Mas Bambang,

Aku lagi bangun kepagian neh.... gak bisa tidur lagi... -:(
jadi njawab lagi neh....
Kalau emang gak punya SCAL, bisa juga pake Laveret J. Karena wellnya sudah
berjibun, tentu dari well lama udah ada informasi FWL. Atau RFT pasti dari
well lama ada, jadi FWL bisa interpretasi.
nah kalau RFT ada, maka parameter untuk ngitung J di well sudah bisa
dilakukan. Kan mas udah punya PERM, POR. Yang laen bisa pake konstan.

Jadi J bisa dihitung dengan J=(0.2166*height(delta gradien wetting dan non
wetting)/IFT)*squaroot(PERM/POR)
Height= Tinggi dari FWL dalam feet
delta gradien wetting dan non wetting = beda gradien antara oil and water
atau gas and water dalam psi/ft
IFT= pake aja konstan, oil=30 ; gas=50 dalam dyne/cm
PERM dalam mD
POR dalam Fracion

Next:
Jangan lupa J dihitung pada sumur yang masih virgin/belum pernah keproduksi.
Tentu mas bambang juga punya SW nya dong.

maka J vs SW bisa di crosplot. Tapi jangan lupa harus dicoba Zone by Zone.
Nanti mas akan melihat plot yang persis seperyi huruf J terbalik. Maka *Power
Equation* bisa dibuat di crosplot tadi.
Jadi Relationship J dengan SW bisa diketahui dari Power Equation tersebut.

Di 3D static Model kan mas Udah punya POR dan PERM serta punya FWL (height
bisa dihitung), maka J juga bisa dihitung dengan persamaan di atas.
Kalau J di 3D Static Model udah dihitung, maka SW di 3D Static Model bisa
dihitung dengan menggunakan *Power Equation* tadi.
Jadi.... SW bisa dihitung deh.....

kalau 3D Static Modelnya yahud, maka untuk menjawab berapa Sw di daerah yang
belum di drill.... serahin aja sama RE. dari simulasi (tentu history
machingnya harus bagus dulu yah...) akan ketahuan remaining Sw nya khan....
Tapi kalau asumsi/interpretasinya masih belum ke swab, SW dari J funtion
tadi bisa di pake untuk prediksi.

jadi kita bisa makan siang bersama.... he...he... tapi aku neng KL.


salam
Pujiyono


On 4/17/07, Bambang Satya Murti <[EMAIL PROTECTED]> wrote:


Mas Puji & mas Herry,

Setuju, secara geologis, rasanya saya juga lebih "convenient"
mempergunakan HAFWL, karena komponen-komponen yang disebutkan mas Puji
dibawah. Metode yang saya pergunakan adalah deterministic, jadi, ya, memang
dipengaruhi oleh model.

Kembali mengenai Swe Irr tersebut, menurut yang empunya gawe, metode ini
dipergunakan karena locus-nya di mature field, maka untuk meng-capture
data-data dari sumur yang lebih baru (di area depletion), maka metode ini
lebih bisa mewakili. Sayangnya di lapangan yang ini tidak punya SCAL, jadi
ndak bisa dikalibrasi. Juga, persis seperti sinyalemen mas Puji,
permeability nya merupakan transform.

Lha kalau pakai Swe Irr (Coates-Hire transform), digathuk-gathukke karo
model facies-nya tetep ndak gathuk je..akhirnya, ya, di grid saja.



Barangkali ada juga yang sudah pernah "otak-atik" antara Swe Irr di
sumur-sumur yang di virgin zone dibanding dengan sumur-sumur yang di
depletion zone? Kendala yang saya miliki adalah sumur-sumur kelompok pertama
(virgin zone) di drill tahun 70an awal, jamannya masih pakai teknologi
"ja-dul", vertical resolutionnya masih ehm...ehmm, dan sumur-sumur kelompok
kedua, pakai yang Hi-Res, jadi, ya sulit untuk membicarakan apple to apple.



Barangkalai temen-temen petrophysicist punya pengalaman disini? Om Nyoto
?  Om Gumilar? Bli Gde? Kang Shofi?



Helppp.... :)

Bambang


  ---------[ Received Mail Content ]----------

*Subject : *Re: [iagi-net-l] Volumetric - HIIP

*Date : *Sun, 15 Apr 2007 17:58:05 -0700 (PDT)

*From : *Herry Maulana <[EMAIL PROTECTED]>

*To : [EMAIL PROTECTED]


 Mas Bambang,



Sekedar menambahkan keterangan pakde Puji, ada beberapa pilihan lain untuk
penentuan saturation height, yg paling umum Leverett J seperti yg disebut
Puji, di kumpeni yg lama ada juga yg pake Skelt-Harrison Function, dimana
kedua-duanya sama-sama SCAL-based function.



Ini ada paper yg membahas berbagai metoda saturation height function dan
efeknya terhadap perhitungan STOOIP:



http://www.ux.uis.no/~s-skj/Svalex2004/prelim/00071326.pdf



Satu yg jelas seperti kata mas Puji di bawah, metode Swe irreducible akan
lebih optimis karena tidak memasukkan transitional Sw di dalam transition
zone..



Salam,


Herry





----- Original Message ----


From: Pujiyono Yolanda


To: [email protected]


Sent: Sunday, 15 April, 2007 6:29:37 AM


Subject: Re: [iagi-net-l] Volumetric - HIIP




Mas Bambang yang ngganteng,



Apa khabar mas?




- Model porosity (ini masih diperdebatkan, mau PHIT atau PHIE)




Kalau keperluannya untuk perhitungan Volume, PHIT atau PHIE bisa saja
digunakan asalkan penggunaanya tepat. PHIT harus berpasangan dengan SWT
sementara PHIE tentu harus berpasangan dengan SWE. Coba saya ngitung PORE
VOLUME di well.... pasti hasilnya akan sama untuk keduanya (kalau nggak sama
tanyaain petrophysisnya.... kok iso yo?)



tetapi hati2 kalau modelnya akan digunakan untuk simulasi... karena kalau
pake PHIT, POREVOLUME nya akan gadang bana (besar banget). Ini tentu akan
merepotkan si RE karena simulator akan berangkat dari POREVOLUME. Walaupun
nanti SWT-nya 100 % (walaupun sebenarnya Irreducable)... tetap saja
merepotkan. Sementara PC-SW table yang digunakan tentu berdasarkan SCAL yang
notabene SWE. Belum lagi kalau Permeability transformnya diderive dari
Porosity (porosity selalu dipake dalam transform permeability baik
sendiirian maupun dikawani VCLAY dkk.)



Jadi mendingan pake PHIE dan SWE saja mas biar nggak repot...




1. Model saturasi air berdasarkan model saturation height function, ini
biasanya disederhanakan dg pendekatan capillary pressure


2. Model saturasi air berdasarkan model Swe Irreducible (populasi lateral
model ini sebagian besar dipengaruhi oleh model fasies, jadi,
petrophysicistnya juga musti hati2).


Nah, beberapa kali mencoba, koq kelihatannya dg metode Swe Irreducible ini
koq hasilnya lebih optimis ya? Bisa sekitar 10 -15%.




Untuk model saturation, biasanya memang RE pake Pc-Sw table yang
didapatkan dari SCAL. Pc-Sw table ini tentu akan beda2 untuk Rock Type yang
beda2 (biasanya dibagi sekitar 5an Rock Type). Alternatif lain bisa pake
Laverett J Function (fungsi dari Pc ( di Model bisa dihitung dengan "Height
above FWL" time "Different gradien antara wetting dan non wetting"),
Interfacial Tension, Permeability dan Porosity). Idenya adalah untuk
menyederhanakan Pc-Sw curve yang banyak itu (masing2 rock type punya
satu),menjadi satu curve saja. Ini saya yang paling suka.


Kelebihan techniq ini tentu selain mempertimbangkan adanya zona transisi
antara HC dan Water , harga SW akan jive dengan Permeability dan
Porositinya.



Untuk yang techniqnya yang kedua (stochastic based)... maaf saya kurang
setuju... karena harga saturasinya sama sekali tidak melihat efek dari Pc
dan tentu tidak akan jive 100% dengan Porosity dan Permeability walaupun di
CoKrig.


Most likely dia akan optimis... karena saturasi di semua tempat
(vertically) akan sama untuk facies yang sama walaupun dekat dengan Contact
ataupun FWL sekalipun karena tidak melihat effect dari Pc.



Jadi pake Laverett J Function saja mas....



Salam


Pujiyono






On 4/14/07, Bambang Satya Murti wrote:


Rekans,


Kalau kita mau meng-estimasi berapa sih Hydrocarbon Initially In Place
(HIIP) di suatu struktur, misalnya dengan cara pemetaan konvensional, kita
akan memerlukan komponen2:


- Gross Rock Volume


- Model Net to Gross


- Model porosity (ini masih diperdebatkan, mau PHIT atau PHIE)


- Model saturasi air dan resiprokal-nya saturasi HC.



OK, point yang mau dishare adalah pembuatan model saturasi air, karena
disini ada dua mahzab yang keduanya memiliki argimen tersendiri:


1. Model saturasi air berdasarkan model saturation height function, ini
biasanya disederhanakan dg pendekatan capillary pressure


2. Model saturasi air berdasarkan model Swe Irreducible (populasi lateral
model ini sebagian besar dipengaruhi oleh model fasies, jadi,
petrophysicistnya juga musti hati2).


Nah, beberapa kali mencoba, koq kelihatannya dg metode Swe Irreducible ini
koq hasilnya lebih optimis ya? Bisa sekitar 10 -15%.



Barangkali rekan-rekan ada yang pernah mencobanya?



Bambang








Create and Share your own Video Clip Playlist in minutes at Lycos MIX (
http://mix.lycos.com )


----------------------------------------------------------------------------
Hot News!!! CALL FOR PAPERS: send your abstract by 30 March 2007 to
[EMAIL PROTECTED] Joint Convention Bali 2007 - The 32nd HAGI, the 36th
IAGI, and the 29th IATMI Annual Convention and Exhibition, Bali Convention
Center, 13-16 November 2007
----------------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id To
subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id Visit IAGI
Website: http://iagi.or.id Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: Bank
Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta No. Rek: 123 0085005314 Atas nama: Ikatan
Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Bank BCA KCP. Manara Mulia No. Rekening:
255-1088580 A/n: Shinta Damayanti IAGI-net Archive 1:
http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2:
http://groups.yahoo.com/group/iagi---------------------------------------------------------------------




___________________________________________________________


Yahoo! Answers - Got a question? Someone out there knows the answer. Try
it


now.


http://uk.answers.yahoo.com/


 ------------------------------

*Create and Share your own Video Clip Playlist in minutes at Lycos MIX (
http://mix.lycos.com <http://mix.lycos.com/?if_Event=MAILmixtagline>)*
----------------------------------------------------------------------------
Hot News!!! CALL FOR PAPERS: send your abstract by 30 March 2007 to
[EMAIL PROTECTED] Joint Convention Bali 2007 - The 32nd HAGI, the 36th
IAGI, and the 29th IATMI Annual Convention and Exhibition, Bali Convention
Center, 13-16 November 2007
----------------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id To
subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id Visit IAGI
Website: http://iagi.or.id Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: Bank
Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta No. Rek: 123 0085005314 Atas nama: Ikatan
Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Bank BCA KCP. Manara Mulia No. Rekening:
255-1088580 A/n: Shinta Damayanti IAGI-net Archive 1: 
http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net <http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/IAGI-net>Archive 2:
http://groups.yahoo.com/group/iagi---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke