Pak Andang,
Ada sedikit sifat marin sebagai varian-nya, tetapi lebih dominan
terestrial. Tak ada yang konsisten menunjukkan sifat marin pada semua
karakter minyaknya. L46-1 dan L46-2 dengan pr/ph 4.19 dan 7.72 serta
sebaran steran C27-C28-C29 yang didominasi C29 sekitar 50 % dan S content
yang 0.09-0.7 tak meyakinkan untuk menaruhnya di lingkungan marin,
apalagi
full marin, ini lebih terestrial.
Dan, pre-Ngimbang tak mungkin marin, sebab pre-Ngimbang adalah
pre-rifting, maka ia akan full nonmarin. Semua sedimen pre-rift adalah
nonmarin, sebab semua basement tempat fifting berikutnya terjadi adalah
uplifted.
Adanya gas Pagerungan di Kangean dengan kondensatnya yang punya pr/ph
13.20 dan S content 0.01 % dengan 13 sat dan aromat -27 dan -25 per mile
sudah sangat meyakinkan bahwa source-nya terrestrial.
salam,
awang
Andang Bachtiar wrote:
Dari paper Satyana & Purwaningsih 2003 ttg pengkelasan tipe minyak di
Jawa
Timur saya menginterpretasikan bahwa masih ada satu jenis source-rock
lagi
berkembang di Cekungan Jawa Timur, yaitu yang berumur Pre-Ngimbang dan
mempunyai sifat "marine" (baik dari finger print, pristane phytane,
maupun
delta C13 arom - sat nya). Jadi source rock kemungkinan bukan hanya
Ngimbang
terrestrial-MM, Kujung III, dan Tuban marine saja. Di sumur2 L46-1,
L46-2,
JS53A dan Sepanjang Island (dalam plot S&P, 2003) minyak ditemukan
terperangkap di Ngimbang dan karakterisasinya lebih merupakan "marine"
oil
daripada "terrestrial" oil. Besar kemungkinan asalnya dari pre-Ngimbang
marine deposit atau malahan dari sedimen-sedimen pra-Tersier.
Salam
adb
----- Original Message -----
From: "Awang Harun Satyana"
To:
Sent: Tuesday, February 21, 2006 4:13 PM
Subject: RE: [iagi-net-l] reservoir clastics di NE Java Basin
Pak Rovicky,
Kita pertama harus mengkarakterisasi minyak2 yang sekarang ada di
existing fields, lalu membalikkannya ke kemungkinan tiga sources itu.
Dari Ngimbang ia akan terestrial-marginal marin, olenanane sedikit. Dari
Kujung III shales ia akan terrestrial-marginal marin oleanane bertambah.
Dari Tuban shales ia akan marin dan olenanane melimpah. Minyak asal
Ngimbang dan Kujung III akan sulit dibedakan, tetapi bisa didekati
dengan mengetahui Ro minyak sebab minyak asal Ngimbang akan lebih
earlier generated dibanding Kujung III, maka Ro asal Ngimbang relatif <
Ro asal Kujung; kalau ada data biomarker aromatik MPI (methyl
phenantherene) index bisa dilakukan. Beberapa pemodelan dengan biomarker
ini sudah saya lakukan dan confirmed teori ini.
Berdasarkan data biomarker, volumetrik, dan modeling kematangan : urutan
kontributor terbesar ke terkecil untuk source minyak adalah : 1st
Ngimbang, 2nd Kujung, 3rd Tuban.
Di bawah Madura Island, sebelum pulau ini terangkat dan terdeformasi
hebat oleh inversi RMKS, adalah kitchen yang besar. Source-nya dari
Ngimbang, hanya untuk naik ke atas mengisi ke struktur2 di Pulau Madura
ia akan sulit sebab deformasi hebat telah mematahkan dan menyulitkan
semua konduit. Harus dicari earlier migration yang naik via regional
updip ke utara sesaat sebelum inversion terjadi. Kandidat terbesar
adalah Blok Ketapang.
Biogenic gas tak mungkin datang dari source yang temperaturnya mencapai
80 deg C sebab bakteri tak mungkin hidup di atas 80 deg C, begitu juga
temperatur reservoirnya tak boleh melebihi 80 deg C, kalau lebih, ia
akan cracking ke thermogenic gas. Gas di Kepodang asal Tawun shales,
bisa dimodeling kapan ia generasi biogenic gas dan kapan mengisi
Kepodang. Hanya satu syarat : tak boleh melebihi temperatur 80 deg C.
Maka, tak mungkin biogenic gas dihasilkan dari Ngimbang sebab Ngimbang
sudah overmature untuk biogenic gas. Kalau mixing sih OK saja, seperti
terjadi di Oyong, ada biogenic-thermogenic gas, ada juga oil, atau di
Tanggul Angin Lapindo. Tak perlu TOC cut off tinggi untuk biogenic gas
generation, 1.0 % TOC sudah cukup, tetapi ia perlu rapid deposition dan
restricted basin.
Syn-rift graben, sulit memang datingnya sebab Eocene Ngimbang kebanyakan
non-marine dan data polen-nya belum lengkap. Tetapi evaluasi regional
menunjukkan memang bisa makin muda ke timur. Saya sementara berpendapat
pembentukan graben2 di East Java ini akibat ikutan rifting di Makassar
Strait yang bersamaan waktunya dengan gerak roll-back akibat perlambatan
subduction di wilayah ini pada Eosen, dan sama sekali tak berhubungan
dengan RMKS sebab RMKS post mid-Miocene. Tapi RMKS mengover-print-nya
dengan cara makin menenggelamkan atau mengangkatnya iya. Karena gerak
rifting Makassar dan rollback basement berjalan dari barat ke timur,
maka umur rifting makin muda ke timur.
Salam,
awang
-----Original Message-----
From: Rovicky Dwi Putrohari [mailto:[EMAIL PROTECTED]
Sent: Tuesday, February 21, 2006 3:47 PM
To: [email protected]
Subject: Re: [iagi-net-l] reservoir clastics di NE Java Basin
Nah saya ada pertanyaan buat Pak Awang yg sudah nguprek2 Jawa Timur ini.
Ada 3 kemungkin source di EJB (East Java Basin).
- Eocene Ngimbang (synrift)
- Oligocene Kujung Shale
- Miocene Tuban
Dari ketiganya, mana yg paling dominan menyumbang minyak2 yg sudah
diketemukan selama ini (volumetric) ? Saya tidak menemukan possible
kitchen di P Madura, tetapi data2 sumur menunjukkan banyaknya oil show
serta oil seep. Minor oil di Pulau Madura ini source-rock dan kitchennya
dari mana ?
Tentang Biogenic Kepodang ini juga krusial, apakah biogenic gas di
Kepodang ini source-rocknya juga dari Ngimbang shale (synrif?) atau di
...?
Terus terang, karena keterbatasan saya untuk data biostratigrafi, saya
kesulitan menghubungkan kronologis dari Synrift Ngimbang dari barat ke
timur mulai dari Pati-Muriah-WestFlorence, Tuban Trough - East Florence,
Central Deep, dan meloncat ke Ngimbang di Kangean Block. Apakah syrift2
ini satu generasi atau beda generasi, secara umur sepertinya yg ditimur
lebih muda (cmiiw) ?
Kesulitan ini ditambah dengan adanya RMKS Wrench Fault yang selalu
mempengaruhi orientasi patahan2 tua yg terjadi pada kala Eocene.
Komen anda sangat saya harapkan
Thanx
RDP
On 2/21/06, Awang Satyana wrote:
Abah,
Lapindo dengan sumur dalamnya, Banjar Panji-1 (sumur di Indonesia
yang paling dekat jaraknya dengan jalan tol, Surabaya-Porong, paling
tak sampai 2 km) punya target utama Kujung-I alias Prupuh reef. Ini
merupakan reef paling selatan dari jalur2 pinnacle reefs di Jawa
Timur. Jalur ini di offshore-nya telah terbukti dengan penemuan gas
dan kondensat di BD-1. Semoga Banjar Panji-1 sukses.
Target klastik memang sementara "kalah" dengan target Kujung yang
"booming" sejak akhir 1990-an. Tetapi, target klastik masih menarik
tentu. JOB Pertamina-Madura masih belum menyerah mengejar pembuktian
target klastik ekivalen Tuban Fm (Early-Middle Miocene) di Pulau
Madura. Ada temuan2 kecil yang tak ekonomis. Mereka mesti bergerak
cepat sebab berlomba dengan terminasi blok.
Klastik Ngimbang yang produktif di Pagerungan tak semudah sangkaan
untuk mengejar pelamparannya ke timur lapangan Pagerungan. Sebuah
sumur dibor dan gagal sebab objektif tersebut banyak menyerpih ke
timur. Di onshore, pelamparan formasi produktif Ngimbang di Suci, juga
gagal didelineasi Pertamina.
Klastik Ngrayong belum dikerjakan lagi. Ada yang mau dikerjakan di
Selat Madura sebagai deepwater deposits, tetapi risiko lumayan besar,
mesti ada seismik 3D kalau mau mengejar submarine fan atau
feeder-channel Ngrayong di Selat Madura. Santos punya, tetapi belum
mau mengetesnya, sementara masih senang mengerjakan Jeruk reef dan
sejenisnya. Di onshore, JOB Pertamina-PetroChina Tuban mau
mendelineasi formasi ini di sebuah lapangan tua barat Surabaya.
Klastik Tawun belum dikerjakan lagi sejak BP Bawean mengebor dua
sumurnya yang penuh dengan CO2 di Blok Bawean (Titan-1 dan Calypso-1).
Klastik-karbonat (globigerinid sandstones atau globigerinids
limestone) Paciran atau Mundu dikerjakan sebagai sumur2 delineasi di
Oyong Santos. EMP Kangean belum bergerak dengan Terang Sirasun di
Kangean.
Nah, itu sedikit ulasan pengejaran target non-Kujung di Jawa Timur.
Genesis biogenic gas di Jawa Timur menarik dikaji kalau kita punya
data isotop karbon dan deuterium yang lengkap. Kebetulan saya punya
sehingga bisa membangun model genesisnya. Sebagian kajian itu saya
publikasi di IPA belum lama yl (Satyana & Purwaningsih, 2003) beserta
dengan kajian regional geochemistry East Java Basin. Gas di Tawun
Kepodang jelas biogenik dengan kandungan C1 99.82 % dan isotop karbon
-67 per mile dan isotop deuterium -198 per mile. Tetapi, gas di Prupuh
Kepodang menunjukkan percampuran dari sumber termogenik. Gas di
Paciran Terang Sirasun juga biogenik dengan C1 99.5 % dan isotop
karbon serta deuterium masing2 -65 per mile dan -185 %.
Kemudian, genesis gas biogenik di Kepodang dan Terang Sirasun lain
proses dan mekanismenya. Data gas geochemistry menunjukkan bahwa
Terang Sirasun biogenic gas akibat carbonate reduction di lingkungan
marine atau hypersaline lacustrine karena isotop deuterium metan-nya
lebih berat, sedangkan gas biogenik Kepodang akibat bacterial
methyl-type fermentation di terrestrial fresh water (lacustrine)
dengan isotop deuterium metan yang lebih negatif. Ini sesuai dengan
setting geologi regional Jawa Timur yang umumnya miring ke arah timur,
sehingga lebih marin ke timur, terutama sejak Neogen sampai sekarang.
salam,
awang
[EMAIL PROTECTED] wrote: