Para sahabat yang saya hormati,

Setelah sekian lama membaca diskusi ini, saya jadi
sedikit tertarik untuk berkomentar sedikit terutama
pengalaman kerja dengan beberapa perusahaan asing
maupun nasional.

Namun saya masih percaya dengan komitmen Gus Ipul di
bawah ini yang masih menyuarakan kepentingan nasional.

Cost recovery tentunya dapat diterapkan bila daerah /
blok tersebut sudah berproduksi. Namun muncul beberapa
kondisi / hal antara lain :
1. Tentunya ada kriteria dan peraturan yang jelas
sehingga sesuatu pengeluaran dapat dimasukkan sebagai
bagian dari Cost Recovery.
2. Kadang kala (mungkin sering) pekerjaan dilakukan di
luar negri (sering disebut TSA) namun biayanya
dimasukkan dalam komponen Cost Recovery kenapa tidak
dibebankan pada negara yang menjalankan studi itu.
3. Untuk urusan personalia, terutama ekspat, memang
agak sulit karena mereka "dapat" diatur posisinya
(RPTKA) sehingga bisa tinggal lebih lama (secara
prosedur mereka benar tapi seharusnya tidak). Tentang
kemampuan ekspat khususnya yang muda dan belum
pengalaman, seharusnya company yang bersangkutan lebih
bertanggung jawab secara etika profesi (ada tidak?)
4. Masalah biaya operasi, apakah tidak lebih baik
diberikan "range" biaya standar yang digunakan untuk
jasa atau pembelian barang? Sehingga jelas bila ada
"mark up" dan dapat dimintakan alasan teknisnya.

Untuk mengurangi (tidak bisa langsung menghapus)
masalah di atas butuh ketegasan hukum dan kerja sama
antara perusahaan yang bersangkutan dan pihak
pemerintah (MIGAS dan BPMIGAS). Sebab bila tidak maka
kita dianggap kurang kondusif untuk iklim investasi.

Menarik juga untuk dipelajari apakah ada Cost Recovery
di negara-negara penghasil minyak lainnya seperti
Malaysia, Brunei, Timur Tengah, dst ... dst.

Sekedar urun rembug biasa dan maaf bila ada yang
kurang berkenan.

Dari seorang tenaga kerja Indonesia di Indonesia

--- Sri Adrianto <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Yth bapak "so what gitu lho", 
>    
>   Saya sangat tidak setuju dengan statement anda,
> karena  ini bukan sekedar "masalah So What Gitu
> Lho", tapi suatu "kecolongan" fundamental yang mesti
> cepat-cepat dibenahi dan dibuat jelas.
> Meng-ekspat-kan bule yang baru keluar sekolah untuk
> belajar di Indonesia, dan biayanya di-beban-kan ke
> cost-recovery, jelas-jelas "perampokan". 
>    
>   Sebenarnya peraturan authority MIGAS Indonesia
> sejak jaman dulu sangat jelas, bule-bule yang bisa
> ditempatkan disini (sebagai pegawai, expats, yang
> dianggap expert) adalah orang-orang yang seharusnya
> memang punya pengalaman luas di bidangnya, yang
> nantinya pengalamannya mesti dibagi ke pegawai lokal
> yang akan pegang post dia dalam beberapa tahun.
> Jadi, seperti sudah dikomentari mas Frank, mas
> Syaiful, sangatlah absurd untuk percaya kalau ada
> bule yang baru selesai sekolah 3 tahun yang lalu
> (apapun sekolah asalnya) ditempatkan di Indonesia,
> dibebankan pada recovery cost atau production cost,
> atau biaya apapun, dianggap expert, yang dianggap
> punya "kesaktian" lebih untuk dibagi. Yang terjadi,
> mereka "mengambil kesaktian"nya mas Frank, mas
> Syaiful, dll, yang nantinya bakal dipakai di filial
> yang lain...
>    
>   Ironisnya, seringkali terjadi bahwa "prestasi"
> Human Resources Manager (yang biasanya orang
> Indonesia, supaya bisa lebih "smooth" jika
> berinteraksi dengan  authority MIGAS) diukur dari
> "berapa banyak si manager tersebut bisa meloloskan
> bule untuk dipekerjakan di Indonesia atas pesenan
> CEO-nya yang selalu bule" - challenge buat beliau
> ini adalah, bagaimana bisa mendapatkan ijin kerja
> untuk "ekspat-cucakrowo mumet" di Indonesia (karena
> untuk bule experienced dan expert biasanya sudah ada
> peraturan yang jelas). Dan kita sama-sama tahu kalau
> gaji mereka (yang udah standard Amrik, Inggris,
> Itali, Perancis, atau apapun) karena kerja disini
> sebagai ekspat jadi dobel, eh...terus di "cost
> recovery"khan...nah bolong-lah kocek-nya bangsa
> Indonesia karena "dikosongin" dari dalam dan luar!!!
>    
>   Maaf jadi melantur, tapi point saya adalah : ada
> banyak masalah yang bukan sekedar "So what gitu
> lho", banyak masalah yang mesti kita fikirkan
> bersama secara fundamental jalan keluarnya, seperti
> menghindari penempatan "ekspat cucakrowo mumet" yang
> berkaitan dengan "lenyapnya" uang bangsa indonesia
> ber-trilyun-trilyun tanpa ada "nilai tambah" yang
> bisa diambil oleh bangsa kita tercinta ini!
>    
>   salam,
>   Sri Adrianto 
>   
> [EMAIL PROTECTED] wrote:
>   >
> SO WHAT GITU LHO
> 
> 
> frank dkk lainnya,
> >
> > kondisi tsb tampaknya masih bisa ditemui sekarang.
> di kumpeni saya yg
> > lama, kebetulan bukan di departemen saya
> (eksplorasi), tepatnya
> > departemennya orang2 yg suka bikin pod dll, ada 2x
> 'anak' bule baru,
> > bahkan baru beberapa bulan saja kerja, terus
> ditempatkan di indonesia
> > (jakarta).
> >
> > agak disayangkan, rekan indonesia yg sebenarnya
> lebih pinter dan lebih
> > lama bekerja di kumpeni tsb, ya 'pasrah' saja.
> misalnya, kalo ada
> > rapat teknis, eh si bule muda ini yg diajak,
> justru seringkali si
> > indonesia pinter kok malah nggak diikutkan. belum
> lagi perlakuan
> > diskriminasi ras lainnya (ruangan kerja dsb).
> >
> > kalo di departemenku, wis aku .....
> >
> > salam,
> > syaiful
> >
> > On 1/25/07, Franciscus B Sinartio wrote:
> >> .....
> >>
> >> kontrol pasti sangat sukar dilakukan dari dalam,
> tapi harus dari
> >> BP-Migas.
> >> mereka juga perlu dana untuk biayai riset mereka
> di kantor pusat.
> >> kalau jaman dulu malah Indonesa di jadikan
> training ground beberapa
> >> perusahaan besar.
> >> ada yang baru pengalaman 3-5 tahun di hire
> sebagai expat di Indonesia
> >> padahal tidak ada ke ahlian khusus yang bisa
> langsung di kontribusikan.
> >> di Indonesia mereka belajar,pakai biaya
> cost-recovery.kalau sudah
> >> pintar,kerja di tempat lain.
> >> mudah2an tidak ada lagi yang kayak gini di
> Indonesia sekarang.
> >> ditempat saya kerja sekarang ada yang kayak gini.
> orang baru lulus BSc
> >> jadi expat disini.
> >> katanya IP nya sangat tinggi di universitas
> terkenal di amrik sana.
> >>
> >> best regards,
> >> frank
> >
> > --
> > Mohammad Syaiful - Explorationist
> > Mobile: 62-812-9372808
> > Email: [EMAIL PROTECTED]
> >
> > Exploration Think Tank Indonesia (ETTI)
> > Head Office:
> > Jl. Tebet Barat Dalam III No.2-B Jakarta 12810
> Indonesia
> > Phone: 62-21-8356276 Fax: 62-21-83784140
> > Email: [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]
> >
> >
>
---------------------------------------------------------------------
> > siap melancong dan presentasi di Bali pada tahun
> 2007 ini???
> > ayo bersiap untuk PIT Bersama HAGI-IAGI dan
> asosiasi2 lainnya di Pulau
> > Dewata!!!
> > semarakkan dengan makalah-makalah yang berkualitas
> internasional...
> >
>
---------------------------------------------------------------------
> > To unsubscribe, send email to:
> iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
> > To subscribe, send email to:
> iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
> > Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
> > Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
> > Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
> > No. Rek: 123 0085005314
> > Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
> > Bank BCA KCP. Manara Mulia
> > No. Rekening: 255-1088580
> > A/n: Shinta Damayanti
> > IAGI-net Archive 1:
> http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
> > IAGI-net Archive 2:
> http://groups.yahoo.com/group/iagi
> >
>
---------------------------------------------------------------------
> >
> 
> 
>
---------------------------------------------------------------------
> siap melancong dan presentasi di Bali pada tahun
> 2007 ini???
> ayo bersiap untuk PIT Bersama HAGI-IAGI dan
> asosiasi2 lainnya di Pulau Dewata!!!
> semarakkan dengan makalah-makalah yang berkualitas
> internasional...
>
---------------------------------------------------------------------
> To unsubscribe, send email to:
> iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
> To subscribe, send email to:
> iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
> Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
> Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
> Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
> No. Rek: 123 0085005314
> Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
> Bank BCA KCP. Manara Mulia
> No. Rekening: 255-1088580
> A/n: Shinta Damayanti
> IAGI-net Archive 1:
> http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
> IAGI-net Archive 2:
> http://groups.yahoo.com/group/iagi
>
---------------------------------------------------------------------
> 
> 
> 
> 
> Sri Adrianto
>   C/ Costa Brava 14B
>   Madrid-28034
>   Spain
> 
>  
> ---------------------------------
>  Get your own web address.
>  Have a HUGE year through Yahoo! Small Business.



 
____________________________________________________________________________________
The fish are biting. 
Get more visitors on your site using Yahoo! Search Marketing.
http://searchmarketing.yahoo.com/arp/sponsoredsearch_v2.php

---------------------------------------------------------------------
siap melancong dan presentasi di Bali pada tahun 2007 ini???
ayo bersiap untuk PIT Bersama HAGI-IAGI dan asosiasi2 lainnya di Pulau Dewata!!!
semarakkan dengan makalah-makalah yang berkualitas internasional...
---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke