Kuncinya sebenarnya ada di "integration" dan "comprehensiveness" dari analisis para ahli kebumian yang selama ini dijadikan rujukan oleh masyarakat (baca: media) maupun kepolisian. Kalau kita perhatikan, kebanyakan (hampir keseluruhan) ahli kebumian yang dirujuk tidak begitu mendalami alias menghindarkan diri dari menganalisis data teknis dan kronologis pemboran "yang berkaitan langsung dengan kejadian semburan". Pada umumnya para ahli tersebut mengatakan bahwa "itu urusan drilling engineer", dan mereka merasa tidak berkompeten untuk ikut-ikutan menganalisis data-data tersebut secara lebih mendalam, padahal banyak sekali informasi tambahan yang bisa diperoleh dari data pemboran tersebut untuk menjelaskan apa yang terjadi secara dinamis. Hal ini bisa dimaklumi karena pada umumnya para ahli yang dirujuk adalah saintist berbasis akademis (bukan practicioner) atau saintist dari disiplin ilmu yang lebih berat ke aplikasi permukaan (geoteknik dsb). Tentunya akan sangat tidak professional kalau mereka ikut-ikutan menganalisis data pemboran tanpa dasar pengetahuan dan pengalaman yang kuat. Namun kita lupa bahwa kawan-kawan wellsite geologist, operation geologist, exploration-operation geologist, ataupun production-operation geologist: mereka mempunyai kompetensi yang kita butuhkan untuk ikut menjembatani gap antara kejadian pemboran dengan semburan yang akhirnya memicu proses alam menjadi semakin membesar membentuk mud-volcano. Dalam tim IAGI sebenarnya ada 2 orang operation geologist yang mumpuni, tetapi sejauh yang saya tahu mereka berdua jarang sekali terlibat (atau dilibatkan) dalam day-to-day evaluation tim secara keseluruhan. Untuk menekankan pentingnya "kunci" tersebut coba anda semua perhatikan ungkapan Professor Sukendar Asikin berikut "Saya bukan ahli pemboran, tapi berdasarkan fakta-fakta dan saya telah mempelajari kasus serupa di tempat lain, termasuk browsing internet dan membaca literatur di luar negeri, saya yakin ini mud volcano," katanya (DetikCom 28 Desember 2006: "2 Pakar Geologi Kuak Misteri Lumpur Sidoarjo").

Kebanyakan dari para ahli kebumian tersebut diatas hanya melihat "hasil akhir yang dinamis" (perkembangan dari semburan kecil menjadi mud-volcano) dan "fenomena awal yang statis" (sejarah tektonik, sedimentasi, data seismik, data permukaan, bertebarannya mud volcano fenomena di jalur kendeng, dsb). Jembatannya yang berupa "pemboran" dan disisi lain "gempa" dalam kaitannya dengan proses awal semburan hampir-hampir tidak disentuh (bahkan seringkali dihindari).

Jadi, pertanyaannya: pada kemana para ahli WSG kita?

Longsor-banjir di Panti Jember, di Pacet Mojokerto, dan diberbagai tempat lainnya adalah bencana alam. Penggundulan hutan, perubahan fungsi lahan, dan perencanaan pemukiman yang salah adalah penyebabnya. Siapa yang bertanggung-jawab? Penggundul hutan, pengubah fungsi lahan, perencana dan pelaksana tata ruang seharusnya bertanggung-jawab. Tapi karena jarak waktu antara kejadian dengan penyebab-nya terlalu jauh, maka kita kesulitan untuk mengejar-ngejar penanggung-jawabnya.

Dalam kasus Lumpur Sidoardjo, jarak waktu antara kejadian dan "yang dicurigai" jadi penyebabnya sangat dekat. Makanya, tidak heran kalau dengan gampang massa (media), pemerintah, dsb langsung bisa tunjuk jari memaksa "yang dicurigai jadi penyebab" untuk bertanggung-jawab. Sementara itu soal kecurigaan tsb (bahasa ilmiahnya: hipothesis) masih belum juga bisa dibuktikan secara komprehensif dan integratif, karena tim ahli kebumiannya masih minus WSG.

Lalu:.... bagaimana dengan para ahli WSg kita??


Salam

adb
arema

----- Original Message ----- From: <[EMAIL PROTECTED]>
Rekan

Harus diakui bahwa posisi
ahli kebumian dalam persoalan lumpur di BP-1

tidak terlalu enak. Karena secara kasat mata memang yang
"menyebabkan"
terjadi adalah
pemboran.
Dengan demikian masyarakat (apalagi
Pemerintah) akan langsung menuduh
pemboran
yang menyebabkan terjadinya BENCANA ini.

Belum lagi implikasi "popularitas"
Pemerintah jelas sangat dipertaruhkan apabila

"memihak" Lap[indo.

Saya
mengharapkan keteguhan hati dan kejernihan para ahli kebumian untuk
tetap
mengatakan apa yang diyakini-nya berdasarkan
kaidah ilmu kebumian.

Oleh karena pandangan
pandangan dari segi kebumian tidak populer , maka kita

tidak heran bahwa issue ahli kebumian ":dibayar" oleh Lapindo
muncul sejak lama.

Pelik memang !!!!!

Si - Abah


_____________________________________________________________________



Pelik juga tho? Jadi lain waktu ahli geologi
perlu belajar kepada pakar
politik utk memastikan bahwa
kebijakan SBY murni tanpa motif kepentingan
politik.


Wassalaam
Ahmiyul



-----Original Message-----

From: Rovicky Dwi Putrohari
[mailto:[EMAIL PROTECTED]
Sent: Friday, December 29, 2006
11:10
To: [email protected]; migas indonesia;
[EMAIL PROTECTED]
Subject: [iagi-net-l] Lapindo Harus
Sediakan Rp 3,8 T - 2 Pakar Geologi
Kuak
Misteri
Lumpur Sidoarjo

Walaupun Geologist menyatakan gejala
itu sebagai bencana alam tetapi
SBY tetap menuntut Lapindo
untuk bertanggung jawab.

Hmmm ;)

RDP

=====

JAWAPOS
Jumat, 29 Des 2006,
Lapindo Harus Sediakan Rp 3,8 T


Hasil Rapat SBY dengan Bupati Sidoarjo dan Gubenur Jatim
JAKARTA - Tidak sia-sia Gubernur Jawa Timur Imam Utomo dan Bupati

Sidoarjo Win Hendrarso dua hari di Jakarta untuk memperjuangkan
warga
korban lumpur Lapindo. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono
mengabulkan
proposal untuk memastikan anggaran penanggulangan
lumpur di Porong,
Sidoarjo.

---
2 Pakar Geologi Kuak Misteri Lumpur Sidoarjo

Detik.com Desember 28th, 2006

2006-12-28 18:48:00
Budi Sugiharto - detikcom Surabaya - Untuk menguak
misteri
semburan lumpur yang terjadi di sekitar sumur Lapindo Brantas

Inc di Porong, Sidoarjo, Polda Jawa Timur memanggil 2 spesialis

geologi asal Indonesia.


http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2006/bulan/12/tgl/28/tim

e/184850/idnews/725009/idkanal/10

--
http://rovicky.wordpress.com/


---------------------------------------------------------------------
-----  PIT IAGI ke 35 di Pekanbaru, 20-22 November 2006
-----  detail information in http://pekanbaru2006.iagi.or.id
---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke