Om OK.....Taufik,
Kebanyakan dari kita......"AGAMA DIPEGANG NAPSU
DIPAKE" jadi ...korupsi jalan terus walaupun
Departemenya..agama
Salam
Hilman Sobir
- OK Taufik <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Ibu Parvita,
>
> cerita begini tak akan habisnya dinegeri ini baik di
> lingkungan migas
> ataupun sektor lainnya. Ganti jaman, ganti
> kekuasaan, ganti regulasi
> "anomali" tetap jalan terus. Kalau dulu atasannya
> korup, menyelewengkan
> wewenang, maka giliran anak buah jadi boss..lebih
> parah korupnya, regulasi
> di ganti untuk menutup kemungkinan kecurangan.namun
> manusianya lebih lihai
> mengakali aturan, soal aturan dan regulasi manusia
> indonesia kan sangat
> piawai membuatnya.
> Mau dikaitkan ke rasa nasionalisme juga seperti tak
> kena , padahal
> kebanyakan pengambil keputusan di negeri ini
> sekarang adalah generasi yg
> sangat banyak mengecap pendidikan indoktrinasi cinta
> negara, dapat kuliah
> kewarganegaraan, pendidikan moral pancasila ataupun
> penataran P4 paket
> 100jam, belum lagi pendidikan dijenjang karir
> (semacam pendidkan Lemhanas
> dll). Jadi kalau biangnya memang mau korup, KKN,
> menyelewengkan kekuasaan di
> kasi lipstick Lancome, parfum channel 65 tetap saja
> berbau korup.
> Atau memang perlu ditata ulang pendekatan cinta
> negara yg kontemporer(?).
>
> memang perlu diingatkan kembali komitmen moral, budi
> pekerti para penguasa
> yg diberi amanah. kalau dia Muslim, Shalat dan
> taatlah pada ajaran Islam,
> jangan serampangan, "karena Allah SWT sendiri sudah
> menjanjikan Shalatlah
> kamu dan kamu akan selamat dari kebinasaan",
> punishment buat korup,
> pengingkar janji, penyeleweng amanah begitu jelas
> balasannya-neraka!. Ajaran
> agama lain juga banyak menyoal soal moral bagi
> penganutnya. Bagi yg tak suka
> sama nilai-nilai agama, perlu di pertajam
> komitmennya pada kemanusiaan,
> bahwa penyelewengan yang mereka lakukan akan
> menyangkut banyak nasib orang
> di luar sana. mungkin dana yg lepas/lenyap untuk dan
> dari negara kalau di
> alokasikan bagi kemashalatan masyarakat banyak pasti
> sangat berguna,
> pengangguran bertambah terus di negara ini dari
> detik ke detik, rakyat
> miskin saat ini lebih banyak di bandingkan masa
> orba. Jadi mungkin
> pendekatannya dari diri sendiri.
>
> Kalau manusia2 seperti ini diberi amanah, anomali
> mungkin akan tereduksi.
> System akan berjalan dengan bening, jernih karena di
> drive oleh manusia yang
> chick.
>
>
> terus berharap.
>
> On 7/24/07, Parvita Siregar
> <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> >
> > Mas Awang dan yang lain2,
> >
> >
> >
> > Ada istilah yang timbul dalam beberapa diskusi
> dengan anggota Jakarta
> > Scout Check, yaitu perusahaan *Telo Pendhem*,
> istilah yang dipopulerkan
> > oleh mendiang Mas Bambang Seto, (may he rest in
> peace). Ini adalah
> > perusahaan2 yang hanya bertindak sebagai broker
> belaka. Dalam arti kata
> > lain, mereka memperoleh blok tanpa melakukan
> komitmen apa2, dan ketika
> > hampir jatuh tempo 3 tahun firm commitment, mereka
> sibuk mencari siapa yang
> > mau membeli PSC tersebut. Ada beberapa company
> yang mau "membeli" PSC
> > tersebut, padahal firm commitmentnya hampir jatuh
> tempo. Ya itulah tadi,
> > dengan harga minyak yang sekitar USD60/barrel ini,
> banyak investor2 yang
> > gambling membeli dari PT Telo Pendhem ini dengan
> harapan mudah2an bisa ada
> > kebijaksanaan dari pihak pemerintah untuk
> penundaan komitmen.
> >
> >
> >
> > Waktu mendiang Mas Bambang masih hidup, saya
> sempat telepon dengan dia.
> > Saat itu ada penanda tanganan beberapa PSC yang
> dianugerahkan melalui joint
> > study di Subang. Mas Bambangnya sempet curhat
> bilang, "Vit, ini gila deh,
> > masa' PSC udah mau ditanda tangan orangnya masih
> nawar2i ke aku bloknya,
> > telepon aku barusan jam 9:00 pagi". Ck Ck
,
> mungkin Cuma saya yang merasa
> > praktek ini aneh, tapi mungkin sah2 saja cari
> partner seperti ini
> >
> >
> >
> > Saya ingat kita pada gemes dengan model PT2 Telo
> Pendhem (eh saya ndak
> > tahu artinya apa sebenernya Telo Pendhem ini) dan
> menghimbau kepada pihak
> > Migas untuk lebih selektif dalam menganugrahkan
> blok, baik yang secara
> > regular tender maupun yang melalui joint study.
> >
> >
> >
> > Syukur2 investornya betul2 mau eksplorasi di blok
> tersebut. Syukur2 ada
> > investor yang mau 'menyelamatkan' blok yang hampir
> mubazir tersebut.
> > Makanya waktu pertemuan SEAPEX April lalu,
> Indonesia sempat disebut2 'fully
> > booked' tetapi sumur explorasi yang didrill
> relatively sedikit. Kenapa ya?
> > Apakah karena kehadiran broker2 seperti ini? PT2
> begini bukannya membuat
> > rugi negara?
> >
> >
> >
> > Dan yang saya mau tanyakan, dan sebenarnya
> khawatir juga, jangan2 orang2
> > yang minta2 blok ini mempunyai powerful people
> dibelakangnya. Artinya, si
> > perusahaan yang mau invest ini mempunyai dekingan
> yang mungkin Dirjen Migas
> > sendiri sulit untuk menolak tidak memberikan blok
> sasaran yang diinginkan
> > investor ini karena ada surat sakti. Padahal,
> investor ini tidak ada
> > pengalaman, kantornya ndak bonafid (masa' iya
> perusahaan kok emailnya
> > yahoo.com). Malah saya dengar selentingan dari
> orang dalam sendiri yang
> > bilang, "wah, sulit nih, soalnya yang minta blok
> ini adiknya mentri
> > anu-anu-anu". Masih ada sistem orde barukah?
> >
> >
> >
> > Saya tahu ada beberapa anggota milis ini yang juga
> sebagai tim teknis
> > dalam seleksi perusahaan2 yang hendak invest di
> Indonesia seperti, Mas
> > Awang, Mas Elan, Mas Mino', Mas Edy Sunardi, Pak
> Handoyo Eko dll. Tetapi
> > ini tim teknis, seberapa besar pengaruhnya
> terhadap final decision? Kondisi
> > finansial sendiri tidak menjamin bahwa perusahaan
> tersebut akan
> > mengeksplorasi suatu daerah. Saya sendiri tidak
> tahu bagaimana caranya
> > menseleksi, dengan mencantumkan tim teknisnya,
> atau dengan menyewa PI
> > (Private Investigator) untuk menyelidiki ini
> perusahaannya maya atau nyata,
> > saya tidak tahulah. Sepertinya cara2 yang
> diterapkan dalam seleksi investor
> > sudah sangat ketat sekarang, tetapi sekali lagi,
> uang yang banyak bukan
> > jaminan kalau mereka akan melakukan kegiatan
> eksplorasi di negeri ini.
> >
> >
> >
> > Ya sedih juga sih, negara mau tidak mau akan
> dirugikan oleh perusahaan2
> > broker begini, lebih sedih lagi kalau perusahaan2
> dengan dekingan "Anak
> > Penggede" ini bisa masuk dengan dispensasi.
> Sebagai anak bangsa, rasa
> > nasionalisme agak tergugah juga. Mudah2an rasa
> nasionalisme ini juga masih
> > ada di dalam hati orang2 yang mengambil keputusan
> nun di atas sana. (Bentar
> > lagi 17 Agustus lho...)
> >
> >
> >
> >
> >
> > *Parvita H. Siregar*
> >
>
=== message truncated ===
Yahoo!7 Mail has just got even bigger and better with unlimited storage
on all webmail accounts.
http://au.docs.yahoo.com/mail/unlimitedstorage.html
----------------------------------------------------------------------------
Hot News!!!
EXTENDED ABSTRACT OR FULL PAPER SUBMISSION:
228 papers have been accepted to be presented;
send the extended-abstract or full paper
by 16 August 2007 to [EMAIL PROTECTED]
Joint Convention Bali 2007
The 32nd HAGI, the 36th IAGI, and the 29th IATMI Annual Convention and
Exhibition,
Bali Convention Center, 13-16 November 2007
----------------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------