Apa masih banyak yang kerja di LN (apalagi yang di heaquarter) di bayar cost 
recovery di PSC yang di Indonesia.
Wah ini PR untuk BP-Migas.
Kalau mereka memang training lain ceritanya, dan bisa dimasukin dalam training. 
 tetapi kalau mereka kerja disana sebagai pegawai Business Unit yang di sana, 
maka perlu ditinjau ulang kali....

Petrophysicist kurang di Indonesia?  masa iya ya.... baru tahu saya.... memang 
satu perusahaan PSC paling punya satu atau dua orang saja, selebihnya di 
outsource kan. nya. Kalau Malaysia cari petrophysicist biasanya berpaling ke 
Indonesia, dan biasanya dapat

3D static modelling memang bukan hal yang umum di Indonesia, tetapi jadi syarat 
untuk POD (FDP) di Malaysia.
Awalnya kalau tidak salah dari Shell.
Kalau tidak salah di Nigeria juga bukan syarat, jadi peta2 2D langsung 
dimasukin ke reservoir simulation dari reservoir engineer.

Ada satu hal lagi yang agak lain yang saya amati di Nigeria ini, yaitu kontrak 
untuk ekplorasi berbeda dengan kontrak untuk development&produksi.  Jadi kalau 
sudah berhasil eksplorasi, maka harus bikin kontrak baru lagi untuk development 
dan produksi.  persentase kepemilikan berbeda.  pemerintah otomatis dapat 
sekian persen.  dan kepemilikan berubah terus sejalan dengan banyaknya minyak 
yang diproduksi.  semakin banyak minyak yang sudah diprosuksi semakin besar 
jatah pemerintah.  
Waktu saya tanya kenapa tidak ditentukan sejak awal kontrak eksplorasi, maka 
jawaban nya adalah karena masih besar uncertainty untuk mendapatkan minyak, 
maka tidak tahu pemerintah harusnya dapat berapa %.

best regards,
frank



trohari <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]; Forum Himpunan Ahli Geofisika Indonesia <[EMAIL 
PROTECTED]>
Sent: Sunday, July 1, 2007 5:24:08 AM
Subject: Re: [Forum-HAGI] PENGHASILAN EKSPATRIAT TERLALU TINGGI, Pemerintah 
Atur Gaji Sektor ESDM


Kompetensi yang sulit dicari di indonesia saya ada beberapa. Tapi
inget yang dimaksud disini bukan brarti ga ada org Indonesia yang
kompeten mengerjakan. Tetapi hanya orangnya ga ada.
Saat ini kebutuhan 3D modeller cukup banyak begitu juga
petrophysicist, ini contoh dua saja. Bukan brarti org Indonesia ga ada
yg bisa, tapi. Ga ada org indonesia di jakarta. Lah kalo malah mau
nurunin gaji expat skalipun! ya itulah konsekuensinya ahli
indonesiannya ya mending ke LN.

Yg perlu disadari bahwa hampir semua perusahaan memperlakukan pegawe
yg kerja di luar negaranya mendapat cost of living allowance, ini
sudah wajar juga dan berlaku juga buat org indonesia yg kerja di ln.
Bahkan pegawe pertaminapun juga begitu. Jadi wajar kalo org asing
menjadi expat di indonesia juga sama.  Sayangnya org indonesia yg ke
LN dianggap bagian training yg akhirnya cost recovered. Ini yg harus
diperhatikan dalam pengawasan cost di BPMigas.

Kalau dari cost sakjane manpower cost itu hanyalah 5-8 pct (average).
Tapi kalau ga ada orgnya ya semua menjadi nol.

We are not running out of prospects,
We are running out of people.

Salam
Rdp

On 7/1/07, Franciscus B Sinartio <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Tidak dibicarakan mengenai professional ladder.
> padahal posisi manager, direktur, GM, sangat sedikit sekali.
> Profesi sebagai specialist akan menguntungkan perusahaan karena bukan saja
> bisa jadi pengguna teknologi tapi bisa menjadi technology inventor; dan ini
> bisa jadi competitive advantage dalam E&P
>
> Career Development Monitoring (CDM) sangat membantu kalau dilakukan dengan
> baik dan dengan hati tulus. jangan sejarah RPTKA diulang.
>
> Seperti Pak Nataniel, saya juga pingin tahu kompetensi apa yang belum bisa
> dikuasai oleh tenaga nasional.
>
> fbs
>
> ----- Original Message ----
> From: Rovicky Dwi Putrohari <[EMAIL PROTECTED]>
> To: [email protected]
> Cc: [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED];
> [EMAIL PROTECTED]; migas indonesia
> <[EMAIL PROTECTED]>; [EMAIL PROTECTED];
> [EMAIL PROTECTED]; Forum Himpunan Ahli Geofisika Indonesia
> <[EMAIL PROTECTED]>
> Sent: Saturday, June 30, 2007 7:47:05 PM
> Subject: [Forum-HAGI] PENGHASILAN EKSPATRIAT TERLALU TINGGI, Pemerintah Atur
> Gaji Sektor ESDM
>
> Ada banyak yang tidak cocok utkgaji lokal dari database yang saya miliki.
> Ada buah simalakama ketika berbicara gaji ekspat.
> Bagi saya gaji beraapun ngga masalah, asalkan disesuaikan dengan perolehan
> perusahaan. Atau asalkan perforemance si pegawai entah asing maupun lokal
> sesuai yang diharapkan.
>
> Satu sisi yang harus diperhatikan adalah employement status. Ada yang
> bergaji sehari 1000-1500 US$/hari tetapi karena statusnya kontrak bukan
> permanen. Dan kontranyapun hanya 3-6 buan saja. Ini sakjane ya wajar saja.
> Juga harus diingat bahwa angka 1000-1500 US$/day ini seringkali dirancukan
> antara angka yg diterima si pegawai dengan angka billing perusahaan.
> Biasanya perusahaan memotong 30-60% untuk biaya admin perusahaan
> (bodyshop/supplier). Sehingga angka yg diterima si pegawai tidak sebesar
> itu.
>
> Disisi yang lain ... yang sering terlupa
> Bukan gaji ekspat ketinggian tapi gaji lokal yang kekecilan ... wupst !!
>
> btw, enak untuk dibaca-baca ...
> hef e nais dei !
>
> RDP
> "harusnya lebih bangga menggaji gede ketimbang menggaji kecil demi
> keuntungan usaha"
> ===========================================================
> PENGHASILAN EKSPATRIAT TERLALU TINGGI, Pemerintah Atur Gaji Sektor ESDM
>
>
> Saturday, 30 June 2007 01:49:00
> JAKARTA, Investor Daily
>
> Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) saat ini mengkaji standar
> gaji tenaga kerja di setiap kontraktor kerja sama (KKS). Sebab, terjadi
> ketimpangan yang sangat menyolok antara gaji tenaga kerja nasional dan
> ekspatriat.
>
> Sebagai contoh, untuk level direktur utama, gaji tertinggi yang dinikmati
> ekspatriat mencapai Rp 295 juta, sedangkan dirut lokal hanya Rp 130,5 juta.
> Untuk level direksi, gaji tertinggi kespatriat sebesar Rp 245,8 juta,
> sedangkan lokal Rp 104,4 juta.
>
> "Kami tengah menyusun semacam standar atau patokan ketenagakerjaan di sektor
> migas, baik mengenai umur maupun gaji," ujar Direktur Jenderal Migas
> Departemen ESDM Luluk Sumiarso kepada Investor Daily di Jakarta, baru-baru
> ini. Untuk hal ini, Departemen ESDM berkoordinasi dengan Departemen Tenaga
> Kerja dan Transmigrasi (Depnakertrans).
>
> Menurut dia, gaji tenaga ekspatriat cenderung lebih tinggi karena umumnya
> mereka membawa keluarganya ketika datang ke Indonesia sehingga perusahaan
> harus menanggung tunjangan keluarga. Selain itu, ekspatriat memiliki
> kompetensi yang dibutuhkan, sementara tenaga kerja nasional belum mempunyai
> keahlian seperti itu.
>
> Namun, adanya kesenjangan tersebut menyebabkan banyak tenaga kerja nasional
> 'lari' ke luar negeri atau ke perusahaan asing yang memiliki standar gaji
> lebih tinggi.
>
> Luluk mengatakan, gaji menjadi salah satu variabel untuk penghitungan biaya
> produksi yang harus ditagihkan ke pemerintah. "Karena itu, ya jangan asal
> menerima begitu saja apa yang diusulkan KKS. Kalau masih wajar tidak
> apa-apa, tapi kalau besarnya gaji kelewatan, pihak yang berwenang (BP Migas)
> harus bisa menolak," jelasnya.
>
> Secara terpisah, Kepala Badan Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi
> (BP Migas) Kardaya Warnika mengatakan, pihaknya telah meminta para KKS agar
> tidak terlalu royal memberikan gaji atau fasilitas kepada ekspatriat. Saat
> ini, gajinya terlalu besar sehingga menimbulkan kesenjangan dengan tenaga
> kerja nasional.
>
> Kardaya juga merasa miris ketika mengetahui pengeluaran seorang ekspatriat
> di salah satu KKS mencapai 50% dari pengeluaran seluruh pekerja. Untuk
> menekan cost recovery , kata dia, pihaknya meminta KKS agar lebih
> mengakomodasi tenaga kerja nasional.
>
> Menurut Kardaya, peraturan resmi pemerintah tentang sistem ketenagakerjaan
> di KKS belum ada, namun BP Migas telah membuat aturan tersendiri. Dalam
> aturan itu, posisi yang sudah bisa diisi oleh tenaga kerja nasional tidak
> boleh diisi oleh tenaga ekspatriat. "Kami juga mewajibkan KKKS setiap tahun
> harus mengurangi ekspatriatnya hingga 50%," katanya.
>
> Bertambah
>
> Menurut BP Migas, jumlah tenaga kerja KKS (termasuk PT Pertamina EP) pada
> 2006 adalah 26.637 orang, yakni 24.568 orang tenaga kerja nasional dan 1.069
> tenaga ekspatriat. Pada 2005, jumlah tenaga kerja mencapai 25.266 orang,
> yakni 24.252 tenaga kerja nasional dan 1.014 ekspatriat.
>
> Penambahan jumlah tenaga ekspatriat sepanjang 2004-2006 umumnya terjadi pada
> KKS yang belum berproduksi (tahap eksplorasi) karena adanya kontrak wilayah
> baru.
>
> Kardaya mengatakan, program pengembangan tenaga kerja nasional harus menjadi
> komitmen semua KKS. Agar program berjalan efektif, telah diluncurkan career
> development monitoring (CDM). Tujuannya, menilai kesungguhan KKS dalam
> mengutamakan penggunaan dan pengembangan tenaga kerja nasional.
>
> Dalam konteks itu, ada evaluasi program suksesi tenaga ekspatriat dengan
> tenaga kerja nasional serta program internasionalisasi tenaga kerja
> nasional.
>
> Sepanjang 2004-2006, kata Kardaya, jumlah tenaga kerja nasional yang
> berhasil distandarkan dengan sistem internasional meningkat signifikan. Pada
> 2004 hanya 25 orang, namun pada 2005 menjadi 47 orang dan pada 2006 menjadi
> 52 orang. Suksesi dari tenaga ekspatriat ke tenaga kerja nasional juga
> meningkat, secara berturut-turut adalah 18, 39, dan 44 orang.
>
> Sementara itu, Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Ari Hernanto Soemarno
> mengatakan, jumlah tenaga ekspatriat yang dipekerjakan perseroan tidak lebih
> dari 1% dari total 18.700 pekerja.
>
> Ari mengakui, tenaga ekspatriat tetap diperlukan, sebab tidak semua
> kompetensi pekerjaan eksplorasi dan produksi migas bisa dipenuhi tenaga
> kerja nasional.
>
> Juru bicara ExxonMobil Oil Indonesia (EMOI) Deva Rahman mengatakan, sebanyak
> 95% dari 1.600 tenaga kerja EMOI adalah nasional.
>
> Deva mengakui, gaji ekspatriat di EMOI jauh lebih tinggi dari tenaga kerja
> nasional. Sebab, mereka membawa seluruh keluarganya, sehingga tunjangan yang
> harus diberikan juga jauh lebih besar. "Tapi, sebaliknya, kalau ada tenaga
> kerja nasional yang kita kirim ke luar Indonesia juga diperlakukan serupa,"
> paparnya.
>
> Berdasarkan penelusuran Investor Daily , karyawan biasa di Cevron dengan
> masa kerja di bawah 30 tahun mendapat gaji Rp 10,3 juta per bulan, Total E&P
> Rp 5,4-13,3 juta, ConocoPhilips Rp 6,1-10,2 juta, dan Pertamina Rp 3,8-8,1
> juta.
>
> Biasanya, terdapat perbedaan gaji yang signifikan antara field officer dan
> nonfield officer . Total misalnya, akan membayar field engineer -nya di
> angka Rp 12 juta, yang kerjanya berpanas-panas di rig dua minggu on dan dua
> minggu off . Sementara itu, untuk nonfield jatuh iangka Rp 4-5 juta.
>
> Lebih Tinggi
>
> Sumber Investor Daily yang menjadi partner di sebuah perusahaan headhunter
> mengatakan, pekerja ekspatriat yang bekerja di perusahaan migas asing yang
> beroperasi di Indonesia mendapatkan gaji 30-50% lebih besar dari pekerja
> lokal asal Indonesia. Dia mengatakan, eksekutif level direktur utama
> ekspatriat yang bekerja di perusahaan Blok Badak di Kalimantan Timur seperti
> Total, Vico, Eni bergaji mencapai kisaran EURO 180-300.000 per tahun, atau
> sekitar Rp 2,124-3,540 miliar per tahun atau Rp 177-295 juta per ulan,
> dengan asumsi kurs EURO 1 sama dengan Rp 11.8000.
>
> Sementara itu, untuk level direktur ekspatriat bergaji EURO 150.000-250.000
> per tahun, atau sekitar Rp 1,770-2,950 miliar per tahun atau Rp
> 147,5-245,833 juta/bulan. Ekspatriat yang bekerja di perusahaan asing yang
> beroperasi di Indonesia pada level general manager/manager gajinya US$
> 6.000-12.000/bulan atau sekitar Rp 52,200-104,400 juta/ bulan. Sedangkan
> posisi komisaris umumnya diduduki orang lokal.
>
> Menurut dia, gaji ekspatriat lebih 50% tinggi dari gaji tersebut lagi, jika
> bekerja di kantor pusatnya atau di wilayah kawasan tertentu ( region area ),
> misalnya Asia Pasifik. "Gaji ekspatriat yang bekerja di negaranya atau
> region area bisa mencapai lebih EURO 300.000 per tahun," katanya. Itu belum
> termasuk tambahan fasilitas lain seperti keanggotaan club ekslusif agar bisa
> bergaul, pengawal, kendaraan, fasilitas perumahan, asuransi, dan fasilitas
> umum lainnya.
>
> Sebagai perbandingan, gaji pekerja lokal di perusahaan asing migas yang
> beroperasi di Indonesia untuk level komisaris Rp 40-120 juta per bulan,
> dirut US$ 15.000/bulan atau sekitar Rp 130,5 juta/ bulan, direktur lebih
> rendah 20-40% dari dirut atau US$ 9.000-12.000/bulan atau sekitar Rp 104,4
> juta/bulan, GM/manager dikurangi 30-50% atau US$ 5.000-7.000/bulan atau Rp
> 43,5-60,9 juta/nulan, fresh graduate untuk S1 geologist Rp 2-3 juta/bulan,
> dan berpengalaman Rp 5 juta/bulan.
>
> Dia mengatakan, pekerja lokal yang bekerja di perusahaan asing biasanya
> mendapatkan gaji standard dengan ukuran biaya hidup mencukupi atau lebih
> sedikit di Indonesia, plus mobil, dan perumahan, dan fasilitas tunjangan
> umum lainnya.
>
> Menurut sumber, walaupun gaji pekerja lokal di perusahaan asing masih lebih
> kecil 50% dari pekerja ekspatriat, itu sudah lebih baaik dibandingkan tahun
> 1970-an. Saat itu, gaji pekerja asal Indonesia hanya sekitar 10% dari
> pekerja ekspatriat yang bekerja di perusahaan asing migas yang bekerja di
> Indonesia. (ari/lim/dr)
>
> --
> http://rovicky.wordpress.com/
> _______________________________________________
> Joint Convention Bali 2007
> HAGI - IAGI - IATMI
>
> Secretariat :
> ETTI (Exploration Think Tank Indonesia)
> Jln. Tebet Barat Dalam III no.2-B
> Jakarta 12810 Indonesia
> Phone +62-21-8356276
> Fax +62-21-83784140
> _______________________________________________
> The Indonesian Assosiation Of Geophysicists mailing list.
> [EMAIL PROTECTED]
> www.hagi.or.id


-- 
http://rovicky.wordpress.com/

_______________________________________________
Joint Convention Bali 2007
HAGI - IAGI - IATMI

Secretariat : 
ETTI (Exploration Think Tank Indonesia)
Jln. Tebet Barat Dalam III no.2-B
Jakarta 12810 Indonesia
Phone +62-21-8356276
Fax +62-21-83784140
_______________________________________________
The Indonesian Assosiation Of Geophysicists mailing list.
[EMAIL PROTECTED]
www.hagi.or.id

----------------------------------------------------------------------------
Hot News!!!
CALL FOR PAPERS: send your abstract by 30 March 2007 to [EMAIL PROTECTED]
Joint Convention Bali 2007 - The 32nd HAGI, the 36th IAGI, and the
29th IATMI Annual Convention and Exhibition,
Bali Convention Center, 13-16 November 2007
----------------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke