Tidak dibicarakan mengenai professional ladder.
padahal posisi manager, direktur, GM, sangat sedikit sekali.
Profesi sebagai specialist akan menguntungkan perusahaan karena bukan saja bisa 
jadi pengguna teknologi tapi bisa menjadi technology inventor; dan ini bisa 
jadi competitive advantage dalam E&P

Career Development Monitoring (CDM) sangat membantu kalau dilakukan dengan baik 
dan dengan hati tulus. jangan sejarah RPTKA diulang.

Seperti Pak Nataniel, saya juga pingin tahu kompetensi apa yang belum bisa 
dikuasai oleh tenaga nasional.

fbs

----- Original Message ----
From: Rovicky Dwi Putrohari <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Cc: [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; migas indonesia 
<[EMAIL PROTECTED]>; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; Forum Himpunan Ahli 
Geofisika Indonesia <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Saturday, June 30, 2007 7:47:05 PM
Subject: [Forum-HAGI] PENGHASILAN EKSPATRIAT TERLALU TINGGI, Pemerintah Atur 
Gaji Sektor ESDM

Ada banyak yang tidak cocok utkgaji lokal dari database yang saya miliki. Ada 
buah simalakama ketika berbicara gaji ekspat.
Bagi saya gaji beraapun ngga masalah, asalkan disesuaikan dengan perolehan 
perusahaan. Atau asalkan perforemance si pegawai entah asing maupun lokal 
sesuai yang diharapkan. 

Satu sisi yang harus diperhatikan adalah employement status. Ada yang bergaji 
sehari 1000-1500 US$/hari tetapi karena statusnya kontrak bukan permanen. Dan 
kontranyapun hanya 3-6 buan saja. Ini sakjane ya wajar saja. Juga harus diingat 
bahwa angka 1000-1500 US$/day ini seringkali dirancukan antara angka yg 
diterima si pegawai dengan angka billing perusahaan. Biasanya perusahaan 
memotong 30-60% untuk biaya admin perusahaan (bodyshop/supplier). Sehingga 
angka yg diterima si pegawai tidak sebesar itu. 

Disisi yang lain ... yang sering terlupa 
Bukan gaji ekspat ketinggian tapi gaji lokal yang kekecilan ... wupst !!

btw, enak untuk dibaca-baca ...
hef e nais dei !

RDP
"harusnya lebih bangga menggaji gede ketimbang menggaji kecil demi keuntungan 
usaha" 
===========================================================
PENGHASILAN EKSPATRIAT TERLALU TINGGI, Pemerintah Atur Gaji Sektor ESDM 


Saturday, 30 June 2007 01:49:00
JAKARTA, Investor Daily 

Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) saat ini mengkaji standar gaji 
tenaga kerja di setiap kontraktor kerja sama (KKS). Sebab, terjadi ketimpangan 
yang sangat menyolok antara gaji tenaga kerja nasional dan ekspatriat. 

Sebagai contoh, untuk level direktur utama, gaji tertinggi yang dinikmati 
ekspatriat mencapai Rp 295 juta, sedangkan dirut lokal hanya Rp 130,5 juta. 
Untuk level direksi, gaji tertinggi kespatriat sebesar Rp 245,8 juta, sedangkan 
lokal Rp 104,4 juta. 

"Kami tengah menyusun semacam standar atau patokan ketenagakerjaan di sektor 
migas, baik mengenai umur maupun gaji," ujar Direktur Jenderal Migas Departemen 
ESDM Luluk Sumiarso kepada Investor Daily di Jakarta, baru-baru ini. Untuk hal 
ini, Departemen ESDM berkoordinasi dengan Departemen Tenaga Kerja dan 
Transmigrasi (Depnakertrans). 

Menurut dia, gaji tenaga ekspatriat cenderung lebih tinggi karena umumnya 
mereka membawa keluarganya ketika datang ke Indonesia sehingga perusahaan harus 
menanggung tunjangan keluarga. Selain itu, ekspatriat memiliki kompetensi yang 
dibutuhkan, sementara tenaga kerja nasional belum mempunyai keahlian seperti 
itu. 

Namun, adanya kesenjangan tersebut menyebabkan banyak tenaga kerja nasional 
'lari' ke luar negeri atau ke perusahaan asing yang memiliki standar gaji lebih 
tinggi. 

Luluk mengatakan, gaji menjadi salah satu variabel untuk penghitungan biaya 
produksi yang harus ditagihkan ke pemerintah. "Karena itu, ya jangan asal 
menerima begitu saja apa yang diusulkan KKS. Kalau masih wajar tidak apa-apa, 
tapi kalau besarnya gaji kelewatan, pihak yang berwenang (BP Migas) harus bisa 
menolak," jelasnya. 

Secara terpisah, Kepala Badan Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (BP 
Migas) Kardaya Warnika mengatakan, pihaknya telah meminta para KKS agar tidak 
terlalu royal memberikan gaji atau fasilitas kepada ekspatriat. Saat ini, 
gajinya terlalu besar sehingga menimbulkan kesenjangan dengan tenaga kerja 
nasional. 

Kardaya juga merasa miris ketika mengetahui pengeluaran seorang ekspatriat di 
salah satu KKS mencapai 50% dari pengeluaran seluruh pekerja. Untuk menekan 
cost recovery , kata dia, pihaknya meminta KKS agar lebih mengakomodasi tenaga 
kerja nasional. 

Menurut Kardaya, peraturan resmi pemerintah tentang sistem ketenagakerjaan di 
KKS belum ada, namun BP Migas telah membuat aturan tersendiri. Dalam aturan 
itu, posisi yang sudah bisa diisi oleh tenaga kerja nasional tidak boleh diisi 
oleh tenaga ekspatriat. "Kami juga mewajibkan KKKS setiap tahun harus 
mengurangi ekspatriatnya hingga 50%," katanya. 

Bertambah 

Menurut BP Migas, jumlah tenaga kerja KKS (termasuk PT Pertamina EP) pada 2006 
adalah 26.637 orang, yakni 24.568 orang tenaga kerja nasional dan 1.069 tenaga 
ekspatriat. Pada 2005, jumlah tenaga kerja mencapai 25.266 orang, yakni 24.252 
tenaga kerja nasional dan 1.014 ekspatriat. 

Penambahan jumlah tenaga ekspatriat sepanjang 2004-2006 umumnya terjadi pada 
KKS yang belum berproduksi (tahap eksplorasi) karena adanya kontrak wilayah 
baru. 

Kardaya mengatakan, program pengembangan tenaga kerja nasional harus menjadi 
komitmen semua KKS. Agar program berjalan efektif, telah diluncurkan career 
development monitoring (CDM). Tujuannya, menilai kesungguhan KKS dalam 
mengutamakan penggunaan dan pengembangan tenaga kerja nasional. 

Dalam konteks itu, ada evaluasi program suksesi tenaga ekspatriat dengan tenaga 
kerja nasional serta program internasionalisasi tenaga kerja nasional. 

Sepanjang 2004-2006, kata Kardaya, jumlah tenaga kerja nasional yang berhasil 
distandarkan dengan sistem internasional meningkat signifikan. Pada 2004 hanya 
25 orang, namun pada 2005 menjadi 47 orang dan pada 2006 menjadi 52 orang. 
Suksesi dari tenaga ekspatriat ke tenaga kerja nasional juga meningkat, secara 
berturut-turut adalah 18, 39, dan 44 orang. 

Sementara itu, Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Ari Hernanto Soemarno 
mengatakan, jumlah tenaga ekspatriat yang dipekerjakan perseroan tidak lebih 
dari 1% dari total 18.700 pekerja. 

Ari mengakui, tenaga ekspatriat tetap diperlukan, sebab tidak semua kompetensi 
pekerjaan eksplorasi dan produksi migas bisa dipenuhi tenaga kerja nasional. 

Juru bicara ExxonMobil Oil Indonesia (EMOI) Deva Rahman mengatakan, sebanyak 
95% dari 1.600 tenaga kerja EMOI adalah nasional. 

Deva mengakui, gaji ekspatriat di EMOI jauh lebih tinggi dari tenaga kerja 
nasional. Sebab, mereka membawa seluruh keluarganya, sehingga tunjangan yang 
harus diberikan juga jauh lebih besar. "Tapi, sebaliknya, kalau ada tenaga 
kerja nasional yang kita kirim ke luar Indonesia juga diperlakukan serupa," 
paparnya. 

Berdasarkan penelusuran Investor Daily , karyawan biasa di Cevron dengan masa 
kerja di bawah 30 tahun mendapat gaji Rp 10,3 juta per bulan, Total E&P Rp 
5,4-13,3 juta, ConocoPhilips Rp 6,1-10,2 juta, dan Pertamina Rp 3,8-8,1 juta. 

Biasanya, terdapat perbedaan gaji yang signifikan antara field officer dan 
nonfield officer . Total misalnya, akan membayar field engineer -nya di angka 
Rp 12 juta, yang kerjanya berpanas-panas di rig dua minggu on dan dua minggu 
off . Sementara itu, untuk nonfield jatuh iangka Rp 4-5 juta. 

Lebih Tinggi 

Sumber Investor Daily yang menjadi partner di sebuah perusahaan headhunter 
mengatakan, pekerja ekspatriat yang bekerja di perusahaan migas asing yang 
beroperasi di Indonesia mendapatkan gaji 30-50% lebih besar dari pekerja lokal 
asal Indonesia. Dia mengatakan, eksekutif level direktur utama ekspatriat yang 
bekerja di perusahaan Blok Badak di Kalimantan Timur seperti Total, Vico, Eni 
bergaji mencapai kisaran EURO 180-300.000 per tahun, atau sekitar Rp 
2,124-3,540 miliar per tahun atau Rp 177-295 juta per ulan, dengan asumsi kurs 
EURO 1 sama dengan Rp 11.8000. 

Sementara itu, untuk level direktur ekspatriat bergaji EURO 150.000-250.000 per 
tahun, atau sekitar Rp 1,770-2,950 miliar per tahun atau Rp 147,5-245,833 
juta/bulan. Ekspatriat yang bekerja di perusahaan asing yang beroperasi di 
Indonesia pada level general manager/manager gajinya US$ 6.000-12.000/bulan 
atau sekitar Rp 52,200-104,400 juta/ bulan. Sedangkan posisi komisaris umumnya 
diduduki orang lokal. 

Menurut dia, gaji ekspatriat lebih 50% tinggi dari gaji tersebut lagi, jika 
bekerja di kantor pusatnya atau di wilayah kawasan tertentu ( region area ), 
misalnya Asia Pasifik. "Gaji ekspatriat yang bekerja di negaranya atau region 
area bisa mencapai lebih EURO 300.000 per tahun," katanya. Itu belum termasuk 
tambahan fasilitas lain seperti keanggotaan club ekslusif agar bisa bergaul, 
pengawal, kendaraan, fasilitas perumahan, asuransi, dan fasilitas umum lainnya. 

Sebagai perbandingan, gaji pekerja lokal di perusahaan asing migas yang 
beroperasi di Indonesia untuk level komisaris Rp 40-120 juta per bulan, dirut 
US$ 15.000/bulan atau sekitar Rp 130,5 juta/ bulan, direktur lebih rendah 
20-40% dari dirut atau US$ 9.000-12.000/bulan atau sekitar Rp 104,4 juta/bulan, 
GM/manager dikurangi 30-50% atau US$ 5.000-7.000/bulan atau Rp 43,5-60,9 
juta/nulan, fresh graduate untuk S1 geologist Rp 2-3 juta/bulan, dan 
berpengalaman Rp 5 juta/bulan. 

Dia mengatakan, pekerja lokal yang bekerja di perusahaan asing biasanya 
mendapatkan gaji standard dengan ukuran biaya hidup mencukupi atau lebih 
sedikit di Indonesia, plus mobil, dan perumahan, dan fasilitas tunjangan umum 
lainnya. 

Menurut sumber, walaupun gaji pekerja lokal di perusahaan asing masih lebih 
kecil 50% dari pekerja ekspatriat, itu sudah lebih baaik dibandingkan tahun 
1970-an. Saat itu, gaji pekerja asal Indonesia hanya sekitar 10% dari pekerja 
ekspatriat yang bekerja di perusahaan asing migas yang bekerja di Indonesia. 
(ari/lim/dr) 

-- 
http://rovicky.wordpress.com/
_______________________________________________
Joint Convention Bali 2007
HAGI - IAGI - IATMI

Secretariat : 
ETTI (Exploration Think Tank Indonesia)
Jln. Tebet Barat Dalam III no.2-B
Jakarta 12810 Indonesia
Phone +62-21-8356276
Fax +62-21-83784140
_______________________________________________
The Indonesian Assosiation Of Geophysicists mailing list.
[EMAIL PROTECTED]
www.hagi.or.id

Kirim email ke