Informasinya belum tentu benar ? Tak ada yang serakah. Media massa
memang sumber informasi, tetapi belum tentu akurat.
Kemarin sore, pukul 16.00, datang telepon dan sms dari Metro TV untuk
mewawancarai saya di acara mereka pukul 18.00 tentang semburan lumpur di
sumur Banjar Panji-1 Lapindo Brantas. Tetapi, terpaksa saya tolak karena
pada saat yang sama tim BPMIGAS dan Lapindo mesti ke Komisi VII DPR
untuk urusan yang sama.
Apa yang tengah terjadi dengan semburan lumpur di Banjar Panji-1 ? Tidak
ada yang bisa memastikan, sehingga penanganannya pun tak semudah blow
out seperti yang pernah terjadi di beberapa sumur (Randublatung,
Pasirjadi, Anggur, dll.). Mari kita lihat faktanya dulu.
Kita punya fakta-fakta : lumpur yang tersembur adalah lumpur subsurface
(bukan lumpur pengeboran), analisis nannofosil di lumpur menunjukkan
umur sekitar Pliosen - sama dengan kandungan fosil di kedalaman
2000-6000 ft di sumur tersebut, ppm cloride sekitar 10.000, lumpur
mengandung material volkanik, di awal2 semburan lumpur mengeluarkan gas
H2S, temperatur lumpur sekitar 40-50 deg C. Saat kejadian gempa Yogya 27
Mei 2006, dua stasiun BMG di Surabaya mencatat goncangan di Surabaya
II-III MMI dengan momen magnitude 3-3.9 Mw (skala Richter lebih kecil
sedikit); di stasiun Karangkates tercatat III-IV MMI dengan magnitude
4-4.9 Mw. Data seismik regional di wilayah ini menunjukkan beberapa
gejala diapir. Ada lima titik semburan lumpur dan semuanya di luar titik
sumur, permulaan semburan terjadi sejak Senin 29 Mei 2006-Kamis 1 Juni
2006.
Sesar regional di wilayah ini adalah strike-slip berarah BD-TL yang
memotong sampai ujung barat Madura dan ke selatan sampai ke Pegunungan
selatan. Flower structuring bisa diinterpretasikan terjadi juga di
wilayah Banjar Panji. Mengapa BPMIGAS dua tahun lalu menyetujui pemboran
sumur ini ? Karena : sumur ini merupakan sumur pertama yang akan dibor
Lapindo Brantas untuk mengetes deep prospect di Kujung I atau Prupuh
reef, petroleum system-nya memenuhi syarat, analogue discoveries sudah
sangat banyak (Banyu Urip, Mudi, Sukowati, BD, dll.), kalau sumur ini
sukses rentetan implikasi kesuksesannya akan panjang. Drilling hazard ?
Ada tentu, overpressure dari diapir dan kita sudah tau sebab ini wilayah
rapid sedimentation di sekuen Pliosen.
Sumur dibor, ada beberapa hambatan overpressure, tetapi bisa diatasi.
Set casing, hasil LOT di shoe casing terakhir dan perjalanan profil MW
versud depth menunjukkan tak perlu set casing baru di sekuen bawahnya
sampai menembus target utama Prupuh (Set casing begitu masuk target
karbonat sudah sangat biasa dilakukan di Salawati Basin, no problem).
Target utama Prupuh ditembus (mungkin sudah tembus, walaupun turun cukup
signifikan dibandingkan prognosis) dan loss (biasa terjadi kan di porous
reef yang baru terbuka). Sumur distop mengatasi loss dan beberapa
pekerjaan pipe sticking. Lalu keluarlah semburan lumpur, gas, air
pertama beberapa ratus meter dari kepala sumur, saat itu sudah dua hari
lewat gempa Yogya. Dan semburan2 pun berentet terjadi sampai lima lokasi
membentuk deretan yang lebih kurang BBD-TTL. Tentu saja rig segera
dievakuasi dan BOP ditinggalkan di kepala sumur. Setelah itu, adalah
cerita mengatasi banjir lumpur panas.
Dari mana sumber lumpur itu ? Ini penafsiran saya berdasarkan hard data
analisis lumpur, data geologi sumur, geologi regional, data seismik, dan
analog dengan kejadian yang mirip2 di Porong (purba), Maumere, South
Caspia, dan Peloponnesus Basin di Yunani.
Yang tengah terjadi di Banjar Panji adalah ekstrusi liquefied clay yang
berasal dari Upper Kalibeng clay di kedalalaman 4000-6000 ft yang
terlikuifikasi akibat clay tersebut mengalami sediment failures,
kehilangan shear strength-nya, kehilangan bearing capacity-nya. Semburan
terjadi karena liquefied clay ini punya tekanan hidrostatik dan pore
pressure, lapisan liquefied clay ini terpotong-potong sesar2 kecil
(fissures) yang sampai ke permukaan. Sesar2 ini adalah vents, sekali
menemukan vents maka akan terjadi release pressure agar terjadi
equilibrium. Suatu liquefaction akan mengalami tiga macam failures :
lateral spreads, flow failures, loss of bearing strength. Ini semua
telah terjadi di Banjar Panji.
Pertanyaannya : mengapa sampai tiba2 terjadi liquefaction ? Semua kasus
liquefaction yang pernah dilaporkan terjadi dan pernah ditulis di paper2
atau textbook adalah karena adanya sudden cyclic shocks/sudden cyclic
loads. Gempa adalah penyebab utama. Penyebab lain bisa storm waves,
rock slides, influx ground water yang tiba2.
Sebelum liquefaction, tanah atau litologi akan kompak dan punya daya
dukung oleh pembebanan, secara mikroskopis, kompaksinya akan dihasilkan
oleh grains to grains batuan yang saling bersentuhan, ia akan rigid,
punya tekanan hidrostatik sebesar kedalaman lapisan ini terdapat, pore
pressurenya akan terjaga di bawah hidrostatic pressure. Tetapi, bila ada
sudden clyclic loads yang cukup besar, interstitial pore water akan
bertambah tekanannya minimal menyamai hidrostatik pressure-nya, dan
mulailah tekanan air dari pori mengganggu grain to grain touch lalu
merusakkannya. Kompaksi langsung hilang, bearing capacity hilang, shear
strength hilang, sediment failures, ia akan segera jadi dense slurry -
bubur pekat- yang berkelakuan seperti fluida.
Mengapa gempa bisa menyebabkan liquefaction ? Karena P dan S wave-nya
akan mendistorsi struktur granular pori, sehingga ruang pori akan
runtuh. Kolaps pori ini akan menghilangkan grain to grain contact
(bayangkan bangunan rumah yang runtuh, di skala butiran batuan pun
itulah yang terjadi). Kalau pori runtuh, terjadilah fluidisasi. Di
samping itu, P wave diketahui meningkatkan pore water pressure pada
setiap passage of shock waves.
Dalam kasus Banjar Panji, saya percaya gempa Yogya mereaktivasi sesar2
di atas Prupuh di sekuen Mio-Pliosen sampai Plistosen (Semilir/Lower
Kalibeng ? Upper Kalibeng, dan Pucangan). Gelombang gempa ini telah
menjadi sudden cyclic loads memicu liquefaction di Upper Kalibeng
kedalaman 4000-6000 ft karena sekuen inilah yang paling labil dan siap
kehilangan bearing capacitynya. Lalu, liquefied clay ini menyembur ke
permukaan via venting faults membawa H2S dari Prupuh carbonates yang
baru terbuka karena terhubung oleh sesar juga. Apakah ada efek drilling
operation dalam kasus semburan lumpur ini ? Harus ditanyakan dulu,
apakah tumbukan bit atau overpull torque bisa menggenerasikan P dan S
wave seperti yang digenerasikan earthquake yang akan membuat sediment
failures ?
Kesimpulan saya berbeda dengan Media Indonesia, kondisi geologi dan
gempa lah yang lebih dominan mendorong ekstrusi lumpur di Banjar Panji.
Tak ada lumpur disemburkan dari titik sumur, semua lumpur keluar dari
sesar2 di sekelilingnya. Tentu, kegiatan drilling juga punya andil -
tapi bukan faktor dominan.
Di Yogyakarta, dilaporkan juga di rekahan2 baru yang merentang di
jalan-jalan raya dan wilayah perumahan penduduk, terjadi ekstrusi
lumpur. Liquefaction adalah gejala biasa suatu gempa.
Kesimpulan saya tentu bisa berbeda dengan yang lain. Silakan dicermati.
Hanya, bencana tetap bencana, saya juga sedih, kok berturut-turut,...dan
saya melihat, tak akan mudah mengatasinya...
Salam,
awang
-----Original Message-----
From: Syaiful Jazan [mailto:[EMAIL PROTECTED]
-----Original Message-----
From: OK Taufik [mailto:[EMAIL PROTECTED]
Sent: Tuesday, June 13, 2006 8:25 AM
To: [email protected]
Subject: Re: [iagi-net-l] 'Semburan' Lumpur dan gas didekat jaln tol SBY
Diambil dari http://www.media-indonesia.com/
Bagian Komentar Editorial
TRUE STORY-1
Mudah2an dengan tulisan ini bisa menjelaskan sejarah kejadiannya:
Master plan untuk sumur ini adalah pada kedalaman 8500 Ft akan di set
cassing dan di-cement, sehingga apabila terjadi semburan gas, kondisi
sumur sudah aman karena arah semburan tdk akan ke formasi (menyamping)
tapi bisa diarahkan ke atas dan semburan gas tsb mudah untuk di "kill"
(kill well). Tetapi, pihak Lapindo tetap ngotot untuk terus ngebor
sampai formasi limestone (gas) ditemukan tanpa memikirkan saftey-nya
jika terjadi semburan. Dalam hitung2an bisnis artinya:masih ingin ketemu
formasi gas yg lebih besar. Sampai kedalaman 9000Ft, pihak Lapindo
diingatkan lagi untuk set casing karena semua orang di lokasi sudah
ketar-ketir apabila terjadi semburan, blm ada proteksinya,lagi2, Lapindo
menolaknya.Akhirnya di +/- 9200, terjadi loss total(indikasi telah masuk
formasi gas) dan mulai terjadi kepanikan. Saat itupun sebenarnya keadaan
masih bisa dikendalikan, harusnya langsung dipompakan cement untuk plug
sumur, lagi2 Lapindo masih berpikir untuk menyelamatkan sumur yg sudah
di bor dengan biaya $$$million. Jujur saja, untuk menghentikan semburan
lumpur harus dilakukan pengeboran miring ke arah formasi gas tsb,utk
proses ini akan butuh biaya $$$million dan baru bisa dilakukan setelah
peralatan penunjang ada (rig, cement unit, dll), mungkin 3-4 bulan
lagi,tergantung kecepatan Lapindo utk menyiapkan dana, teknisi, kontrak,
dll untuk mulai pengeboran miring.Untuk mengaitkan gempa sbg penyebabnya
adalah mungkin, tapi itu hanya 1% kemungkinannya.Mudah2an tulisan ini
bisa memberikan gambaran secara lebih jujur ke media tanpa harus ada yg
ditutup-tutupi.