Pak Taufik,
Terima kasih atas peta radarnya. Itulah memang indentasi2 di Jawa. Tentang
penyebabnya, bisa kita pikirkan dan perdebatkan. Sesar (sinistral) di Jawa
Tengah yang Pak Taufik gambarkan itu terkenal sebagai lineament Muria-Progo.
Itu berbeda dengan sesar besar sinistral yang saya gambarkan dalam publikasi2
saya tentang identasi Jawa Tengah yang saya sebut sebagai sinistral
Muria-Kebumen (memotong Karang Bolong High bukan Kulon Progo).
Lineament Muria-Progo saya yakin ada juga sebab ia barangkali bertanggung
jawab untuk anomali kelurusan Pegunungan Kulon Progo dan terhentinya Kendeng
Deep di sebelah barat. Belakangan, lineament ini juga dianggap sebagai pembatas
sebelah barat untuk Archean continental basement di Jawa bagian timur. Tetapi
apakah ia merupakan sesar sinistral atau normal masih harus dilihat lagi.
Hanya, kalau kita menyelidiki pola distribusi S wave velocity anomaly mantle
tomography di kedalaman 35-70 km (misalnya dalam Widyantoro, 2006), kita akan
melihat bahwa distribusinya lebih mendukung ke keberadaan sesar besar sinistral
Muria-Kebumen daripada lineament Muria-Progo. Apa hubungan kedua elemen geologi
di Jawa Tengah ini menarik untuk kita pikirkan dan perdebatkan.
Plotting Pak Taufik Untuk sesar besar dextral pembatas indentasi Jawa Timur
yang memotong sampai Pulau Nusa Barung (untuk sementara saya sebut saja sesar
dextral Pangkah-Lumajang) di selatan depresi Lumajang menarik untuk dikaji.
Bila menerapkan model mekanisme indentasi Jawa Tengah, sesar ini beranalogi
dengan sesar dextral Pamanukan Cilacap. Hanya, lineament gunungapi
Semeru-Bromo-Penanjakan tak akan terhubung ke sesar dextral Pangkah-Lumajang
ini, sebab lineament gunungapi ini memerlukan sesar besar yang utara-selatan.
Tetapi, bisa dikaji bahwa sesar utara-selatan ini akan merupakan second order
right-lateral wrench terhadap dextral Pangkah-Lumajang.
Sesar Pangkah-Lumajang akan memerlukan pasangannya yang mestinya sinistral
memotong depresi Lumajang ke Situbondo sampai ke pulau2 kecil di sebelah timur
Madura.
salam,
awang
Muhammad Taufik <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Pak Awang,
Terlampir image dari shuttle radar pulau jawa yang mungkin bisa
meng-ilustrasikan tulisan dibawah (mohon koreksi).
----- Mesej Asal ----
Daripada: Awang Satyana <[EMAIL PROTECTED]>
Kepada: IAGI <[email protected]>; Forum HAGI <[EMAIL PROTECTED]>; Geo Unpad
<[EMAIL PROTECTED]>; Eksplorasi BPMIGAS <[EMAIL PROTECTED]>
Dihantar: Khamis, 27 Disember, 2007 3:22:28
Subjek: [iagi-net-l] Indentasi JawaTimur, Depresi Lumajang, dan Kelurusan
Semeru-Bromo-Penanjakan
Indentasi, masuknya garis pantai relatif terhadap sekitarnya, menarik untuk
dikaji secara geologi. Pulau Jawa mempunyai dua daerah indentasi oleh garis
pantai utara dan selatannya : (1) indentasi Jawa Tengah, dan (2) Indentasi Jawa
Timur. Saya pernah membahas di milis ini dan mempublikasikan (di pertemuan
IAGI, HAGI, IPA, AAPG) yang berhubungan dengan indentasi Jawa Tengah. Dalam
skala yang lebih kecil, Jawa Timur menunjukkan indentasi juga.
Kita lihat peta Jawa Timur, kita perhatikan garis pantai utara antara
Pasuruan-Probolinggo-Besuki-Situbondo, dan garis pantai selatan antara Pulau
Sempu selatan Malang-Maleman selatan Lumajang-pantai Meru Betiri. Dua jalur
garis pantai utara dan selatan ini bila dibandingkan dengan sekitarnya lebih
masuk ke arah darat membentuk indentasi. Apakah ini tak punya arti secara
geologi ? Saya pikir ini fenomena tektonik seperti halnya indentasi Jawa
Tengah.
Indentasi Jawa Timur, seperti halnya indentasi Jawa Tengah, dicirikan oleh
hilangnya Pegunungan Selatan Jawa dan hadirnya depresi. Depresi ini kini
diduduki kota Lumajang (kita sebut saja Depresi Lumajang) dan merupakan wilayah
pengaliran sungai-sungai yang berasal dari kedua dataran tinggi di sebelah
barat dan timur depresi. Kehadiran Pulau Nusa Barung tepat di tengah indentasi
selatan ini sangat menarik, posisinya sama dengan Tinggian Karangbolong pada
sistem indentasi Jawa Tengah, lebih-lebih lagi pulau ini pun disusun oleh
batugamping Miosen yang ekivalen dengan batugamping di Karangbolong.
Apakah indentasi Jawa Timur merupakan miniatur indentasi Jawa Tengah ?
Sebagian ya, tetapi sebagian lagi tidak. Beberapa pola indentasi Jawa Tengah
dapat diterapkan di sini. Pegunungan Selatan di wilayah ini tenggelam. Depresi
Lumajang diapit dua sesar besar di sebelah barat dan timurnya. Dua sesar besar
ini telah memutuskan dan mengubah kelurusan jalur gunungapi Kuarter di Jawa
Timur. Apa yang kemungkinannya berbeda dengan pola indentasi Jawa Tengah ?
Ini masih butuh penelitian lebih lanjut, tetapi beberapa pemikiran dapat
dikemukakan. Dua sistem sesar besar pembatas Depresi Lumajang merupakan
penyebab terjadinya indentasi dan depresi tersebut. Apakah sistem sesar besar
itu merupakan pasangan sesar besar sinistral (BD-TL) dan dextral (BL-Tenggara)
seperti halnya indentasi Jawa Tengah ? Ini akan memuaskan untuk menjawab
munculnya Pulau Nusa Barung di tengah Pegunungan Selatan yang tenggelam, dan
tenggelamnya Selat Madura di sebelah utara indentasi Pasuruan-Situbondo.
Tetapi, ini sulit untuk menerangkan terjadinya kelurusan gunungapi
Semeru-Bromo-Penanjakan yang utara-selatan di Kompleks Semeru-Tengger di
sebelah barat Depresi Lumajang dan kelurusan utara-selatan gunungapi
Argopuro-Kukusan di Kompleks Iyang (Yang, Ijang) di sebelah timur Depresi Jawa
Timur.
Keberadaan sesar besar utara-selatan sedikit melengkung menghadap depresi
Lumajang adalah penyebab indentasi dan depresi Lumajang. Sesar besar ini dapat
menjelaskan kelurusan gunungapi Semeru-Bromo-Penanjakan. Puncak-puncak gunung
ini tersebar utara-selatan. Bila kita berdiri di puncak Penanjakan (2775 m)
sebelah utara Bromo (2329 m), maka melihat ke utara akan nampak laut Selat
Madura, melihat ke selatan akan nampak gunung Bromo dan Semeru. Kelurusan ini
membuat masyarakat Tengger menyucikan ketiga gunung yang dianggapnya sebagai
atap dunia itu. Sebenarnya, di bawah ketiga gunung ini terdapat sesar besar
yang juga konon bertanggung jawab telah menenggelamkan Pegunungan Selatan Jawa
di wilayah ini. Sesar besar ini telah diterobos magma sejak Plistosen atas
sampai Holosen menghasilkan gunung-gunung di kawasan Kompleks Tengger. Semacam
erupsi linier dalam skala besar telah terjadi dari selatan ke utara di
sepanjang sesar ini berganti-ganti selama Plistosen sampai Kuarter.
Dari selatan ke utara ditemukan pusat2 erupsi sbb. : Semeru, Jembangan, Kepolo,
Ayek-Ayek, Kursi, Bromo, Batok, dan Penanjakan. Yang masih suka meletus sampai
kini adalah Semeru dan Bromo. Danau kawah Ranu Kembolo, Ranu Pani, dan Ranu
Regulo merupakan maar sisa erupsi gunung Ayek2 yang terletak di antara Kaldera
Tengger dan Semeru. Yang pernah mendaki Semeru pasti pernah melalui pos2 Ranu
Pani dan Ranu Kembolo ini.
Di sebelah barat Depresi Lumajang, yaitu di Kompleks Iyang, terdapat juga
sesar besar utara-selatan walaupun tak sepanjang sesar besar di bawah Tengger
dan sedikit melengkung menghadap depresi Lumajang. Gunung tua Iyang (Plistosen
atas) terbelah mengikuti rekahan utara-selatan. Rekahan ini juga menjadi pusat2
erupsi gunung di Kompleks Iyang, yaitu : gunung Malang (2008 m), Kukusan (2200
m) dan Cemorokandang (2223 m). Di tengah sesar rekahan ini kini gunungapi
Kuarter Argopuro (3088 m) berlokasi.
Tentang kejadian kaldera pasir Tengger, van Bemmelen (1937 : The
volcano-tectonic structure of the Residency of Malang, De Ingenieur in Ned.
Indie, 4,9,IV,p. 159-172) punya teori menarik. Kompleks Tengger telah terobek
mengikuti rekahan berbentuk sabit yang melengkung cekung ke utara. Oleh retakan
ini sayap utara kompleks Tengger tenggelam dan runtuh ke utara. Runtuhnya atap
dapur magma menyebabkan aliran lava basaltik dalam jumlah besar yang menyebar
seperti delta di kedua ujung robekan. Peristiwa ini telah menelan bagian atas
puncak Tengger, sehingga membentuk kaldera Tengger yang diisi pasir volkanik.
Runtuhnya Tengger ini akibat berat materi volkaniknya sendiri yang membebani
batuandasarnya yang berupa sediment marin Tersier yang plastis. Bagian utara
kompleks Tengger runtuh dan lengser ke utara menuju depresi Selat Madura yang
sedang tenggelam. Kompresi ke utara akibat runtuhan ini telah menekan bagian
utara pantai Jawa Timur yang kini berupa perbukitan di Grati dan
Semongkrong di sekitar Pasuruan. Bukit2 ini anomali sebab terjadi di sekitar
pantai utara yang ditutupi sediment alluvial pantai.
Model volkano-tektonik runtuhan seperti ini juga dipakai van Bemmelen untuk
menerangkan kejadian bukit2 Gendol di dekat Menoreh yang berasal dari runtuhan
sayap Merapi ke sebelah baratdaya.
Bentuk2 pulau yang anomali semacam indentasi selalu menarik perhatian dan
berharga untuk dikaji secara geologi, dan kajian seperti ini biasanya akan
punya efek berantai menjelaskan banyak fenomena geologi di sekitarnya.
Salam,
awang
---------------------------------
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.
---------------------------------
Bosan dengan spam? Mel Yahoo! memiliki perlindungan spam yang terbaik
http://my.mail.yahoo.com/
---------------------------------
Never miss a thing. Make Yahoo your homepage.