> 
Vick  

Kiri kanan , kiri kanan 
, kiri - kanan. Itu sih baris berbaris.
Tapi kalau masih muda
ke-kiri2 an sudah dewasa ke-kanan2 n itu sih manusiawi dong, karena
kalau sudah dewasa kan sudaj punya keluarga , anak ,dus sudah punya
kepentingan.
Tapi kalau yang seperti ini jelas adalah common people
bukan seorang politikus atau manusia yang seperti Pram atau ML (Muchtar
Lubis)

Si-Abah

____________________________________________________________________


   Dalam dunia politik mereka (yg disebut-sebut
dalam uraian pak Awang) 
> kelompok lefties ... atau sering
disebut golongan kiri. 
> Kepentingan sosial lebih utama ketimbang
hak individu 
> Low profile not pride 
> Kekuasaan
dikuasai pemerintahan bersama, sedang right lebih memberikan 
>
kekuasaan ke rakyat individu 
> Lefties biasanya secular sedang
right lebih religious ... namun ini tidak 
> selalu, karena pernah
suatu saat 
> 
> Kalau ada yang tertarik istilah
"golongan kiri" dan "golongan kanan" dalam 
>
ilmu perpolitikan tentunya perseteruan kiri dan kanan ini cukup 
>
mengasyikkan 
> diikuti. Bahkan nanti akan terasa apakah kita ini
cenderung krii atau 
> cenderung kanan. Dulu kita takut sekali
kalau dicap gol kiri ... wupst !! 
> Namun ada yang mengatakan
anak muda cenderung kiri setelah dewasa akan ke 
> kanan ... wah
!! 
> 
> rdp 
> 
> On 7/19/07,
[EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]> wrote: 
>> 
>> >Awang 
>> 
>> Benar , tetapi harus
diingat bahwa pemikiran politik Maxim Gorky 
>> merupakan 
>> turunan kesekian dari Marxisme dari Karl Marx . Sebagaimana
Marxisme - 
>> Komunisme RRC berbeda dengan USSR. 
>> Demikian juga dengan Pram , dia mengatakan dirinya penganut
Pramisme 
>> (bukan Premanisme lho). 
>> 
>> Si-Abah 
>> 
>>
_____________________________________________________________ 
>> 
>> 
>> 
>> Abah, 
>> > 
>> > 
>> > 
>>
> Menurut saya, Pram lebih banyak dipengaruhi Maxim Gorky daripada Karl

>> > Marx. Apa yang diceritakan di buku-bukunya mirip
realita sosial 
>> seperti 
>> > karya sastra
Maxim Gorky, Leo Tolstoy, Anton Chekov, dan John 
>> Steinbeck.

>> 
>> > Penulis-penulis ini menyoroti realisme
sosial, suatu realisme yang 
>> > berhubungan dengan masalah
tanggung jawab sosial. Bahkan kisah Maxim 
>> > Gorky, Bapak
sastra Soviet dan pencetus doktrin socialist realism, 
>> >
segetir Pram juga. 
>> > 
>> > 
>>
> 
>> > Salam, 
>> > 
>> >
awang 
>> > 
>> > 
>> > 
>> > 
>> 
From: [EMAIL PROTECTED]
[mailto:[EMAIL PROTECTED] 
>> > Sent: Thursday, July 19,
2007 12:51 C++ 
>> > To: [email protected] 
>>
> Subject: Re: [iagi-net-l] OOT "Saya Terbakar Amarah
Sendirian" ! 
>> > 
>> > 
>>
> 
>> > 
>> > Awang 
>> > 
>> > Sedari saya kecil saya sudah mengagumi Amarhum , buku buku
lama eperti 
>> > Ceritera dari Blora , Keluarga Gerilya dsb
saya baca berkali-kali. 
>> > Buku yang baru sudah sedikit
berubah , lebih romantis walaupun pesan 
>> > pesannya
mengeai penderitaan rakyat tertindas masih 
>> > mengemuka
dengan nyata . 
>> > 
>> > Apakah dia seorang
marxist ? 
>> > 
>> > Menurut saya dia
berfikiran atau menganut sikap / pemikiran seorang 
>> >
marxist walaupun dia tidak mengakui-nya.Coba saja baca dengan teliti 
>> > pesan pesan dalam buku buku-nya. 
>> > Tapi
dia adalah mrxist nasionalist. 
>> > Dia seorang nasionalist
yang mendambakan bangsa Indonesia bisa makmur 
>> > dan adil
sejahtera , sebagimana diamanatkan dalam mukdimah Konstitusi 
>> > kita. 
>> > 
>> > Apakah dia
perlu penghargaan ? 
>> > 
>> > Saya kira
orang seperti Pram tidak merasa perlu piagam penghargan , 
>>
akan 
>> 
>> > tetapi kita sebagai bangsa yang
besar wajib memberikan pengargaan 
>> > kepadanya , bkan
saja untuk karya sastranya , akan tetapi 
>> onsistensi-nya 
>> 
>> > dalam bersikap sebagi nasionalist yang
konsisten. 
>> > Hanya sayang-nya bangsa kita ini punya
penyakit "aneh" , yaitu takut 
>> > mengargai
karya warga bangsa-nya sendiri . 
>> > Lihat saja IAGI ,
berkali kali saya menyatakan didalam iagi-net , 
>> betapa 
>> 
>> > penting-nya memberikan penghargaan
profesional kepada warag negara RI 
>> > atau fuhak lain
yang memberikan kontribusi yang luar biasa kepada 
>> >
kebumian Indonesia , Ndak ada tuh yang menanggapi . Apa ini bukan aneh 
>> > (kata saya dan Anda). 
>> > Sampai adik saya
yang saya sangat sayangi dan hormati -pun , ADBt yang 
>> >
katanya geologist Merdeka tidak berani untuk melakukan hal itu dimasa 
>> > kepengurusan-nya 
>> > 
>> >
So ,jangan berkecil hati lah. 
>> > 
>> >
Si-Abah 
>> > 
>> >
______________________________________________________________________ 
>> > 
>> > 
>> > Judul subyek di
atas adalah judul sebuah buku relatif baru (Desember 
>>
>> 2006) tentang Pramoedya Ananta Toer, banyak dianggap sebagai 
>> sastrawan 
>> > 
>> >> terbesar
Indonesia dan dunia luar mengakuinya sebagai sastrawan kelas 
>> >> dunia, terbitan Kepustakaan Populer Gramedia. Buku ini
memuat 
>> >> serangkaian wawancara antara Andre Vltchek
dan Rossie Indira dengan 
>> > Pram 
>> >>
pada Desember 2003-Maret 2004, dua tahun lebih sebelum Pram meninggal 
>> >> dunia pada akhir April 2006. Andre adalah seorang
penulis, wartawan, 
>> >> sineas, dan analis politik asal
Eropa Tengah. Rossie adalah penulis, 
>> >> sineas dan
arsitek Indonesia. Kedua orang ini mahir berbahasa Rusia 
>>
> dan 
>> >> Ceko, bahasa yang dipakainya ketika
ngobrol dengan adik Pram yang 
>> > pernah 
>>
>> lama tinggal di Rusia. Wawancara dengan Pram sendiri diadakan
dalam 
>> >> bahasa Indonesia sebab Pram menolak
berbahasa Inggris, seperti juga 
>> ia 
>> > 
>> >> menolak menulis buku2-nya dalam bahasa Inggris,
walaupun buku2nya 
>> > telah 
>> >>
diterjemahkan kedalam banyak bahasa. 
>> >> 
>> >> 
>> >> 
>> >>
Wawancara bersifat langsung, menukik ke semua pokok persoalan, 
>> > termasuk 
>> >> masalah2 kritis seperti
komunisme, atheisme, pembantaian Cina di 
>> >>
Indonesia, dan borok-borok rekayasa politik Indonesia. Tegang 
>> >> membacanya, bersiaplah dengan berbagai guncangan !
Tetapi, akan juga 
>> >> kita temukan di dalamnya sebuah
nasionalisme ala Pram, yang 
>> disebutnya 
>> >

>> >> Pramisme. Akan juga kita temukan sebuah keunggulan
individualisme 
>> yang 
>> > 
>>
>> memukau, semangat pantang menyerah yang patut diteladani, tak
kenal 
>> >> kompromi, keras, dan penghargaan yang hebat
terhadap bahasa 
>> Indonesia. 
>> > 
>> >> 
>> >> 
>> >> 
>> >> Berikut beberapa pendapat dari buku tersebut menurut
analisis politik 
>> >> Andre Vltchek. 
>>
>> 
>> >> 
>> >> 
>>
>> Abad kedua puluh ditandai dengan hampir tiada hentinya pesta
terror 
>> > dan 
>> >> kekerasan serta
penipuan dan pangkhianatan. Setiap manusia di 
>> berbagai 
>> > 
>> >> belahan dunia menyadari bahwa
kebohongan yang diulang seribu kali 
>> pada 
>>
> 
>> >> akhirnya dapat menjadi kebenaran, bahwa
pendudukan yang brutal dapat 
>> >> diartikan sebagai
pembebasan, dan membunuh jutaan orang tak berdosa 
>> >>
dapat dibenarkan oleh para pemimpin negara-negara adikuasa atau bukan 
>> >> adikuasa sebagai harga yang harus dibayar demi
kemajuan kemanusiaan, 
>> >> peradaban, dan kepentingan
nasional. Jutaan orang lenyap di 
>> >>
krematorium-krematorium, di kamp-kamp konsentrasi, di medan perang, 
>> >> ataupun di puing-puing kota yang hancur oleh bom. 
>> >> 
>> >> 
>> >> 
>> >> Tetapi, di tengah-tengah penjarahan dan kesemrawutan,
ada 
>> >> manusia-manusia luar biasa yang berpendirian
teguh dan terus melawan 
>> >> arus demi membela mereka
yang teraniaya, mereka yang tersudut, dan 
>> > para 
>> >> korban pemerintahan yang kejam dan sewenang-wenang.
Ini adalah 
>> >> manusia-manusia yang menentang
demagogi, militerisme, dan kekuatan 
>> >> ekonomi dengan
dua alat perlawanan terkuat yang diciptakan dan 
>> dikenal 
>> > 
>> >> manusia : pengetahuan dan
kebenaran. 
>> >> 
>> >> 
>>
>> 
>> >> Orang-orang luar biasa ini melawan
kebohongan dengan kata-kata 
>> > sederhana 
>>
>> yang masuk akal, melawan mitos-mitos yang membahayakan dengan 
>> >> fakta-fakta, melawan fanatisme agama dengan kebenaran.
Sebagian dari 
>> >> mereka menghadapi kegilaan ini
dengan senyuman sarkastik di bibir, 
>> >> sebagian lagi
dengan ekspresi keras dengan mulut terkatup. 
>> >> 
>> >> 
>> >> 
>> >>
Indonesia adalah negeri kepulauan terluas di dunia dengan ragam 
>> > budaya, 
>> >> suku, dan bahasa yang
menakjubkan. Keragaman ini dipersatukan setelah 
>> >>
Perang Dunia II. Sebelumnya, Indonesia dijajah dan diperas oleh 
>> >> kekuatan-kekuatan penjajah selama ratusan tahun. Tahun
1945 Indonesia 
>> >> merdeka, sebuah awal yang
membanggakan. Tetapi, 20 tahun kemudian, 
>> > 1965, 
>> >> mulailah terror kediktatoran militer ! 
>>
>> 
>> >> 
>> >> 
>>
>> Guru-guru dibunuh, studio film dan teater ditutup, bahasa
Mandarin 
>> dan 
>> > 
>> >>
hampir semua simbol kebudayaan Cina dilarang. Ratusan ribu, bahkan 
>> >> mungkin jutaan orang kehilangan nyawa : orang-orang
Cina, orang-orang 
>> >> komunis, orang-orang atheis,
orang-orang berpikiran maju, dan kaum 
>> >> minoritas.
Ketidaktoleransian politik, etnik, dan agama mencengkeram 
>>
>> negeri ini sejak itu, dan semakin memburuk. Kemampuan orang 
>> >> berargumentasi, bertanya, dan membandingkan sudah
hilang, kreativitas 
>> >> dihancurkan dan
didiskreditkan, keanekaragaman tidak didukung. 
>> >> 
>> >> 
>> >> 
>> >> Lalu
Indonesia pun mengalami kehancuran sosial. Mayoritas penduduk 
>> > hidup 
>> >> dalam kondisi mengenaskan :
tidak punya air layak minum, tidak 
>> > menikmati 
>> >> aliran listrik, lebih daripada setengah penduduk hidup
dengan 
>> >> penghasilan kurang daripada dua dollar AS
per hari. Di Indonesia 
>> semua 
>> > 
>> >> penduduk diwajibkan menganut salah satu agama, tetapi
di Indonesia 
>> > juga 
>> >> terjadi
ketidakberperikemanusiaan dan kebrutalan. Kebenaran jarang 
>>
>> sekali mengemuka, para seniman harus tunduk kepada aturan, media

>> massa 
>> > 
>> >> melakukan
sensornya sendiri. 
>> >> 
>> >> 
>> >> 
>> >> Tetapi, seorang lelaki asal
Blora bernama Pramoedya Ananta Toer, 
>> > selama 
>> >> 40 tahun ini terus menulis, mencoba merumuskan inti
dan sejarah 
>> >> bangsanya yang masih belia dan
menderita. Pram menulis di penjara, di 
>> >> kamp
militer, di rumahnya sebagai terpidana tahanan rumah. Pram 
>>
> menulis 
>> >> dalam "pengasingan diri",
menulis dalam keadaan marah dan ngeri 
>> > melihat 
>> >> situasi dan kondisi negerinya. Banyak bukunya dibakar,
yang selamat 
>> > dari 
>> >> api kemudian
dilarang beredar. 
>> >> 
>> >> 
>> >> 
>> >> Beberapa cuplikan wawancara :

>> >> 
>> >> 
>> >>

>> >> T : Apakah perbedaan antara penjajahan Belanda dan
Jepang ? 
>> >> 
>> >> J : Belanda
mementingkan hukum sedangkan Jepang tidak. Dalam waktu 
>> >
tiga 
>> >> hari setelah mendarat di Jawa, hampir semua
serdadu Jepang terlibat 
>> >> dalam pemerkosaan
wanita-wanita lokal. Pada saat itu wanita2 banyak 
>> > yang

>> >> mencoreng-moreng mukanya sendiri dengan arang agar
tidak dikenali 
>> >> sebagai wanita. Nenek2 pun
melakukannya. Sejak awal invasi banyak 
>> >> kejadian
aneh. Serdadu Jepang membuka pintu2 toko orang Cina dan 
>>
>> mempersilakan para gerombolan pribumi untuk mengambil barang2nya.

>> > Lalu, 
>> >> tiga hari kemudian
gerombolan2 itu ditembak mati. Yang baik dari 
>> >>
penjajahan Jepang hanya satu : kewajiban berbahasa Indonesia. Bahasa 
>> >> Indonesia berkembang pesat sejak saat itu. 
>> >> 
>> >> 
>> >> 
>> >> T : Jika kita menganalisis kudeta 1965 setelah hampir
40 tahun, ada 
>> > dua 
>> >> teori dasar
yang mengemuka tentang apa yang terjadi. Versi pertama, 
>>
> yang 
>> >> resmi, bahwa PKI-lah dalang G30S, bahwa
PKI-lah yang menculik dan 
>> >> membunuh para jenderal.
Versi kedua adalah yang terwakili dalam 
>> > "Cornell

>> >> Paper", bahwa peristiwa G30S pada pokoknya
merupakan konflik intern 
>> di 
>> > 
>> >> tubuh Angkatan Darat. Namun demikian, ada pula versi
lain yang 
>> > sekarang 
>> >> mulai
diadopsi oleh berbagai pihak di dunia, termasuk oleh para 
>>
>> sejarahwan terkemuka di Indonesia, yaitu bahwa kudeta tersebut

>> > dilakukan 
>> >> oleh salah satu
faksi di militer yang pro-Soeharto, dan didukung oleh 
>>
>> Amerika Serikat dan negara-negara Barat lainnya. Apa pendapat
Bung 
>> >> mengenai hal ini ? 
>> >>

>> >> J : Tentu saja tujuan utama negara-negara Barat
adalah menggulingkan 
>> >> Soekarno karena tiga
prinsipnya : anti-klonialisme, 
>> anti-imperialisme, 
>> > 
>> >> anti-kapitalisme. Dan mereka yang
ingin menjatuhkan Soekarno dan yang 
>> >> mau berkuasa
mengambil kesempatan dari adanya friksi di dalam 
>> militer,

>> > 
>> >> yang terpecah antara pendukung
Soekarno dan pendukung Soeharto. Pada 
>> >> saat kudeta,
salah satu faksi merencanakan dan melaksanakan 
>> pembunuhan

>> > 
>> >> jenderal-jenderal, dan hal
inilah yang memicu pembunuhan missal dan 
>> >>
pendekanan-penekanan yang yang dilakukan oleh pendukung Soeharto. 
>> >> Korban2 pada saat itu termasuk orang-orang komunis,
cina, dan 
>> > pendukung 
>> >> Soekarno.
Jadi, menurut saya, ini yang terjadi : Militer dan Soeharto 
>>
>> melakukan kudeta, dan kemudian mereka membunuh dua juta orang,
dan 
>> >> menimpakan kesalahannya kepada orang lain.
Anda mengerti tidak ? 
>> > Mereka 
>> >>
membunuh dua juta orang untuk balas dendam terhadap apa yang 
>> > sebenarnya 
>> >> mereka lakukan sendiri
! 
>> >> 
>> >> Di zaman kerajaan
dahulu, kita punya cerita yang sama, yaitu cerita 
>> >>
tentang Kebo Ijo, Ken Arok, dan Tunggul Ametung. Setelah Ken Arok 
>> >> membunuh Tunggul Ametung, Ken Arok cuci tangan, dan
setelah mengambil 
>> >> alih kekuasaan, Ken arok
memerintahkan untuk menghukum mati Kebo Ijo, 
>> >>
temannya karena menuduh Kebo Ijolah pembunuh Tunggul Ametung. Ken 
>> Arok 
>> > 
>> >> sengaja
meminjamkan keris Mpu Gandring yang haus darah itu kepada 
>>
Kebo 
>> > 
>> >> ijo beberapa hari sebelum
Ken Arok membunuh Tunggul Ametung. Sialnya 
>> >> Kebo
ijo, dia suka pamer kepada siapa pun dan mengaku2 bahwa keris 
>> > bagus 
>> >> itu adalah kerisnya sendiri.
Maka ketika di tubuh Tunggul Ametung 
>> >> tertancap
keris Ken Arok, orang tahu itu adalah keris Kebo Ijo. 
>>
>> 
>> >> 
>> >> 
>>
>> T : Berapa orang yang dibunuh setelah kudeta itu ? 
>>
>> 
>> >> J : Menurut Sudomo jumlahnya dua juta
orang. Tapi pembunuhan tersebut 
>> >> terutama dilakukan
di bawah perintah Sarwo Edhie Wibowo, yang pada 
>> > saat

>> >> itu dengan bangga mengatakan pasukannya telah
membunuh tiga juta 
>> > orang. 
>> >> Dan
dia hanya mengatakan soal korban di Pulau Jawa saja. 
>>
>> 
>> >> 
>> >> 
>>
>> T : Ada beberapa dokumen yang menunjukkan dan beberapa ilmuwan
yang 
>> >> berpendapat bahwa militer amerika dan
Indonesia merencanakan bersama 
>> >> kudeta 1965... 
>> >> 
>> >> J : jangan lupa senjata
Amerika yang paling ampuh adalah dollarnya. 
>> > Dan 
>> >> jangan lupa pula bahwa Eisenhower, Presiden AS pada
saat itu, 
>> >> memerintahkan untuk menyingkirkan
Soekarno. Dia mengatakan hal ini 
>> > dalam 
>>
>> beberapa pidatonya. Dan CIA memperalat Soeharto untuk
melaksanakan 
>> hal 
>> > 
>>
>> ini. Amerika punya pengaruh yang sangat besar terhadap militer

>> >> Indonesia, dan kemudian pada Golkar. Walaupun pada
saat itu kami 
>> sudah 
>> > 
>>
>> menjadi tahanan politik, kami selalu tahu bahwa Amerika pasti
berada 
>> > di 
>> >> belakang hal ini.

>> >> 
>> >> 
>> >>

>> >> T : Apakah Bung seorang Marxis ? 
>>
>> 
>> >> J : Bukan, saya bukan Marxis, tapi
"Pramis". Saya tidak pernah 
>> > menganut 
>> >> suatu ajaran apa pun, saya hanya mengikuti ajaran saya
sendiri. 
>> > Belajar 
>> >> dari
pengalaman hidup sendiri. Tapi saya percaya pada keadilan dan 
>> >> kesetaraan sosial. 
>> >> 
>> >> 
>> >> 
>> >> T :
Apakah bung setuju dengan pendapat bahwa hal paling luar biasa 
>> > yang 
>> >> bisa dilakukan oleh seorang
penulis untuk bangsanya adalah ketika ia 
>> >> bisa
mengungkapkan bagian paling kelam bangsanya itu ? 
>> >>

>> >> J : Tidak, saya tidak setuju dengan pendapat itu.
Saya selalu melihat 
>> >> dunia ini secara dialektik.
Jadi saya tidak pernah menggambarkan 
>> >> kejelekannya
saja, tapi juga kebaikannya. Kalau saya gambarkan 
>> >>
keburukannya saja, mungkin saya bisa sakit. 
>> >> 
>> >> 
>> >> 
>> >> T :
Baru2 ini Gus Dur mengatakan pada kami bahwa dia sangat 
>>
> menghormati 
>> >> Bung dan merencanakan untuk
membuat yayasan dengan nama Bung. Yayasan 
>> >> ini
dimaksudkan untuk membantu para korban 1965 dan keluarganya. 
>> > Apakah 
>> >> Bung punya harapan bahwa
hal ini dapat memmbawa perubahan ? 
>> >> 
>>
>> J : Sebagai mantan Ketua NU, Gus Dur ikut merasa berdosa atas apa

>> yang 
>> > 
>> >> terjadi di
masa lalu (pembantaian orang-orang yang dianggap komunis 
>>
>> pasca kudeta 1965). Dia merasa bersalah, walaupun secara pribadi
dia 
>> >> tidak terlibat dalam pembunuhan2 itu. Itu sih
bagus-bagus saja, Cuma 
>> >> masalahnya Gus Dur itu
terlalu dekat dengan militer, karena dia masih 
>> >>
membutuhkan dukungan politik dan perlindungan dari mereka sebelum 
>> >> pemilu. Paling tidak dia membutuhkan perlindungan.
Semua politikus 
>> > kita, 
>> >> kan,
sangat oportunis. 
>> >> 
>> >> 
>> >> 
>> >> Akhir wawancara. 
>> >> 
>> >> 
>> >> 
>> >> T : Jadi Bung hidup terasing di negeri Bung sendiri ?

>> >> 
>> >> J : Ya, saya hidup di
dunia saya sendiri. Di luar itu yang ada hanya 
>> >>
korupsi. Satu-satunya pemimpin, Soekarno, sudah tidak ada lagi. 
>> Inilah 
>> > 
>> >> balasan
Indonesia pada saya. Negara yang dulu saya perjuangkan 
>> >
sekarang 
>> >> dalam proses pembusukan, jadi bagaimana
saya tidak marah ? Sangat 
>> >> bertolak-belakang dengan
negara yang kami cita-citakan dahulu. 
>> > Hari-hari 
>> >> ini semakin banyak memori yang kembali. Kebanyakan
teman saya sudah 
>> >> tidak ada lagi. Saya teringat
akan dua juta orang yang dibunuh dan 
>> >> sungai-sungai
penuh dengan mayat sehingga airnya menjadi merah karena 
>>
>> darah. Bagaimana orang bisa membunuh sesamanya seperti itu ? Saya

>> > tidak 
>> >> bisa bicara lagi soal
hal ini. Terlalu emosional bagi saya. 
>> >> 
>> >> 
>> >> 
>> >> Ada
ratusan tanya-jawab yang sangat kritis dan menukik pada pokok 
>> >> persoalan dapat ditemukan di buku ini tentang sejarah,
kolonialisme, 
>> >> Soekarno, kudeta 1965, Jawanisme,
Soeharto, Timor, Aceh, dan masa 
>> > depan 
>>
>> Indonesia. Walaupun Pram tidak percaya kepada agama, berpendapat

>> bahwa 
>> > 
>> >> berdoa
adalah seperti mengemis, hanya percaya kepada dirinya sendiri 
>> > dan 
>> >> hanya bisa bergantung kepada
dirinya sendiri - membaca buku-buku 
>> > sastra 
>> >> dan roman sejarah yang ditulisnya kita akan menemukan
nasionalisme 
>> dan 
>> > 
>>
>> humanisme di dalamnya. Dan, kekuatan individual seorang Pram
sangat 
>> >> mengagumkan ! 
>> >> 
>> >> 
>> >> 
>> >> Sebuah
proyek buku "Ensiklopedia Kepulauan Indonesia" akan 
>> >> dikerjakannya dengan berbekal kepada referensi
sepanjang empat meter 
>> >> yang telah dikumpulkannya.
Apa daya, maut menjemputnya lebih dahulu 
>> > saat 
>> >> usianya 81 tahun pada 30 April 2006. Konsisten, tidak
kenal kompromi, 
>> >> kekuatan, dan semangat sampai
akhir ! 
>> >> 
>> >> 
>>
>> 
>> >> Sayang, sering kita selalu terlambat
menghargai jasa seseorang. 
>> >> Negara-negara lain
lebih dahulu menghargai Pram. Inilah daftar 
>> >>
penghargaan buat Pram : 
>> >> 
>> >>

>> >> 
>> >> 1988 PEN/Barbara Goldsmith
Freedom to Write Award. 
>> >> 
>> >>
1989 The Fund for Free Expression Award, New York, USA. 
>>
>> 
>> >> 1992 English P.E.N Centre Award, Great
Britain. 
>> >> 
>> >> 1992 Stichting
Wertheim Award, Netherland. 
>> >> 
>>
>> 1995 Ramon Magsaysay Award for Journalism, Literature, and
Creative 
>> >> Communication Arts. 
>>
>> 
>> >> 1999 Doctor Honoris Causa from the
University of Michigan. 
>> >> 
>> >>
1999 Chancellor's Distinguished Honor Award from the University of 
>> >> California, Berkeley. 
>> >> 
>> >> 2000 Chevalier de l'Ordre des Arts et des Lettres
Republic of France. 
>> >> 
>> >> 2000
11th Fukuoka Asian Culture Prize. 
>> >> 
>>
>> 2004 Norwegian Authors' Union award for his contribution to world

>> >> literature and his continuous struggle for the
right to freedom of 
>> >> expression. 
>>
>> 
>> >> 2005 Global Intellectuals Poll by the
Prospect. 
>> >> 
>> >> 
>>
>> 
>> >> Pram juga beberapa kali masuk nominator
hadiah Nobel. Tetapi, seperti 
>> > di 
>>
>> buku ini, mengenai penghargaan Pram hanya bilang : "tak
pernah 
>> >> mengharapkannya". "Saya mencoba
untuk tidak terlalu mengharapkan 
>> > apa-apa 
>> >> dari dunia luar. Saya belajar untuk mengandalkan diri
saya sendiri. 
>> >> Bahkan saya tidak pernah minta
apapun dari orang tua saya sendiri" 
>> >> 
>> >> 
>> >> 
>> >>
Berikut adalah karya utama Pram, masih banyak karya2nya yang di luar 
>> >> ini. 
>> >> 
>> >>

>> >> 
>> >> Kranji-Bekasi Jatuh (1947)

>> >> 
>> >> Perburuan (The Fugitive)
(1950) 
>> >> 
>> >> Keluarga Gerilya
(1950) 
>> >> 
>> >> Bukan Pasarmalam
(1951) 
>> >> 
>> >> Cerita dari Blora
(1952) 
>> >> 
>> >> Gulat di Jakarta
(1953) 
>> >> 
>> >> Korupsi
(Corruption) (1954) 
>> >> 
>> >> Midah
- Si Manis Bergigi Emas (1954) 
>> >> 
>>
>> Cerita Calon Arang (The King, the Witch, and the Priest) (1957)

>> >> 
>> >> Hoakiau di Indonesia
(1960) 
>> >> 
>> >> Panggil Aku Kartini
Saja I & II (1962) 
>> >> 
>> >> The
Buru Quartet 
>> >> 
>> >> Bumi Manusia
(This Earth of Mankind) (1980) 
>> >> 
>>
>> Anak Semua Bangsa (Child of All Nations) (1980) 
>>
>> 
>> >> Jejak Langkah (Footsteps) (1985) 
>> >> 
>> >> Rumah Kaca (House of Glass)
(1988) 
>> >> 
>> >> Gadis Pantai (The
Girl from the Coast) (1982) 
>> >> 
>>
>> Nyanyi Sunyi Seorang Bisu (A Mute's Soliloquy) (1995) 
>> >> 
>> >> Arus Balik (1995) 
>> >> 
>> >> Arok Dedes (1999) 
>> >> 
>> >> Mangir (1999) 
>>
>> 
>> >> Larasati (2000) 
>> >>

>> >> 
>> >> 
>> >>
"Soliloquy" - Nyanyi Sunyi, novelnya tentang penderitaan yang
tak 
>> bisa 
>> > 
>> >>
terucapkan di kamp konsentrasi Buru, tak hendak selamanya akan sunyi. 
>> >> Karya2 Pram sekarang bisa ditemukan cukup mudah di
mana saja, bahkan 
>> > ada 
>> >> penerbit
yang khusus menerbitkan buku2nya, yang bertahun-tahun lalu 
>>
>> dilarang. 
>> >> 
>> >> 
>> >> 
>> >> "Memukau...pilu tiada
akhir" (Noam Chomsky) 
>> >> 
>> >>

>> >> 
>> >> Salam, 
>>
>> 
>> >> awang 
>> >> 
>> >> 
>> >> 
>> >> 
>> >> 
>> >> 
>> >> 
>> >> 
>> > 
>> > 
>>

>> 
> 
> 
> -- 
>
http://rovicky.wordpress.com/ 
> 

Kirim email ke