Saya tak lagi mendengar kampanye hemat listrik oleh
pemerintah yang beberapa waktu lalu sempat dilakukan
dengan sangat gencarnya.

Saya juga tidak atau belum pernah tahu apakah ada
hasil analisa statistik yang menunjukkan bahwa program
tersebut 'pernah' berhasil menurunkan 'sekian' persen
konsumsi listrik di Jawa(Jakarta) selama periode
'hangat-hangat'nya kampanye hemat listrik tersebut.
Sangat mudah melakukannya tapi sepertinya tidak
dilakukan, atau mungkin seperti biasa kampanye
tersebut merupakan sifat 'gawan bayi' pemerintah kita
yang selalu mengedepankan tindakan 'reaktif' terhadap
masalah-masalah penting dan krusial yang berkaitan
dengan kebijakan publik . . . 

Kultur 'boros' listrik (dan hal-hal lain) telah
demikian susahnya diubah, masalahnya sangat komplek.
Salah satu cara, mungkin bisa efektif dan diharapkan
mempunyai efek signifikan bisa dimulai dari rumah
kita, lingkungan kita, melalui anak-anak, istri atau
suami (bukan istri-istri atau suami-suami),
'asisten-asisten' kita untuk menggunakan listrik
secara wajar di ruma, bisa juga dengan menggantis
'semua' lampu dengan lampu hemat energi (tidak harus
Phillip atau Osram, merek lain juga banyak . . . pada
saat yang sama pemerintah harus mulai memikirkan
cara-cara yang 'komprehensif dan sistematis' untuk
menghemat pemakaian listrik oleh konsumen-konsumen
besar seperti perkantoran, penerangan jalan/taman, 
industri (yang banyak mem'by pass' alat penghitung
resmi PLN untuk dapat listrik gratisan), papan-papan
iklan dll

dan yang lebih penting adalah konsistensi pemerintah
untuk menerapkan kebijakan yang (moga-moga telah)
dibuatnya. 


--- noor syarifuddin <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:

> "Kebutuhan listrik di Jawa ini kira kira 18 rb MW
> atau 60 % lebih kebutuhan 
> nasional ....."
> 
> Setelah merasakan hidup menjadi orang Balikpapan
> yang terkenal dengan problem listriknya yang byar
> pet terus sementara Kaltim adalah salah satu
> penghasil migas terbesar di Indonesia, maka saya
> mulai bisa mengerti apa yang disebut dengan
> "kecemburuan" orang daerah dengan orang kota
> (pusat)...
> 
> Di Jakarta listrik dipakai jor-joran di mall, mall,
> di jalan untuk lampu hias dll, sementara di daerah
> listrik musti digilir karena tidak pernah cukup
> kalau harus nyala semua....:-(
> 
> Jadi wajar saja kalau ada penolakan dari orang
> sekitar lokasi PLTN karena mereka selama ini toh
> mungkin tidak menikmati hal tsb. Egois...? ya
> tergantung dari mana kita melihat sisi
> pandangnya....
> 
> salam,
> 
> 
> ----- Original Message ----
> From: Ismail Zaini <[EMAIL PROTECTED]>
> To: [email protected]
> Sent: Friday, September 28, 2007 9:01:16 AM
> Subject: Re: [iagi-net-l] Gunung Muria - mati atau
> tidur ?
> 
> 
> Kebutuhan listrik di Jawa ini kira kira 18 rb MW
> atau 60 % lebih kebutuhan 
> nasional , dengan cadangan "hanya" kira kira 15 % (
> normalnya 30 % ) jadi 
> kalau ada yang matek atau gangguna dikit biasanya
> "Kacau" , disisi lain 
> pertumbuhan permintaan kira kira 9 % /thn.
> Untuk memasok kebutuhan listrik yang yang sudah
> beribu ribu MW ini hanya 
> dapat dipenuhi dg "Cepat dan Murah" oleh / dari
> sumber energi : 
> Batubara,Gas,Panasbumi,Air,BBM atau Nuklir " dimana
> masing masing sumber 
> energi tsb punya kelebihan dan kekurangnnya , untuk
> saat ini pertimbangnnya 
> terutama pada masalah harga , kemudian lingkungan,
> kontinuitas suplaynya. 
> Jadi pilihan tinggal 6 komoditi itu, karena di Jawa
> ini sudah kesulitan 
> masalah air ( sungai 2 podo kering dan lahan
> terbatas ) maka pilihan tinggal 
> 5 , karena harga BBM ( Minyak ) sudah melambung
> tinggi ( 1 ltr BBM/solar 
> 6000 RP maka biaya untuk bahan bakar saja sudah 2000
> Rp/Kwh atau 20 c$/Kwh ) 
> maka pembangunan pembangkit ini (BBM) sudah
> dihentikan , jadi pilihan 
> tinggal 4.karena "perseturaannya" tidak kunjung
> akhir maka rasanya PLTN 
> masih sulit untuk dilaksanakan , jadi tinggal 3
> pilihan. Karena sering 
> terjadi keterbatasan pasokan gas ( masalah
> kontinuitas suplai gas  serta 
> harga international juga naik ) maka pilihan tinggal
> 2 , Bukan tidak mungkin 
> harga batubara international akan merangkak naik
> diwaktu waktu mendatang , 
> disisi lain Harga Jual Listriknya Tidak boleh
> dinaikan jadi ya mendingan 
> batubaranya dijual di luar sono apalagi tidak ada
> DMO nya. Jadi mau tidak 
> mau pilihan akhirnya tinggal ke Geothermal ( harga
> tidak dikontrol oleh 
> pasar internatsional , bersih lingkungan, potensi
> ada ) Cuma rupanya untuk 
> menentukan pilihan ini Masih Sangat Sulit....... yo
> embuh sampai kapan ....
> 
> 
> ISM
> ----- Original Message ----- 
> From: "Minarwan (Min)" <[EMAIL PROTECTED]>
> To: <[email protected]>
> Sent: Wednesday, September 26, 2007 9:30 PM
> Subject: Re: [iagi-net-l] Gunung Muria - mati atau
> tidur ?
> 
> 
> > On 9/27/07, budi santoso
> <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> >> Alasan ketidak siapan sumber daya manusia kita,
> wah
> >> sekarang mestinya kita sudah mulai sedikit
> >> berprasangka baik pada diri sendiri bahwa: tidak
> >> sedikit orang kita yang sudah sangat kompeten
> mengurus
> >> hal-hal seperti ini yang sebelumnya mungkin perlu
> >> dipertanyakan. Bukannya mengesampingkan kenyataan
> >> bahwa secara umum 'bangsa kita' masih belum
> beranjak
> >> dari keterpurukan multi dimensi namun demikian
> saya
> >> yakin sudah ada, bahkan lebih dari cukup diantara
> anak
> >> bangsa ini yang mampu!!
> >
> >
> > Saya setuju dengan pendapat seperti ini, tanpa
> keberanian mencoba kita
> > tidak akan maju.
> >
> >>
> >> Ide bahwa pihak yang akan menggunakannya-lah yang
> >> harus menanggung 'resiko' lebih . .  sangat fair
> . .
> >> bisa resiko ditempatkannya reaktor di sekitar
> mereka
> >> atau ada kompensasi lain yang harus 'dibayarkan'
> >> kepada pihak 'yang terpaksa' menanggung resiko
> lebih
> >> atas keberadaan reaktor tersebut dari pihak yang
> akan
> >> lebih mengambil manfaatnya . . . .
> >>
> >
> > Hmm...memuaskan rasa adil itu sulit karena adil
> itu subyektif. Saya
> > gunakan analogi pengambilan SDA. Seberapa banyak
> manfaat SDA yang
> > digali dari wilayah tertentu untuk orang lokal?
> Mana yang bisa
> > menikmati lebih banyak? Yang punya modal dan orang
> luar yang kebagian
> > rejeki atau orang lokal? Apa lantas SDA tidak
> boleh diambil karena
> > manfaatnya untuk orang lokal cuma secuil persen?
> Maksud saya adalah
> > untuk kepentingan orang banyak, mau tak mau ada
> yang akan menjadi
> > "korban". Tapi tentu saja "korban" ini sedemikian
> rupa harus
> > dihilangkan atau diminimalkan. Masak sih kita tega
> mendirikan sesuatu
> > yang nanti kita tahu punya potensi "membunuh"
> manusia tanpa ada usaha
> > untuk mencegahnya.
> >
> >
> >> Intinya saya setuju, jika masih ada sumber energi
> >> alternatif lain yang lebih 'hijau' (bersih
> lingkungan)
> >> kenapa tidak yang 'hijau' ini dulu yang kita
> >> kembangkan??
> >>
> >
> > Kalau "ekonomis" saya pikir ide-ide seperti itu
> akan dilaksanakan.
> > Sekarang semuanya dihitung dengan untung rugi,
> wajar saja karena butuh
> > modal untuk membuatnya.
> >
> > -- 
> > Minarwan
> > GeoTUTOR: http://www.geotutor.tk
> > Blog: http://desaguadero.blogspot.com
> >
> >
>
----------------------------------------------------------------------------
> > JOINT CONVENTION BALI 2007
> > The 32nd HAGI, the 36th IAGI, and the 29th IATMI
> Annual Convention and 
> > Exhibition,
> > Bali Convention Center, 13-16 November 2007
> >
>
----------------------------------------------------------------------------
> > To unsubscribe, send email to:
> iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
> > To subscribe, send email to:
> iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
> > Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
> > Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
> > Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
> > No. Rek: 123 0085005314
> > Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
> > Bank BCA KCP. Manara Mulia
> > No. Rekening: 255-1088580
> > A/n: Shinta Damayanti
> > IAGI-net Archive 1:
> http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
> > IAGI-net Archive 2:
> http://groups.yahoo.com/group/iagi
> >
>
---------------------------------------------------------------------
> > DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with
> regard to information 
> > posted on its mailing lists, whether posted by
> IAGI or others. In no event 
> 
=== message truncated ===



      
____________________________________________________________________________________
Don't let your dream ride pass you by. Make it a reality with Yahoo! Autos.
http://autos.yahoo.com/index.html
 



----------------------------------------------------------------------------
JOINT CONVENTION BALI 2007
The 32nd HAGI, the 36th IAGI, and the 29th IATMI Annual Convention and 
Exhibition,
Bali Convention Center, 13-16 November 2007
----------------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------
DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information posted on 
its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event shall IAGI be 
liable for any, including but not limited to direct or indirect damages, or 
damages of any kind whatsoever, resulting from loss of use, data or profits, 
arising out of or in connection with the use of any information posted on IAGI 
mailing list.
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke