ass..
menimbang banyak sekali kasus penentangan industri
pemanfaatan Sumber Daya Alam(migas,pertambangan maupun
nuklir) dari penduduk lokal maupun masyarakat sekitar,
maka perlu adanya suatu terobosan baru dalam usaha
memberikan manfaat langsung bagi masyarakat sekitar
dgn radius tertentu dengan menggunakan
pendekatan-pendekatan tertentu(banyak kasus, terlepas
masyakat di tunggangi atau tidak, mengapa mereka
menolak kehadiran suatu industri, krn selama ini
pengembangan industri SDA selalu menggunakan
pendekatan ekonomi kapitalis murni tanpa
mempertimbangkan aspek sosial publik). dengan adanya
itu maka saya pikir perlu adanya pendekatan sosial
misalnya :
1. Digratiskannya listrik di wilayah sekitar, desa
kecamatan atau kabupaten (kasus muria)
2. Perlu adanya proses pembelajaran publik yang selama
ini terabaikan atau sengaja diabaikan.
3. Industri yang mempunyai peranan di
masyarakat/rakyat, harus diusahakan sebesar2nya untuk
kepentingan rakyat.
4. Masyarakt sekitar/rakyat, harus dianggap sebagai
bagian yang tidak terpisahkan dari proses pengembangan
industri sumber daya alam ataupun energi
(stakeholder).

dNr

--- Ismail Zaini <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Kelihatannya kasus PLTN ini  kalau di lihat dari
> Segi bencana Geologi untuk 
> Bencana letusan Gunung ( Muria ) Statusnya " Tidak
> menghawatirkan ", 
> Sedangkan untuk masalah kegempaan Statusnya : "
> Patut Diduga" , oleh karena 
> itu perlu dilakukan penelitian dg data terbaru shg
> paling tidak menjadi 
> Status Mungkin ( probabilitasnya seberapa /
> kwantitatif ) shg tdk ngambang, 
> kalau untuk hal ini mungkin solusinya relatif bisa
> diselesaikan dg Kemajuan 
> Teknologi ( bangunan tahan gempa).
> Dari masalah sosial masyarakat Statusnya
> Menghawatirkan,  terutama 
> kekawatiran masalah lingkungan /kebocoran karena
> masyarakat kita belum mampu 
> berdisiplin tinggi ( budaya kali ? ) lha kalau
> masalah ini solusinya mungkin 
> bisa nunggu sekian belas tahun lagi mungkin.
> Kemudian dari sisi kebutuhan ( energi ) Satusnya
> juga dalam Tahap 
> Menghawatirkan , solusinya adalah diversifikasi
> sumber energi. pakai sumber 
> energi fosil kekawatiran  harga nya melonjak terus ,
> pakai air keterbatasan 
> sumber dan lahan , pakai energi terbarukan ( angin ,
> matahari,ombak,pasang 
> surut,biomas,hidrogen,cell ) kapasitas dan harga
> tidak memadai. pakai 
> geothermal harganya masih relatif mahal juga , namun
> kapasitasnya masih 
> memadai dan bahaya lingkunagnnya minim.
> Yang jelas Energi sudah merupakan komoditi primer ,
> sudah tidak bisa lagi 
> menghindar untuk tidak memakainya , Jakarta 3 jam
> tidak ada listrik saja 
> amburadul teutama jalan rayanya. Oleh karena itu
> menentukan Pilihan mana 
> yang paling optimal tidak bisa ditunda tunda lagi ,
> karena pembangunan 
> Pembangkit energi memakan waktu lama.
> 
> ISM
> 
> From: "Winderasta, Wikan (wikanw)" Subject: RE:
> [iagi-net-l] Gunung Muria - 
> mati atau tidur ?
> 
> 
> 
> Menurut saya penentangan pembangunan PLTN adalah
> penentangan oleh
> penduduk sekitar lokasi pembangunan PLTN yaitu
> wilayah Muria, Kudus, dan
> sekitarnya. Sebenarnya patut dicermati mengapa
> mereka menolak. Bagi
> saya, dapat dipahami penolakan tersebut menimbang
> azas manfaat
> dibandingkan potensi resiko yang akan mereka
> tanggung. Apabila
> persentasi daya listrik yang dibangkitkan oleh PLTN
> tersebut sedikit
> yang dapat mereka nikmati untuk kemajuan daerah
> mereka ataupun untuk
> mencukupi kebutuhan listrik mereka, tentu saja
> sangat tidak adil apabila
> mereka harus menanggung potensi resiko yang besar
> tersebut.
> 
> Kita harus kembalikan lagi untuk kepentingan
> siapakah daya listrik PLTN
> tersebut, apakah dibagi rata untuk seluruh
> Jawa-Bali, ataukah untuk
> industri di Semarang atau untuk menerangi
> apartemen/real estate/papan
> iklan di Jakarta ?
> 
> Sudah seharusnya program pembangunan diselaraskan
> dengan kemampuan
> wilayah itu sendiri untuk mensuplai energi/listrik.
> Menurut saya lebih
> mewujudkan azas keadilan apabila PLTN dibangun di
> wilayah Jabotabek,
> seperti PLTD di yang telah dibangun di wilayah
> Jakarta. Pengembangan
> wilayah seperti Jabotabek harus disesuaikan dengan
> kemampuan wilayah itu
> sendiri dalam mensuplai energi. Jangan sampai
> wilayah sentra pembangunan
> MEMERAH wilayah lain, bahkan harus menanggung
> resiko, sementara dengan
> kemampuan mensuplai energi, pembangunan tidak
> terdesentralisasi dengan
> baik dan adil.
> 
> Ini juga seperti kasus pipanisasi gas dari
> Kalimantan ke Jawa, atau
> pengapalan batubara dari Sumatra ke Jawa. Apakah
> sedemikian rakusnya
> wilayah Jawa sehingga wilayah lumbung energi sendiri
> sangat kekurangan,
> bahkan menjadi wilayah miskin dan tidak mendapat
> kesempatan pembangunan.
> Intinya konsep pembangunan energi/prasarana sekarang
> ini tidak mendukung
> upaya pemerataan pembangunan ke wilayah dengan
> potensi energi, maupun
> upaya mengendalikan perkembangan wilayah yang tidak
> memiliki daya dukung
> energi.
> 
> PLTN berbeda dengan PLT panas bumi atau PLTA yang
> memanfaatkan energi
> alam sehingga tidak dapat dipindahkan lokasinya.
> PLTN bisa dibangun
> dimana saja. PLTN lebih baik dibangun di wilayah
> yang memang memerlukan
> energi tapi kekurangan suplai daya khususnya dari
> tenaga alam. Dengan
> kata lain kalau mau bangun PLTN bangun saja di dekat
> kota Jakarta. Toh
> bangunan PLTN pada dasarnya adalah bangunan tahan
> gempa. Siapa yang
> butuh harus berani menanggung resiko.
> 
> Salam,
> ww
> 
> 
> 
> -----Original Message-----
> From: Leonard Lisapaly
> [mailto:[EMAIL PROTECTED]
> Sent: Wednesday, September 26, 2007 11:47 AM
> To: [email protected]
> Subject: RE: [iagi-net-l] Gunung Muria - mati atau
> tidur ?
> 
> 
> Ada sebuah buku biografi mantan dekan FMIPA UI
> (Prof. Parangtopo) yang
> ditulis beberapa tahun lalu. Salah satu bagian
> menuliskan sikap beliau
> yang menentang pembangunan PLTN. Alasannya adalah
> siapkah SDM kita untuk
> proyek yang membutuhkan presisi dalam segala hal?
> 
> LL
> 
> -----Original Message-----
> From: Awang Harun Satyana
> [mailto:[EMAIL PROTECTED]
> Sent: Wednesday, September 26, 2007 9:06 AM
> To: [email protected]
> Subject: RE: [iagi-net-l] Gunung Muria - mati atau
> tidur ?
> 
> <deleted>
> 
> Sebenarnya, alam mungkin nomor dua terhadap bahaya
> PLTN ini, yang
> dikuatirkan adalah bagaimana kalau PLTN itu dibangun
> dengan bahan2 yang
> tak sesuai bestek-nya karena "dikorupsi" oleh yang
> berwenang. Banyak kan
> kasus proyek2 di Indonesia di-downgrade
> pembangunannya agar sebagian
> dananya bisa dirampas dan masuk kantong ? Sekolah2
> Inpres saja dikorupsi
> pembangunannya, busway juga, apalagi proyek besar
> seperti PLTN. Jadi,
> sebaiknya Indonesia membereskan dulu penyakit
> korupsinya sebelum
> membangun PLTN, begitu kata Franz Magnis-Suseno,
> filsuf Dryarkara dalam
> suatu seminar tentang PLTN di Salatiga baru2 ini.
> 
> Salam,
> awang
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> -----Original Message-----
> From: Rovicky Dwi Putrohari
> [mailto:[EMAIL PROTECTED]
> Sent: Tuesday, September 25, 2007 4:18 C++
> To: [email protected]
> Subject: [iagi-net-l] Gunung Muria - mati atau tidur
> ?
> 
> Sehubungan dengan lokasi PLTN.
> Adakah yang tahu ttg Gunung Muria ini apakah sudah
> mati dapur magmanya
> atau cuan tidur saja (doormant) Lantas gimana kita
> bisa tahunya ? Apakah
> ada bukti fisis atau hanya model ?
> 
> 
=== message truncated ===


Deni Rahayu - ExplorationistExploration Think Tank IndonesiaMobile: 
62-817-612447www.etti.co.idEmail: [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED]


       
____________________________________________________________________________________
Boardwalk for $500? In 2007? Ha! Play Monopoly Here and Now (it's updated for 
today's economy) at Yahoo! Games.
http://get.games.yahoo.com/proddesc?gamekey=monopolyherenow  

----------------------------------------------------------------------------
JOINT CONVENTION BALI 2007
The 32nd HAGI, the 36th IAGI, and the 29th IATMI Annual Convention and 
Exhibition,
Bali Convention Center, 13-16 November 2007
----------------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------
DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information posted on 
its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event shall IAGI be 
liable for any, including but not limited to direct or indirect damages, or 
damages of any kind whatsoever, resulting from loss of use, data or profits, 
arising out of or in connection with the use of any information posted on IAGI 
mailing list.
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke