Kompetensi yang sulit dicari di indonesia saya ada beberapa. Tapi
inget yang dimaksud disini bukan brarti ga ada org Indonesia yang
kompeten mengerjakan. Tetapi hanya orangnya ga ada.
Saat ini kebutuhan 3D modeller cukup banyak begitu juga
petrophysicist, ini contoh dua saja. Bukan brarti org Indonesia ga ada
yg bisa, tapi. Ga ada org indonesia di jakarta. Lah kalo malah mau
nurunin gaji expat skalipun! ya itulah konsekuensinya ahli
indonesiannya ya mending ke LN.

Yg perlu disadari bahwa hampir semua perusahaan memperlakukan pegawe
yg kerja di luar negaranya mendapat cost of living allowance, ini
sudah wajar juga dan berlaku juga buat org indonesia yg kerja di ln.
Bahkan pegawe pertaminapun juga begitu. Jadi wajar kalo org asing
menjadi expat di indonesia juga sama.  Sayangnya org indonesia yg ke
LN dianggap bagian training yg akhirnya cost recovered. Ini yg harus
diperhatikan dalam pengawasan cost di BPMigas.

Kalau dari cost sakjane manpower cost itu hanyalah 5-8 pct (average).
Tapi kalau ga ada orgnya ya semua menjadi nol.

We are not running out of prospects,
We are running out of people.

Salam
Rdp

On 7/1/07, Franciscus B Sinartio <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Tidak dibicarakan mengenai professional ladder.
padahal posisi manager, direktur, GM, sangat sedikit sekali.
Profesi sebagai specialist akan menguntungkan perusahaan karena bukan saja
bisa jadi pengguna teknologi tapi bisa menjadi technology inventor; dan ini
bisa jadi competitive advantage dalam E&P

Career Development Monitoring (CDM) sangat membantu kalau dilakukan dengan
baik dan dengan hati tulus. jangan sejarah RPTKA diulang.

Seperti Pak Nataniel, saya juga pingin tahu kompetensi apa yang belum bisa
dikuasai oleh tenaga nasional.

fbs

----- Original Message ----
From: Rovicky Dwi Putrohari <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Cc: [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED];
[EMAIL PROTECTED]; migas indonesia
<[EMAIL PROTECTED]>; [EMAIL PROTECTED];
[EMAIL PROTECTED]; Forum Himpunan Ahli Geofisika Indonesia
<[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Saturday, June 30, 2007 7:47:05 PM
Subject: [Forum-HAGI] PENGHASILAN EKSPATRIAT TERLALU TINGGI, Pemerintah Atur
Gaji Sektor ESDM

Ada banyak yang tidak cocok utkgaji lokal dari database yang saya miliki.
Ada buah simalakama ketika berbicara gaji ekspat.
Bagi saya gaji beraapun ngga masalah, asalkan disesuaikan dengan perolehan
perusahaan. Atau asalkan perforemance si pegawai entah asing maupun lokal
sesuai yang diharapkan.

Satu sisi yang harus diperhatikan adalah employement status. Ada yang
bergaji sehari 1000-1500 US$/hari tetapi karena statusnya kontrak bukan
permanen. Dan kontranyapun hanya 3-6 buan saja. Ini sakjane ya wajar saja.
Juga harus diingat bahwa angka 1000-1500 US$/day ini seringkali dirancukan
antara angka yg diterima si pegawai dengan angka billing perusahaan.
Biasanya perusahaan memotong 30-60% untuk biaya admin perusahaan
(bodyshop/supplier). Sehingga angka yg diterima si pegawai tidak sebesar
itu.

Disisi yang lain ... yang sering terlupa
Bukan gaji ekspat ketinggian tapi gaji lokal yang kekecilan ... wupst !!

btw, enak untuk dibaca-baca ...
hef e nais dei !

RDP
"harusnya lebih bangga menggaji gede ketimbang menggaji kecil demi
keuntungan usaha"
===========================================================
PENGHASILAN EKSPATRIAT TERLALU TINGGI, Pemerintah Atur Gaji Sektor ESDM


Saturday, 30 June 2007 01:49:00
JAKARTA, Investor Daily

Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) saat ini mengkaji standar
gaji tenaga kerja di setiap kontraktor kerja sama (KKS). Sebab, terjadi
ketimpangan yang sangat menyolok antara gaji tenaga kerja nasional dan
ekspatriat.

Sebagai contoh, untuk level direktur utama, gaji tertinggi yang dinikmati
ekspatriat mencapai Rp 295 juta, sedangkan dirut lokal hanya Rp 130,5 juta.
Untuk level direksi, gaji tertinggi kespatriat sebesar Rp 245,8 juta,
sedangkan lokal Rp 104,4 juta.

"Kami tengah menyusun semacam standar atau patokan ketenagakerjaan di sektor
migas, baik mengenai umur maupun gaji," ujar Direktur Jenderal Migas
Departemen ESDM Luluk Sumiarso kepada Investor Daily di Jakarta, baru-baru
ini. Untuk hal ini, Departemen ESDM berkoordinasi dengan Departemen Tenaga
Kerja dan Transmigrasi (Depnakertrans).

Menurut dia, gaji tenaga ekspatriat cenderung lebih tinggi karena umumnya
mereka membawa keluarganya ketika datang ke Indonesia sehingga perusahaan
harus menanggung tunjangan keluarga. Selain itu, ekspatriat memiliki
kompetensi yang dibutuhkan, sementara tenaga kerja nasional belum mempunyai
keahlian seperti itu.

Namun, adanya kesenjangan tersebut menyebabkan banyak tenaga kerja nasional
'lari' ke luar negeri atau ke perusahaan asing yang memiliki standar gaji
lebih tinggi.

Luluk mengatakan, gaji menjadi salah satu variabel untuk penghitungan biaya
produksi yang harus ditagihkan ke pemerintah. "Karena itu, ya jangan asal
menerima begitu saja apa yang diusulkan KKS. Kalau masih wajar tidak
apa-apa, tapi kalau besarnya gaji kelewatan, pihak yang berwenang (BP Migas)
harus bisa menolak," jelasnya.

Secara terpisah, Kepala Badan Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi
(BP Migas) Kardaya Warnika mengatakan, pihaknya telah meminta para KKS agar
tidak terlalu royal memberikan gaji atau fasilitas kepada ekspatriat. Saat
ini, gajinya terlalu besar sehingga menimbulkan kesenjangan dengan tenaga
kerja nasional.

Kardaya juga merasa miris ketika mengetahui pengeluaran seorang ekspatriat
di salah satu KKS mencapai 50% dari pengeluaran seluruh pekerja. Untuk
menekan cost recovery , kata dia, pihaknya meminta KKS agar lebih
mengakomodasi tenaga kerja nasional.

Menurut Kardaya, peraturan resmi pemerintah tentang sistem ketenagakerjaan
di KKS belum ada, namun BP Migas telah membuat aturan tersendiri. Dalam
aturan itu, posisi yang sudah bisa diisi oleh tenaga kerja nasional tidak
boleh diisi oleh tenaga ekspatriat. "Kami juga mewajibkan KKKS setiap tahun
harus mengurangi ekspatriatnya hingga 50%," katanya.

Bertambah

Menurut BP Migas, jumlah tenaga kerja KKS (termasuk PT Pertamina EP) pada
2006 adalah 26.637 orang, yakni 24.568 orang tenaga kerja nasional dan 1.069
tenaga ekspatriat. Pada 2005, jumlah tenaga kerja mencapai 25.266 orang,
yakni 24.252 tenaga kerja nasional dan 1.014 ekspatriat.

Penambahan jumlah tenaga ekspatriat sepanjang 2004-2006 umumnya terjadi pada
KKS yang belum berproduksi (tahap eksplorasi) karena adanya kontrak wilayah
baru.

Kardaya mengatakan, program pengembangan tenaga kerja nasional harus menjadi
komitmen semua KKS. Agar program berjalan efektif, telah diluncurkan career
development monitoring (CDM). Tujuannya, menilai kesungguhan KKS dalam
mengutamakan penggunaan dan pengembangan tenaga kerja nasional.

Dalam konteks itu, ada evaluasi program suksesi tenaga ekspatriat dengan
tenaga kerja nasional serta program internasionalisasi tenaga kerja
nasional.

Sepanjang 2004-2006, kata Kardaya, jumlah tenaga kerja nasional yang
berhasil distandarkan dengan sistem internasional meningkat signifikan. Pada
2004 hanya 25 orang, namun pada 2005 menjadi 47 orang dan pada 2006 menjadi
52 orang. Suksesi dari tenaga ekspatriat ke tenaga kerja nasional juga
meningkat, secara berturut-turut adalah 18, 39, dan 44 orang.

Sementara itu, Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Ari Hernanto Soemarno
mengatakan, jumlah tenaga ekspatriat yang dipekerjakan perseroan tidak lebih
dari 1% dari total 18.700 pekerja.

Ari mengakui, tenaga ekspatriat tetap diperlukan, sebab tidak semua
kompetensi pekerjaan eksplorasi dan produksi migas bisa dipenuhi tenaga
kerja nasional.

Juru bicara ExxonMobil Oil Indonesia (EMOI) Deva Rahman mengatakan, sebanyak
95% dari 1.600 tenaga kerja EMOI adalah nasional.

Deva mengakui, gaji ekspatriat di EMOI jauh lebih tinggi dari tenaga kerja
nasional. Sebab, mereka membawa seluruh keluarganya, sehingga tunjangan yang
harus diberikan juga jauh lebih besar. "Tapi, sebaliknya, kalau ada tenaga
kerja nasional yang kita kirim ke luar Indonesia juga diperlakukan serupa,"
paparnya.

Berdasarkan penelusuran Investor Daily , karyawan biasa di Cevron dengan
masa kerja di bawah 30 tahun mendapat gaji Rp 10,3 juta per bulan, Total E&P
Rp 5,4-13,3 juta, ConocoPhilips Rp 6,1-10,2 juta, dan Pertamina Rp 3,8-8,1
juta.

Biasanya, terdapat perbedaan gaji yang signifikan antara field officer dan
nonfield officer . Total misalnya, akan membayar field engineer -nya di
angka Rp 12 juta, yang kerjanya berpanas-panas di rig dua minggu on dan dua
minggu off . Sementara itu, untuk nonfield jatuh iangka Rp 4-5 juta.

Lebih Tinggi

Sumber Investor Daily yang menjadi partner di sebuah perusahaan headhunter
mengatakan, pekerja ekspatriat yang bekerja di perusahaan migas asing yang
beroperasi di Indonesia mendapatkan gaji 30-50% lebih besar dari pekerja
lokal asal Indonesia. Dia mengatakan, eksekutif level direktur utama
ekspatriat yang bekerja di perusahaan Blok Badak di Kalimantan Timur seperti
Total, Vico, Eni bergaji mencapai kisaran EURO 180-300.000 per tahun, atau
sekitar Rp 2,124-3,540 miliar per tahun atau Rp 177-295 juta per ulan,
dengan asumsi kurs EURO 1 sama dengan Rp 11.8000.

Sementara itu, untuk level direktur ekspatriat bergaji EURO 150.000-250.000
per tahun, atau sekitar Rp 1,770-2,950 miliar per tahun atau Rp
147,5-245,833 juta/bulan. Ekspatriat yang bekerja di perusahaan asing yang
beroperasi di Indonesia pada level general manager/manager gajinya US$
6.000-12.000/bulan atau sekitar Rp 52,200-104,400 juta/ bulan. Sedangkan
posisi komisaris umumnya diduduki orang lokal.

Menurut dia, gaji ekspatriat lebih 50% tinggi dari gaji tersebut lagi, jika
bekerja di kantor pusatnya atau di wilayah kawasan tertentu ( region area ),
misalnya Asia Pasifik. "Gaji ekspatriat yang bekerja di negaranya atau
region area bisa mencapai lebih EURO 300.000 per tahun," katanya. Itu belum
termasuk tambahan fasilitas lain seperti keanggotaan club ekslusif agar bisa
bergaul, pengawal, kendaraan, fasilitas perumahan, asuransi, dan fasilitas
umum lainnya.

Sebagai perbandingan, gaji pekerja lokal di perusahaan asing migas yang
beroperasi di Indonesia untuk level komisaris Rp 40-120 juta per bulan,
dirut US$ 15.000/bulan atau sekitar Rp 130,5 juta/ bulan, direktur lebih
rendah 20-40% dari dirut atau US$ 9.000-12.000/bulan atau sekitar Rp 104,4
juta/bulan, GM/manager dikurangi 30-50% atau US$ 5.000-7.000/bulan atau Rp
43,5-60,9 juta/nulan, fresh graduate untuk S1 geologist Rp 2-3 juta/bulan,
dan berpengalaman Rp 5 juta/bulan.

Dia mengatakan, pekerja lokal yang bekerja di perusahaan asing biasanya
mendapatkan gaji standard dengan ukuran biaya hidup mencukupi atau lebih
sedikit di Indonesia, plus mobil, dan perumahan, dan fasilitas tunjangan
umum lainnya.

Menurut sumber, walaupun gaji pekerja lokal di perusahaan asing masih lebih
kecil 50% dari pekerja ekspatriat, itu sudah lebih baaik dibandingkan tahun
1970-an. Saat itu, gaji pekerja asal Indonesia hanya sekitar 10% dari
pekerja ekspatriat yang bekerja di perusahaan asing migas yang bekerja di
Indonesia. (ari/lim/dr)

--
http://rovicky.wordpress.com/
_______________________________________________
Joint Convention Bali 2007
HAGI - IAGI - IATMI

Secretariat :
ETTI (Exploration Think Tank Indonesia)
Jln. Tebet Barat Dalam III no.2-B
Jakarta 12810 Indonesia
Phone +62-21-8356276
Fax +62-21-83784140
_______________________________________________
The Indonesian Assosiation Of Geophysicists mailing list.
[EMAIL PROTECTED]
www.hagi.or.id


--
http://rovicky.wordpress.com/

----------------------------------------------------------------------------
Hot News!!!
CALL FOR PAPERS: send your abstract by 30 March 2007 to [EMAIL PROTECTED]
Joint Convention Bali 2007 - The 32nd HAGI, the 36th IAGI, and the
29th IATMI Annual Convention and Exhibition,
Bali Convention Center, 13-16 November 2007
----------------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke