Pak Andang,
   
  Preferensi nomor atom ganjil terhadap nomor atom genap cukup dapat dilihat di 
GC scan untuk lingkungan manapun, dan jelas fingerprint merefleksikan sesuatu 
tentang deret ini, kalau tidak tak mungkin ada formulasi preferensi ini.
   
  Minyak Kangean, seperti posting2 saya sebelumnya, memang menunjukkan anomali, 
tetapi sekali lagi bukan anomali marin seperti yang Anda sebutkan, tetapi 
anomali sangat khas dominasi terestrial. Marine oil dari type II kerogen di 
Indonesia akan punya average pr/ph 1.22, pris/nC17 0.85, dan C31/C19 (wax 
ratio) 0.25. Dan nilai2 kisaran ini tak muncul untuk minyak Kangean. Intensitas 
atom2 nomor tinggi di minyak Kangean malah menggelembung (C24-C30), suatu hal 
yang tidak akan terjadi untuk minyak2 marin. Saya berpendapat bahwa minyak 
Kangean sangat terestrial.
   
  Tentang oleanane, saya menggunakan referensi dari Peters et al. (1999) - 
Geochemistry of crude oils from Eastern Indonesia - AAPG Bull v 83 n 12, p. 
1927-1942, December 1999. Dan, cut off olenane/hopane 0.20 berasal dari 
publikasi ini. Saya pikir, ini cut off yang logis sebab di Indonesia Timur, 
seperti kita tahu, kita bisa meng-exercise dengan baik minyak Mesozoic vs 
Tersier berdasarkan kandungan olenanane karena keduanya terjadi. Di Salawati 
Basin, yang pernah dulu dianggap minyaknya berasal dari sumber pra-Tersier 
(Phoa and Samuel, 1984, IPA), saya dengan yakin bahwa minyaknya semua berasal 
dari Klasafet/Kais yang berumur Miosen (itu berdasarkan pemelajaran oil 
geochemistry yang saya lakukan di Salawati Basin 1997-2000), lihat di publikasi 
Satyana et al. (2000)-IPA.
   
  Saya suka kalau di SE Sundaland ini ada play Mesozoic, hanya saya belum 
mendapatkan buktinya yang kuat.
   
  salam,
  awang

Andang Bachtiar <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
  Pak Awang, kalau anda lihat kembali gambar finger-print berbagai jenis 
minyak East-Java di paper anda yang anda bandingkan dg typical 
fluvio-deltaic chromatogram (Robinson, 1987), maka akan anda lihat anomali 
(bukan dominasi kesamaan) di finger-print minyak dari Kangean (Phillip, 
1991). Selain itu, finger print tersebut juga tidak merefleksikan apapun 
tentang preferensi odd carbon number chains (kecuali kalau mata kita sangat 
awas menelisik frekuensi garis-garis chromatogram yang diassign berdasarkan 
rentention time-nya untuk mendapatkan kalibrasi nomor karbon tsb). Point 
saya: mungkin saja C24-C30 peak yang saya lihat pada minyak Kangean yg anda 
tampilkan dari Phillips, 1991 tersebut berkaitan dengan dominasi long-chain 
lengths yg berikutnya juga terkait dengan waxiness, tetapi yang pasti, 
minyak Kangean tersebut secara kasat mata finger-print-nya menampakkan peak 
yang sangat berbeda dengan minyak fluvio-deltaik lainnya yang anda tampilkan 
dalam gambar tsb.

Menurut saya, justru kunci menuju ke discovery konsep-konsep baru di daerah 
frontier seperti segitiga Jawa Timur - Kalimantan - Sulawesi ataupun di 
ujung timur Cekungan Jawa Timur tersebut adalah mencoba mencari "anomali" 
dari "sistematika yang mendominasi". Anomali finger - print minyak Kangean 
(Phillips, 1991), anomali delta C13 saturate vs delta C13 aromatics, anomali 
pr/C17 vs ph/c18, dan anomali maturity "basement" yang hanya 1-1,2%Ro di 
daerah tinggian Sepanjang tentunya dapat dijadikan starting point untuk 
meneliti konsep2 play lebih luas / dalam di daerah tsb.

Permasalahan oleanane vs hopane yang "typical" Tersier (>0.20) mungkin 
sudah saatnya untuk agak diketatkan sedikit pemakaiannya di Indonesia bagian 
Timur, dimana kemungkinan kita juga bisa mendapatkan angka rasio yang 
mendekati atau lebih kecil dari 0.20 untuk minyak2 yang dihasilkan dari 
endapan2 Mesozoic - Cretaceous (toch pada saat itu angiosperm juga sudah 
mulai ada).

Pemodelan yang pernah saya lakukan untuk endapan2 Jurasic - Cretaceous di 
beberapa mini Mesozoicum basins di ujung timur Cekungan Jawa Timur tersebut 
menunjukkan bahwa pada umumnya minyak Mesozoicum paling potential untuk 
mengisi reservoir-reservoir Eocene-Early Oligocene karena sejarah 
kematangannya yang sudah sangat lanjut. Tetapi khusus di daerah Tinggian 
Sepanjang ada indikasi bahwa minyak-minyak Mesozoicum tersebut dapat juga 
mengisi reservoir sampai ke level Kujung.

Salam

Andang Bachtiar
Exploration Think Tank Indonesia

----- Original Message ----- 
From: "Awang Satyana" 
To: ; 
Sent: Wednesday, February 22, 2006 12:22 PM
Subject: Re: [iagi-net-l] reservoir clastics di NE Java Basin


> Pak Andang,
>
> Justru peak di C24-C30 itu menunjukkan terrestrially sourced oil, 
> menunjukkan dominasi long chain lengths (wax) dan preferensi odd carbon 
> number chains. Dan X plot yang saya lakukan untuk parameter2 lain 
> menunjukkan tak ada dominasi marin di wilayah East Java, termasuk Kangean.
>
> Oil grouping yang saya lakukan memang tidak menggunakan PCA dan itu saya 
> sebut di paper sebagai further studies yang dibutuhkan (hierarchical 
> cluster analysis - dendogram, lihat section interpretation methods). 
> Tetapi, analisis dendrogram pun tetap harus dirasionaliasasi dengan 
> setting geologi.
>
> Kalau ada Mesozoic source di sini, kenapa semua minyak asal Kangean 
> memunculkan olenanane di triterpane m/z 191 dan bikin rasio dengan hopane 
> yang khas Tersier ( > 0.20) ? Tak ada oil di Kangean yang mirip Aliambata 
> seeps di Timor atau Oseil oil yang memang asalnya dari Jurassic marine 
> source. Lagi pula, kalau mikrokontinen Kangean diasumsikan dari utara 
> Gondwana, ia akan mengikuti prosedur rifting yang berjalan di sini, yang 
> bisa diwakili oleh Jurassic Plover yang fluvio-deltaik bukan marin. 
> Prosedur peri-rift graben pasti terestrial dan bukan marin.
>
> Dan, umumnya sumur2 di East Java berakhir di basement yang metamorphic 
> atau metasedimen. Ada pre-Ngimbang di Pagerungan, tetapi betul seperti 
> yang dibilang Pak Bambang, dominan meta-sedimen.
>
> salam,
> awang
>
> Andang Bachtiar wrote:
> Pak Awang,
>
> Saya melihat konsistensi "marine" classification dari minyak-minyak di
> offshore bagian timur Cekungan Jawa Timur ini pada x-plot pristane/n-C17 
> vs
> phytane/n-C18, x-plot delta C13 aromatics vs delta C13 saturates , dan 
> juga
> dari finger-print C5+ chromatogram yang menunjukkan peak di sekitar 
> C24-C30
> yang lebih besar dari peak di sekitar C17-an.
>
> Karena terlalu banyaknya parameter yang bisa diplot, di-cross-plot, dan
> diklassifikasikan, dalam dunia petroleum geochemistry kita seringkali
> menggunakan Principal Component Analyses atau yang sederhana: STAR DIAGRAM
> untuk membuat klassifikasi yang lebih "sound" dan bisa mengcover semua
> komponen/parameter determinan. Dalam hal ini memang saya belum melihat itu
> dilakukan untuk analisis klasifikasi minyak di Cekungan Jawa Timur ini. 
> Jadi
> interpretasi bisa bervariasi, tergantung sudut pandang dan tendensi 
> hipotesa
> yang hendak kita buktikan.
>
> Khusus untuk statement source-rock dari pre-Ngimbang; saya merujuk pada
> definisi "pre-" yang lebih luas, yaitu bisa Eocene Awal, Paleocene, atau
> bahkan Mesozoikum (especially Jurassic). Hal ini sangat tergantung dari
> pre-assumption kita tentang bagaimana sejarah tektonik daerah timur 
> Cekungan
> Jawa Timur tersebut. Konsep tektonik yang saya hipotesakan disini adalah:
> Mesozoicum basement di bagian timur Cekungan Jawa Timur memang adalah
> semacam micro-continent yang detached dari Gondwana/Australia, tetapi
> sepanjang sejarah pergerakannya mereka tidak terkubur terlalu dalam 
> sehingga
> sedimen-sedimen Mesozoic-nyapun tidak harus mengalami metamorfosa seperti
> halnya basement2 di Indonesia Bagian Barat lainnya. Termasuk diantara
> sedimen-sedimen Mesozoic tersebut adalah Jurassic-Cretaceous marine
> source-rock yang mungkin setara dengan source-rock serupa di Timor, Vulcan
> Sub-basin, maupun di Papua. Kalau anda periksa maturity di "basement" 
> L-46-1
> mustinya ada tanda-tanya besar disitu: kenapa maturity-nya tidak setinggi
> typical metamorphic / meta-sediment basement? Implikasinya; lebih jauh 
> lagi:
> kemungknan akan ada Mesozoic Play juga di Cekungan Jawa Timur bagian timur
> ini (Uppst!!). Just wait and see.
>
> Salam
>
> Andang Bachtiar
> Exploration Think Tank Indonesia
>
>
> ----- Original Message ----- 
> From: "Awang Satyana"
> To: ;
> Sent: Wednesday, February 22, 2006 9:10 AM
> Subject: Re: [iagi-net-l] reservoir clastics di NE Java Basin
>
>
>> Pak Andang,
>>
>> Ada sedikit sifat marin sebagai varian-nya, tetapi lebih dominan
>> terestrial. Tak ada yang konsisten menunjukkan sifat marin pada semua
>> karakter minyaknya. L46-1 dan L46-2 dengan pr/ph 4.19 dan 7.72 serta
>> sebaran steran C27-C28-C29 yang didominasi C29 sekitar 50 % dan S content
>> yang 0.09-0.7 tak meyakinkan untuk menaruhnya di lingkungan marin, 
>> apalagi
>> full marin, ini lebih terestrial.
>>
>> Dan, pre-Ngimbang tak mungkin marin, sebab pre-Ngimbang adalah
>> pre-rifting, maka ia akan full nonmarin. Semua sedimen pre-rift adalah
>> nonmarin, sebab semua basement tempat fifting berikutnya terjadi adalah
>> uplifted.
>>
>> Adanya gas Pagerungan di Kangean dengan kondensatnya yang punya pr/ph
>> 13.20 dan S content 0.01 % dengan 13 sat dan aromat -27 dan -25 per mile
>> sudah sangat meyakinkan bahwa source-nya terrestrial.
>>
>> salam,
>> awang
>>
>> Andang Bachtiar wrote:
>> Dari paper Satyana & Purwaningsih 2003 ttg pengkelasan tipe minyak di
>> Jawa
>> Timur saya menginterpretasikan bahwa masih ada satu jenis source-rock 
>> lagi
>> berkembang di Cekungan Jawa Timur, yaitu yang berumur Pre-Ngimbang dan
>> mempunyai sifat "marine" (baik dari finger print, pristane phytane, 
>> maupun
>> delta C13 arom - sat nya). Jadi source rock kemungkinan bukan hanya
>> Ngimbang
>> terrestrial-MM, Kujung III, dan Tuban marine saja. Di sumur2 L46-1, 
>> L46-2,
>> JS53A dan Sepanjang Island (dalam plot S&P, 2003) minyak ditemukan
>> terperangkap di Ngimbang dan karakterisasinya lebih merupakan "marine" 
>> oil
>> daripada "terrestrial" oil. Besar kemungkinan asalnya dari pre-Ngimbang
>> marine deposit atau malahan dari sedimen-sedimen pra-Tersier.
>>
>> Salam
>>
>> adb
>>
>>
>> ----- Original Message ----- 
>> From: "Awang Harun Satyana"
>> To:
>> Sent: Tuesday, February 21, 2006 4:13 PM
>> Subject: RE: [iagi-net-l] reservoir clastics di NE Java Basin
>>
>>
>> Pak Rovicky,
>>
>> Kita pertama harus mengkarakterisasi minyak2 yang sekarang ada di
>> existing fields, lalu membalikkannya ke kemungkinan tiga sources itu.
>> Dari Ngimbang ia akan terestrial-marginal marin, olenanane sedikit. Dari
>> Kujung III shales ia akan terrestrial-marginal marin oleanane bertambah.
>> Dari Tuban shales ia akan marin dan olenanane melimpah. Minyak asal
>> Ngimbang dan Kujung III akan sulit dibedakan, tetapi bisa didekati
>> dengan mengetahui Ro minyak sebab minyak asal Ngimbang akan lebih
>> earlier generated dibanding Kujung III, maka Ro asal Ngimbang relatif <
>> Ro asal Kujung; kalau ada data biomarker aromatik MPI (methyl
>> phenantherene) index bisa dilakukan. Beberapa pemodelan dengan biomarker
>> ini sudah saya lakukan dan confirmed teori ini.
>>
>> Berdasarkan data biomarker, volumetrik, dan modeling kematangan : urutan
>> kontributor terbesar ke terkecil untuk source minyak adalah : 1st
>> Ngimbang, 2nd Kujung, 3rd Tuban.
>>
>> Di bawah Madura Island, sebelum pulau ini terangkat dan terdeformasi
>> hebat oleh inversi RMKS, adalah kitchen yang besar. Source-nya dari
>> Ngimbang, hanya untuk naik ke atas mengisi ke struktur2 di Pulau Madura
>> ia akan sulit sebab deformasi hebat telah mematahkan dan menyulitkan
>> semua konduit. Harus dicari earlier migration yang naik via regional
>> updip ke utara sesaat sebelum inversion terjadi. Kandidat terbesar
>> adalah Blok Ketapang.
>>
>> Biogenic gas tak mungkin datang dari source yang temperaturnya mencapai
>>>80 deg C sebab bakteri tak mungkin hidup di atas 80 deg C, begitu juga
>> temperatur reservoirnya tak boleh melebihi 80 deg C, kalau lebih, ia
>> akan cracking ke thermogenic gas. Gas di Kepodang asal Tawun shales,
>> bisa dimodeling kapan ia generasi biogenic gas dan kapan mengisi
>> Kepodang. Hanya satu syarat : tak boleh melebihi temperatur 80 deg C.
>> Maka, tak mungkin biogenic gas dihasilkan dari Ngimbang sebab Ngimbang
>> sudah overmature untuk biogenic gas. Kalau mixing sih OK saja, seperti
>> terjadi di Oyong, ada biogenic-thermogenic gas, ada juga oil, atau di
>> Tanggul Angin Lapindo. Tak perlu TOC cut off tinggi untuk biogenic gas
>> generation, 1.0 % TOC sudah cukup, tetapi ia perlu rapid deposition dan
>> restricted basin.
>>
>> Syn-rift graben, sulit memang datingnya sebab Eocene Ngimbang kebanyakan
>> non-marine dan data polen-nya belum lengkap. Tetapi evaluasi regional
>> menunjukkan memang bisa makin muda ke timur. Saya sementara berpendapat
>> pembentukan graben2 di East Java ini akibat ikutan rifting di Makassar
>> Strait yang bersamaan waktunya dengan gerak roll-back akibat perlambatan
>> subduction di wilayah ini pada Eosen, dan sama sekali tak berhubungan
>> dengan RMKS sebab RMKS post mid-Miocene. Tapi RMKS mengover-print-nya
>> dengan cara makin menenggelamkan atau mengangkatnya iya. Karena gerak
>> rifting Makassar dan rollback basement berjalan dari barat ke timur,
>> maka umur rifting makin muda ke timur.
>>
>> Salam,
>> awang
>>
>> -----Original Message-----
>> From: Rovicky Dwi Putrohari [mailto:[EMAIL PROTECTED]
>> Sent: Tuesday, February 21, 2006 3:47 PM
>> To: [email protected]
>> Subject: Re: [iagi-net-l] reservoir clastics di NE Java Basin
>>
>>
>> Nah saya ada pertanyaan buat Pak Awang yg sudah nguprek2 Jawa Timur ini.
>>
>> Ada 3 kemungkin source di EJB (East Java Basin).
>> - Eocene Ngimbang (synrift)
>> - Oligocene Kujung Shale
>> - Miocene Tuban
>>
>> Dari ketiganya, mana yg paling dominan menyumbang minyak2 yg sudah
>> diketemukan selama ini (volumetric) ? Saya tidak menemukan possible
>> kitchen di P Madura, tetapi data2 sumur menunjukkan banyaknya oil show
>> serta oil seep. Minor oil di Pulau Madura ini source-rock dan kitchennya
>> dari mana ?
>>
>> Tentang Biogenic Kepodang ini juga krusial, apakah biogenic gas di
>> Kepodang ini source-rocknya juga dari Ngimbang shale (synrif?) atau di
>> ...?
>>
>> Terus terang, karena keterbatasan saya untuk data biostratigrafi, saya
>> kesulitan menghubungkan kronologis dari Synrift Ngimbang dari barat ke
>> timur mulai dari Pati-Muriah-WestFlorence, Tuban Trough - East Florence,
>> Central Deep, dan meloncat ke Ngimbang di Kangean Block. Apakah syrift2
>> ini satu generasi atau beda generasi, secara umur sepertinya yg ditimur
>> lebih muda (cmiiw) ?
>>
>> Kesulitan ini ditambah dengan adanya RMKS Wrench Fault yang selalu
>> mempengaruhi orientasi patahan2 tua yg terjadi pada kala Eocene.
>>
>> Komen anda sangat saya harapkan
>> Thanx
>>
>> RDP
>> On 2/21/06, Awang Satyana wrote:
>>> Abah,
>>>
>>> Lapindo dengan sumur dalamnya, Banjar Panji-1 (sumur di Indonesia
>>> yang paling dekat jaraknya dengan jalan tol, Surabaya-Porong, paling
>>> tak sampai 2 km) punya target utama Kujung-I alias Prupuh reef. Ini
>>> merupakan reef paling selatan dari jalur2 pinnacle reefs di Jawa
>>> Timur. Jalur ini di offshore-nya telah terbukti dengan penemuan gas
>>> dan kondensat di BD-1. Semoga Banjar Panji-1 sukses.
>>>
>>> Target klastik memang sementara "kalah" dengan target Kujung yang
>>> "booming" sejak akhir 1990-an. Tetapi, target klastik masih menarik
>>> tentu. JOB Pertamina-Madura masih belum menyerah mengejar pembuktian
>>> target klastik ekivalen Tuban Fm (Early-Middle Miocene) di Pulau
>>> Madura. Ada temuan2 kecil yang tak ekonomis. Mereka mesti bergerak
>>> cepat sebab berlomba dengan terminasi blok.
>>>
>>> Klastik Ngimbang yang produktif di Pagerungan tak semudah sangkaan
>>> untuk mengejar pelamparannya ke timur lapangan Pagerungan. Sebuah
>>> sumur dibor dan gagal sebab objektif tersebut banyak menyerpih ke
>>> timur. Di onshore, pelamparan formasi produktif Ngimbang di Suci, juga
>>
>>> gagal didelineasi Pertamina.
>>>
>>> Klastik Ngrayong belum dikerjakan lagi. Ada yang mau dikerjakan di
>>> Selat Madura sebagai deepwater deposits, tetapi risiko lumayan besar,
>>> mesti ada seismik 3D kalau mau mengejar submarine fan atau
>>> feeder-channel Ngrayong di Selat Madura. Santos punya, tetapi belum
>>> mau mengetesnya, sementara masih senang mengerjakan Jeruk reef dan
>>> sejenisnya. Di onshore, JOB Pertamina-PetroChina Tuban mau
>>> mendelineasi formasi ini di sebuah lapangan tua barat Surabaya.
>>>
>>> Klastik Tawun belum dikerjakan lagi sejak BP Bawean mengebor dua
>>> sumurnya yang penuh dengan CO2 di Blok Bawean (Titan-1 dan Calypso-1).
>>
>>> Klastik-karbonat (globigerinid sandstones atau globigerinids
>>> limestone) Paciran atau Mundu dikerjakan sebagai sumur2 delineasi di
>>> Oyong Santos. EMP Kangean belum bergerak dengan Terang Sirasun di
>>> Kangean.
>>>
>>> Nah, itu sedikit ulasan pengejaran target non-Kujung di Jawa Timur.
>>>
>>> Genesis biogenic gas di Jawa Timur menarik dikaji kalau kita punya
>>> data isotop karbon dan deuterium yang lengkap. Kebetulan saya punya
>>> sehingga bisa membangun model genesisnya. Sebagian kajian itu saya
>>> publikasi di IPA belum lama yl (Satyana & Purwaningsih, 2003) beserta
>>> dengan kajian regional geochemistry East Java Basin. Gas di Tawun
>>> Kepodang jelas biogenik dengan kandungan C1 99.82 % dan isotop karbon
>>> -67 per mile dan isotop deuterium -198 per mile. Tetapi, gas di Prupuh
>>
>>> Kepodang menunjukkan percampuran dari sumber termogenik. Gas di
>>> Paciran Terang Sirasun juga biogenik dengan C1 99.5 % dan isotop
>>> karbon serta deuterium masing2 -65 per mile dan -185 %.
>>>
>>> Kemudian, genesis gas biogenik di Kepodang dan Terang Sirasun lain
>>> proses dan mekanismenya. Data gas geochemistry menunjukkan bahwa
>>> Terang Sirasun biogenic gas akibat carbonate reduction di lingkungan
>>> marine atau hypersaline lacustrine karena isotop deuterium metan-nya
>>> lebih berat, sedangkan gas biogenik Kepodang akibat bacterial
>>> methyl-type fermentation di terrestrial fresh water (lacustrine)
>>> dengan isotop deuterium metan yang lebih negatif. Ini sesuai dengan
>>> setting geologi regional Jawa Timur yang umumnya miring ke arah timur,
>>
>>> sehingga lebih marin ke timur, terutama sejak Neogen sampai sekarang.
>>>
>>> salam,
>>> awang
>>>
>>> [EMAIL PROTECTED] wrote:
>
> ---------------------------------------------------------------------
> To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
> To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
> Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
> IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
> IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
> Komisi Sedimentologi (FOSI) : Ratna Asharina 
> (Ratna.Asharina[at]santos.com)-http://fosi.iagi.or.id
> Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi(sunardi[at]melsa.net.id)
> Komisi Karst : Hanang Samodra(hanang[at]grdc.dpe.go.id)
> Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo(soeryo[at]bp.com)
> Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin(ridwan[at]bppt.go.id atau 
> [EMAIL PROTECTED]), Arif Zardi Dahlius(zardi[at]bdg.centrin.net.id)
> Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono(anugraha[at]centrin.net.id)
> ---------------------------------------------------------------------
>
>
>
>
> ---------------------------------
> Yahoo! Autos. Looking for a sweet ride? Get pricing, reviews, & more on 
> new and used cars. 

---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
Komisi Sedimentologi (FOSI) : Ratna Asharina 
(Ratna.Asharina[at]santos.com)-http://fosi.iagi.or.id
Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi(sunardi[at]melsa.net.id)
Komisi Karst : Hanang Samodra(hanang[at]grdc.dpe.go.id)
Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo(soeryo[at]bp.com)
Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin(ridwan[at]bppt.go.id atau [EMAIL PROTECTED]), 
Arif Zardi Dahlius(zardi[at]bdg.centrin.net.id)
Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono(anugraha[at]centrin.net.id)
---------------------------------------------------------------------



                
---------------------------------
 Yahoo! Mail
 Use Photomail to share photos without annoying attachments.

Kirim email ke