Bapak-bapak dan Ibu-ibu yang saya hormati, Mencermati pernyataan-pernyataan ini, saya bertindak sebagai pribadi mengusulkan perlu diadakan semacam seminar, pertemuan, lokakarya, atau apapun namanya. Pertemuan tersebut harus diprakarsai oleh sebuah badan besar yang diakui oleh Negara namun sekaligus diketahui kenetralannya, keobyektifannya, tidak berdiri di belakang pihak-pihak yang sedang berdebat, sehingga dijamin tidak akan membangun opini bahwa pertemuan ini telah distir oleh pihak tertentu. Dalam pertemuan ini (waktunya bebas ditentukan), akan diundang seluruh ahli kebumian, perminyakan, dan pengeboran, baik yang sudah pernah menyimpulkan penyebab utama semburan lumpur Sidoarjo atau Lapindo atau apapun namanya, maupun yang masih blank sama sekali. Dan dalam pertemuan itu, oleh penyelenggara harus disiapkan kumpulan data lengkap baik mentah maupun yang sudah terolah yang berhubungan langsung dengan pengeboran sumur Banjarpanji 1. Data tersebut selain data real time saat drilling berlangsung dan saat kejadian semburan terjadi, juga data-data pre drilling (log sumur terdekat, seismic, data pressure sumur terdekat, data-data regional, dan lain-lain) yang dijadikan acuan saat pemutusan dan disain sumur Banjarpanji 1. Data-data tersebut harus dipastikan dan disepakati secara bersama dan disahkan terlebih dahulu: bahwa data-data tersebut valid, dan tidak ada rekayasa sebelumnya. Pertemuan tersebut harus dirancang seperti sebuah workshop, di dalamnya tiap ahli-ahli yang hadir bebas memilih kelompoknya (dan masing-masing individu tidak dibatasi ada di dalam satu kelompok saja, tapi boleh lebih dari satu), atau bahkan boleh memilih untuk tidak bergabung dengan kelompok manapun tetapi hanya sendirian saja. Bila kelompok-kelompok dan individu-individu sudah terbentuk, setiap kelompok dan individu berhak memegang satu copy full suite, satu copy data lengkap, yang jumlah dan isinya sama, yang dibagikan oleh pihak penyelenggara (yang telah dipercaya dan diyakini bersama validitas datanya). Kemudian, dengan batasan waktu yang telah ditentukan dan disepakati bersama (bisa 1 hari, 2 hari, satu minggu, atau berapapun waktu yang disepakati), masing-masing kelompok dan individu menyusun suatu laporan atau paper ilmiah, atau buku putih atau apapun namanya, yang memuat seluruh analisis masing-masing dan kesimpulahn masing-masing berdasarkan kumpulan data yang sama, mengenai penyebab semburan lumpur sidoarjo atau lapindo atau apapun namanya itu. Setelah batas waktu yang ditentukan terlewati, setiap kelompok maupun individu wajib mempresentasikan hasil masing-masing di depan seluruh peserta, dan dalam sebuah arena perdebatan ilmiah terbuka dari seluruh kelompok yang berbeda pendapat, dan terbuka untuk umum, kalau perlu live di media elektonik di negeri ini, agak seluruh masyarakat dapat mengikuti juga.
Dari sana insya Allah kesimpulan yang diambil akan memuaskan seluruh pihak. Dari sana insya Allah tidak akan ada lagi prasangka bahwa satu kelompok tidak dihadirkan dalam sebuah pertemuan untuk membungkam pendapat kelompok yang berlainan pendapat. Dari sana insya Allah akan ada bahan acuan komprehensif dan obyektif untuk memutuskan nasib rakyat korban semburan lumpur dan nasib perusahaan yang dituduh telah menyebabkan semburan lumpur tersebut. Saya yakin,workshop besar semacam ini akan mampu diadakan bila pihak-pihak berwenang yang terkait dengan masalah ini mau bersama-sama mengomandoi atau mengorganisir acara besar ini, demi kepentingan yang lebih besar, demi kepentingan bangsa ini. Surat ini saya tulis dan saya tujukan untuk seluruh ahli kebumian, perminyakan, dan pengeboran, yang peduli atas hal yang telah terjadi di Sidoarjo, yang peduli akan polemik panjang yang tidak sehat dan tidak berujung selama 2 tahun lebih ini. Terlebih yang peduli terhadap ketimpangan opini yang berkembang di masyarakat berkenaan dengan semburan ini. Dan terlebih lagi yang paling penting, terhadap rakyat Sidoarjo yang dengan adanya semburan lumpur ini nasibnya masih terlunta-lunta. Mudah-mudahan BP MIGAS, IAGI, HAGI, pemerintah mau mendengar dan menerima usulan saya ini. Karena bahkan sampai detik ini, forum besar workshop dan dilanjutkan dengan debat terbuka mengenai penyebab semburan lumpur belum pernah diadakan. Yang diadakan hanyalah forum-forum yang memang diadakan secara professional dan ilmiah, namun masih saja menyisakan ketidakpuasan untuk satu golongan karena merasa tidak diundang dalam forum tersebut, baik forum yang menyimpulkan bahwa semburan lumpur sidoarjo adalah akibat pengeboran sumur Banjarpanji 1, ataupun forum yang menyimpulkan akibat bencana alam. Salam, Firman Fauzi - berpendapat secara pribadi, tidak berpendapat untuk mewakili Energi Mega Persada, namun demi bangsa ini -----Original Message----- From: nyoto - ke-el [mailto:[EMAIL PROTECTED] Sent: Thursday, February 28, 2008 12:06 PM To: [email protected] Subject: Re: [iagi-net-l] seolah IAGI saling "berseteru" Lha kenapa ya, koq raw datanya jadi "Black Box" gitu ...? takut ketahuan kesalahannya ya ? or harus dibeli mahal dulu baru boleh dibuka ? or bahkan udah dimusnahin biar nggak bisa dipelajari/diselidiki oleh yg berwenang ...? Benar mas Deni, kalau raw data nggak dibuka, ya semua bebas "menterjemahkan sendiri2" apa maunya atau debat kusir itu tadi, nggak akan ada kesimpulannya ... wass, 2008/2/28 Deni Rahayu <[EMAIL PROTECTED]>: > raw data ngak pernah dibuka sich..setiap orang pasti > punya asumsi dan analogi masing2, kl ngak dibuka2 raw > data nya wah...orang akan bebas berfantasi..he..he..he > tanpa fakta dan data...terus aja debat kusir....cape > dech.... > > salam, > oden > > --- Ariadi Subandrio <[EMAIL PROTECTED]> > wrote: > > > "...Inilah alasannya mengapa seolah IAGI saling > > "berseteru" tepatnya setahun silam dalam sebuah > > workshop internasional... "- gak ada wasitnya kali > > ya.... > > > > ar-. > > > > Lumpur Lapindo, Lumpurnya "Tuhan"? > > > > Kamis, 28 Februari 2008 | 02:41 WIB > > Jonatan Lassa > > Without correct words, there will be no correct > > practice. (Dombrowsky) > > Rabi Greenberg menuturkan kisah lucunya tahun > > 1950-an di New York City yang dilanda musim kering > > dan pemerintah membuat awan buatan sebagai awal > > teknologi hujan buatan. > > Hal ini menyebabkan agamawan bertanya, apakah > > manusia mengambil alih peran Tuhan? "Saya ingat > > sebuah kartun di the New Yorker yang melukiskan > > sekelompok pendeta yang kelihatan amat cemas sedang > > duduk mengelilingi meja dan melihat keluar melalui > > jendela, menyaksikan turunnya hujan. Seorang pendeta > > berkata, 'Ini hujan kita, atau hujan mereka?'" > > (John Naisbit, 2001:49) > > Kita membayangkan suasana batin yang mungkin > > melingkupi Senayan dan Istana terkait peristiwa di > > Sidoarjo. Karikatur imajiner yang bisa menggambarkan > > batin penguasa dan rohaniwan Indonesia dengan > > pertanyaan, "Ini lumpur Lapindo atau lumpurnya > > Tuhan?" Kini, dalam realitas, DPR dan pemerintah > > memerlukan jawaban "bencana alam atau bencana > > teknologi"? > > Dalam tradisi mendefinisikan/ pendefinisian atas > > sesuatu, sebuah definisi terdiri dua bagian, yakni > > kata yang didefinisikan (definiendum) dan kelompok > > kata atau konsep yang digunakan untuk mendefinisikan > > (definien). Sebuah definiendum harus bermakna sama > > dengan definien. > > Neil Britton mengatakan, "Sebagaimana > > seorang/pihak menafsirkan sesuatu bergantung pada > > apa yang disyaratkan untuk dilakukan terhadap > > sesuatu dimaksud." Namun, Britton mengingatkan > > definisi bukan sekadar alat bantu berpikir, tetapi > > juga soal orientasi mental dan emosi, model > > pemaknaan dan cara pandang pemberi definisi. > > > > Definisi > > Salinan UU No 24/2007 mendefinisikan, "bencana > > adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang > > mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan > > masyarakat yang disebabkan faktor alam dan/atau > > faktor non-alam maupun faktor manusia, mengakibatkan > > timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, > > kerugian harta benda, dan dampak psikologis." > > Karena itu, peristiwa Sidoarjo memenuhi kecirian > > definisi bencana UU No 24/2007. Jika ditanyakan > > kepada rakyat yang mengalami, jawabannya, "rumah > > terkubur, pekerjaan hilang, aset penghidupan hancur, > > kerugian nasional mencapai paling sedikit Rp 7 > > triliun. Orang dari kaya menjadi miskin. Yang miskin > > makin melarat. Secara psikis tidak ada kata yang > > bisa menyamai pengalaman mengalami bencana itu." > > Definisi ini dikenal dengan definisi situatif. > > Pada titik ini, kata 'bencana' tidak > > merepresentasikan diri sendiri. Bencana juga tidak > > sekadar merepresentasikan lingkungan yang rusak. > > Bencana dan lingkungan yang rusak merepresentasikan > > manusia dan kepentingan manusia di baliknya. > > Istilah "bencana alam" bermakna kausalitas. > > Salinan UU No 24/2007 mengatakan, "Bencana alam > > adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau > > rangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam, > > antara lain berupa gempa bumi, tsunami, gunung > > meletus, banjir, kekeringan, angin topan, dan tanah > > longsor. Bencana non-alam adalah bencana yang > > diakibatkan oleh peristiwa atau rangkaian peristiwa > > non-alam, antara lain berupa gagal teknologi, gagal > > modernisasi, epidemi, dan wabah penyakit." > > Kelemahan paling mendasar UU No 24/2007 adalah tidak > > memberi ruang atau definisi kausalitas bencana untuk > > interaksi atau keterkaitan antara yang alami dan > > buatan manusia. Secara empiris, ini bertentangan > > karena ada yang dikenal sebagai "bencana > > antara". Peristiwa yang satu men-triger yang lain. > > Bisa saja kegiatan eksplorasi dan eksploitasi sumber > > daya yang tidak menjalankan prinsip kehati-hatian > > men-trigger kejadian alam yang ekstrem. Misal, > > eksploitasi hutan memicu mudahnya banjir. > > Sebaliknya, peristiwa alam seperti gempa bisa memicu > > kecelakaan kebakaran seperti gempa Kobe 1995 atau > > kecelakaan nuklir di Jepang setahun silam. > > Wapres Jusuf Kalla mengatakan, "Perlu penelitian > > mendalam. Saya kira tidak bisa dinyatakan secara > > politik (oleh DPR). Bencana alam atau bukan, itu > > bukan masalah politis." (Kompas, 19/2/2008) > > Perlu diketahui, sains tidak menawarkan kepastian > > 100 persen. Sains datang dengan skenario, > > probabilitas, kemungkinan, dan solusi trial and > > error. Ini yang terjadi dengan sains dalam konteks > > lumpur di Sidoarjo. Dalam tradisi epistemik di > > universitas-universitas dunia, sebuah hasil > > penelitian yang dipublikasikan akan mendapat banyak > > pertanyaan ketimbang jawaban. Inilah alasannya > > mengapa seolah IAGI saling "berseteru" tepatnya > > setahun silam dalam sebuah workshop internasional. > > (Tempo Interaktif, 6/3/2007) > > > > Istilah bencana alam > > Karena itu, istilah hitam-putih "bencana alam" > > sebenarnya problematik dan masalah utama adalah pada > > paradigma dan kuasa tafsir atas bencana. Maka, > > tafsir bencana tidak bisa hanya diserahkan kepada > > ahli teknis geologis/geofisik saja. Dalam > > epistemologi bencana, alam adalah alam. Bencana > > adalah bencana. Bukan alam yang mengeksplorasi migas > > di Sidoarjo. > > Tafsir bencana adalah sebuah konsensus yang > > seharusnya trans-disiplin (baca: antara pengambil > > kebijakan dan ahli lintas disiplin, termasuk ilmuwan > > sosial dan pihak yang dianggap korban/pelaku). > > Rakyat yang dipersepsikan "bodoh" tidak bisa > > menerima begitu saja bahwa ini adalah lumpurnya > > Tuhan. Ketiadaan konsensus atas bencana di Sidoarjo > > ternyata mengakibatkan biaya transaksi tinggi. > > Namun, keputusan tentang penanggung jawab bencana > > Sidoarjo adalah bukan semata-mata putusan hukum. > > Diperlukan keputusan politik karena lepas dari > > faktor kausalitas yang tidak pasti karena > > keterbatasan sains dan ketidakpastian pengetahuan, > > ada situasi obyektif menunjukkan, jumlah rakyat > > miskin di Sidoarjo yang terjadi dalam dua tahun > > terakhir membutuhkan keberpihakan politik dari > > penguasa di DPR maupun eksekutif. > > Melemparkan tanggung jawab kepada sains yang tidak > > pasti adalah sebuah pengkhianatan terhadap amanat > > yang diberikan rakyat. Dan sains hendaknya > > dimandatkan untuk tidak merampas mandat pengambilan > > keputusan yang bersifat politik. Kepastian > > keberpihakan dari negara diperlukan dalam > > menyelesaikan ketidakpastian hidup dan penghidupan > > rakyat di Sidoarjo yang semakin tak menentu. > > Jonatan Lassa PhD Researcher Kajian Disaster Risk > > Governance-BIGS-DR-ZEF University of Bonn-Bonn; Co- > > editor Journal of NTT Studies; Anggota Forum > > Academia NTT > > > > > > > > > > ________________________________________________________________________ ____________ > > Be a better friend, newshound, and > > know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now. > > > http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ > > > > > > > > > ________________________________________________________________________ ____________ > Be a better friend, newshound, and > know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now. > http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ > > > > ------------------------------------------------------------------------ ---- > > CALONKAN DIRI ANDA SEBAGAI KETUA UMUM IAGI 2008-2011 !!!!! > PENDAFTARAN CALON KETUA 13 FEB S/D 6 JUNI 2008 > PENGHITUNGAN SUARA: PIT IAGI 37 DI BANDUNG > > > ------------------------------------------------------------------------ ----- > To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id > To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id > Visit IAGI Website: http://iagi.or.id > Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: > Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta > No. Rek: 123 0085005314 > Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) > Bank BCA KCP. Manara Mulia > No. Rekening: 255-1088580 > A/n: Shinta Damayanti > IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ > IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi > --------------------------------------------------------------------- > DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information > posted on its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event > shall IAGI and its members be liable for any, including but not limited to > direct or indirect damages, or damages of any kind whatsoever, resulting > from loss of use, data or profits, arising out of or in connection with the > use of any information posted on IAGI mailing list. > --------------------------------------------------------------------- > > ---------------------------------------------------------------------------- CALONKAN DIRI ANDA SEBAGAI KETUA UMUM IAGI 2008-2011 !!!!! PENDAFTARAN CALON KETUA 13 FEB S/D 6 JUNI 2008 PENGHITUNGAN SUARA: PIT IAGI 37 DI BANDUNG ----------------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id Visit IAGI Website: http://iagi.or.id Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta No. Rek: 123 0085005314 Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Bank BCA KCP. Manara Mulia No. Rekening: 255-1088580 A/n: Shinta Damayanti IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi --------------------------------------------------------------------- DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information posted on its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event shall IAGI and its members be liable for any, including but not limited to direct or indirect damages, or damages of any kind whatsoever, resulting from loss of use, data or profits, arising out of or in connection with the use of any information posted on IAGI mailing list. ---------------------------------------------------------------------

