Benar Mas Andang,

kunci informasi yang paling bisa dipercaya adalah DDR!! itu data yang
paling mendekati benar/akurat. kalau data lain, masih bisa
interpretative (tapi bukan berarti tidak berguna). tapi kalau DDR itu
sangat jelas semuanya, dan bisa dirunut kejadian per kejadian (well
diary).

Well program vs actual memang tidak selalu harus sama. kalau program
selalu sama dgn actual, ya tdk perlu wsg/co-man untuk supervise well
tsb saat drilling. apalagi kalau masalah formasi dan top formasi,
kalau dari data seismic ke actual ada perbedaan depth pasti sangat
wajar itu.

masalah pasang casing perintahnya memang (menurut saya) harus based on
formation yang di-drill, bukan berdasarkan depth. kalau pasang casing
berdasarkan depth, itu pola pikir kubu drilling, bukan geoscientist!

paling yang disayangkan, kenapa POOH nya harus buru-buru sehingga
bikin swabbing. dan untuk masalah LOT, kok sepertinya terlalu mepet ya
dgn MW in. kalau MWin 15.4ppg (static), pasti ECD nya kan lebih besar
(minimal >1ppg). ini yang mungkin saya bingung, kok berani ya drill
dgn MW yang ECDnya = dgn LOT result? kecuali itu FIT (bukan LOT) yah
masih ok lah.

enw, Salute Mas buat penjelasannya..sangat logis dan Operation
based+gampang dimengerti. just wait n see Snubbing result.

/natan

On 7/7/06, Andang Bachtiar <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
MENGEBOR TANPA CASING (?) / LALAI MEMASANG CASING (?)

*andang bachtiar - arema*



Istilah "mengebor tanpa casing" atau "lalai memasang casing" - sehingga
mengakibatkan kejadian munculnya lumpur dalam skala massif ke permukaan -
yang dijadikan argumen dari tuduhan banyak pihak (termasuk kepolisian)
terhadap Lapindo merupakan istilah yang membingungkan. Karena sebenarnya
yang terjadi adalah: dalam mengebor sumur Banjar-Panji-1 Lapindo "sudah"
memasang casing 30 inchi pada kedalaman 150 feet, casing 20 inchi pada 1195
feet, casing (liner) 16 inchi pada 2385 feet dan casing 13-3/8 inchi pada
3580 feet (Bahan presentasi Lapindo Press Rilis ke wartawan, 15 Juni 2006).
Nah, ketika mereka mengebor lapisan bumi dari kedalaman 3580 feet sampai ke
9297 feet, mereka "belum" memasang casing 9-5/8 inchi yang rencananya akan
dipasang précis di kedalaman batas antara Formasi Kalibeng Bawah dengan
Formasi Kujung, yang dalam hal ini ternyata ketemunya di kedalaman 9297 feet
tersebut. Dalam teknik pengeboran lapisan bumi, tentunya kita tidak mengebor
lapisan baru dengan memasang casing menembus lapisan terlebih dulu, tapi
setelah menembus/membuka lapisan baru tersebut menjadi lubang - barulah kita
turunkan casing untuk menahan lubang supaya tidak runtuh, dan supaya dapat
digunakan dalam proses eksplorasi selanjutnya (testing, produksi dsb).



Ada juga argumen yang dipicu oleh bocornya surat internal partner (Medco) ke
media massa (Kompas, 14 Juni 2006) yang menyebutkan bahwa pada 18 Mei 2006,
Medco sudah mengingatkan Lapindo sebagai operator untuk konsisten pada
program, yaitu memasang casing 9-5/8 inchi di kedalaman 8500 feet. Maksudnya
mungkin setelah memasang casing untuk melindungi lubang dari 3580 s/d 8500
feet itu, maka diperkirakan operasi pemboran akan aman di
kedalaman-kedalaman berikutnya. Belum tentu juga! Pada saat itu mereka belum
mengetahui sampai berapa dalam lagi mereka harus mengebor dalam kondisi
tekanan tinggi (over-pressure) sehinga mencapai puncak Formasi Kujung yang
relatif tekanannya lebih rendah dari Formasi Kalibeng yang sedang mereka
tembus di kedalaman 8000-9000an feet tersebut. Yang menarik lagi dari
argumen-argumen yang mendasari surat yang "bocor" tersebut adalah:

 1.. Sebenarnya bagaimana bunyi program casing 9-5/8 yang tertulis dalam
buku program pemboran Banjar-Panji-1?
   1.. Kalau bunyinya: "Pasang casing di kedalaman +/- 8500 feet atau
apabila telah menembus puncak dari Formasi Kujung; tergantung dari mana yang
dicapai terlebih dulu" maka dalam hal kedalaman 8500 feet telah dicapai tapi
belum menyentuh puncak dari Formasi Kujung, seharusnyalah pemboran
dihentikan untuk evaluasi dalam rangka memasang casing.
   2.. Tetapi kalau bunyinya: "Pasang casing di puncak Formasi Kujung yang
diperkirakan pada kedalaman +/-8500 feet", maka pemasangan casing pada
kedalaman 8500 feet bukan sesuatu yang mandatory (harus dilakukan) tetapi
hanya perkiraan saja; sementara tujuan utamanya adalah memasang casing di
puncak Formasi Kujung yang dalam hal ini ditembus pada kedalaman 9297 feet
(pada saat terjadi loss-circulation atau terhisapnya lumpur ke dalam lubang
pemboran karena diasumsikan sudah memasuki Formasi Kujung yang sangat
berongga).
 2.. Menurut informasi internal dari Lapindo bahwa sebenarnyalah mereka
berhenti mengebor pada kedalaman +/- 8700 feet, yaitu setelah menembus 8500
feet tapi belum juga mendapatkan puncak Formasi Kujung (informasi ini harus
dicek kebenarannya dengan melihat Daily Drilling Report). Dalam operasi
pemboran, diperlukan "rat-hole" (lubang tambahan di bawah target penghentian
pemboran) untuk mendapatkan informasi lengkap dari kedalaman target yang
bisa di-cover oleh panjangnya alat logging (perekam sifat lapisan batuan di
lubang pemboran). Dalam hal ini rat-hole tersebut panjangnya 200 feet
dibawah 8500 feet. Data keratan batuan (cuttings) dari kedalaman +/- 6100
feet sampai 8700 feet semuanya menunjukkan bahwa sumur Banjar-Panji-1
menembus lapisan batupasir pada interval tersebut. Demikian juga info yang
didapat dari alat perekam lapisan batuan (logging) juga menunjukkan hal yang
sama (open hole log ini-pun harus di-cek kebenaran interpretasinya)
 3.. Karena ternyata masih belum menembus puncak Formasi Kujung (dibuktikan
dengan terus menerus munculnya lapisan batupasir s/d kedalaman 8700 feet),
dan karena masih berada pada interval batupasir (yang secara prosedur teknis
keselamatan pemboran TIDAK COCOK UNTUK DIPASANGI CASING-SHOE karena
kekuatannya terhadap tekanan akan sangat lemah dibandingkan dengan
batulempung), dan juga belajar dari pengalaman pemboran Porong-1 yang
memasang casing 9-5/8" masih di interval overpressure Kalibeng - menyisakan
puluhan feet overpressure Kalibeng Clay untuk dibor lagi sebelum tembus
Formasi Kujung - dan setelah itu mengalami "loss" dan "kick" berulang-ulang
ketika sudah menembus Kujung (sehingga harus merelakan sumur Porong-1
sebagai sumur gagal: disemen "plug" dan ditinggalkan), maka keputusan untuk
tidak memasang casing 9-5/8" di 8500 feet merupakan keputusan yang SANGAT
RASIONAL, TEKNIKAL, DAN AMAN (SAFE) pada waktu itu.
 4.. Tentu saja keputusan untuk meneruskan pemboran tanpa memasang casing
9-5/8" terlebih dulu (setelah run logging pada 8700-an feet) harus
didasarkan pada prasayat (asumsi) bahwa:
   1.. Seluruh rangkaian casing dangkal sampai intermediate (30", 20", 16",
dan 13-3/8") telah terpasang dan TERSEMENKAN dengan sempurna, sehingga kalau
terjadi tendangan (kick) dari daerah lubang terbuka di bawah casing-casing
tersebut, maka rangkaian casing tidak akan goyang, rusak, atau bahkan jebol.
Perlu dicatat bahwa pada waktu mengebor Porong-1, Huffco Brantas juga
mengalami loss & kick yang dapat diatasi di permukaan dan tidak menyebabkan
retakan di bawah permukaan (underground blow-out) karena casing-casing
dangkal & intermediate-nya terpasang sempurna.
   2.. Kekuatan menahan tekanan pada sepatu casing (casing-shoe) yang
terdalam (yaitu 13-3/8" pada 3580 feet) - yang diukur dari proses Leak-Off
Test (LOT) sebelum mengebor lebih dalam dari 3580 feet - benar-benar seperti
yang dituliskan dalam laporan pemboran, yaitu: 16.4 ppg EMW, dan maksimum
berat lumpur yang dipakai dalam pemboran berikutnya sampai kedalaman
maksimum 9580 feet tidak melebih 15.4 ppg (dengan menghitung ECD tambahan 1
ppg).
 5.. Prasyarat (asumsi) butir 4-a merupakan prasyarat mutlak yang harus
diyakinkan pada waktu selesai logging pada 8700 feet dan memutuskan untuk
terus mengebor sampai ketemu puncak Formasi Kujung. Apabila pada waktu itu
(bahkan pada waktu di awal-awal pengeboran interval 3580-8700 feet) proses
evaluasi kekuatan casing-casing yang sudah terpasang tidak dilakukan atau
dilakukan dengan seadanya atau dilakukan tanpa mempertimbangkan lebih lanjut
tentang factor keamanan-nya lebih rinci, maka hal ini patut disayangkan.
Pada kenyataannya terjadinya under-ground blow-out mengindikasikan bahwa
casing 13-3/8" telah rusak dan bahkan "menjepit" pipa pada waktu mereka
memutuskan untuk mencabut rangkaian pipa secara keseluruhan (Lihat Bahan
presentasi Lapindo Press Rilis ke wartawan, 15 Juni 2006). Apabila pada saat
itu telah diyakini (dan diketahui) bahwa kondisi casing yang telah terpasang
TIDAK AMAN, maka selayaknyalah pengeboran dihentikan saja dan dicarikan
rekayasa untuk memperbaiki kondisi casing yang tidak aman tersebut, ..
sampai aman,.. baru diteruskan pemborannya. Tetapi apabila kondisi casing
yang tidak aman tersebut TIDAK BISA DIAKALI (tidak bisa dikoreksi), maka
pilihan terburuknya adalah menge-"plug" lubang dengan semen, merancang ulang
disain casing dan mengimplementasikannya di casing-casing dangkal, baik
dengan meneruskan pemboran di lubang yang lama, maupun side-track, ataupun.
membuat lubang baru.
 6.. Prasyarat (asumsi) butir 4-b merupakan prasyarat yang harus diikuti
pada waktu sudah memutuskan untuk mengebor lanjut dari 8700 feet-an sampai
ketemu dengan puncak Formasi Kujung. Apabila sampai kedalaman 9580 feet dan
berat lumpur sudah 15.4 ppg tetapi tetap belum menembus Formasi Kujung
(karena prediksi dari seismic meleset), maka mau tidak mau pengeboran harus
dihentikan. Selanjutnya: plug dengan semen, mau tinggalkan sumur atau
side-track (tentunya setelah evaluasi seismic lagi) terserah kepada
operator, tergantung seberapa kuat secara ekonomis Lapindo berani beresiko
lagi dengan ketidakpastian interpretasi tsb).
 7.. Yang terjadi ternyata: pada 9297 feet matabor menembus formasi yang
menyebabkan LOSS CIRCULATION (dengan berat lumpur 14.7ppg??), yang besar
kemungkinan itulah puncak dari Formasi Kujung yang ditunggu-tunggu. Prosedur
yang dilakukan pada waktu itu adalah mengatasi loss dengan LCM, membuatnya
menjadi static, kemudian mencabut rangkaian untuk diganti dengan Open-ended
Drill-pipe dalam rangka menyemen-plug zona loss Kujung tersebut. Barulah
setelah zona loss ditutup semen, maka casing 9-5/8" akan dipasang précis di
puncak Formasi Kujung tsb. NOTHING WRONG dengan rencana tersebut. Malah
memang sebenarnya itulah yang harus dilakukan.
 8.. Tetapi dalam proses mengimplementasikan rencana tersebut terjadilah
hal-hal dibawah ini:
   1.. Tendangan (kick) pada waktu matabor sdh diangkat pada kedalaman 4241
feet (masih di open-hole). è Ini kemungkinan disebabkan oleh kecepatan POOH
yang terlalu cepat (effek swabbing), atau pada saat akan mencabut, hi-vis
pill tidak cukup berat menahan tekanan formasi (dari sepanjang interval
4241-9297 yang terbuka tersebut)
   2.. Tendangan dapat diatasi dengan menutup BOP, menyalurkan ke diverter
yang keluar berupa gas H2S dan air. Ini juga OK, sesuai dengan prosedur.
Hanya saja setelah itu dihitunglah killing mud berdasarkan info SIDP dan
SICP yang kemungkinan hasil perhitungannya dan juga "the real" killing mud
yang dimasukkan beratnya melebihi kekuatan daya dukung casing shoe di 3580
feet,.. sehingga menyebabkan retakan di sekitar casing shoe, goyangnya
casing 13-3/8" (mungkin semennya kurang =è musti diteliti juga) yang terus
merembet ke atas, akhirnya muncul ke permukaan membawa lumpur dari Kalibeng
Clay (2000-6000 feet). Harap dicatat: letak casing shoe 13-3/8" ada di
tengah-atas dari interval Lempung Kalibeng ini, sehingga material-material
inilah yang akhirnya terbawa ke permukaan.
   3.. Menganggap bahwa kick sudah bisa diatasi, maka usaha pencabutan
rangkaian pemboran diteruskan. Tetapi yang terjadi: STUCK di dalam casing.
Hal ini ada 2 kemungkinan penyebabnya: "pack-off" dari cutting, material
batuan yang ikut terbawa ke atas pada waktu kick telah membuat casing
menjadi "choked-off" sehingga menyempit, atau terjadi CASING COLLAPSE, yaitu
casingnya mengkerut di titik terjadinya stuck karena ada tendangan tekanan
dari samping yang tidak dapat ditahan karena semennya tidak bagus. Manakah
diantara keduanya yang benar: SNUBBING UNIT akan menjawabnya. Jika snubbing
unit dapat melewati titik jepitan hanya dengan "washing" the hole maka
berarti telah terjadi "pack-off" tapi bila snubbing unit tidak bias
melewatinya, berarti casingnya memang telah mengkerut.
Dari uraian diatas, secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa
permasalahannya bukan karena tidak memasang casing 9-5/8" di 8500 feet. Tapi
karena masalah-masalah lain. Tentunya Tim Investigasi-lah (Pak Rudi
Rubiandini dkk) yang nantinya dapat menjelaskan secara rinci kepada kita
semua apa sebenarnya masalah yang terjadi. Merekalah yang punya previllege
melihat dan menelisik data-data yang ada. Kita hanya dapat mengamati dari
kejauhan sambil mencoba menganalisis dari info-info berseliweran yang
keabsahannya belum tentu benar. Hanya saja, kalau menggunakan logika-logika
operasional pemboran secara umum, maka hal-hal seperti diataslah yang dapat
kita sumbangkan kepada anda semua. Belum tentu benar. Harus diTEST , DICEK ,
DIKRITISI dengan menengok, memeriksa, melihat data2nya langsung.



Jakarta, 7 Juli 2006

ADB

---------------------------------------------------------------------
-----  PIT IAGI ke 35 di Pekanbaru
-----  Call For Papers until 26 May 2006
-----  Submit to: [EMAIL PROTECTED]
---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke