> Vick
Kiri kanan , kiri kanan , kiri - kanan. Itu sih baris berbaris. Tapi kalau masih muda ke-kiri2 an sudah dewasa ke-kanan2 n itu sih manusiawi dong, karena kalau sudah dewasa kan sudaj punya keluarga , anak ,dus sudah punya kepentingan. Tapi kalau yang seperti ini jelas adalah common people bukan seorang politikus atau manusia yang seperti Pram atau ML (Muchtar Lubis) Si-Abah ____________________________________________________________________ Dalam dunia politik mereka (yg disebut-sebut dalam uraian pak Awang) > kelompok lefties ... atau sering disebut golongan kiri. > Kepentingan sosial lebih utama ketimbang hak individu > Low profile not pride > Kekuasaan dikuasai pemerintahan bersama, sedang right lebih memberikan > kekuasaan ke rakyat individu > Lefties biasanya secular sedang right lebih religious ... namun ini tidak > selalu, karena pernah suatu saat > > Kalau ada yang tertarik istilah "golongan kiri" dan "golongan kanan" dalam > ilmu perpolitikan tentunya perseteruan kiri dan kanan ini cukup > mengasyikkan > diikuti. Bahkan nanti akan terasa apakah kita ini cenderung krii atau > cenderung kanan. Dulu kita takut sekali kalau dicap gol kiri ... wupst !! > Namun ada yang mengatakan anak muda cenderung kiri setelah dewasa akan ke > kanan ... wah !! > > rdp > > On 7/19/07, [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]> wrote: >> >> >Awang >> >> Benar , tetapi harus diingat bahwa pemikiran politik Maxim Gorky >> merupakan >> turunan kesekian dari Marxisme dari Karl Marx . Sebagaimana Marxisme - >> Komunisme RRC berbeda dengan USSR. >> Demikian juga dengan Pram , dia mengatakan dirinya penganut Pramisme >> (bukan Premanisme lho). >> >> Si-Abah >> >> _____________________________________________________________ >> >> >> >> Abah, >> > >> > >> > >> > Menurut saya, Pram lebih banyak dipengaruhi Maxim Gorky daripada Karl >> > Marx. Apa yang diceritakan di buku-bukunya mirip realita sosial >> seperti >> > karya sastra Maxim Gorky, Leo Tolstoy, Anton Chekov, dan John >> Steinbeck. >> >> > Penulis-penulis ini menyoroti realisme sosial, suatu realisme yang >> > berhubungan dengan masalah tanggung jawab sosial. Bahkan kisah Maxim >> > Gorky, Bapak sastra Soviet dan pencetus doktrin socialist realism, >> > segetir Pram juga. >> > >> > >> > >> > Salam, >> > >> > awang >> > >> > >> > >> > >> From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] >> > Sent: Thursday, July 19, 2007 12:51 C++ >> > To: [email protected] >> > Subject: Re: [iagi-net-l] OOT "Saya Terbakar Amarah Sendirian" ! >> > >> > >> > >> > >> > Awang >> > >> > Sedari saya kecil saya sudah mengagumi Amarhum , buku buku lama eperti >> > Ceritera dari Blora , Keluarga Gerilya dsb saya baca berkali-kali. >> > Buku yang baru sudah sedikit berubah , lebih romantis walaupun pesan >> > pesannya mengeai penderitaan rakyat tertindas masih >> > mengemuka dengan nyata . >> > >> > Apakah dia seorang marxist ? >> > >> > Menurut saya dia berfikiran atau menganut sikap / pemikiran seorang >> > marxist walaupun dia tidak mengakui-nya.Coba saja baca dengan teliti >> > pesan pesan dalam buku buku-nya. >> > Tapi dia adalah mrxist nasionalist. >> > Dia seorang nasionalist yang mendambakan bangsa Indonesia bisa makmur >> > dan adil sejahtera , sebagimana diamanatkan dalam mukdimah Konstitusi >> > kita. >> > >> > Apakah dia perlu penghargaan ? >> > >> > Saya kira orang seperti Pram tidak merasa perlu piagam penghargan , >> akan >> >> > tetapi kita sebagai bangsa yang besar wajib memberikan pengargaan >> > kepadanya , bkan saja untuk karya sastranya , akan tetapi >> onsistensi-nya >> >> > dalam bersikap sebagi nasionalist yang konsisten. >> > Hanya sayang-nya bangsa kita ini punya penyakit "aneh" , yaitu takut >> > mengargai karya warga bangsa-nya sendiri . >> > Lihat saja IAGI , berkali kali saya menyatakan didalam iagi-net , >> betapa >> >> > penting-nya memberikan penghargaan profesional kepada warag negara RI >> > atau fuhak lain yang memberikan kontribusi yang luar biasa kepada >> > kebumian Indonesia , Ndak ada tuh yang menanggapi . Apa ini bukan aneh >> > (kata saya dan Anda). >> > Sampai adik saya yang saya sangat sayangi dan hormati -pun , ADBt yang >> > katanya geologist Merdeka tidak berani untuk melakukan hal itu dimasa >> > kepengurusan-nya >> > >> > So ,jangan berkecil hati lah. >> > >> > Si-Abah >> > >> > ______________________________________________________________________ >> > >> > >> > Judul subyek di atas adalah judul sebuah buku relatif baru (Desember >> >> 2006) tentang Pramoedya Ananta Toer, banyak dianggap sebagai >> sastrawan >> > >> >> terbesar Indonesia dan dunia luar mengakuinya sebagai sastrawan kelas >> >> dunia, terbitan Kepustakaan Populer Gramedia. Buku ini memuat >> >> serangkaian wawancara antara Andre Vltchek dan Rossie Indira dengan >> > Pram >> >> pada Desember 2003-Maret 2004, dua tahun lebih sebelum Pram meninggal >> >> dunia pada akhir April 2006. Andre adalah seorang penulis, wartawan, >> >> sineas, dan analis politik asal Eropa Tengah. Rossie adalah penulis, >> >> sineas dan arsitek Indonesia. Kedua orang ini mahir berbahasa Rusia >> > dan >> >> Ceko, bahasa yang dipakainya ketika ngobrol dengan adik Pram yang >> > pernah >> >> lama tinggal di Rusia. Wawancara dengan Pram sendiri diadakan dalam >> >> bahasa Indonesia sebab Pram menolak berbahasa Inggris, seperti juga >> ia >> > >> >> menolak menulis buku2-nya dalam bahasa Inggris, walaupun buku2nya >> > telah >> >> diterjemahkan kedalam banyak bahasa. >> >> >> >> >> >> >> >> Wawancara bersifat langsung, menukik ke semua pokok persoalan, >> > termasuk >> >> masalah2 kritis seperti komunisme, atheisme, pembantaian Cina di >> >> Indonesia, dan borok-borok rekayasa politik Indonesia. Tegang >> >> membacanya, bersiaplah dengan berbagai guncangan ! Tetapi, akan juga >> >> kita temukan di dalamnya sebuah nasionalisme ala Pram, yang >> disebutnya >> > >> >> Pramisme. Akan juga kita temukan sebuah keunggulan individualisme >> yang >> > >> >> memukau, semangat pantang menyerah yang patut diteladani, tak kenal >> >> kompromi, keras, dan penghargaan yang hebat terhadap bahasa >> Indonesia. >> > >> >> >> >> >> >> >> >> Berikut beberapa pendapat dari buku tersebut menurut analisis politik >> >> Andre Vltchek. >> >> >> >> >> >> >> >> Abad kedua puluh ditandai dengan hampir tiada hentinya pesta terror >> > dan >> >> kekerasan serta penipuan dan pangkhianatan. Setiap manusia di >> berbagai >> > >> >> belahan dunia menyadari bahwa kebohongan yang diulang seribu kali >> pada >> > >> >> akhirnya dapat menjadi kebenaran, bahwa pendudukan yang brutal dapat >> >> diartikan sebagai pembebasan, dan membunuh jutaan orang tak berdosa >> >> dapat dibenarkan oleh para pemimpin negara-negara adikuasa atau bukan >> >> adikuasa sebagai harga yang harus dibayar demi kemajuan kemanusiaan, >> >> peradaban, dan kepentingan nasional. Jutaan orang lenyap di >> >> krematorium-krematorium, di kamp-kamp konsentrasi, di medan perang, >> >> ataupun di puing-puing kota yang hancur oleh bom. >> >> >> >> >> >> >> >> Tetapi, di tengah-tengah penjarahan dan kesemrawutan, ada >> >> manusia-manusia luar biasa yang berpendirian teguh dan terus melawan >> >> arus demi membela mereka yang teraniaya, mereka yang tersudut, dan >> > para >> >> korban pemerintahan yang kejam dan sewenang-wenang. Ini adalah >> >> manusia-manusia yang menentang demagogi, militerisme, dan kekuatan >> >> ekonomi dengan dua alat perlawanan terkuat yang diciptakan dan >> dikenal >> > >> >> manusia : pengetahuan dan kebenaran. >> >> >> >> >> >> >> >> Orang-orang luar biasa ini melawan kebohongan dengan kata-kata >> > sederhana >> >> yang masuk akal, melawan mitos-mitos yang membahayakan dengan >> >> fakta-fakta, melawan fanatisme agama dengan kebenaran. Sebagian dari >> >> mereka menghadapi kegilaan ini dengan senyuman sarkastik di bibir, >> >> sebagian lagi dengan ekspresi keras dengan mulut terkatup. >> >> >> >> >> >> >> >> Indonesia adalah negeri kepulauan terluas di dunia dengan ragam >> > budaya, >> >> suku, dan bahasa yang menakjubkan. Keragaman ini dipersatukan setelah >> >> Perang Dunia II. Sebelumnya, Indonesia dijajah dan diperas oleh >> >> kekuatan-kekuatan penjajah selama ratusan tahun. Tahun 1945 Indonesia >> >> merdeka, sebuah awal yang membanggakan. Tetapi, 20 tahun kemudian, >> > 1965, >> >> mulailah terror kediktatoran militer ! >> >> >> >> >> >> >> >> Guru-guru dibunuh, studio film dan teater ditutup, bahasa Mandarin >> dan >> > >> >> hampir semua simbol kebudayaan Cina dilarang. Ratusan ribu, bahkan >> >> mungkin jutaan orang kehilangan nyawa : orang-orang Cina, orang-orang >> >> komunis, orang-orang atheis, orang-orang berpikiran maju, dan kaum >> >> minoritas. Ketidaktoleransian politik, etnik, dan agama mencengkeram >> >> negeri ini sejak itu, dan semakin memburuk. Kemampuan orang >> >> berargumentasi, bertanya, dan membandingkan sudah hilang, kreativitas >> >> dihancurkan dan didiskreditkan, keanekaragaman tidak didukung. >> >> >> >> >> >> >> >> Lalu Indonesia pun mengalami kehancuran sosial. Mayoritas penduduk >> > hidup >> >> dalam kondisi mengenaskan : tidak punya air layak minum, tidak >> > menikmati >> >> aliran listrik, lebih daripada setengah penduduk hidup dengan >> >> penghasilan kurang daripada dua dollar AS per hari. Di Indonesia >> semua >> > >> >> penduduk diwajibkan menganut salah satu agama, tetapi di Indonesia >> > juga >> >> terjadi ketidakberperikemanusiaan dan kebrutalan. Kebenaran jarang >> >> sekali mengemuka, para seniman harus tunduk kepada aturan, media >> massa >> > >> >> melakukan sensornya sendiri. >> >> >> >> >> >> >> >> Tetapi, seorang lelaki asal Blora bernama Pramoedya Ananta Toer, >> > selama >> >> 40 tahun ini terus menulis, mencoba merumuskan inti dan sejarah >> >> bangsanya yang masih belia dan menderita. Pram menulis di penjara, di >> >> kamp militer, di rumahnya sebagai terpidana tahanan rumah. Pram >> > menulis >> >> dalam "pengasingan diri", menulis dalam keadaan marah dan ngeri >> > melihat >> >> situasi dan kondisi negerinya. Banyak bukunya dibakar, yang selamat >> > dari >> >> api kemudian dilarang beredar. >> >> >> >> >> >> >> >> Beberapa cuplikan wawancara : >> >> >> >> >> >> >> >> T : Apakah perbedaan antara penjajahan Belanda dan Jepang ? >> >> >> >> J : Belanda mementingkan hukum sedangkan Jepang tidak. Dalam waktu >> > tiga >> >> hari setelah mendarat di Jawa, hampir semua serdadu Jepang terlibat >> >> dalam pemerkosaan wanita-wanita lokal. Pada saat itu wanita2 banyak >> > yang >> >> mencoreng-moreng mukanya sendiri dengan arang agar tidak dikenali >> >> sebagai wanita. Nenek2 pun melakukannya. Sejak awal invasi banyak >> >> kejadian aneh. Serdadu Jepang membuka pintu2 toko orang Cina dan >> >> mempersilakan para gerombolan pribumi untuk mengambil barang2nya. >> > Lalu, >> >> tiga hari kemudian gerombolan2 itu ditembak mati. Yang baik dari >> >> penjajahan Jepang hanya satu : kewajiban berbahasa Indonesia. Bahasa >> >> Indonesia berkembang pesat sejak saat itu. >> >> >> >> >> >> >> >> T : Jika kita menganalisis kudeta 1965 setelah hampir 40 tahun, ada >> > dua >> >> teori dasar yang mengemuka tentang apa yang terjadi. Versi pertama, >> > yang >> >> resmi, bahwa PKI-lah dalang G30S, bahwa PKI-lah yang menculik dan >> >> membunuh para jenderal. Versi kedua adalah yang terwakili dalam >> > "Cornell >> >> Paper", bahwa peristiwa G30S pada pokoknya merupakan konflik intern >> di >> > >> >> tubuh Angkatan Darat. Namun demikian, ada pula versi lain yang >> > sekarang >> >> mulai diadopsi oleh berbagai pihak di dunia, termasuk oleh para >> >> sejarahwan terkemuka di Indonesia, yaitu bahwa kudeta tersebut >> > dilakukan >> >> oleh salah satu faksi di militer yang pro-Soeharto, dan didukung oleh >> >> Amerika Serikat dan negara-negara Barat lainnya. Apa pendapat Bung >> >> mengenai hal ini ? >> >> >> >> J : Tentu saja tujuan utama negara-negara Barat adalah menggulingkan >> >> Soekarno karena tiga prinsipnya : anti-klonialisme, >> anti-imperialisme, >> > >> >> anti-kapitalisme. Dan mereka yang ingin menjatuhkan Soekarno dan yang >> >> mau berkuasa mengambil kesempatan dari adanya friksi di dalam >> militer, >> > >> >> yang terpecah antara pendukung Soekarno dan pendukung Soeharto. Pada >> >> saat kudeta, salah satu faksi merencanakan dan melaksanakan >> pembunuhan >> > >> >> jenderal-jenderal, dan hal inilah yang memicu pembunuhan missal dan >> >> pendekanan-penekanan yang yang dilakukan oleh pendukung Soeharto. >> >> Korban2 pada saat itu termasuk orang-orang komunis, cina, dan >> > pendukung >> >> Soekarno. Jadi, menurut saya, ini yang terjadi : Militer dan Soeharto >> >> melakukan kudeta, dan kemudian mereka membunuh dua juta orang, dan >> >> menimpakan kesalahannya kepada orang lain. Anda mengerti tidak ? >> > Mereka >> >> membunuh dua juta orang untuk balas dendam terhadap apa yang >> > sebenarnya >> >> mereka lakukan sendiri ! >> >> >> >> Di zaman kerajaan dahulu, kita punya cerita yang sama, yaitu cerita >> >> tentang Kebo Ijo, Ken Arok, dan Tunggul Ametung. Setelah Ken Arok >> >> membunuh Tunggul Ametung, Ken Arok cuci tangan, dan setelah mengambil >> >> alih kekuasaan, Ken arok memerintahkan untuk menghukum mati Kebo Ijo, >> >> temannya karena menuduh Kebo Ijolah pembunuh Tunggul Ametung. Ken >> Arok >> > >> >> sengaja meminjamkan keris Mpu Gandring yang haus darah itu kepada >> Kebo >> > >> >> ijo beberapa hari sebelum Ken Arok membunuh Tunggul Ametung. Sialnya >> >> Kebo ijo, dia suka pamer kepada siapa pun dan mengaku2 bahwa keris >> > bagus >> >> itu adalah kerisnya sendiri. Maka ketika di tubuh Tunggul Ametung >> >> tertancap keris Ken Arok, orang tahu itu adalah keris Kebo Ijo. >> >> >> >> >> >> >> >> T : Berapa orang yang dibunuh setelah kudeta itu ? >> >> >> >> J : Menurut Sudomo jumlahnya dua juta orang. Tapi pembunuhan tersebut >> >> terutama dilakukan di bawah perintah Sarwo Edhie Wibowo, yang pada >> > saat >> >> itu dengan bangga mengatakan pasukannya telah membunuh tiga juta >> > orang. >> >> Dan dia hanya mengatakan soal korban di Pulau Jawa saja. >> >> >> >> >> >> >> >> T : Ada beberapa dokumen yang menunjukkan dan beberapa ilmuwan yang >> >> berpendapat bahwa militer amerika dan Indonesia merencanakan bersama >> >> kudeta 1965... >> >> >> >> J : jangan lupa senjata Amerika yang paling ampuh adalah dollarnya. >> > Dan >> >> jangan lupa pula bahwa Eisenhower, Presiden AS pada saat itu, >> >> memerintahkan untuk menyingkirkan Soekarno. Dia mengatakan hal ini >> > dalam >> >> beberapa pidatonya. Dan CIA memperalat Soeharto untuk melaksanakan >> hal >> > >> >> ini. Amerika punya pengaruh yang sangat besar terhadap militer >> >> Indonesia, dan kemudian pada Golkar. Walaupun pada saat itu kami >> sudah >> > >> >> menjadi tahanan politik, kami selalu tahu bahwa Amerika pasti berada >> > di >> >> belakang hal ini. >> >> >> >> >> >> >> >> T : Apakah Bung seorang Marxis ? >> >> >> >> J : Bukan, saya bukan Marxis, tapi "Pramis". Saya tidak pernah >> > menganut >> >> suatu ajaran apa pun, saya hanya mengikuti ajaran saya sendiri. >> > Belajar >> >> dari pengalaman hidup sendiri. Tapi saya percaya pada keadilan dan >> >> kesetaraan sosial. >> >> >> >> >> >> >> >> T : Apakah bung setuju dengan pendapat bahwa hal paling luar biasa >> > yang >> >> bisa dilakukan oleh seorang penulis untuk bangsanya adalah ketika ia >> >> bisa mengungkapkan bagian paling kelam bangsanya itu ? >> >> >> >> J : Tidak, saya tidak setuju dengan pendapat itu. Saya selalu melihat >> >> dunia ini secara dialektik. Jadi saya tidak pernah menggambarkan >> >> kejelekannya saja, tapi juga kebaikannya. Kalau saya gambarkan >> >> keburukannya saja, mungkin saya bisa sakit. >> >> >> >> >> >> >> >> T : Baru2 ini Gus Dur mengatakan pada kami bahwa dia sangat >> > menghormati >> >> Bung dan merencanakan untuk membuat yayasan dengan nama Bung. Yayasan >> >> ini dimaksudkan untuk membantu para korban 1965 dan keluarganya. >> > Apakah >> >> Bung punya harapan bahwa hal ini dapat memmbawa perubahan ? >> >> >> >> J : Sebagai mantan Ketua NU, Gus Dur ikut merasa berdosa atas apa >> yang >> > >> >> terjadi di masa lalu (pembantaian orang-orang yang dianggap komunis >> >> pasca kudeta 1965). Dia merasa bersalah, walaupun secara pribadi dia >> >> tidak terlibat dalam pembunuhan2 itu. Itu sih bagus-bagus saja, Cuma >> >> masalahnya Gus Dur itu terlalu dekat dengan militer, karena dia masih >> >> membutuhkan dukungan politik dan perlindungan dari mereka sebelum >> >> pemilu. Paling tidak dia membutuhkan perlindungan. Semua politikus >> > kita, >> >> kan, sangat oportunis. >> >> >> >> >> >> >> >> Akhir wawancara. >> >> >> >> >> >> >> >> T : Jadi Bung hidup terasing di negeri Bung sendiri ? >> >> >> >> J : Ya, saya hidup di dunia saya sendiri. Di luar itu yang ada hanya >> >> korupsi. Satu-satunya pemimpin, Soekarno, sudah tidak ada lagi. >> Inilah >> > >> >> balasan Indonesia pada saya. Negara yang dulu saya perjuangkan >> > sekarang >> >> dalam proses pembusukan, jadi bagaimana saya tidak marah ? Sangat >> >> bertolak-belakang dengan negara yang kami cita-citakan dahulu. >> > Hari-hari >> >> ini semakin banyak memori yang kembali. Kebanyakan teman saya sudah >> >> tidak ada lagi. Saya teringat akan dua juta orang yang dibunuh dan >> >> sungai-sungai penuh dengan mayat sehingga airnya menjadi merah karena >> >> darah. Bagaimana orang bisa membunuh sesamanya seperti itu ? Saya >> > tidak >> >> bisa bicara lagi soal hal ini. Terlalu emosional bagi saya. >> >> >> >> >> >> >> >> Ada ratusan tanya-jawab yang sangat kritis dan menukik pada pokok >> >> persoalan dapat ditemukan di buku ini tentang sejarah, kolonialisme, >> >> Soekarno, kudeta 1965, Jawanisme, Soeharto, Timor, Aceh, dan masa >> > depan >> >> Indonesia. Walaupun Pram tidak percaya kepada agama, berpendapat >> bahwa >> > >> >> berdoa adalah seperti mengemis, hanya percaya kepada dirinya sendiri >> > dan >> >> hanya bisa bergantung kepada dirinya sendiri - membaca buku-buku >> > sastra >> >> dan roman sejarah yang ditulisnya kita akan menemukan nasionalisme >> dan >> > >> >> humanisme di dalamnya. Dan, kekuatan individual seorang Pram sangat >> >> mengagumkan ! >> >> >> >> >> >> >> >> Sebuah proyek buku "Ensiklopedia Kepulauan Indonesia" akan >> >> dikerjakannya dengan berbekal kepada referensi sepanjang empat meter >> >> yang telah dikumpulkannya. Apa daya, maut menjemputnya lebih dahulu >> > saat >> >> usianya 81 tahun pada 30 April 2006. Konsisten, tidak kenal kompromi, >> >> kekuatan, dan semangat sampai akhir ! >> >> >> >> >> >> >> >> Sayang, sering kita selalu terlambat menghargai jasa seseorang. >> >> Negara-negara lain lebih dahulu menghargai Pram. Inilah daftar >> >> penghargaan buat Pram : >> >> >> >> >> >> >> >> 1988 PEN/Barbara Goldsmith Freedom to Write Award. >> >> >> >> 1989 The Fund for Free Expression Award, New York, USA. >> >> >> >> 1992 English P.E.N Centre Award, Great Britain. >> >> >> >> 1992 Stichting Wertheim Award, Netherland. >> >> >> >> 1995 Ramon Magsaysay Award for Journalism, Literature, and Creative >> >> Communication Arts. >> >> >> >> 1999 Doctor Honoris Causa from the University of Michigan. >> >> >> >> 1999 Chancellor's Distinguished Honor Award from the University of >> >> California, Berkeley. >> >> >> >> 2000 Chevalier de l'Ordre des Arts et des Lettres Republic of France. >> >> >> >> 2000 11th Fukuoka Asian Culture Prize. >> >> >> >> 2004 Norwegian Authors' Union award for his contribution to world >> >> literature and his continuous struggle for the right to freedom of >> >> expression. >> >> >> >> 2005 Global Intellectuals Poll by the Prospect. >> >> >> >> >> >> >> >> Pram juga beberapa kali masuk nominator hadiah Nobel. Tetapi, seperti >> > di >> >> buku ini, mengenai penghargaan Pram hanya bilang : "tak pernah >> >> mengharapkannya". "Saya mencoba untuk tidak terlalu mengharapkan >> > apa-apa >> >> dari dunia luar. Saya belajar untuk mengandalkan diri saya sendiri. >> >> Bahkan saya tidak pernah minta apapun dari orang tua saya sendiri" >> >> >> >> >> >> >> >> Berikut adalah karya utama Pram, masih banyak karya2nya yang di luar >> >> ini. >> >> >> >> >> >> >> >> Kranji-Bekasi Jatuh (1947) >> >> >> >> Perburuan (The Fugitive) (1950) >> >> >> >> Keluarga Gerilya (1950) >> >> >> >> Bukan Pasarmalam (1951) >> >> >> >> Cerita dari Blora (1952) >> >> >> >> Gulat di Jakarta (1953) >> >> >> >> Korupsi (Corruption) (1954) >> >> >> >> Midah - Si Manis Bergigi Emas (1954) >> >> >> >> Cerita Calon Arang (The King, the Witch, and the Priest) (1957) >> >> >> >> Hoakiau di Indonesia (1960) >> >> >> >> Panggil Aku Kartini Saja I & II (1962) >> >> >> >> The Buru Quartet >> >> >> >> Bumi Manusia (This Earth of Mankind) (1980) >> >> >> >> Anak Semua Bangsa (Child of All Nations) (1980) >> >> >> >> Jejak Langkah (Footsteps) (1985) >> >> >> >> Rumah Kaca (House of Glass) (1988) >> >> >> >> Gadis Pantai (The Girl from the Coast) (1982) >> >> >> >> Nyanyi Sunyi Seorang Bisu (A Mute's Soliloquy) (1995) >> >> >> >> Arus Balik (1995) >> >> >> >> Arok Dedes (1999) >> >> >> >> Mangir (1999) >> >> >> >> Larasati (2000) >> >> >> >> >> >> >> >> "Soliloquy" - Nyanyi Sunyi, novelnya tentang penderitaan yang tak >> bisa >> > >> >> terucapkan di kamp konsentrasi Buru, tak hendak selamanya akan sunyi. >> >> Karya2 Pram sekarang bisa ditemukan cukup mudah di mana saja, bahkan >> > ada >> >> penerbit yang khusus menerbitkan buku2nya, yang bertahun-tahun lalu >> >> dilarang. >> >> >> >> >> >> >> >> "Memukau...pilu tiada akhir" (Noam Chomsky) >> >> >> >> >> >> >> >> Salam, >> >> >> >> awang >> >> >> >> >> >> >> >> >> >> >> >> >> >> >> >> >> > >> > >> >> > > > -- > http://rovicky.wordpress.com/ >

