Indentasi, masuknya garis pantai relatif terhadap sekitarnya, menarik untuk 
dikaji secara geologi. Pulau Jawa mempunyai dua daerah indentasi oleh garis 
pantai utara dan selatannya : (1) indentasi Jawa Tengah, dan (2) Indentasi Jawa 
Timur. Saya pernah membahas di milis ini dan mempublikasikan (di pertemuan 
IAGI, HAGI, IPA, AAPG) yang berhubungan dengan indentasi Jawa Tengah. Dalam 
skala yang lebih kecil, Jawa Timur menunjukkan indentasi juga.
   
  Kita lihat peta Jawa Timur, kita perhatikan garis pantai utara antara 
Pasuruan-Probolinggo-Besuki-Situbondo, dan garis pantai selatan antara Pulau 
Sempu selatan Malang-Maleman selatan Lumajang-pantai Meru Betiri. Dua jalur 
garis pantai utara dan selatan ini bila dibandingkan dengan sekitarnya lebih 
masuk ke arah darat membentuk indentasi. Apakah ini tak punya arti secara 
geologi ? Saya pikir ini fenomena tektonik seperti halnya indentasi Jawa 
Tengah. 
   
  Indentasi Jawa Timur, seperti halnya indentasi Jawa Tengah, dicirikan oleh 
hilangnya Pegunungan Selatan Jawa dan hadirnya depresi. Depresi ini kini 
diduduki kota Lumajang (kita sebut saja Depresi Lumajang) dan merupakan wilayah 
pengaliran sungai-sungai yang berasal dari kedua dataran tinggi di sebelah 
barat dan timur depresi. Kehadiran Pulau Nusa Barung tepat di tengah indentasi 
selatan ini sangat menarik, posisinya sama dengan Tinggian Karangbolong pada 
sistem indentasi Jawa Tengah, lebih-lebih lagi pulau ini pun disusun oleh 
batugamping Miosen yang ekivalen dengan batugamping di Karangbolong.
   
  Apakah indentasi Jawa Timur merupakan miniatur indentasi Jawa Tengah ? 
Sebagian ya, tetapi sebagian lagi tidak. Beberapa pola indentasi Jawa Tengah 
dapat diterapkan di sini. Pegunungan Selatan di wilayah ini tenggelam. Depresi 
Lumajang diapit dua sesar besar di sebelah barat dan timurnya. Dua sesar besar 
ini telah memutuskan dan mengubah kelurusan jalur gunungapi Kuarter di Jawa 
Timur. Apa yang kemungkinannya berbeda dengan pola indentasi Jawa Tengah ? 
   
  Ini masih butuh penelitian lebih lanjut, tetapi beberapa pemikiran dapat 
dikemukakan. Dua sistem sesar besar pembatas Depresi Lumajang merupakan 
penyebab terjadinya indentasi dan depresi tersebut. Apakah sistem sesar besar 
itu merupakan pasangan sesar besar sinistral (BD-TL) dan dextral (BL-Tenggara) 
seperti halnya indentasi Jawa Tengah ? Ini akan memuaskan untuk menjawab 
munculnya Pulau Nusa Barung di tengah Pegunungan Selatan yang tenggelam, dan 
tenggelamnya Selat Madura di sebelah utara indentasi Pasuruan-Situbondo. 
Tetapi, ini sulit untuk menerangkan terjadinya kelurusan gunungapi 
Semeru-Bromo-Penanjakan yang utara-selatan di Kompleks Semeru-Tengger di 
sebelah barat Depresi Lumajang dan kelurusan utara-selatan gunungapi 
Argopuro-Kukusan di Kompleks Iyang (Yang, Ijang) di sebelah timur Depresi Jawa 
Timur.
   
  Keberadaan sesar besar utara-selatan sedikit melengkung menghadap depresi 
Lumajang adalah penyebab indentasi dan depresi Lumajang. Sesar besar ini dapat 
menjelaskan kelurusan gunungapi Semeru-Bromo-Penanjakan. Puncak-puncak gunung 
ini tersebar utara-selatan. Bila kita berdiri di puncak Penanjakan (2775 m) 
sebelah utara Bromo (2329 m), maka melihat ke utara akan nampak  laut Selat 
Madura, melihat ke selatan akan nampak gunung Bromo dan Semeru. Kelurusan ini 
membuat masyarakat Tengger menyucikan ketiga gunung yang dianggapnya sebagai 
atap dunia itu. Sebenarnya, di bawah ketiga gunung ini terdapat sesar besar 
yang juga konon bertanggung jawab telah menenggelamkan Pegunungan Selatan Jawa 
di wilayah ini. Sesar besar ini telah diterobos magma sejak Plistosen atas 
sampai Holosen menghasilkan gunung-gunung di kawasan Kompleks Tengger. Semacam 
erupsi linier dalam skala besar telah terjadi dari selatan ke utara di 
sepanjang sesar ini berganti-ganti selama Plistosen sampai Kuarter.
 Dari selatan ke utara ditemukan pusat2 erupsi sbb. : Semeru, Jembangan, 
Kepolo, Ayek-Ayek, Kursi, Bromo, Batok, dan Penanjakan. Yang masih suka meletus 
sampai kini adalah Semeru dan Bromo. Danau kawah Ranu Kembolo, Ranu Pani, dan 
Ranu Regulo merupakan maar sisa erupsi gunung Ayek2 yang terletak di antara 
Kaldera Tengger dan Semeru.  Yang pernah mendaki Semeru pasti pernah melalui 
pos2 Ranu Pani dan Ranu Kembolo ini.
   
  Di sebelah barat Depresi Lumajang, yaitu di Kompleks Iyang, terdapat juga 
sesar besar utara-selatan walaupun tak sepanjang sesar besar di bawah Tengger 
dan sedikit melengkung menghadap depresi Lumajang. Gunung tua Iyang (Plistosen 
atas) terbelah mengikuti rekahan utara-selatan. Rekahan ini juga menjadi pusat2 
erupsi gunung di Kompleks Iyang, yaitu : gunung Malang (2008 m), Kukusan (2200 
m) dan Cemorokandang (2223 m). Di tengah sesar rekahan ini kini gunungapi 
Kuarter Argopuro (3088 m) berlokasi. 
   
  Tentang kejadian kaldera pasir Tengger, van Bemmelen (1937 : The 
volcano-tectonic structure of the Residency of Malang, De Ingenieur in Ned. 
Indie, 4,9,IV,p. 159-172) punya teori menarik. Kompleks Tengger telah terobek 
mengikuti rekahan berbentuk sabit yang melengkung cekung ke utara. Oleh retakan 
ini sayap utara kompleks Tengger tenggelam dan runtuh ke utara. Runtuhnya atap 
dapur magma menyebabkan aliran lava basaltik dalam jumlah besar yang menyebar 
seperti delta di kedua ujung robekan. Peristiwa ini telah menelan bagian atas 
puncak Tengger, sehingga membentuk kaldera Tengger yang diisi pasir volkanik. 
Runtuhnya Tengger ini akibat berat materi volkaniknya sendiri yang membebani 
batuandasarnya yang berupa sediment marin Tersier yang plastis.  Bagian utara 
kompleks Tengger runtuh dan lengser ke utara menuju depresi Selat Madura yang 
sedang tenggelam. Kompresi ke utara akibat runtuhan ini telah menekan bagian 
utara pantai Jawa Timur yang kini berupa perbukitan di Grati dan
 Semongkrong di sekitar Pasuruan. Bukit2 ini anomali sebab terjadi di sekitar 
pantai utara yang ditutupi sediment alluvial pantai. 
   
  Model volkano-tektonik runtuhan seperti ini juga dipakai van Bemmelen untuk 
menerangkan kejadian bukit2 Gendol di dekat Menoreh yang berasal dari runtuhan 
sayap Merapi ke sebelah baratdaya.
   
  Bentuk2 pulau yang anomali semacam indentasi selalu menarik perhatian dan 
berharga untuk dikaji secara geologi, dan kajian seperti ini biasanya akan 
punya efek berantai menjelaskan banyak fenomena geologi di sekitarnya. 
   
  Salam,
  awang

       
---------------------------------
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it now.

Kirim email ke