Sebuah pandangan yang sangat komprehenship dari alumni UGM ttg ITB (Geology)
Salute buat Mas Agus Hendratno.

TJ
  -----Original Message-----
  From: Agus Hendratno [mailto:[EMAIL PROTECTED]
  Sent: Wednesday, July 18, 2007 10:59 PM
  To: [email protected]
  Subject: [iagi-net-l] Geologi ITB maju atau mundur; parameternya Opo ?


  Diskusi yang ruaarrr..biasa...,

  Untuk ukuran maju dan mundur sebuah institusi pendidikan tinggi; yang
dipakai sangat banyak parameternya. Akan menggunakan acuan apa dulu? Acuan
yang dikembangkan Badan Akreditasi Nasional-Dikti; atau acuan yang
dikembangkan Badan Pendidikan Tinggi di Dunia? atau acuan yang dikembangkan
QA? masih ada ukuran-ukuran kinerja Tirdharma PT? kenapa yang ini tidak
dilihat?

  Saya sudah sambat ke Mas Edi Sunardi PP-IAGI, bisakah untuk mengaktifkan
Komunitas Pendidikan Tinggi Geologi di Indonesia; dan kita bisa berdebat
panjang tentang pendidikan geosain masa depan? Dulu ada Komite Pendidikan
Geologi Indonesia di IAGI ; juga ada Bamus Pendidikan Tinggi Geologi?
Sekarang gak tahu...piye jluntrungnya...

  Melihat Geologi ITB, saat ini tentunya tidak sekedar melihat upaya
kebijakan rektorat tentang pengelompokkan bidang pembelajaran teknologi di
kampus Ganesha. Ada ide mulia sekalipun ada yang tidak setuju tentang
kebijakan ini. Saya sendiri mendapat cerita banyak dari Prof. Joko Santosa
(Rektor ITB) tentang yang tengah terjadi pada restrukturisasi organisasi di
ITB ketika saat kami minta beliau memberikan pandangan tentang pengembagan
pendidikan Teknik Geologi FTUGM masa depan pada, 25 September 2005 lalu
dalam suatu workshop kurikulum di UGM. Malamnya saya ngobrol banyak dengan
beliau (karena beliau kami undang dalam Reuni Alumni Geologi UGM) tentang
kebijakan yang barusan disusun untuk restrukturisasi di ITB . Tapi saya
tidak etis kalau saya bercerita di milist ini. Mestinya beliau juga bisa
memberikan pandangannya pada komunitas geosain baik dari almamater ITB atau
dari manapun. Kebetulan saja, beliau melakukan sedikit komparasi dengan yang
terjadi di Geologi UGM, pada saat paparan tersebut. Saya kira pak Joko
(rektor ITB) tidak "main dakon" dalam memberikan gagasan ini; sekalipun
banyak profesor dan doktor di ITB kurang sependapat. Tetapi kebijakan itu
telah disepakati oleh senat ITB. Pengelompokan tersebut sama sekali bukan
terseret masalah global; jangan-jangan itu hanyalah masalah administrasi
dalam mengatur kebijakan manajemen pembelajaran saja. Nah maju dan
mundurnya, prodi kan lebih sangat tergantung dari komitmen sang lektor dalam
membangun kecerdasan kolektif demi kemajuan anak didik tersebut. Bukankah
fungsi kampus hanyalah sebagai fasilitator proses peradaban bagi orang
dewasa untuk mengambil tindakan cerdas sesuai dengan hati nurani dan
bersosial tinggi untuk memenuhi kebuutuhan kolektif di masyarakat, sesuai
bidang ilmu yang ditekuni si sarjana tadi. Dalam arti sempitnya : ini juga
masalah bisnis. Rasanya, tidak ada pendidikan tinggi di muka bumi ini yang
lepas dalam koridor bisnis; sekalipun prosentase-nya kecil. Bukankah bisnis
juga mulia, karena melibatkan hati nurani. Nah kalau hati nuraninya
kotor,maka ada policy yang tidak baik pasti muncul dalam peradaban
pendidikan tinggi di Indonesia. ITB tidak mengarah ke sana. ITB akan
memasuki era peletakan dasar filsafat teknologi keindonesiaan yang didorong
untuk memantabkan budaya dan budidaya bangsa Indonesia. (termasuk dalam
bidang geosain yg berakar pada karakter indonesia dan mampu berbuat untuk
peradaban dimana saja). Ini harus : begitu kata Prof. Joko (kepada saya di
pojok gedung Geologi UGM, sambil lesehan dan dahar Bakmi Jowo dengan
murid-muridnya S3, 25 September 2005, pukul 21.30an....)
  Saya sendiri belum pernah dibimbing akademik langsung dalam ilmu geosain
oleh Prof. Joko; tapi beliau adalah guru saya untuk bicara ilmu pendidikan
dan filsafat teknologi. Setiap kali ketemu, pertama yang ditanyakan ke saya
: adalah bagaimana proses pembelajaran di Geologi UGM, dan lalu diskusi
panjang.
  Pada lain waktu, saya membicarakan Geologi ITB (kondisi saat itu) dengan
Alm Prof. Rubini; nampak memang Prof. Rubini juga kurang sependapat ide
Prof. Joko; tapi Rubini bisa wise melihat sepak terjang Joko Santosa dalam
membawa kapal besar yang bernama ITB itu pada awal menjabat rektor ITB. Dan
ini membutuhan "leader" yang harus berani memulai suatu yang "baru"
sekalipun "ditentang". Saya juga belum pernah dibimbing akademik oleh
Prof.Rubini; namun beliau sebelum dirawat di rumah sakit dan barangkali
terakhir di lapangan adalah dengan saya (saat saya diminta jadi asisten
beliau untuk masalah petrologi dalam mendampingi investigasi kasus Buyat),
ketika turut menyusuri sungai Buyat ke arah hulu. Dalam kondisi yang masih
setengah fit, beliau banyak bercerita tentang pendidikan teknik geologi di
ITB dan masa depan permasalahan geologi (juga petrologi) di Indonesia.
Disitulah (di atas bendungan S.Buyat hulu, Juni 2005)..saya baru menyadari
bahwa yang diceritkan ternyata filsafat pendidikan teknologi (termasuk
pendidikan geologi) yang mustinya banyak berbasis riset dasar namun bisa
dimanfaatkan oleh publik dan industri dikemudian hari. Apakah pemikiran
beliau ini kita anggap menyeret ke arah bisnis? Bagaimana relevansi yang
dikembangkan dengan kelompok keahlian oleh rektorat ITB?
  Jadi...., jangan lah dijadikan tolok ukuran organisasi administrasi
pembelajaran di ITB / Geologi ITB saat ini, kemudian kita harus gamang. Saya
pikir, mas Benyamin/ Mas Mino tidak gamang; karena beliau ini cerdas dan
sengaja mengajak diskusi kita semua.
  Mas Benz...he..he.......ntar ketemuan di Plaza Centris Kuningan atau di
Hotel Manhattan, Kuningan.; ntar dilanjut ceritanya...

  dari suara luar, yang bukan almamater geologi itb...
  salam
  agus hendratno / wong ngu-ge-em


  Andang Bachtiar <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
    Rekan saya - Firman GEA - ini benar-benar tajam dalam menelisik
permasalahan, indah dalam mengungkapkan, dan rasanya "mak-nyuuuus" membaca
tulisannya; terutama karena hal ini terkait erat dengan nasib / masa-depan
pendidikan geologi di bekas almamater-nya, almamater-saya, juga almamater
kang yrs, dan ladang pengabdiannya rekan Mino....

    Walaupun ini adalah forumnya IAGI - bukan hanya kawan2 dari ITB saja
yang ada di sini - tapi permasalahan ganjelan suara hati broer Mino yang
dikeluarkan dengan nada ''pertanyaan2" dan "kekuatiran2" tentang trend
pendidikan geologi ini nampaknya perlu juga disimak dan di'saur-manuk'-i
oleh kawan-kawan di komunitas geosains dari mana-pun asal almamater-nya.

    Sebenarnyalah, beberapa minggu sebelum, dan juga pada waktu serah-terima
kepengurusan PP-IAGI Januari 2006... saya (sebagai Ketua IAGI dan ex-Ketua
IAGI) disambati oleh para sesepuh pendidikan di Geologi ITB dan juga
rekan-rekan saya yang mengajar disana tentang masalah yang dikemukakan broer
Mino tersebut. Waktu itu , istilahnya: penjajag-an kalau-kalau IAGI bisa
melakukan sesuatu dalam rangka memberikan opini - referensi - kritik
terhadap kebijakan baru ITB dalam bongkar-pasang Departemen2 di FIKTM dan
yang terkait. Memang saat itu waktu-nya mefet sekali, lagipula saya sedang
dalam masa transisi: lengser 29 Nov 2005, serah terima 12 Januari 2006, jadi
gak "elok" kalo bikin kebijakan2, keputusan2, dsb..... sehingga saya
sarankan para sesepuh pendidikan geologi dan kawan2 dosen tsb meneruskan
"sambatan-nya" ke Ketua IAGI yang baru, yang kebetulan juga berasal dari
almamater yang sama. Jadi, permasalahan ganjelan suara hati ini sebenarnya
sudah beredar lebih dari 1-1/2 tahun berputar-putar mendatar mengaduk-aduk
perasaan tapi tetap saja membentur-bentur dinding tong-lingkaran-setan
diseputaran kampus Ganesha. Nah,.. ketika rekan Mino mulai posting, kemudian
disambut oleh kang YRS yang pragmatis tapi menyemangati, dan Firman-Gea yang
bijaksana, maka mulai keluarlah ganjelan itu ke permukaan. Mudah-mudahan ada
partisipasi dari kawan-kawan komunitas geosains Indonesia di milis ini yang
bisa memberikan pencerahan, dan kalau bisa: jalan keluar -- dari ganjelan
perasaan yang diungkapkan broer Mino tersebut.

    Salam

    ADB


      ----- Original Message -----
      From: Firman Gea
      To: [email protected]
      Sent: Friday, July 13, 2007 12:02 PM
      Subject: RE: [iagi-net-l] Geologi ITB maju atau mundur


      Punten ikut nimbrung.

      Saya koq gak melihat ada hubungannya dengan tren "global" terhadap
kebijakan pembagian jurusan di ITB ini. Menurut saya ini mah murni
"kreatifitas" (baca: keisengan) orang-orang di rektorat yang ngerasa mumpung
lagi pegang posisi penting aja, gak lebih. Setara lah dengan fenomena UAN
yang akhir2 ini malah kok kelihatan ruwet, padahal dulu baik-baik aja.

      Tapi bagaimanapun, efek "pengglobalan" pendidikan tinggi ini
semestinya dikritisi. Yang ada di benak kita sekarang seakan-akan model
perkembangan pendidikan tinggi saat ini adalah suatu keharusan yang mau
tidak mau dan suka tidak suka harus seperti ini. Padahal sebenarnya jika
kita memilki konsep "Pendidikan Kerakyatan", dan kita biarkan konsep ini
berkembang dengan baik, dan terus berkembang dengan baik, banyak orang di
negeri ini yang yakin bahwa tidak perlu membangun sebuah mall untuk
membiayai proses belajar-mengajar di kampus. Tidak perlu menerapkan program
jalur khusus untuk membiayai proses belajar mengajar di kampus. Tidak perlu
melihat dosen-dosen pengajar dan guru-guru yang kita hormati dan banggakan
hilir mudik menjadi konsultan di berbagai perusahaan.

      Yang terlihat sekarang, kita semua melumrahkan hal tersebut. Menurut
banyak dari kita mengatakan itu mah memang sudah seharusnya seperti itu.
Jadi, kesan jelas yang bisa kita tangkap adalah Pendidikan Tinggi di NKRI
berbasis bisnis, dijalankan oleh bisnis, dan demi kemaslahatan bisnis. Ini
kan menyedihkan. Jika para pembuat kebijakan di negeri ini, petinggi
perguruan tinggi, mahasiswa, masyarakat umum, kaum intelektual, mau secara
serius dan benar-benar brainstorming secara bebas, tidak berpikir untuk
mengambil keputusan yang asal dan gampang saja, dan mau berpikir secara
murni kebenaran akademis, saya yakin, konsep pengembangan Pendidikan Tinggi
di NKRI tidak akan seperti sekarang ini, yaitu berbasis bisnis, oleh bisnis,
dan demi kemaslahatan bisnis. Banyak cara yang lebih elegan dan sinergi
dengan Jiwa Buana Pendidikan Tinggi untuk membiayai proses pendidikan itu
sendiri, tidak dengan sekedar berbisnis.

      Salam,
      Firman Fauzi


--------------------------------------------------------------------------

      From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED]
      Sent: Friday, July 13, 2007 10:28 AM
      To: [email protected]
      Subject: Re: [iagi-net-l] Geologi ITB maju atau mundur

      >Ben

      Jangan kecil hati , ini adalah kecenderungan "global" , ITB tidak
mampu melawan tarikan tarikan demi perkembangan .
      Sehinggga dengan kondisi ITB sebagai BMHN dan tarikan global yang
selalu menjadikan perhitungan ekonomi nya (atau DUIT) sebagai panglima maka
ITB harus menjadi pragmatis , semakin pragmatis dia maka ITB akan lebih bisa
survive dan berkembang (itu yang ada dibenak Pak rektor dan pimpinan ITB
saat ini).
      Dus , kalau Anda berfikir terlalu murni seabagai Ilmuwan , maka Anda
akan dan tidak akan  bisa menangkap ide "besar" ini.
      Lihat saja , kemarin kan baru akan di - buka ITB filial Kota Delta ,
nah ini kan kecenderungan global . Lihat saja di Jakarta Universitas 2
Ostrali buka cabang , bahkan ada yang buka kantor-nya di RUKO . Untung kan
ITB - mah akan dibuatkan kampus , yang pasti megah.

      Jadi suara Anda itu se-olah2 seperti teriakan satu orang ditengah
padang pasir.
      Tapi jangan berkecil hati.Tetaplah berkiparah dalam ilmu yang Kau
yakini benar.

      si Abah


          Rekan2 IAGI Yth, suatu perkembangan atau fenomena baru dalam
pendidikan
      > geologi di ITB terjadi saat ini. Dimana pada waktu yang lalu di
kejutkan
      > oleh perubahan nama departemen menjadi Prodi yang membawahi KK
(kelompok
      > keahlian). Saat ini terbagi menjadi dua KK yaitu KKGP (Geologi dan
      > Paleontologi) and KKGT (Geologi terapan). Keluaran baru prodi
geologi
      > dipindahkan ke fakultas baru dengan nama yaitu Fakultas Ilmu dan
Teknik
      > Kebumian (FITB) bersama-sama dengan Oceanography dan Meterologi.
      > Sedangkan Teknik Geofisika, Teknik Pertambangan dan Teknik
Perminyakan
      > menjadi satu fakultas baru dengan nama Fakultas Tambang dan Teknik
      > Perminyakan (FTTP??). Yang lalu semuanya bernaung di bawah satu
fakultas
      > dengan nama Fakultas Ilmu Kebumian dan Teknologi Mineral. saya pikir
ini
      > sudah sangat benar sesuai dengan harifah keilmiuan dan tujuan ITB
sebagai
      > sekolah teknik yang juga umum dipakai dibanyak institusi
dinegara-negara
      > lain.
      >
      > Terlepas dari keanehan yang amat sangat berupa pemisahan semua ilmu2
yang
      > memakai geologi dari geologi sendiri sebagai dasarnya(terutama
antara
      > geologi dan geofisik). Apakah perubahan ini menuju pada sesuatu yang
baru
      > dan benar untuk masa yang akan datang? atausebuah pembodohan yang
      > mengembalikan posisi kita pada tahun 1900. Dimana pada saat itu ilmu
      > geologi masih dianggap sebagai ilmu science murni ???. Saat ini kita
tahu
      > bahwa perkembagan ilmu kita sudah menjadi applied science dengan
pemakaian
      > yang sangat luas dari keteknikan, air, mineral, energi. lingkungan
dan
      > mitigasi bencana. Jawaban ini perlu saya bagi dengan teman di dunia
      > Industri maupun pendidikan dari institusi lain di Indonesia dan
negara
      > lainnya. Apakah betul jika sebagai prediksi ekstrim perkembangan
kedepan
      > semua ilmu geologi yang bersifat terapan porsi besarnya akan diambil
oleh
      > tenik geofiska, tambang dan perminyakan???
      >
      > Ben Sapiie/Dosen Struktur Geologi,KKGP -ITB
      >
      >





----------------------------------------------------------------------------
--
  Got a little couch potato?
  Check out fun summer activities for kids.

Kirim email ke