setahu aku asset manajemen bukanlah core bisnisnya oil company.... yang jadi core bisnis itu biasanya Human Resources... liat aja gaji dan jabatannya pasti pada lebih tinggi dari orang aset...:-(.
----- Original Message ----- From: "heri ferius" <[EMAIL PROTECTED]> To: <[email protected]> Sent: Saturday, July 08, 2006 7:20 AM Subject: Re: [iagi-net-l] MENGEBOR TANPA CASING (?) / LALAI MEMASANG CASING (?) > Yang paling disayangkan, kenapa Rig nya harus buru-buru move out, mikir > lokasi akan ambrol kali ya. Sepengetahuan saya input dari drilling perlu > diperhatian, mereka hanya pelaksana projek dan tidak mau tahu dengan asset, > habis projek selesai, pindah lagi ke projek lain. Bagaimanapun yang ngurus > asset dengan segala resikonya ada pada core bisnis. Drilling akan berani > ngebor bila ada hitam diatas putih dari Asset Management. > > Pengalaman saya LOT oleh service company lebih akurat dari pada FIT dengan > pompa rig. Ngak tahulah ditempat lain, mohon pencerahan. > > Salam HF > > ----- Original Message ----- > From: "Nataniel Mangiwa" <[EMAIL PROTECTED]> > To: <[email protected]> > Sent: Saturday, July 08, 2006 8:21 AM > Subject: Re: [iagi-net-l] MENGEBOR TANPA CASING (?) / LALAI MEMASANG CASING > (?) > > > Benar Mas Andang, > > kunci informasi yang paling bisa dipercaya adalah DDR!! itu data yang > paling mendekati benar/akurat. kalau data lain, masih bisa > interpretative (tapi bukan berarti tidak berguna). tapi kalau DDR itu > sangat jelas semuanya, dan bisa dirunut kejadian per kejadian (well > diary). > > Well program vs actual memang tidak selalu harus sama. kalau program > selalu sama dgn actual, ya tdk perlu wsg/co-man untuk supervise well > tsb saat drilling. apalagi kalau masalah formasi dan top formasi, > kalau dari data seismic ke actual ada perbedaan depth pasti sangat > wajar itu. > > masalah pasang casing perintahnya memang (menurut saya) harus based on > formation yang di-drill, bukan berdasarkan depth. kalau pasang casing > berdasarkan depth, itu pola pikir kubu drilling, bukan geoscientist! > > paling yang disayangkan, kenapa POOH nya harus buru-buru sehingga > bikin swabbing. dan untuk masalah LOT, kok sepertinya terlalu mepet ya > dgn MW in. kalau MWin 15.4ppg (static), pasti ECD nya kan lebih besar > (minimal >1ppg). ini yang mungkin saya bingung, kok berani ya drill > dgn MW yang ECDnya = dgn LOT result? kecuali itu FIT (bukan LOT) yah > masih ok lah. > > enw, Salute Mas buat penjelasannya..sangat logis dan Operation > based+gampang dimengerti. just wait n see Snubbing result. > > /natan > > On 7/7/06, Andang Bachtiar <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > MENGEBOR TANPA CASING (?) / LALAI MEMASANG CASING (?) > > > > *andang bachtiar - arema* > > > > > > > > Istilah "mengebor tanpa casing" atau "lalai memasang casing" - sehingga > > mengakibatkan kejadian munculnya lumpur dalam skala massif ke permukaan - > > yang dijadikan argumen dari tuduhan banyak pihak (termasuk kepolisian) > > terhadap Lapindo merupakan istilah yang membingungkan. Karena sebenarnya > > yang terjadi adalah: dalam mengebor sumur Banjar-Panji-1 Lapindo "sudah" > > memasang casing 30 inchi pada kedalaman 150 feet, casing 20 inchi pada > > 1195 > > feet, casing (liner) 16 inchi pada 2385 feet dan casing 13-3/8 inchi pada > > 3580 feet (Bahan presentasi Lapindo Press Rilis ke wartawan, 15 Juni > > 2006). > > Nah, ketika mereka mengebor lapisan bumi dari kedalaman 3580 feet sampai > > ke > > 9297 feet, mereka "belum" memasang casing 9-5/8 inchi yang rencananya akan > > dipasang précis di kedalaman batas antara Formasi Kalibeng Bawah dengan > > Formasi Kujung, yang dalam hal ini ternyata ketemunya di kedalaman 9297 > > feet > > tersebut. Dalam teknik pengeboran lapisan bumi, tentunya kita tidak > > mengebor > > lapisan baru dengan memasang casing menembus lapisan terlebih dulu, tapi > > setelah menembus/membuka lapisan baru tersebut menjadi lubang - barulah > > kita > > turunkan casing untuk menahan lubang supaya tidak runtuh, dan supaya dapat > > digunakan dalam proses eksplorasi selanjutnya (testing, produksi dsb). > > > > > > > > Ada juga argumen yang dipicu oleh bocornya surat internal partner (Medco) > > ke > > media massa (Kompas, 14 Juni 2006) yang menyebutkan bahwa pada 18 Mei > > 2006, > > Medco sudah mengingatkan Lapindo sebagai operator untuk konsisten pada > > program, yaitu memasang casing 9-5/8 inchi di kedalaman 8500 feet. > > Maksudnya > > mungkin setelah memasang casing untuk melindungi lubang dari 3580 s/d 8500 > > feet itu, maka diperkirakan operasi pemboran akan aman di > > kedalaman-kedalaman berikutnya. Belum tentu juga! Pada saat itu mereka > > belum > > mengetahui sampai berapa dalam lagi mereka harus mengebor dalam kondisi > > tekanan tinggi (over-pressure) sehinga mencapai puncak Formasi Kujung yang > > relatif tekanannya lebih rendah dari Formasi Kalibeng yang sedang mereka > > tembus di kedalaman 8000-9000an feet tersebut. Yang menarik lagi dari > > argumen-argumen yang mendasari surat yang "bocor" tersebut adalah: > > > > 1.. Sebenarnya bagaimana bunyi program casing 9-5/8 yang tertulis dalam > > buku program pemboran Banjar-Panji-1? > > 1.. Kalau bunyinya: "Pasang casing di kedalaman +/- 8500 feet atau > > apabila telah menembus puncak dari Formasi Kujung; tergantung dari mana > > yang > > dicapai terlebih dulu" maka dalam hal kedalaman 8500 feet telah dicapai > > tapi > > belum menyentuh puncak dari Formasi Kujung, seharusnyalah pemboran > > dihentikan untuk evaluasi dalam rangka memasang casing. > > 2.. Tetapi kalau bunyinya: "Pasang casing di puncak Formasi Kujung yang > > diperkirakan pada kedalaman +/-8500 feet", maka pemasangan casing pada > > kedalaman 8500 feet bukan sesuatu yang mandatory (harus dilakukan) tetapi > > hanya perkiraan saja; sementara tujuan utamanya adalah memasang casing di > > puncak Formasi Kujung yang dalam hal ini ditembus pada kedalaman 9297 feet > > (pada saat terjadi loss-circulation atau terhisapnya lumpur ke dalam > > lubang > > pemboran karena diasumsikan sudah memasuki Formasi Kujung yang sangat > > berongga). > > 2.. Menurut informasi internal dari Lapindo bahwa sebenarnyalah mereka > > berhenti mengebor pada kedalaman +/- 8700 feet, yaitu setelah menembus > > 8500 > > feet tapi belum juga mendapatkan puncak Formasi Kujung (informasi ini > > harus > > dicek kebenarannya dengan melihat Daily Drilling Report). Dalam operasi > > pemboran, diperlukan "rat-hole" (lubang tambahan di bawah target > > penghentian > > pemboran) untuk mendapatkan informasi lengkap dari kedalaman target yang > > bisa di-cover oleh panjangnya alat logging (perekam sifat lapisan batuan > > di > > lubang pemboran). Dalam hal ini rat-hole tersebut panjangnya 200 feet > > dibawah 8500 feet. Data keratan batuan (cuttings) dari kedalaman +/- 6100 > > feet sampai 8700 feet semuanya menunjukkan bahwa sumur Banjar-Panji-1 > > menembus lapisan batupasir pada interval tersebut. Demikian juga info yang > > didapat dari alat perekam lapisan batuan (logging) juga menunjukkan hal > > yang > > sama (open hole log ini-pun harus di-cek kebenaran interpretasinya) > > 3.. Karena ternyata masih belum menembus puncak Formasi Kujung > > (dibuktikan > > dengan terus menerus munculnya lapisan batupasir s/d kedalaman 8700 feet), > > dan karena masih berada pada interval batupasir (yang secara prosedur > > teknis > > keselamatan pemboran TIDAK COCOK UNTUK DIPASANGI CASING-SHOE karena > > kekuatannya terhadap tekanan akan sangat lemah dibandingkan dengan > > batulempung), dan juga belajar dari pengalaman pemboran Porong-1 yang > > memasang casing 9-5/8" masih di interval overpressure Kalibeng - > > menyisakan > > puluhan feet overpressure Kalibeng Clay untuk dibor lagi sebelum tembus > > Formasi Kujung - dan setelah itu mengalami "loss" dan "kick" > > berulang-ulang > > ketika sudah menembus Kujung (sehingga harus merelakan sumur Porong-1 > > sebagai sumur gagal: disemen "plug" dan ditinggalkan), maka keputusan > > untuk > > tidak memasang casing 9-5/8" di 8500 feet merupakan keputusan yang SANGAT > > RASIONAL, TEKNIKAL, DAN AMAN (SAFE) pada waktu itu. > > 4.. Tentu saja keputusan untuk meneruskan pemboran tanpa memasang casing > > 9-5/8" terlebih dulu (setelah run logging pada 8700-an feet) harus > > didasarkan pada prasayat (asumsi) bahwa: > > 1.. Seluruh rangkaian casing dangkal sampai intermediate (30", 20", > > 16", > > dan 13-3/8") telah terpasang dan TERSEMENKAN dengan sempurna, sehingga > > kalau > > terjadi tendangan (kick) dari daerah lubang terbuka di bawah casing-casing > > tersebut, maka rangkaian casing tidak akan goyang, rusak, atau bahkan > > jebol. > > Perlu dicatat bahwa pada waktu mengebor Porong-1, Huffco Brantas juga > > mengalami loss & kick yang dapat diatasi di permukaan dan tidak > > menyebabkan > > retakan di bawah permukaan (underground blow-out) karena casing-casing > > dangkal & intermediate-nya terpasang sempurna. > > 2.. Kekuatan menahan tekanan pada sepatu casing (casing-shoe) yang > > terdalam (yaitu 13-3/8" pada 3580 feet) - yang diukur dari proses Leak-Off > > Test (LOT) sebelum mengebor lebih dalam dari 3580 feet - benar-benar > > seperti > > yang dituliskan dalam laporan pemboran, yaitu: 16.4 ppg EMW, dan maksimum > > berat lumpur yang dipakai dalam pemboran berikutnya sampai kedalaman > > maksimum 9580 feet tidak melebih 15.4 ppg (dengan menghitung ECD tambahan > > 1 > > ppg). > > 5.. Prasyarat (asumsi) butir 4-a merupakan prasyarat mutlak yang harus > > diyakinkan pada waktu selesai logging pada 8700 feet dan memutuskan untuk > > terus mengebor sampai ketemu puncak Formasi Kujung. Apabila pada waktu itu > > (bahkan pada waktu di awal-awal pengeboran interval 3580-8700 feet) proses > > evaluasi kekuatan casing-casing yang sudah terpasang tidak dilakukan atau > > dilakukan dengan seadanya atau dilakukan tanpa mempertimbangkan lebih > > lanjut > > tentang factor keamanan-nya lebih rinci, maka hal ini patut disayangkan. > > Pada kenyataannya terjadinya under-ground blow-out mengindikasikan bahwa > > casing 13-3/8" telah rusak dan bahkan "menjepit" pipa pada waktu mereka > > memutuskan untuk mencabut rangkaian pipa secara keseluruhan (Lihat Bahan > > presentasi Lapindo Press Rilis ke wartawan, 15 Juni 2006). Apabila pada > > saat > > itu telah diyakini (dan diketahui) bahwa kondisi casing yang telah > > terpasang > > TIDAK AMAN, maka selayaknyalah pengeboran dihentikan saja dan dicarikan > > rekayasa untuk memperbaiki kondisi casing yang tidak aman tersebut, .. > > sampai aman,.. baru diteruskan pemborannya. Tetapi apabila kondisi casing > > yang tidak aman tersebut TIDAK BISA DIAKALI (tidak bisa dikoreksi), maka > > pilihan terburuknya adalah menge-"plug" lubang dengan semen, merancang > > ulang > > disain casing dan mengimplementasikannya di casing-casing dangkal, baik > > dengan meneruskan pemboran di lubang yang lama, maupun side-track, > > ataupun. > > membuat lubang baru. > > 6.. Prasyarat (asumsi) butir 4-b merupakan prasyarat yang harus diikuti > > pada waktu sudah memutuskan untuk mengebor lanjut dari 8700 feet-an sampai > > ketemu dengan puncak Formasi Kujung. Apabila sampai kedalaman 9580 feet > > dan > > berat lumpur sudah 15.4 ppg tetapi tetap belum menembus Formasi Kujung > > (karena prediksi dari seismic meleset), maka mau tidak mau pengeboran > > harus > > dihentikan. Selanjutnya: plug dengan semen, mau tinggalkan sumur atau > > side-track (tentunya setelah evaluasi seismic lagi) terserah kepada > > operator, tergantung seberapa kuat secara ekonomis Lapindo berani beresiko > > lagi dengan ketidakpastian interpretasi tsb). > > 7.. Yang terjadi ternyata: pada 9297 feet matabor menembus formasi yang > > menyebabkan LOSS CIRCULATION (dengan berat lumpur 14.7ppg??), yang besar > > kemungkinan itulah puncak dari Formasi Kujung yang ditunggu-tunggu. > > Prosedur > > yang dilakukan pada waktu itu adalah mengatasi loss dengan LCM, membuatnya > > menjadi static, kemudian mencabut rangkaian untuk diganti dengan > > Open-ended > > Drill-pipe dalam rangka menyemen-plug zona loss Kujung tersebut. Barulah > > setelah zona loss ditutup semen, maka casing 9-5/8" akan dipasang précis > > di > > puncak Formasi Kujung tsb. NOTHING WRONG dengan rencana tersebut. Malah > > memang sebenarnya itulah yang harus dilakukan. > > 8.. Tetapi dalam proses mengimplementasikan rencana tersebut terjadilah > > hal-hal dibawah ini: > > 1.. Tendangan (kick) pada waktu matabor sdh diangkat pada kedalaman > > 4241 > > feet (masih di open-hole). è Ini kemungkinan disebabkan oleh kecepatan > > POOH > > yang terlalu cepat (effek swabbing), atau pada saat akan mencabut, hi-vis > > pill tidak cukup berat menahan tekanan formasi (dari sepanjang interval > > 4241-9297 yang terbuka tersebut) > > 2.. Tendangan dapat diatasi dengan menutup BOP, menyalurkan ke diverter > > yang keluar berupa gas H2S dan air. Ini juga OK, sesuai dengan prosedur. > > Hanya saja setelah itu dihitunglah killing mud berdasarkan info SIDP dan > > SICP yang kemungkinan hasil perhitungannya dan juga "the real" killing mud > > yang dimasukkan beratnya melebihi kekuatan daya dukung casing shoe di 3580 > > feet,.. sehingga menyebabkan retakan di sekitar casing shoe, goyangnya > > casing 13-3/8" (mungkin semennya kurang =è musti diteliti juga) yang terus > > merembet ke atas, akhirnya muncul ke permukaan membawa lumpur dari > > Kalibeng > > Clay (2000-6000 feet). Harap dicatat: letak casing shoe 13-3/8" ada di > > tengah-atas dari interval Lempung Kalibeng ini, sehingga material-material > > inilah yang akhirnya terbawa ke permukaan. > > 3.. Menganggap bahwa kick sudah bisa diatasi, maka usaha pencabutan > > rangkaian pemboran diteruskan. Tetapi yang terjadi: STUCK di dalam casing. > > Hal ini ada 2 kemungkinan penyebabnya: "pack-off" dari cutting, material > > batuan yang ikut terbawa ke atas pada waktu kick telah membuat casing > > menjadi "choked-off" sehingga menyempit, atau terjadi CASING COLLAPSE, > > yaitu > > casingnya mengkerut di titik terjadinya stuck karena ada tendangan tekanan > > dari samping yang tidak dapat ditahan karena semennya tidak bagus. Manakah > > diantara keduanya yang benar: SNUBBING UNIT akan menjawabnya. Jika > > snubbing > > unit dapat melewati titik jepitan hanya dengan "washing" the hole maka > > berarti telah terjadi "pack-off" tapi bila snubbing unit tidak bias > > melewatinya, berarti casingnya memang telah mengkerut. > > Dari uraian diatas, secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa > > permasalahannya bukan karena tidak memasang casing 9-5/8" di 8500 feet. > > Tapi > > karena masalah-masalah lain. Tentunya Tim Investigasi-lah (Pak Rudi > > Rubiandini dkk) yang nantinya dapat menjelaskan secara rinci kepada kita > > semua apa sebenarnya masalah yang terjadi. Merekalah yang punya previllege > > melihat dan menelisik data-data yang ada. Kita hanya dapat mengamati dari > > kejauhan sambil mencoba menganalisis dari info-info berseliweran yang > > keabsahannya belum tentu benar. Hanya saja, kalau menggunakan > > logika-logika > > operasional pemboran secara umum, maka hal-hal seperti diataslah yang > > dapat > > kita sumbangkan kepada anda semua. Belum tentu benar. Harus diTEST , DICEK > > , > > DIKRITISI dengan menengok, memeriksa, melihat data2nya langsung. > > > > > > > > Jakarta, 7 Juli 2006 > > > > ADB > > --------------------------------------------------------------------- > ----- PIT IAGI ke 35 di Pekanbaru > ----- Call For Papers until 26 May 2006 > ----- Submit to: [EMAIL PROTECTED] > --------------------------------------------------------------------- > To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id > To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id > Visit IAGI Website: http://iagi.or.id > Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: > Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta > No. Rek: 123 0085005314 > Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) > Bank BCA KCP. Manara Mulia > No. Rekening: 255-1088580 > A/n: Shinta Damayanti > IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ > IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi > --------------------------------------------------------------------- > > > > __________________________________________________ > Apakah Anda Yahoo!? > Lelah menerima spam? Surat Yahoo! memiliki perlindungan terbaik terhadap spam > http://id.mail.yahoo.com > > --------------------------------------------------------------------- > ----- PIT IAGI ke 35 di Pekanbaru > ----- Call For Papers until 26 May 2006 > ----- Submit to: [EMAIL PROTECTED] > --------------------------------------------------------------------- > To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id > To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id > Visit IAGI Website: http://iagi.or.id > Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: > Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta > No. Rek: 123 0085005314 > Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) > Bank BCA KCP. Manara Mulia > No. Rekening: 255-1088580 > A/n: Shinta Damayanti > IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ > IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi > --------------------------------------------------------------------- > > --------------------------------------------------------------------- ----- PIT IAGI ke 35 di Pekanbaru ----- Call For Papers until 26 May 2006 ----- Submit to: [EMAIL PROTECTED] --------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id Visit IAGI Website: http://iagi.or.id Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta No. Rek: 123 0085005314 Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Bank BCA KCP. Manara Mulia No. Rekening: 255-1088580 A/n: Shinta Damayanti IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi ---------------------------------------------------------------------

