berarti PND panen raya,.....
Andang Bachtiar <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Kabar terakhir yang saya dapatkan dari sumber resmi (dalam acara
tidak resmi), saat ini ada lebih dari usulan100 joint studi pengajuan blok-blok
migas baru di Indonesia, mulai daerah yang di-relinquish dengan satu-dua sumur
indikasi minyak, sampai yang tanpa sumur dengan hanya beberapa lintasan
seismik; mulai dari daerah-daerah offshore dangkal yang bahkan batas cekungan
terpublikasikanpun tidak sampai kesitu, sampai ke offshore dalam - fore-arc
area; mulai dari daerah rawan mud-volcano jateng-jatim sampai dengan
daerah-daerah relatif aman dari berita hazard; semuanya menunjukkane euphoria
yang tidak biasa alias tidak pernah terjadi bin anomali dalam sejarah
eksplorasi di Indonesia.
Yang perlu kita waspadai dari gejala ini adalah ke-awam-an para regulator
kita dibidang migas terhadap bentuk-bentuk komitmen terobosan (menurut istilah
pengaju joint-study) dan kelemahan daya enforcement dari kontroler/pelaksana
apabila pihak-pihak kumpeni ini tidak menjalankan komitmen-nya. Harga minyak
yang sudah 2 tahun terakhir ini melambung diatas 50USD/barrel dan juga
likuiditas dana-dana dari luar negeri yang butuh porto-folio-2 bisnis skala
besar nampaknya ikut melatarbelakangi euphoria tersebut. Sebagai efek
sampingannya banyak pemain-pemain baru dibidang migas dari Indonesia yang
ikutan dalam hiruk-pikuk mencari blok-blok baru tersebut. Pemain-pemain baru
tersebut, pada umumnya datang dari kalangan ex-bisnis-man yang ikutan
meramaikan bisnis Indonesia dimasa pra-krisis, menghilang (berganti
bentuk/nama) dimasa krisis (ada juga yang main-main dengan BPPN dan BLBI), dan
sekarang kembali lagi berkiprah ikutan meramaikan oil&gas Indonesia. Sebagian
besar dari
mereka punya attitude bisnis yang short-term, quick-yielding, risk-free
venture, certain-captive commodity, dan asset-certificate based financial
banking players. Sebagian besar dari mereka itulah yang pertanyaan dasarnya
kalau ketemu dengan konsultan adalah: "carikan saya blok yang sudah ada
minyaknya, yang bisa di-bank-kan, dapetinnya gampang, saingannya gak banyak".
Lha, yo, opo tumon?? Maka, beberapa kawan konsultan moon-lighter maupun retiree
yang mereka temui -dalam kebingungannya- seringkali kehabisan akal terus
menunjukkan daerah-daerah kosong yang tidak pernah 'proven" tapi mereka
jelaskan sebagai "ini ada minyaknya, cuma belum bisa diambil ke permukaan".
Pengertian speculative, hipotetical resources, possible, probable, dan proven
reserve jadi saling tumpang tindih, loncat sana-sini dan hasil akhirnya .....
ya itu tadi: lebih dari 100 Joint-Study sekarang ada di Ditjen Migas.
Ada juga kumpeni2 yang punya visi dan misi benar-benar eksplorasionis,
sebagian karena memang ditukangi oleh old-crackers eksplorasionis di dalam
gerak langkahnya. Tetapi kalau diurut-urut ke ujung atasnya, seringkali mereka
juga mengandalkan pendanaan financial banking (atau trend terbaru-nya: private
equity investment group), dimana untuk kasus yang pertama bukannya pengerjaan
eksplorasi penemuan cadangan-nya yang menjadi tujuan, tetapi penguasaan atas
data dari blok yang diajukan untuk joint-study yang jadi venture-bisnis-nya.
Dengan akusisi data di hampir seluruh daerah baru (benar-benar new frontier) di
Indonesia, dimana mereka punya hak paling tidak s/d 5 tahun untuk mengelola
data-nya (termasuk membuatnya menjadi komoditas bisnis), maka sebenarnyalah
mereka mengantongi hak "spec-survey" di wilayah-wilayah yang mereka ajukan
tersebut. Bedanya dengan spec-survey biasa, begitu mereka mendapatkan hak
"joint-study" di suatu block/wilayah, pihak lain manapun tidak bisa
melakukan survey / study apapun yang berkaitan dengan migas di daerah tersebut.
Selentingan penyebutan ide-ide daerah baru yang diajukan dalam joint-study
bisa-bisa membuat kita terkaget-kaget menyimaknya; dimana selama 20 tahun
terakhir ini jarang sekali ada perhatian ditunjukkan oleh new-venture group
dari PSC-PSC besar terhadap daerah-daerah tersebut. Pembuang Basin yang
dianggap tipis, keberlanjutan Sunda-Asri Basin ke arah utara, Rendahan-rendahan
baru di sepanjang Selat Malaka dari utara Bengkalis sampai Aceh, Cekungan Sula,
daerah sekitar Buton, Cekungan Melawi-Ketungau, Barito Basin (bagian lebih
selatan dari existing producing blocks), Cekungan Gorontalo dan Tomini,
Cekungan Sula, fore-arc basin sebelah barat Sumatra dari Aceh s/d Lampung dan
tak ketinggalan juga di sepanjang laut dangkal dataran Sahul.
Fenomena banyaknya inisiatif pihak swasta yang mengajukan blok dibandingkan
dengan jumlah blok-blok yang distudi sendiri oleh pemerintah memperlihatkan
bahwa: kapasitas pemerintah kita dalam meng-eksplorasi daerah sendiri
sangat-sangat terbatas; baik dari segi financial maupun (yang mengkhawatirkan)
dari segi pemahaman dasar tentang potensi secara umumnya. Apabila hal ini
menyebabkan posisi tawar pemerintah terhadap usulan joint-study menjadi rendah,
maka pihak swasta bisa dengan leluasa memaksakan skenario-skenario akuisisi-nya
dalam proses joint-study tersebut. Pemerintah harus lebih berhati-hati dalam
menyeleksi keseriusan pihak swasta dalam pengajuan-pengajuan blok tersebut.
Persyaratan 500K USD jaminan joint-study, 1.5 - 2M USD aminan pelaksanaan
komitmen seismik merupakan terobosan baru dari pihak pemerintah yang patut
diacungi jempol. Perkembangan terbaru dari ide seleksi keseriusan tersebut
adalah: kemungkinan akan ada persyaratan adanya permanen-employe G&G
(terutama Exploration Manager) dalam perusahaan yang dibuktikan dari
pembayaran pajak ybs oleh perusahaan. Kalau hal itu benar adanya, maka posisi
eksplorasionis akan terlindungi (dan benar-benar mendapatkan manfaat) dari
euphoria bangkitnya gairah eksplorasi di Indonesia ini.
Kita sudah sama-sama mengamati dalam 3-4 tahun terakhir ini, gebrakan
pemerintah dalam mendongkrak aktifitas eksplorasi di pemberian award untuk
blok-blok baru ternyata berujung pada minimnya pelaksanaan komitmen PSC-PSC
baru tersebut. Hal ini seringkali dibahas baik oleh BPMigas maupun Ditjen
Migas, dan diterangkan sebagai akibat dari "kurang professional"nya para pemain
baru Indonesia dalam oil&gas e&p bussiness (baca: "tidak mengerti resiko bisnis
migas") atau dalam bahasa yang lebih kasar "karena kebanyakan mereka adalah
broker, financial player, quick yielder, dsb dsb"; sehingga begitu mendapatkan
block hal pertama yang mereka lakukan adalah "mencari partner", "jualan saham",
"mencari pinjaman dana", dan hal-hal lain yang tidak mencerminkan proses
eksplorasi sejati yang agressif dan / tapi benar. Akhir tahun 2007 ini akan
kita tunggu sama-sama, bagaimana enforcement dari pihak pemerintah untuk
blok-blok yang tidak melaksanakan komitmennya dari kontrak-kontrak 2003
dan 2004 (sudah 4 dan 3 tahun). Kalau memang tidak ada itikad serius sama
sekali, boleh jadi memang pemilik-2 blok "makelaran" tersebut perlu
di'cerai'kan dari bloknya, block ditender ulang, atau dicarikan operator baru
sementara operator lama disuruh diam dan didilusi.
Memakai analogi kasus-kasus blok macet 2003-2006, kita semua patut kuatir
dengan nasib blok-blok yang nantinya dihasilkan dari "lebih dari 100
joint-study' saat ini. Kalau pihak pemerintah tidak betul-betul selektif dalam
menerima lamaran kumpeni-kumpeni baru tersebut, bisa jadi kasus
cacat-cedera-komitmen akan terulang lagi dalam kurun waktu s/d 3 tahun ke
depan. Dengan demikian maka anomali gairah eksplorasi yang kita amati sekarang
ini akan menjadi tidak lebih dari gairah palsu, gairah semu, yang tidak
berujung pada penyatuan 2 gairah cinta (swasta-pemerintah), tidak akan
menghasilkan buah-buah cinta meningkatnya cadangan dan produksi oil&gas
Indonesia dimasa mendatang.
Dalam gairah dan keprihatinan.
Andang Bachtiar
Exploration Think Tank Indonesia
---------------------------------
Need a vacation? Get great deals to amazing places on Yahoo! Travel.