>Awang 

Benar , tetapi harus diingat
bahwa pemikiran politik Maxim Gorky merupakan turunan kesekian dari
Marxisme dari Karl Marx . Sebagaimana Marxisme - Komunisme RRC  
berbeda dengan USSR.
Demikian juga dengan Pram , dia mengatakan
dirinya penganut Pramisme (bukan Premanisme lho).

Si-Abah

_____________________________________________________________


  Abah, 
> 
> 
> 
>
Menurut saya, Pram lebih banyak dipengaruhi Maxim Gorky daripada Karl 
> Marx. Apa yang diceritakan di buku-bukunya mirip realita sosial
seperti 
> karya sastra Maxim Gorky, Leo Tolstoy, Anton Chekov,
dan John Steinbeck. 
> Penulis-penulis ini menyoroti realisme
sosial, suatu realisme yang 
> berhubungan dengan masalah tanggung
jawab sosial. Bahkan kisah Maxim 
> Gorky, Bapak sastra Soviet dan
pencetus doktrin socialist realism, 
> segetir Pram juga. 
> 
> 
> 
> Salam, 
> 
> awang

> 
> 
> 
> 
From: [EMAIL PROTECTED]
[mailto:[EMAIL PROTECTED] 
> Sent: Thursday, July 19, 2007 12:51
C++ 
> To: [email protected] 
> Subject: Re:
[iagi-net-l] OOT "Saya Terbakar Amarah Sendirian" ! 
>

> 
> 
> 
> Awang 
> 
>
Sedari saya kecil saya sudah mengagumi Amarhum , buku buku lama eperti 
> Ceritera dari Blora , Keluarga Gerilya dsb saya baca berkali-kali.

> Buku yang baru sudah sedikit berubah , lebih romantis walaupun
pesan 
> pesannya mengeai penderitaan rakyat tertindas masih 
> mengemuka dengan nyata . 
> 
> Apakah dia seorang
marxist ? 
> 
> Menurut saya dia berfikiran atau menganut
sikap / pemikiran seorang 
> marxist walaupun dia tidak
mengakui-nya.Coba saja baca dengan teliti 
> pesan pesan dalam
buku buku-nya. 
> Tapi dia adalah mrxist nasionalist. 
>
Dia seorang nasionalist yang mendambakan bangsa Indonesia bisa makmur 
> dan adil sejahtera , sebagimana diamanatkan dalam mukdimah
Konstitusi 
> kita. 
> 
> Apakah dia perlu
penghargaan ? 
> 
> Saya kira orang seperti Pram tidak
merasa perlu piagam penghargan , akan 
> tetapi kita sebagai
bangsa yang besar wajib memberikan pengargaan 
> kepadanya , bkan
saja untuk karya sastranya , akan tetapi onsistensi-nya 
> dalam
bersikap sebagi nasionalist yang konsisten. 
> Hanya sayang-nya
bangsa kita ini punya penyakit "aneh" , yaitu takut 
>
mengargai karya warga bangsa-nya sendiri . 
> Lihat saja IAGI ,
berkali kali saya menyatakan didalam iagi-net , betapa 
>
penting-nya memberikan penghargaan profesional kepada warag negara RI 
> atau fuhak lain yang memberikan kontribusi yang luar biasa kepada

> kebumian Indonesia , Ndak ada tuh yang menanggapi . Apa ini
bukan aneh 
> (kata saya dan Anda). 
> Sampai adik saya
yang saya sangat sayangi dan hormati -pun , ADBt yang 
> katanya
geologist Merdeka tidak berani untuk melakukan hal itu dimasa 
>
kepengurusan-nya 
> 
> So ,jangan berkecil hati lah. 
> 
> Si-Abah 
> 
>
______________________________________________________________________ 
> 
> 
> Judul subyek di atas adalah judul sebuah buku
relatif baru (Desember 
>> 2006) tentang Pramoedya Ananta Toer,
banyak dianggap sebagai sastrawan 
> 
>> terbesar
Indonesia dan dunia luar mengakuinya sebagai sastrawan kelas 
>> dunia, terbitan Kepustakaan Populer Gramedia. Buku ini memuat

>> serangkaian wawancara antara Andre Vltchek dan Rossie
Indira dengan 
> Pram 
>> pada Desember 2003-Maret
2004, dua tahun lebih sebelum Pram meninggal 
>> dunia pada
akhir April 2006. Andre adalah seorang penulis, wartawan, 
>>
sineas, dan analis politik asal Eropa Tengah. Rossie adalah penulis, 
>> sineas dan arsitek Indonesia. Kedua orang ini mahir berbahasa
Rusia 
> dan 
>> Ceko, bahasa yang dipakainya ketika
ngobrol dengan adik Pram yang 
> pernah 
>> lama
tinggal di Rusia. Wawancara dengan Pram sendiri diadakan dalam 
>> bahasa Indonesia sebab Pram menolak berbahasa Inggris, seperti
juga ia 
> 
>> menolak menulis buku2-nya dalam bahasa
Inggris, walaupun buku2nya 
> telah 
>> diterjemahkan
kedalam banyak bahasa. 
>> 
>> 
>> 
>> Wawancara bersifat langsung, menukik ke semua pokok persoalan,

> termasuk 
>> masalah2 kritis seperti komunisme,
atheisme, pembantaian Cina di 
>> Indonesia, dan borok-borok
rekayasa politik Indonesia. Tegang 
>> membacanya, bersiaplah
dengan berbagai guncangan ! Tetapi, akan juga 
>> kita temukan
di dalamnya sebuah nasionalisme ala Pram, yang disebutnya 
> 
>> Pramisme. Akan juga kita temukan sebuah keunggulan
individualisme yang 
> 
>> memukau, semangat pantang
menyerah yang patut diteladani, tak kenal 
>> kompromi, keras,
dan penghargaan yang hebat terhadap bahasa Indonesia. 
> 
>> 
>> 
>> 
>> Berikut beberapa
pendapat dari buku tersebut menurut analisis politik 
>> Andre
Vltchek. 
>> 
>> 
>> 
>> Abad
kedua puluh ditandai dengan hampir tiada hentinya pesta terror 
>
dan 
>> kekerasan serta penipuan dan pangkhianatan. Setiap
manusia di berbagai 
> 
>> belahan dunia menyadari
bahwa kebohongan yang diulang seribu kali pada 
> 
>>
akhirnya dapat menjadi kebenaran, bahwa pendudukan yang brutal dapat 
>> diartikan sebagai pembebasan, dan membunuh jutaan orang tak
berdosa 
>> dapat dibenarkan oleh para pemimpin negara-negara
adikuasa atau bukan 
>> adikuasa sebagai harga yang harus
dibayar demi kemajuan kemanusiaan, 
>> peradaban, dan
kepentingan nasional. Jutaan orang lenyap di 
>>
krematorium-krematorium, di kamp-kamp konsentrasi, di medan perang, 
>> ataupun di puing-puing kota yang hancur oleh bom. 
>> 
>> 
>> 
>> Tetapi, di
tengah-tengah penjarahan dan kesemrawutan, ada 
>>
manusia-manusia luar biasa yang berpendirian teguh dan terus melawan 
>> arus demi membela mereka yang teraniaya, mereka yang tersudut,
dan 
> para 
>> korban pemerintahan yang kejam dan
sewenang-wenang. Ini adalah 
>> manusia-manusia yang menentang
demagogi, militerisme, dan kekuatan 
>> ekonomi dengan dua alat
perlawanan terkuat yang diciptakan dan dikenal 
> 
>>
manusia : pengetahuan dan kebenaran. 
>> 
>> 
>> 
>> Orang-orang luar biasa ini melawan kebohongan
dengan kata-kata 
> sederhana 
>> yang masuk akal,
melawan mitos-mitos yang membahayakan dengan 
>> fakta-fakta,
melawan fanatisme agama dengan kebenaran. Sebagian dari 
>>
mereka menghadapi kegilaan ini dengan senyuman sarkastik di bibir, 
>> sebagian lagi dengan ekspresi keras dengan mulut terkatup. 
>> 
>> 
>> 
>> Indonesia adalah
negeri kepulauan terluas di dunia dengan ragam 
> budaya, 
>> suku, dan bahasa yang menakjubkan. Keragaman ini dipersatukan
setelah 
>> Perang Dunia II. Sebelumnya, Indonesia dijajah dan
diperas oleh 
>> kekuatan-kekuatan penjajah selama ratusan
tahun. Tahun 1945 Indonesia 
>> merdeka, sebuah awal yang
membanggakan. Tetapi, 20 tahun kemudian, 
> 1965, 
>>
mulailah terror kediktatoran militer ! 
>> 
>> 
>> 
>> Guru-guru dibunuh, studio film dan teater
ditutup, bahasa Mandarin dan 
> 
>> hampir semua simbol
kebudayaan Cina dilarang. Ratusan ribu, bahkan 
>> mungkin
jutaan orang kehilangan nyawa : orang-orang Cina, orang-orang 
>> komunis, orang-orang atheis, orang-orang berpikiran maju, dan
kaum 
>> minoritas. Ketidaktoleransian politik, etnik, dan
agama mencengkeram 
>> negeri ini sejak itu, dan semakin
memburuk. Kemampuan orang 
>> berargumentasi, bertanya, dan
membandingkan sudah hilang, kreativitas 
>> dihancurkan dan
didiskreditkan, keanekaragaman tidak didukung. 
>> 
>> 
>> 
>> Lalu Indonesia pun mengalami
kehancuran sosial. Mayoritas penduduk 
> hidup 
>>
dalam kondisi mengenaskan : tidak punya air layak minum, tidak 
>
menikmati 
>> aliran listrik, lebih daripada setengah penduduk
hidup dengan 
>> penghasilan kurang daripada dua dollar AS per
hari. Di Indonesia semua 
> 
>> penduduk diwajibkan
menganut salah satu agama, tetapi di Indonesia 
> juga 
>> terjadi ketidakberperikemanusiaan dan kebrutalan. Kebenaran
jarang 
>> sekali mengemuka, para seniman harus tunduk kepada
aturan, media massa 
> 
>> melakukan sensornya sendiri.

>> 
>> 
>> 
>> Tetapi,
seorang lelaki asal Blora bernama Pramoedya Ananta Toer, 
> selama

>> 40 tahun ini terus menulis, mencoba merumuskan inti dan
sejarah 
>> bangsanya yang masih belia dan menderita. Pram
menulis di penjara, di 
>> kamp militer, di rumahnya sebagai
terpidana tahanan rumah. Pram 
> menulis 
>> dalam
"pengasingan diri", menulis dalam keadaan marah dan ngeri 
> melihat 
>> situasi dan kondisi negerinya. Banyak
bukunya dibakar, yang selamat 
> dari 
>> api kemudian
dilarang beredar. 
>> 
>> 
>> 
>> Beberapa cuplikan wawancara : 
>> 
>> 
>> 
>> T : Apakah perbedaan antara penjajahan Belanda
dan Jepang ? 
>> 
>> J : Belanda mementingkan hukum
sedangkan Jepang tidak. Dalam waktu 
> tiga 
>> hari
setelah mendarat di Jawa, hampir semua serdadu Jepang terlibat 
>> dalam pemerkosaan wanita-wanita lokal. Pada saat itu wanita2
banyak 
> yang 
>> mencoreng-moreng mukanya sendiri
dengan arang agar tidak dikenali 
>> sebagai wanita. Nenek2 pun
melakukannya. Sejak awal invasi banyak 
>> kejadian aneh.
Serdadu Jepang membuka pintu2 toko orang Cina dan 
>>
mempersilakan para gerombolan pribumi untuk mengambil barang2nya. 
> Lalu, 
>> tiga hari kemudian gerombolan2 itu ditembak
mati. Yang baik dari 
>> penjajahan Jepang hanya satu :
kewajiban berbahasa Indonesia. Bahasa 
>> Indonesia berkembang
pesat sejak saat itu. 
>> 
>> 
>> 
>> T : Jika kita menganalisis kudeta 1965 setelah hampir 40 tahun,
ada 
> dua 
>> teori dasar yang mengemuka tentang apa
yang terjadi. Versi pertama, 
> yang 
>> resmi, bahwa
PKI-lah dalang G30S, bahwa PKI-lah yang menculik dan 
>>
membunuh para jenderal. Versi kedua adalah yang terwakili dalam 
>
"Cornell 
>> Paper", bahwa peristiwa G30S pada
pokoknya merupakan konflik intern di 
> 
>> tubuh
Angkatan Darat. Namun demikian, ada pula versi lain yang 
>
sekarang 
>> mulai diadopsi oleh berbagai pihak di dunia,
termasuk oleh para 
>> sejarahwan terkemuka di Indonesia, yaitu
bahwa kudeta tersebut 
> dilakukan 
>> oleh salah satu
faksi di militer yang pro-Soeharto, dan didukung oleh 
>>
Amerika Serikat dan negara-negara Barat lainnya. Apa pendapat Bung 
>> mengenai hal ini ? 
>> 
>> J : Tentu saja
tujuan utama negara-negara Barat adalah menggulingkan 
>>
Soekarno karena tiga prinsipnya : anti-klonialisme, anti-imperialisme, 
> 
>> anti-kapitalisme. Dan mereka yang ingin menjatuhkan
Soekarno dan yang 
>> mau berkuasa mengambil kesempatan dari
adanya friksi di dalam militer, 
> 
>> yang terpecah
antara pendukung Soekarno dan pendukung Soeharto. Pada 
>> saat
kudeta, salah satu faksi merencanakan dan melaksanakan pembunuhan 
> 
>> jenderal-jenderal, dan hal inilah yang memicu
pembunuhan missal dan 
>> pendekanan-penekanan yang yang
dilakukan oleh pendukung Soeharto. 
>> Korban2 pada saat itu
termasuk orang-orang komunis, cina, dan 
> pendukung 
>> Soekarno. Jadi, menurut saya, ini yang terjadi : Militer dan
Soeharto 
>> melakukan kudeta, dan kemudian mereka membunuh dua
juta orang, dan 
>> menimpakan kesalahannya kepada orang lain.
Anda mengerti tidak ? 
> Mereka 
>> membunuh dua juta
orang untuk balas dendam terhadap apa yang 
> sebenarnya 
>> mereka lakukan sendiri ! 
>> 
>> Di zaman
kerajaan dahulu, kita punya cerita yang sama, yaitu cerita 
>>
tentang Kebo Ijo, Ken Arok, dan Tunggul Ametung. Setelah Ken Arok 
>> membunuh Tunggul Ametung, Ken Arok cuci tangan, dan setelah
mengambil 
>> alih kekuasaan, Ken arok memerintahkan untuk
menghukum mati Kebo Ijo, 
>> temannya karena menuduh Kebo
Ijolah pembunuh Tunggul Ametung. Ken Arok 
> 
>>
sengaja meminjamkan keris Mpu Gandring yang haus darah itu kepada Kebo 
> 
>> ijo beberapa hari sebelum Ken Arok membunuh Tunggul
Ametung. Sialnya 
>> Kebo ijo, dia suka pamer kepada siapa pun
dan mengaku2 bahwa keris 
> bagus 
>> itu adalah
kerisnya sendiri. Maka ketika di tubuh Tunggul Ametung 
>>
tertancap keris Ken Arok, orang tahu itu adalah keris Kebo Ijo. 
>> 
>> 
>> 
>> T : Berapa orang
yang dibunuh setelah kudeta itu ? 
>> 
>> J :
Menurut Sudomo jumlahnya dua juta orang. Tapi pembunuhan tersebut 
>> terutama dilakukan di bawah perintah Sarwo Edhie Wibowo, yang
pada 
> saat 
>> itu dengan bangga mengatakan
pasukannya telah membunuh tiga juta 
> orang. 
>> Dan
dia hanya mengatakan soal korban di Pulau Jawa saja. 
>> 
>> 
>> 
>> T : Ada beberapa dokumen yang
menunjukkan dan beberapa ilmuwan yang 
>> berpendapat bahwa
militer amerika dan Indonesia merencanakan bersama 
>> kudeta
1965... 
>> 
>> J : jangan lupa senjata Amerika yang
paling ampuh adalah dollarnya. 
> Dan 
>> jangan lupa
pula bahwa Eisenhower, Presiden AS pada saat itu, 
>>
memerintahkan untuk menyingkirkan Soekarno. Dia mengatakan hal ini 
> dalam 
>> beberapa pidatonya. Dan CIA memperalat
Soeharto untuk melaksanakan hal 
> 
>> ini. Amerika
punya pengaruh yang sangat besar terhadap militer 
>>
Indonesia, dan kemudian pada Golkar. Walaupun pada saat itu kami sudah 
> 
>> menjadi tahanan politik, kami selalu tahu bahwa
Amerika pasti berada 
> di 
>> belakang hal ini. 
>> 
>> 
>> 
>> T : Apakah Bung
seorang Marxis ? 
>> 
>> J : Bukan, saya bukan
Marxis, tapi "Pramis". Saya tidak pernah 
> menganut 
>> suatu ajaran apa pun, saya hanya mengikuti ajaran saya sendiri.

> Belajar 
>> dari pengalaman hidup sendiri. Tapi saya
percaya pada keadilan dan 
>> kesetaraan sosial. 
>>

>> 
>> 
>> T : Apakah bung setuju dengan
pendapat bahwa hal paling luar biasa 
> yang 
>> bisa
dilakukan oleh seorang penulis untuk bangsanya adalah ketika ia 
>> bisa mengungkapkan bagian paling kelam bangsanya itu ? 
>> 
>> J : Tidak, saya tidak setuju dengan pendapat
itu. Saya selalu melihat 
>> dunia ini secara dialektik. Jadi
saya tidak pernah menggambarkan 
>> kejelekannya saja, tapi
juga kebaikannya. Kalau saya gambarkan 
>> keburukannya saja,
mungkin saya bisa sakit. 
>> 
>> 
>> 
>> T : Baru2 ini Gus Dur mengatakan pada kami bahwa dia sangat 
> menghormati 
>> Bung dan merencanakan untuk membuat
yayasan dengan nama Bung. Yayasan 
>> ini dimaksudkan untuk
membantu para korban 1965 dan keluarganya. 
> Apakah 
>> Bung punya harapan bahwa hal ini dapat memmbawa perubahan ? 
>> 
>> J : Sebagai mantan Ketua NU, Gus Dur ikut merasa
berdosa atas apa yang 
> 
>> terjadi di masa lalu
(pembantaian orang-orang yang dianggap komunis 
>> pasca kudeta
1965). Dia merasa bersalah, walaupun secara pribadi dia 
>>
tidak terlibat dalam pembunuhan2 itu. Itu sih bagus-bagus saja, Cuma 
>> masalahnya Gus Dur itu terlalu dekat dengan militer, karena dia
masih 
>> membutuhkan dukungan politik dan perlindungan dari
mereka sebelum 
>> pemilu. Paling tidak dia membutuhkan
perlindungan. Semua politikus 
> kita, 
>> kan, sangat
oportunis. 
>> 
>> 
>> 
>>
Akhir wawancara. 
>> 
>> 
>> 
>> T : Jadi Bung hidup terasing di negeri Bung sendiri ? 
>> 
>> J : Ya, saya hidup di dunia saya sendiri. Di
luar itu yang ada hanya 
>> korupsi. Satu-satunya pemimpin,
Soekarno, sudah tidak ada lagi. Inilah 
> 
>> balasan
Indonesia pada saya. Negara yang dulu saya perjuangkan 
> sekarang

>> dalam proses pembusukan, jadi bagaimana saya tidak marah ?
Sangat 
>> bertolak-belakang dengan negara yang kami
cita-citakan dahulu. 
> Hari-hari 
>> ini semakin
banyak memori yang kembali. Kebanyakan teman saya sudah 
>>
tidak ada lagi. Saya teringat akan dua juta orang yang dibunuh dan 
>> sungai-sungai penuh dengan mayat sehingga airnya menjadi merah
karena 
>> darah. Bagaimana orang bisa membunuh sesamanya
seperti itu ? Saya 
> tidak 
>> bisa bicara lagi soal
hal ini. Terlalu emosional bagi saya. 
>> 
>> 
>> 
>> Ada ratusan tanya-jawab yang sangat kritis dan
menukik pada pokok 
>> persoalan dapat ditemukan di buku ini
tentang sejarah, kolonialisme, 
>> Soekarno, kudeta 1965,
Jawanisme, Soeharto, Timor, Aceh, dan masa 
> depan 
>>
Indonesia. Walaupun Pram tidak percaya kepada agama, berpendapat bahwa 
> 
>> berdoa adalah seperti mengemis, hanya percaya kepada
dirinya sendiri 
> dan 
>> hanya bisa bergantung kepada
dirinya sendiri - membaca buku-buku 
> sastra 
>> dan
roman sejarah yang ditulisnya kita akan menemukan nasionalisme dan 
> 
>> humanisme di dalamnya. Dan, kekuatan individual
seorang Pram sangat 
>> mengagumkan ! 
>> 
>> 
>> 
>> Sebuah proyek buku
"Ensiklopedia Kepulauan Indonesia" akan 
>>
dikerjakannya dengan berbekal kepada referensi sepanjang empat meter 
>> yang telah dikumpulkannya. Apa daya, maut menjemputnya lebih
dahulu 
> saat 
>> usianya 81 tahun pada 30 April 2006.
Konsisten, tidak kenal kompromi, 
>> kekuatan, dan semangat
sampai akhir ! 
>> 
>> 
>> 
>>
Sayang, sering kita selalu terlambat menghargai jasa seseorang. 
>> Negara-negara lain lebih dahulu menghargai Pram. Inilah daftar

>> penghargaan buat Pram : 
>> 
>> 
>> 
>> 1988 PEN/Barbara Goldsmith Freedom to Write
Award. 
>> 
>> 1989 The Fund for Free Expression
Award, New York, USA. 
>> 
>> 1992 English P.E.N
Centre Award, Great Britain. 
>> 
>> 1992 Stichting
Wertheim Award, Netherland. 
>> 
>> 1995 Ramon
Magsaysay Award for Journalism, Literature, and Creative 
>>
Communication Arts. 
>> 
>> 1999 Doctor Honoris
Causa from the University of Michigan. 
>> 
>> 1999
Chancellor's Distinguished Honor Award from the University of 
>> California, Berkeley. 
>> 
>> 2000
Chevalier de l'Ordre des Arts et des Lettres Republic of France. 
>> 
>> 2000 11th Fukuoka Asian Culture Prize. 
>> 
>> 2004 Norwegian Authors' Union award for his
contribution to world 
>> literature and his continuous
struggle for the right to freedom of 
>> expression. 
>> 
>> 2005 Global Intellectuals Poll by the Prospect.

>> 
>> 
>> 
>> Pram juga
beberapa kali masuk nominator hadiah Nobel. Tetapi, seperti 
> di

>> buku ini, mengenai penghargaan Pram hanya bilang :
"tak pernah 
>> mengharapkannya". "Saya mencoba
untuk tidak terlalu mengharapkan 
> apa-apa 
>> dari
dunia luar. Saya belajar untuk mengandalkan diri saya sendiri. 
>> Bahkan saya tidak pernah minta apapun dari orang tua saya
sendiri" 
>> 
>> 
>> 
>>
Berikut adalah karya utama Pram, masih banyak karya2nya yang di luar 
>> ini. 
>> 
>> 
>> 
>> Kranji-Bekasi Jatuh (1947) 
>> 
>>
Perburuan (The Fugitive) (1950) 
>> 
>> Keluarga
Gerilya (1950) 
>> 
>> Bukan Pasarmalam (1951) 
>> 
>> Cerita dari Blora (1952) 
>> 
>> Gulat di Jakarta (1953) 
>> 
>> Korupsi
(Corruption) (1954) 
>> 
>> Midah - Si Manis Bergigi
Emas (1954) 
>> 
>> Cerita Calon Arang (The King,
the Witch, and the Priest) (1957) 
>> 
>> Hoakiau di
Indonesia (1960) 
>> 
>> Panggil Aku Kartini Saja I
& II (1962) 
>> 
>> The Buru Quartet 
>> 
>> Bumi Manusia (This Earth of Mankind) (1980) 
>> 
>> Anak Semua Bangsa (Child of All Nations) (1980)

>> 
>> Jejak Langkah (Footsteps) (1985) 
>> 
>> Rumah Kaca (House of Glass) (1988) 
>> 
>> Gadis Pantai (The Girl from the Coast) (1982)

>> 
>> Nyanyi Sunyi Seorang Bisu (A Mute's
Soliloquy) (1995) 
>> 
>> Arus Balik (1995) 
>> 
>> Arok Dedes (1999) 
>> 
>>
Mangir (1999) 
>> 
>> Larasati (2000) 
>>

>> 
>> 
>> "Soliloquy" -
Nyanyi Sunyi, novelnya tentang penderitaan yang tak bisa 
> 
>> terucapkan di kamp konsentrasi Buru, tak hendak selamanya akan
sunyi. 
>> Karya2 Pram sekarang bisa ditemukan cukup mudah di
mana saja, bahkan 
> ada 
>> penerbit yang khusus
menerbitkan buku2nya, yang bertahun-tahun lalu 
>> dilarang.

>> 
>> 
>> 
>>
"Memukau...pilu tiada akhir" (Noam Chomsky) 
>> 
>> 
>> 
>> Salam, 
>> 
>> awang 
>> 
>> 
>> 
>> 
>> 
>> 
>> 
>> 
> 
> 

Kirim email ke