Pak Ismail Seminar yang diadakan di Bandung kemarin itu 5-6 Desember 2006 (di hotel horison Bandung), berjudul : Geologi Indonesia : Dinamika dan Produknya, dimana host-nya adalah Pusat Survei Geologi (Pak Dr Djajang dkk), dengan pembicara kunci : Prof. Dr. Jan Sopaheluwakan (LIPI) dan Pak Awang (BPMIGAS). Apa yang disampaikan ke-2 tokoh ini sangat bagus baik, rinci, dan menantang dari sisi saintifik kebumian, juga dari sisi aplikasi sumberdaya dan bencana kebumian. Dan bahkan menjadi tantangan bagi para ahli ilmu kebumian pada umumnya, juga geologist khususnya. bahkan ada 10 tantangan dari pak Jan Sopa, untuk bidang kebumian ke depan yang tentunya lebih menyangkut earth system dinamic science daripada sekedar earth science. (kayaknya itu yang saya tangkap dari mengikuti perhelatan besar di Bandung kemarin). 10 tantangan itu, aku lupa urutan-urutannya, karena saya belum memperoleh copy CD dari paper-paper tersebut. Katanya nanti akan di CD-kan oleh panitia dan dibagi ke semua peserta.
Diluar pembicara kunci tersebut, lebih banyak menampilkan paper-paper teknis, sebagaimana lazimnya saintifik paper dalam PIT IAGI dan oral presentation juga poster;, karena sebagian besar yang hadir adalah geologist dari berbagai instansi ESDM, perguruan tinggi, juga pemda-pemda. Yang jelas, saat sambutan Ketua Badan Geologi ESDM mengatakan bahwa seminar tersebut bertujuan sharing pengalaman dan pengetahuan; perkembangan riset/kajian/ penelitian bidang geologi indonesia, yang nantinya akan dipublikasikan khusus oleh PSG (dulunya Puslitbang Geologi, Jl. Diponegoro 57 itu) yaa, sekedar menambahkan cerita pak awang saja. Penggembira seminar tersebut Agus Hendratno --- Awang Satyana <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Pak Ismail, > > Ada beberapa saran yang dikemukakan di seminar > tersebut. Pak Suyitno Patmosukismo (IPA) misalnya > menyarankan melihat kembali aturan ring fencing, > sehingga dana di suatu blok operasi berstatus > produksi bisa dipakai di blok lain yang eksplorasi > atau malahan untuk new venture-nya. Liberasi ini > memang bertentangan dengan prinsip-prinsip KPS yang > berlaku di Indonesia, walaupun kelihatannya akan > mampu mendorong kegiatan eksplorasi di lahan > frontier. Untuk itu, perlu dilihat dengan hati2. > > Pak Hardy Prasetyo (staf ahli Menteri ESDM) > menyarankan untuk melihat kembali dan merevisi peta > cekungan Indonesia, benarkah kita mempunyai 60 > cekungan ? Cekungan2 kecil di seputar Laut Banda > misalnya, kemungkinan besar mereka tak punya > prospektivitas hidrokarbon. Untuk itu, dihapus saja > dari peta cekungan. Atau, bedakan antara peta > cekungan minyak dan peta cekungan sedimen. Ini untuk > menjelaskan bahwa 60 cekungan sedimen itu tak sama > dengan 60 cekungan minyak. Yang sudah jelas cekungan > minyak baru 16 dari 60 cekungan itu. > > Salah satu masalah juga adalah bahwa Pemerintah > kita belum berhasil menyelesaikan tumpang tindih > lahan kehutanan dengan pertambangan. Akibat ini, > Pegunungan Tengah Papua tak bisa diapa-apakan sudah > lebih dari lima tahun ini, padahal Pegunungan Tengah > ini masih terusan pegunungan yang sama di PNG yang > telah terbukti mengandung lapangan-lapangan minyak > penting (mis Hedinia, Iagifu). > > Banyak saran dan kesimpulan bagus dari seminar2, > tetapi yang jauh lebih penting adalah bagaimana > merealisasikannya. Kelihatannya itu menjadi masalah > kita semua... > > salam, > awang > > ismail zaini <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Pak Awang , ada nggak kesimpulan dari seminar tsb > Hal Hal riel yang harus > dilakukan Guna mendorong/mempercepat adanya > Eksplorasi dan Produksi Migas , > spt dikatakan dalam waktu 21 tahun hanya ada 2 > cekungan tambahan dan disisi > lain produksinya juga cenderung ada penurunan.( dan > cost recovery semakin > besar .... begitu kata Pak Kortubi dan BPKP dikoran > kemarin ) > Diwaktu yang bersamaan Dirjen Minerbapabum ESDM juga > melaksanakan Seminar > yang subtansinya hampir sama , cuma beda komoditinya > / Mineral ,Batubara dan > Panasbumi , ( sepertinya di ESDM lagi musim seminar > , maklum akhir > tahun..... ) Salah satu kesimpulannya untuk > mempercepat pemanfaatan > Geothermal akan dibentuk Tim Khusus ( seperti Tim > Nas gitu ) dg Keprres guna > merumuskan semua permasalahan dan mencari > terobotosan penyelesaiannya, dg > melibatkan semua institusi terkait baik dari ESDM , > Dept Kehutanan , Dept > Keuangan/ Pajak maupun unsur lainya , Mungkin biar > gak mbulat mbulet .. > gitu. > > ISM > > ----- Original Message ----- > From: "Awang Harun Satyana" > To: > Sent: Friday, December 08, 2006 3:15 PM > Subject: [iagi-net-l] Sedimentary Basins of > Indonesia : Historical and > Updated Status > > > Berikut adalah ringkasan hal2 yang saya > presentasikan dan diskusikan di > dalam seminar Badan Penelitian dan Pengembangan dan > Badan Geologi > Departemen ESDM bertema "Optimasi Kegiatan > Penelitian dan Pengembangan > untuk Mendorong Peningkatan Eksplorasi dan Produksi > Migas" (7 Desember > 2006). Semoga berguna. > > Penyebaran jalur minyak Indonesia secara regional > pertama kali > dikemukakan oleh van Bemmelen (1949), untuk > mineralisasi dikemukakan > oleh Westerveld (1952). Masa kini, kita tahu > jalur-jalur minyak itu > digambarkan ke dalam sebaran-sebaran cekungan. > > van Bemmelen membagi jalur-jalur itu ke dalam 11 > jalur : 1. East Sumatra > Belt (north, mid, south Sumatra), 2. West Sumatra > Belt (fore-arc basins > Sumatra sekarang), 3. SE Sunda Belt (maksudnya SE > Sundaland, termasuk > north Java dan Madura, SE Borneo, E Borneo dan NE > Borneo, Sabah), 4. > Central Borneo (Melawi-Ketungau sekarang), 4a. NW > Borneo (Sarawak-Brunei > sekarang), 5. West Celebes (Lariang, Karama, > Sulawesi Selatan) - jalur > ini bergabung di baratdayanya dengan jalur SE Sunda, > 6. East Arm Celebes > (Banggai-Sula sekarang), 7. Buton, 8. Timor-Seram > (Banda arc sekarang), > 9. South New Guinea (memanjang dari Kepala > Burung-Lengguru-Asmat-Merauke), 10. Median New > Guinea (Central Range), > 11. North New Guinea (Sarera-Rombeba-Jayapura). van > Bemmelen menyusun > jalur2 ini berdasarkan kejadian rembesan, > lapangan-lapangan minyak, dan > kemungkinan geologinya. > > Kompilasi jalur2 minyak van Bemmelen ini menarik dan > sampai saat ini > terbukti benar. Di luar jalur2 ini, meskipun > sekarang diidentifikasi > banyak cekungan, sampai sekarang tak ada penemuan > hidrokarbon. Jalur2 > minyak ini meliputi onshore dan offshore. Tentu ada > penemuan2 minyak di > luar jalur ini yang tak diperkirakan van Bemmelen, > yaitu di offshore > Natuna, offshore Makassar Strait, dan offshore > Tanimbar. Secara garis > besar jalur minyak van Bemmelen 80 % benar. > > Pada akhir tahun 1960an beberapa tulisan penting > tentang cekungan minyak > Indonesia telah muncul terutama untuk cekungan2 > Sumatra Selatan, Jawa > Timur, dan Kalimantan Timur (dari L.G. Weeks dalam > suatu forum World Oil > Symposium). Khusus Indonesia Barat, Pak > Koesoemadinata mempelopori > dengan paper klasiknya di AAPG Bulletin tahun 1971. > Tidak lama setelah > teori plate tectonics diterima banyak pihak, > mulailah disusun peta-peta > cekungan sedimen Indonesia dan SE Asia secara > regional misalnya Richard > Murphy (1975), Soeparjadi (1975) dan Fletcher dan > Soeparjadi (1976). > Fletcher dan Soeparjadi (1976) menyebutkan Indonesia > mempunyai 28 > cekungan Tersier yang terbagi menjadi tipe : > foreland, cratonic, outer > arc, dan inner arc. Jumlah ini kemudian direvisi > oleh Nayoan dkk (1979) > yang kemudian menjadi publikasi resmi IAGI (Hariadi, > 1980) menjadi 40 > cekungan yang terbagi ke dalam lima tipe cekungan : > Foreland, outer arc, > interior cratonic, open shelf, unspecified basin. > > Tahun 1985, IAGI mengeluarkan revisi cekungan > sedimen lagi (Suardy dan > Taruno, 1985) menjadi 60 cekungan. Inilah pembagian > resmi yang sampai > sekarang masih dipakai dan sering disebutkan. Tahun > 1992, Pertamina dan > Beicip merevisi publikasi IAGI (1985) ini menjadi 66 > cekungan yang > terbagi ke dalam 15 tipe cekungan, tetapi > klasifikasi dan jumlah > cekungan Pertamina dan Beicip (1992) ini entah > mengapa jarang dipakai > dan diacu. > > Berdasarkan pemeriksaan teknis dan data pemboran > sampai saat ini, saya > pribadi lebih menyukai pembagian cekungan Pertamina > dan Beicip (1992). > Sebenanya, kita bisa menggabung publikasi IAGI > (1985), publikasi > Pertamina dan Beicip (1992), data hasil survey > geomarin, dan semua data > seismik termasuk speculative surveys yang dilakukan > sampai 2006 di > daerah2 yang sangat frontier (Sulawesi Sea, > Gorontalo, dll) untuk > menyusun peta cekungan baru. Kita juga bisa > bagi-bagi cekungan-cekungan > ini menjadi cekungan Tersier, cekungan Mesozoik, dan > cekungan Paleozoik. > > > Satu hal lain, saya juga telah meranking semua > cekungan di Indonesia > === message truncated === ____________________________________________________________________________________ Do you Yahoo!? Everyone is raving about the all-new Yahoo! Mail beta. http://new.mail.yahoo.com --------------------------------------------------------------------- ----- PIT IAGI ke 35 di Pekanbaru, 20-22 November 2006 ----- detail information in http://pekanbaru2006.iagi.or.id --------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id Visit IAGI Website: http://iagi.or.id Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta No. Rek: 123 0085005314 Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Bank BCA KCP. Manara Mulia No. Rekening: 255-1088580 A/n: Shinta Damayanti IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi ---------------------------------------------------------------------

