pagerungan. Sebuah
sumur dibor dan gagal sebab objektif tersebut banyak menyerpih ke
timur. Di onshore, pelamparan formasi produktif Ngimbang di Suci, juga

gagal didelineasi Pertamina.

Klastik Ngrayong belum dikerjakan lagi. Ada yang mau dikerjakan di
Selat Madura sebagai deepwater deposits, tetapi risiko lumayan besar,
mesti ada seismik 3D kalau mau mengejar submarine fan atau
feeder-channel Ngrayong di Selat Madura. Santos punya, tetapi belum
mau mengetesnya, sementara masih senang mengerjakan Jeruk reef dan
sejenisnya. Di onshore, JOB Pertamina-PetroChina Tuban mau
mendelineasi formasi ini di sebuah lapangan tua barat Surabaya.

Klastik Tawun belum dikerjakan lagi sejak BP Bawean mengebor dua
sumurnya yang penuh dengan CO2 di Blok Bawean (Titan-1 dan Calypso-1).

Klastik-karbonat (globigerinid sandstones atau globigerinids
limestone) Paciran atau Mundu dikerjakan sebagai sumur2 delineasi di
Oyong Santos. EMP Kangean belum bergerak dengan Terang Sirasun di
Kangean.

Nah, itu sedikit ulasan pengejaran target non-Kujung di Jawa Timur.

Genesis biogenic gas di Jawa Timur menarik dikaji kalau kita punya
data isotop karbon dan deuterium yang lengkap. Kebetulan saya punya
sehingga bisa membangun model genesisnya. Sebagian kajian itu saya
publikasi di IPA belum lama yl (Satyana & Purwaningsih, 2003) beserta
dengan kajian regional geochemistry East Java Basin. Gas di Tawun
Kepodang jelas biogenik dengan kandungan C1 99.82 % dan isotop karbon
-67 per mile dan isotop deuterium -198 per mile. Tetapi, gas di Prupuh

Kepodang menunjukkan percampuran dari sumber termogenik. Gas di
Paciran Terang Sirasun juga biogenik dengan C1 99.5 % dan isotop
karbon serta deuterium masing2 -65 per mile dan -185 %.

Kemudian, genesis gas biogenik di Kepodang dan Terang Sirasun lain
proses dan mekanismenya. Data gas geochemistry menunjukkan bahwa
Terang Sirasun biogenic gas akibat carbonate reduction di lingkungan
marine atau hypersaline lacustrine karena isotop deuterium metan-nya
lebih berat, sedangkan gas biogenik Kepodang akibat bacterial
methyl-type fermentation di terrestrial fresh water (lacustrine)
dengan isotop deuterium metan yang lebih negatif. Ini sesuai dengan
setting geologi regional Jawa Timur yang umumnya miring ke arah timur,

sehingga lebih marin ke timur, terutama sejak Neogen sampai sekarang.

salam,
awang

[EMAIL PROTECTED] wrote:

---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
Komisi Sedimentologi (FOSI) : Ratna Asharina (Ratna.Asharina[at]santos.com)-http://fosi.iagi.or.id
Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi(sunardi[at]melsa.net.id)
Komisi Karst : Hanang Samodra(hanang[at]grdc.dpe.go.id)
Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo(soeryo[at]bp.com)
Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin(ridwan[at]bppt.go.id atau [EMAIL PROTECTED]), Arif Zardi Dahlius(zardi[at]bdg.centrin.net.id)
Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono(anugraha[at]centrin.net.id)
---------------------------------------------------------------------




---------------------------------
Yahoo! Autos. Looking for a sweet ride? Get pricing, reviews, & more on new and used cars.

---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
Komisi Sedimentologi (FOSI) : Ratna Asharina 
(Ratna.Asharina[at]santos.com)-http://fosi.iagi.or.id
Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi(sunardi[at]melsa.net.id)
Komisi Karst : Hanang Samodra(hanang[at]grdc.dpe.go.id)
Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo(soeryo[at]bp.com)
Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin(ridwan[at]bppt.go.id atau [EMAIL PROTECTED]), 
Arif Zardi Dahlius(zardi[at]bdg.centrin.net.id)
Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono(anugraha[at]centrin.net.id)
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke