mengapa pit iagi digambarkan sbg sosok yg mewah dan jauh di langit, lepas dari bumi alias masyarakat? apakah dg pit iagi, dapat diartikan kita tidak memedulikan gempa yogya dan bencana lainnya? apakah dg pit iagi, kita dikarikaturkan sbg sedang bermewah-mewah?
kalo perlu, pit iagi bisa dilaksanakan tanpa dasi; bisa dilakukan tanpa makan prasmanan (bisa nasi bungkus aja bung). memang kita adalah gerombolan geologist, yg bebas berinterpretasi. namun menurut saya, tidaklah perlu interpretasi yg terlalu jauh. inilah jawaban saya, spontan (cuma dipikir sebentar, he..he..), atas wacana mas budi prasetyo. semoga berkenan. salam, syaiful *anggota iagi On 6/28/06, Budi Satrio <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Kawans, Apakah perlu PIT IAGI 2006 di Pekanbaru di tunda/batalkan ? Setelah letusan Merapi, Gempa Jogja dan semburan lumpur liar di Jatim yang telah membumikan geologi ke masyarakat dan memberikan dampak bencana ke rakyat banyak, serta memberikan dataran tantangan pekerjaan rumah yang luas kepada para ahli geologi Apakah kita akan membawa geologi ke awang-awang lagi dengan menyempitkan diri presentasi berbagai makalah di hotel dengan baju bersih berdasi serta makan siang prasmanan ? Apakah perlu PIT IAGI 2006 di Pekanbaru ditunda/dibatalkan ? Sekedar pemikiran dan semoga berkenan dengan tulisan ini. Budi Satrio
-- Mohammad Syaiful - Explorationist Mobile: 62-812-9372808 Email: [EMAIL PROTECTED] Exploration Think Tank Indonesia (ETTI) Head Office: Jl. Tebet Barat Dalam III No.2-B Jakarta 12810 Indonesia Phone: 62-21-8356276 Fax: 62-21-83784140 Email: [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]

